(Dok. Kontri/Keukeu)
JATINANGOR (26/5/2026) — Unpad alihkan lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Semester Genap 2025/2026 ke 4 wilayah baru dan pastikan Indramayu tak masuk dalam daftar. Langkah ini diambil usai Unpad tetapkan tingkat kemiskinan ekstrem dan rendahnya literasi informasi sebagai indikator utama penentuan lokasi. Indikator ini jadi dasar keterlibatan Pemprov Jabar dan perpusnas dalam program KKN periode ini.
Sedang, Unpad fokus pada masalah sampah. Sehingga akhirnya ketiga pihak tetap godok bersama.
“Kita nggak serta-merta hanya mengikuti pemprov saja atau mengikuti perpusnas saja. Tapi kita godok lagi mana yang kira-kira terbaik dari sisi pelaksanaan dan dari sisi program,” jelas Direktur Pendidikan Non Gelar Unpad Erli Sarilita, Selasa (26/5).
Senada, Kepala Departemen Adkesma BEM Kema Unpad Kezya Regita mengaku pertimbangan lokasi KKN periode lalu juga memang libatkan pertimbangan internal dan eksternal.
Berbeda lokasi dengan periode lalu, selain Indramayu, Bandung dan Sumedang juga dipastikan tak masuk daftar.
Apalagi, periode ini Unpad berkolaborasi dengan 2 mitra yang masing-masing bawa fokus programnya sendiri.
Sedang sebelum sistem kolaborasi ini ada, lokasi KKN hanya ditentukan dari preferensi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Yakni integrasikan KKN dengan Program Pengabdian Masyarakat (PPM).
Sistem itu baru diubah dalam 2 periode terakhir melalui pemisahan KKN dan PPM serta rekrutmen DPL terbuka.
Erli tambahkan, saat ini animo dosen meningkat signifikan: dari 74 kuota kelompok yang tersedia, pendaftar sudah capai ratusan.
Nama 4 wilayah tujuan KKN periode ini belum diungkap dan baru akan diumumkan pada 5 Juni nanti. Erli sebut kampus telah pertimbangkan aspek keamanan, kebencanaan, hingga kesiapan program dalam menentukan lokasi KKN periode ini.
“Itulah kenapa … kalau kita mau mencari keamanan, kita juga bergantungnya pada pemprov. Dengan bekerja sama, pemprov akan mengondisikan semua aparatnya ke bawah untuk turut mendukung,” tutur Erli.
Erli juga tekankan, kolaborasi ini tak berarti mahasiswa sekadar mengeksekusi agenda mitra. Menurutnya, KKN tetap dirancang sebagai pengalaman belajar yang tak bisa didapat di dalam kelas.
Ia pun berpesan kepada mahasiswa untuk menyambut program ini dengan terbuka.
“Saya harap mahasiswa menyambut itu dengan baik dulu. Percaya, kami ini pengelola dengan segenap tenaga dan pikiran berusaha mendesain program yang bermanfaat dan aman,” tutup Erli.
Penulis: Cintamy Salsabila
Editor: Raffael Nadhef
