Antrean Gate Sistem khusus pengendara motor di Gerbang D. (dJ/Cintamy)
Kemacetan mengular di sistem gerbang otomatis Gerbang D atau selanjutnya disebut Gate System pada Senin (6/4). Kemacetan ini tetap terjadi meski sudah ada penambahan gate sebanyak empat jalur dan cara masuk melalui e-money.
“Penyebabnya mungkin karena harus menggunakan barcode ya, walaupun gatenya ada (4) …, tapi masih tetap mengantri karena memang mungkin banyak juga orangnya yang membawa motor entah ojol atau mahasiswa. Kalau sebelumnya karena 1 jalur mungkin lebih ke panjang sih,” ketik Firhan, mahasiswa Sekolah Vokasi, saat dihubungi melalui WhatsApp pada Senin (6/4).
Kepala Pusat Keselamatan, Keamanan, dan Ketertiban (PK3L) Unpad, Kusnahadi Susanto meyakini diperbolehkannya ojek online (ojol) masuk lewat Gerbang D sebagai salah satu faktor penyebab kemacetan itu.
“Hal tersebut (macet) salah satunya dipicu karena rekan-rekan ojol menyampaikan permintaannya untuk bisa masuk Gate Makalangan. Jadi, memang tidak bisa dihindari antara civitas dan ojol, jadinya bersatu di gate tersebut. Tapi di lapangan, kami tetap menjalankan SOP (dibuka palangnya) bahwa ketika terjadi kemacetan panjang yang sampai pada jalur nasional melebihi kawasan unpad,” ujar Kusnahadi.
Ia juga menuturkan, pihak rektorat akan terus mengevaluasi kebijakan itu untuk mencari solusi terbaik. Bahkan, berdasarkan kesepakatan dengan ojol, ia sebut bahwa pihak rektorat akan kumpul lagi bersama ojol dalam tiga bulan ke depan.

Ojol berdemonstrasi di depan Gedung Rektorat Unpad pada Selasa (31/3). (dJ/Fuza)
Kebijakan Gate System yang melarang Gerbang D diakses non-civitas, sempat didemo oleh ratusan ojol pada Selasa (31/3) di depan Rektorat Unpad. Aksi ini juga dipicu oleh penutupan jalan dengan wall barrier dishub di Jalan Winaya Mukti menuju ke Unpad.
Pasalnya penerapan aturan Gate System di Unpad ini dinilai merugikan untuk operasional ojol di kawasan Jatinangor. Dari aturan itu, akses keluar-masuk ojol diarahkan melalui Gerbang C: menyebabkan driver harus menempuh rute memutar sejauh 3 km dibandingkan rute sebelumnya.
“Sangat rugi juga mengenai radius km (kilometer),” kata Khadarisma pada Minggu (1/3).
Mendengar keluhan-keluhan itu, Unpad kemudian mengevaluasi kebijakan Gate System itu: dalam lima hari sampai Minggu (5/4) ojol bisa melewati Gerbang C dan tanpa sensor Gate System. Sementara di hari Senin (6/4), saat Gate System diaktifkan kembali, ia jadi pedang bermata dua bagi kelancaran kampus.
Gate System, Kebijakan untuk Ketertiban Lalu Lintas
Gate System mulai diberlakukan penuh di kawasan Unpad sejak Senin (15/2) lalu. Gate System ini mengharuskan civitas academica mendaftarkan nomor plat kendaraan pribadi atau memindai QR Code yang telah disediakan di aplikasi SAUNPAD.
Menurut Surat Edaran (SE) Nomor 3710/UN6.WR4/TU.00/2025 yang dikeluarkan oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola, R. Widya Setiabudi Sumadinata menyatakan bahwa pendaftaran kendaraan dilakukan untuk meningkatkan upaya menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan di lingkungan kampus.
Dan, menurut akun @universitaspadjadjaran, hal ini juga untuk meningkatkan kelancaran lalu lintas di lingkungan kampus.
Serupa dengan SE, Mantan Kepala Pusat Keselamatan, Keamanan, dan Ketertiban Lingkungan (PK3L) Unpad Irwan Ary Dharmawan menyatakan bahwa Gate System bertujuan untuk meningkatkan aspek keamanan dan ketertiban.
”Sistem ini (Gate System) bertujuan untuk mengetahui jumlah kendaraan yang masuk ke Unpad dan pola mobilitasnya di dalam kampus. Selain itu, juga untuk meningkatkan aspek keamanan dan ketertiban,” kata Irwan pada Kamis (18/12/2025), dikutip dari Kanal Media Unpad.
Sebelum perubahan pada Senin (6/4) yang memperbolehkan non-civitas melintasi Gerbang D, Unpad membagi jalur masuk tersebut menjadi dua rute: mengkhususkan akses menuju GOR Jati bagi kendaraan beroda empat, sementara sistem mengalihkan kendaraan beroda dua ke arah ATM Center. Kala itu, non-civitas hanya boleh mengakses kampus melalui Gerbang C (Bale Wilasa 1) .

Rekayasa lalu lintas selama penerapan Gate System yang berlaku hingga Selasa (31/3). (Dok. Unpad)
Paradoks Green Campus dan Keresahan Mahasiswa
Selain untuk menjaga keamanan dan ketertiban kawasan di Unpad, Gate System ada untuk membuat kampus lebih ramah lingkungan lewat pengurangan jumlah karbon.
”Tujuan besar kita adalah mereduksi jumlah karbon yang ada di lingkungan Unpad, karena salah satu parameter kampus ramah lingkungan adalah tidak terlalu banyak jejak karbon yang ditinggalkan di dalam kampus,” jelas Irwan, dikutip dari Kanal Media Unpad.
Diketahui, Unpad tengah gencar membawa wacana green campus: berbagai kebijakan dilakukan seperti pengadaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Gate System.
Karenanya, untuk memahami dinamika kebijakan Gate System di Unpad, terlebih dahulu kita perlu mengetahui soal konsep green campus yang ingin diterapkan Unpad.
Merujuk riset Rama Putra Buana dkk., green campus merupakan konsep yang mendorong terciptanya kampus ramah lingkungan dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan ke dalam kebijakan, manajemen, dan kegiatan.
Green campus didukung dengan adanya UI GreenMetric: sistem pemeringkatan universitas yang mengukur komitmen dan upaya keberlanjutan lingkungan di kampus.
Program itu memberikan peluang bagi tiap universitas untuk mengembangkan inovasi dan menerapkan praktik-praktik ramah lingkungan demi mewujudkan green campus yang akan dievaluasi setiap tahunnya.
Berdasarkan situs UI Green Metric, terdapat tujuh pilar metodologi yang menjadi indikator penilaian kampus: penataan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, pengelolaan limbah, penggunaan air, transportasi, serta riset pendidikan. Tahun 2026, ada indikator baru yang ditambahkan: tata kelola dan digitalisasi.
Dengan adanya sistem pemeringkatan, tiap universitas dapat terdorong untuk berkompetisi demi mendapatkan rekognisi sebagai green campus, salah satunya Unpad.
Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala PK3L Unpad itu, yang baru menjabat Februari lalu. Kusnahadi membenarkan, alasan Unpad memberlakukan kebijakan Gate System adalah untuk mewujudkan green campus.
“Salah satu yang kita kejar adalah tentang green campus, green and sustainability campus. Dan itu menjadi trend di universitas-universitas dunia.”
Lebih lanjut, ia mengungkit soal kondisi transportasi di Unpad yang sebelumnya bertentangan dengan wacana green campus itu.
“Kalau (di) dalam tuh terlalu banyak kendaraan, (ojol) ngetemnya juga tidak diatur gitu kan. Jadinya sama sekali tidak mendukung, tidak mengarah pada green campus, tidak mengarah pada sustainability. Oleh karena itu, kita mencoba sedikit-sedikit. Di dalam, kita atur teman-teman yang menggunakan kendaraan. Mohon diatur, bukan dibatasi. Kalau dibatasi kan sulit, ya.”
Namun, kebijakan Gate System ini malah membuat masalah baru yang bertentangan dengan wacana green campus itu sendiri. Pengadaan Gate System ini malah mengakibatkan kemacetan, seperti halnya yang terjadi di Gerbang D dan B.
Melalui pengamatan dari dJatinangor, setidaknya kendaraan bermotor memakan waktu 3-5 detik untuk melewati Gate System.
Dan saat jam sibuk, pengendara perlu waktu sekitar 5 menit untuk keluar dari kawasan Unpad melalui Gerbang B. Sehingga, kemacetan tidak bisa dihindari terutama saat jam pergi-pulang kuliah.
Bahkan, dalam live report dJatinangor pada Rabu (18/2), dJatinangor menangkap momen kemacetan yang belum pernah terjadi: antrean sepeda motor yang mengekor sepanjang Gerbang B sampai Ekoriparian Leuwi Padjadjaran, atau sekitar 250 meter.
Keluhan soal kemacetan turut diungkap oleh Fikri, mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom). Ia menuturkan, meski tujuan Unpad positif tapi masih banyak hal negatif yang perlu dibenahi.
“Untuk positifnya, ya, alhamdulillah mungkin ya bisa dibilang Unpad bisa lebih aman. Namun, negatifnya itu si gerbang portal Unpad ini sendiri itu membuat cukup kemacetan, gitu. Dan menurut aku sendiri, sebenarnya masih banyak poin ataupun hal yang masih bisa ditingkatkan,” ucapnya.
Apalagi, kamera berbasis AI yang dipersiapkan untuk mengidentifikasi kendaraan yang telah terdaftar melalui aplikasi SAUNPAD belum berjalan optimal. Menurut Fikri, fasilitas kamera itu menjadi salah satu yang perlu diperbaiki dari kebijakan Gate System.
“Lebih ke pemeliharaan fasilitasnya itu sendiri karena waktu itu kan sebenarnya si portal Unpad ini itu bisa nge-scan plat nomor kita yang di depan, ya. Nah, cuman beberapa kali itu tidak berhasil. Jadi nggak jalan. Aku lihat juga kameranya kayak rusak gitu. Jadi mohon untuk diperbaiki,” jelasnya
Hal senada diungkapkan oleh Caca, mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Menurutnya, Gate System telah menghambat waktu mahasiswa menuju kampus, baik yang menggunakan kendaraan pribadi ataupun ojol.
“Iya, yang naik motor pun gitu kan, biar naik motor tuh biar lebih cepat tapi kenyataannya karena macet, jadi sama aja, sama kayak jalan kaki,” ujarnya.
Kemacetan yang terjadi akibat penumpukan kendaraan di Gate System ini bertentangan dengan ambisi Unpad dalam mewujudkan Green Campus.
Berdasarkan studi Hasairin dan Siregar (2018), disebutkan bahwa kendaraan bermotor dalam kondisi macet akan mengeluarkan karbon monoksida (CO) 12 kali lebih tinggi dibandingkan saat jalan lancar.
Dengan adanya kemacetan akibat antrean panjang, alih-alih mengurangi emisi karbon, kebijakan Gate System ini justru berkontribusi dalam meningkatkan emisi karbon di udara.
Merespons soal kemacetan, Satpam Unpad Benni mengungkapkan upaya yang telah dilakukan profesinya dalam menanggulangi kemacetan tersebut.
“Untuk kemacetan, karena banyaknya siswa, tendik, emang ada-nggak ada palang juga sudah macet. Tapi kita ditunjang untuk mengantisipasi kemacetannya, seperti apa? Dengan cara membuka blok (gate).”
Benni menambahkan, palang itu akan dibuka manual ketika antrean kendaraan ramai sehingga pengemudi bisa langsung masuk area Unpad tanpa melakukan scan.
Palang kemudian akan kembali ditutup ketika antrean kendaraan sudah normal. Hal ini memang sudah menjadi standar operasional prosedur (SOP) yang telah diedarkan Unpad kepada satpam.
Meski kemacetan dapat teratasi, langkah itu memicu pertanyaan soal efektivitas pendataan kendaraan. Sebab, jika palang pintu dibuka manual, sistem scanner tidak lagi merekam volume kendaraan yang masuk.
Kendati demikian, Benni membela bahwa pendataan tersebut tetap ada meski palang pintu dibuka.
“Itu (pendataan kendaraan) juga bisa jadi dalam sistem karena memang dalamnya seperti itu sistemnya. Cuman untuk sejauh ini kita sebagai security belum mendapatkan informasi sedetail itu.”
Menanggapi keraguan soal efektivitas data tersebut, Kepala PK3L Unpad mengungkapkan bahwa saat ini kebijakan Gate System memprioritaskan solusi kemacetan di jalan raya, bukan pendataan kendaraan.
“Data mah udah semua harus terdaftar. Kendaraan siapa pun sebaiknya didaftarkan pada SAUNPAD, gitu. Jadi, poinnya bukan tentang pendataannya, tapi poinnya tentang pengaturannya.”
Niat Unpad dalam mewujudkan green campus dan konsekuensi dari kebijakan Gate System ini telah membuat paradoks yang memerlukan solusi ideal bagi keamanan lingkungan dan kenyamanan bersama.
Fasilitas Minim di Tengah Tuntutan Transisi Bebas Emisi

Penuhnya odong di rute Soshum yang berhenti di titik pemberhentian depan Fakultas Hukum Unpad. (dJ/Muti)
Gate System yang digadang-gadang untuk menciptakan kebiasaan baru: berjalan kaki atau menggunakan transportasi komunal, perlu didukung oleh fasilitas yang memadai di lapangan.
Namun, nyatanya fasilitas transportasi atau angkutan kampus internal (odong) juga belum memadai karena jumlahnya masih terbatas: 15 unit di kampus Unpad Jatinangor dengan setiap odong hanya punya 18-20 kursi.
“Kalau dilihat dari seat yang ada itu di seat 18-20,” ungkap Koordinator Pool Kendaraan Unpad, Gugun Gunawan pada Jumat (3/4).
Ia juga menyatakan, sebanyak lima unit odong dikerahkan di tiap jalur (A, B, dan C) pada tiga periode jam sibuk: 07.00–08.30, 11.30–13.00, dan 15.00–16.00.
Namun, di luar jam sibuk itu, odong di setiap jalur hanya akan beroperasi 3 unit saja karena menurutnya ini bagian dari dukungan green campus dalam menurunkan emisi karbon.
Jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang mencapai puluhan ribu, jumlah odong saat ini belum dapat mengimbangi mobilitas mahasiswa di kampus.
Hal ini diperkuat oleh tanggapan Nabilah, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Menurutnya, minimnya kapasitas odong masih menghambat aktivitasnya di kampus.
“Terkadang ada saja penumpang yang tidak bisa terangkut oleh odong karena melebihi kapasitas penumpang,” ujarnya.
Sebaliknya, Nabilah menilai, untuk dapat menekan emisi karbon, Unpad perlu menambah jumlah odong agar mahasiswa dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi atau ojol.
Jumlah armada dan kapasitas tempat duduk yang belum memadai itu membuat mahasiswa tidak terlalu mengandalkan transportasi angkutan gratis itu sebagai akses mobilitas di dalam kampus.
Mengenai persoalan itu, Kepala PK3L menjelaskan pihak Unpad sudah memikirkan permasalahan tersebut. Namun, masih banyak pertimbangan dan konsekuensi yang perlu ditaksir. Misalnya, penambahan jam kerja sopir odong membuat Unpad harus membayar lebih untuk gaji. Hal itu belum bisa dilakukan karena, menurutnya, masalah pendanaan.
“Iya (menambah lapangan pekerjaan), tapi nanti kita nggak bisa ngebangun. Uangnya habis ke situ,” ungkap Kusnahadi
Evaluasi Unpad di Tengah Keresahan Civitas dan Ojol
Penumpukan kendaraan di Gate System ini sudah menjadi bahan evaluasi dari PK3L. Pihaknya berencana untuk menambah dan memindahkan gate menjauh dari jalan utama untuk mengatasi kemacetan.
“Nah, kita mencoba memindahkan. Awalnya lebih dekat dengan jalan utama, kita pindahkan agak jauh. Agar kantong antreannya itu di dalam kampus. Jadi, selain penambahan, (juga) pemindahan, dan peningkatan kapasitas teknologi.”
Rencana penambahan itu sudah dibangun di Gate System khusus motor yang berada di Gerbang D. Melalui pantauan dJatinangor, Gate System yang awalnya satu ditambah menjadi dua pada Selasa (3/3), lalu ditambah lagi menjadi empat saat menjelang Idulfitri. Hal ini, menurut Kusnahadi, sesuai dengan rencana kerja PK3L Unpad.
“Saat ini, kalau dulu gate itu kita cuman punya satu untuk motor di Makalangan (Gerbang D) dan satu untuk mobil di Makalangan. Untuk masuk di Makalangan, nah, sekarang kita tambah menjadi dua motor dan dua mobil, tapi prosesnya masih berjalan. Bahkan setelah saya hitung-hitung simulasi segala macam, mungkin kita akan tambah menjadi empat atau enam untuk motor,” ungkapnya.
Menanggapi soal jalan memutar yang perlu dilalui oleh ojol, Kusnahadi menuturkan alasannya: untuk mengurangi kemacetan di Gerbang D. Menurutnya, meski rute yang lebih panjang juga meningkatkan emisi karbon, hal itu tetap lebih baik daripada membiarkan kendaraan terjebak macet dalam posisi mengantre.
Namun, argumen Kepala PK3L untuk mengurangi antrean dengan mengalihkan jalur ojol ke Gerbang C ini justru tidak berumur panjang. Kini (6/4), kebijakan itu telah ditarik mundur setelah ojol kembali diperbolehkan masuk melalui Gerbang D.
Akibatnya, kemacetan pun terjadi. Kepala PK3L berharap ojol bisa mengerti mengapa pihak rektorat sebelumnya membuat aturan supaya mereka masuk lewat Gerbang C.
“Apalagi sekarang, ojol minta gate bawah, penumpukan kendaraan bertambah terjadi di waktu dan tempat yang sama. Saya sih berharap ojol bisa mengerti situasi tersebut. Itulah kenapa kami minta ojol naik ke gate C. Tapi ya sudah gpp, mungkin rekan-rekan ojol belum faham maksud kami. Kita cari kesepakatan terbaik agar semua merasa nyaman,” ungkapnya pada Senin (6/4) dalam wawancara bersama dJatinangor.
Penulis: Fuza Nihayatul, Chevina Hanaya, Fathiani Hanifah
Editor: Raffael Nadhef
