Cadar di Unpad: Bergulat dengan Stigma Menuju Kampus Inklusif

cadar

Ilustrasi Mahasiswa Bercadar di Unpad (dJatinangor/ Auryn Talitha)

Nisa (bukan nama sebenarnya), mahasiswi Universitas Padjadjaran (Unpad), punya banyak cerita tentang ketidaknyamanan yang dia alami selama tinggal dan belajar di pesantren milik pamannya. Dia sering merasa diperhatikan secara tidak wajar oleh para santri laki-laki. Tak hanya lewat lirikan mata, tapi juga dalam bentuk yang lebih nyata: mulai dari bisikan sambil tertawa ketika ia lewat, ajakan bermain, hingga permintaan nomor WhatsApp. Puncaknya, terjadi insiden yang membuatnya merasa benar-benar dilecehkan: mereka menanyakan kamar tidurnya kepada sepupu.

“Aku tuh sebenci itu untuk ditatap oleh laki-laki yang bukan mahramku,” ungkap Nisa melalui wawancara via Zoom, Senin, 26 Mei 2025.

Perasaan tidak nyaman itu tak bisa hanya dipendam. Nisa mengutarakan keresahannya kepada sang tante, seorang perempuan bercadar. Tantenya menyarankan untuk mencari tahu lebih jauh tentang cadar, tidak sebagai kewajiban semata tetapi sebagai bentuk perlindungan.

Perjalanan Nisa mengenakan cadar pun dimulai dari sana. Bukan dari ceramah agama, bukan pula dari kewajiban religius yang dia ikuti sejak lama. Pilihan itu muncul dari kebutuhan personal untuk membentengi diri. “Perisai”, demikian dia menyebutnya.

Setelah mengenakan cadar, Nisa mulai merasakan perubahan signifikan dalam lingkungan sosialnya. Ketidaknyamanan yang selama ini menghantuinya, perlahan sirna.

“Ketika aku udah bercadar, mereka tuh makin enggak berani gitu loh buat melakukan kayak nanya-nanyain kamar aku, nanya-nanyain, apa ya, aku kapan main sama bocil-bocil itu, gitu. Itu tuh udah enggak ada sama sekali,” kenang Nisa.

Kini, di lingkungan kampus, cadar yang dikenakan Nisa menjadi bagian dari keragaman ekspresi yang tidak serta-merta bebas dari penilaian. Reaksi yang muncul tak tunggal. Ada yang bersikap biasa saja, ada pula yang merasa canggung atau bahkan curiga.

Nala (bukan nama sebenarnya), mahasiswi bercadar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), mengaku pernah mendapatkan pertanyaan yang menyakitkan secara langsung: “Kamu tuh alirannya apa? Apakah kamu Syiah?” Baginya, pertanyaan ini merupakan bagian dari stigma yang mengidentikkan cadar dengan kelompok berbahaya. 

“Kayak, apa ya, orang tuh menganggap aku jadi kayak berbahaya bagi mereka,” ucapnya.

Ketakutan ini sebenarnya sudah membayangi sejak Nala membaca berita dan melihat lingkungan kuliah yang heterogen. Dia bahkan sempat bimbang untuk tetap memakai cadar di Unpad karena khawatir akan dianggap bagian dari kelompok “apa-apa” yang bisa merugikan.

Bersyukur, di lingkungan terdekatnya di FMIPA, Nala tidak pernah dijauhi atau ditolak. Beberapa teman bahkan membantunya dalam komitmen menerapkan batasan terutama dalam interaksi dengan lawan jenis. Karakter Nala yang terbuka dan kemampuannya untuk berbaur di lingkungan dengan terlibat aktif sebagai rohis, membuatnya diterima.

“Selagi aku bisa terbuka ke mereka, mereka juga bisa ya udah open aja ke aku, welcome,” ujarnya.

Pengalaman pahit juga dialami Syifa Fatma, pengurus Niqab Squad Bandung. Di waktu-waktu awal memakai cadar, dia pernah mendapat celaan dan pertanyaan tendensius: “Kenapa, kenapa pakai pakaian seperti itu? Apakah membudayakan budaya Timur Tengah, budaya Arab?”

Pemberian stigma semakin memburuk setelah peristiwa bom bunuh diri di Surabaya tahun 2018  yang melibatkan seorang perempuan bercadar dan anaknnya. Komunitas Niqab Squad bahkan terpaksa “vakum” dari kegiatan eksternal dan membatasi sosialisasi.

“Pandangan orang-orang tuh langsung berbeda,” katanya. “Langsung merasa takut kalau di dekat kita.”

Lebih jauh, Athifa dkk. dalam jurnal “Pengalaman Komunikasi Mahasiswi Bercadar dalam Menghadapi Stigma Masyarakat”, mengungkap berbagai bentuk stigma yang dialami pengguna cadar, seperti: (1) labeling atau pemberian cap sebagai teroris atau “ninja” oleh masyarakat, (2) stereotip atau perilaku yang dianggap mencurigakan, seperti seorang pria dewasa yang ketakutan dan kabur saat melihat perempuan bercadar di minimarket, (3) separation atau perlakuan terpisah, seperti diminta secara halus untuk membuka cadar saat memasuki Bank Syariah, dan (4) diskriminasi atau perlakuan merendahkan dari pedagang warung yang melempar barang atau uang kembalian.

Cadar di Mata Mahasiswa

dJatinangor menggelar survei tentang “Eksplorasi Pandangan Kema Unpad tentang Mahasiswi Bercadar di Lingkungan Kampus” yang melibatkan 55 orang responden. Dari jumlah tersebut, sebanyak 53 orang responden di lingkungan kampus merasa biasa saja dan tidak was-was atau berprasangka, sementara dua sisanya merasa was-was akibat stigma masyarakat. Ada satu orang responden yang memandang cadar sebagai ekspresi yang berlebihan, bukan kebebasan.

Keberagaman ini, yang salah satunya terwujud melalui cara berpakaian, secara tidak langsung menantang kampus untuk menciptakan ruang yang tidak hanya aman dan nyaman bagi semua keyakinan, tetapi juga mampu merespons perbedaan tanpa prasangka. Dengan kata lain, pihak kampus memiliki tanggung jawab membangun iklim inklusif yang melindungi hak berekspresi dan beragama setiap sivitas akademika.

Namun, ini bukan kerja semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak lapisan dalam keputusan dan sikap setiap mahasiswa. Persepsi terhadap perempuan bercadar, misalnya, sering kali terbentuk dari pengalaman tidak langsung dan dari gambaran yang tersebar di masyarakat. Lagi-lagi, stigma menampilkan imbas yang signifikan.

Jimmy (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), mengakui bahwa kewaswasan awalnya muncul dari stigma yang sudah mengakar di benak. Setiap kali melihat mahasiswi bercadar dari jauh, perasaan itu akan muncul. Apalagi jika mahasiswa bercadar itu berkelompok. Dia segera berprasangka bahwa mereka sedang membawa kepentingan tertentu. Semacam agenda tersembunyi yang dipersepsikan sebagai “ancaman”.

Jimmy bahkan bisa mengestimasikan bahwa 50 persen dari kekhawatirannya berkaitan dengan “radikalisme” atau aliran ekstrem keagamaan, sementara sekitar 20 persen berkaitan dengan “teroris dan bom”. Kondisi ini, diakui Jimmy, tidak lepas dari pemberitaan di media yang kerap mengaitkan perempuan bercadar dengan kelompok radikal. Pengalaman pribadi ini telah membentuk pandangannya sejak remaja, sekitar SMP, sehingga membuatnya belum pernah berinteraksi langsung dengan perempuan bercadar.

Dan Jimmy menyebut dia tidak sendirian merasakan kewaswasan terhadap perempuan bercadar di kampus. Beberapa teman di lingkarannya memiliki perasaan serupa.
“Jika mereka melihat hal seperti ini, mereka akan langsung menepuk saya atau bahkan menegur saya dengan berkata: ‘Ada orang-orang seperti ini’,” ujarnya.

Pandangan serupa diungkapkan Cinta (bukan nama sebenarnya), mahasiswi Jurusan Kimia. Berasal dari Bali yang memiliki latar belakang budaya berpakaian lebih terbuka, dia mengaku merasakan adanya jarak ketika melihat mahasiswi bercadar. Kesan misterius yang muncul cenderung mengarah pada pandangan negatif, membuatnya beranggapan bahwa mahasiswi bercadar “agamanya lebih keras” atau bahkan “fanatik” sehingga Cinta merasa mereka tidak bisa diganggu. Interaksinya segan dan kaku.

Selain budaya asal, Cinta juga menyebut media sosial turut berperan dalam pembentukan prasangka dan stigma. Contohnya, konten prank luar negeri yang menampilkan orang bercadar sengaja menjatuhkan tas di kereta, menyebabkan kepanikan massal.
“Aku ngeliat satu stereotip, kalau orang yang pakai cadar itu, ya, datangnya untuk mencelakakan gitu,” katanya.

Cinta memandang cadar sebagai ekspresi yang berlebihan, dan dia tahu bahwa pandangannya ini termasuk minoritas. Namun dia merasa tetap perlu menjaga jarak karena menganggap orang bercadar sebagai “seseorang yang lebih tinggi” atau “lebih alim” sehingga dia khawatir akan “keceplosan” atau tidak bisa bercanda seperti biasa. Sikap yang sama dia terapkan pada sosok religius dari agama lain, seperti biarawati Katolik atau rohaniwan.

Jimmy dan Cinta berharap kampus lebih proaktif dalam upaya menghilangkan stigma negatif dan menciptakan ruang inklusif. Mereka menyatakan kesediaan untuk berdialog secara objektif dengan forum kebebasan berekspresi dan beragama, terutama mengenai cadar, untuk mendapatkan wawasan baru dan mengurangi stigma. Bagi keduanya, langkah-langkah dialogis ini amat fundamental.

Menciptakan Iklim Inklusif

Di tengah dinamika persepsi dan pengalaman pribadi para mahasiswinya, pihak kampus Unpad memegang peran sentral dalam menciptakan iklim yang inklusif bagi keberagaman ekspresi keagamaan. Direktur Kemahasiswaan (Dirkema) Unpad, Inu Isnaeni, menjelaskan bahwa hingga saat ini Unpad belum memiliki aturan berpakaian yang eksplisit dan terperinci. Yang ada imbauan untuk “berpakaian rapi dan sopan”.

Tidak ada penjabaran detail lebih lanjut mengenai definisi “rapi dan sopan”. Wacana untuk membuat aturan yang lebih jelas sebenarnya pernah ada, didasari keresahan akan ketertiban, kerapian, dan upaya membiasakan mahasiswa untuk siap masuk dunia kerja. Namun diskusi tersebut tak kunjung rampung.

Menurut Inu, kebebasan berekspresi dalam berpakaian adalah hak, tetapi harus dibatasi oleh kewajiban-kewajiban di instansi terkait. Ada tempat, kondisi, dan konteks yang harus dipahami. Ia mencontohkan aturan saat mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

“Kira-kira kalau misalnya datang ujian terus pakai crop top, pakai sendal jepit, diperbolehkan masuk enggak?” tanyanya retoris.

Aturan serupa berlaku untuk mereka yang bercadar. Peserta UTBK yang bercadar tidak akan diperbolehkan mengenakan cadar saat ujian. Alasannya jelas, yakni untuk verifikasi identitas dan mencegah kecurangan, seperti joki. Proses verifikasi ini melibatkan pemeriksaan oleh petugas yang sesuai jenis kelamin dan mencakup perabaan tubuh untuk mendeteksi alat komunikasi yang disembunyikan.

Inu menambahkan, senada dengan UTBK, untuk foto identitas seperti ijazah, mahasiswa bercadar juga wajib memperlihatkan wajahnya. Alasannya, ijazah adalah dokumen penting untuk identifikasi, sama seperti paspor atau KTP. Inu menyinggung isu crosshijaber, laki-laki yang menyamar sebagai perempuan bercadar untuk tujuan negatif, sebagai salah satu alasan perlunya validasi identitas.

Ditegaskan Inu, Unpad berusaha menjamin pemenuhan hak para mahasiswanya. Termasuk hak untuk bercadar. Unpad, menurutnya, merupakan institusi yang progresif dalam memfasilitasi keberagaman beragama.

“Contohnya TPB OKK. TPB itu kan ada dalam bentuk agama, ya. Itu kan sampai misalnya ada mahasiswa-mahasiswa Inggris, anak FIB, agamanya Bahai. Dan itu difasilitasi untuk satu orang itu,” paparnya.

Keluarga Mahasiswa Muslim Unpad (KMMK), sebagai organisasi mahasiswa berotoritas, juga berupaya menjaga iklim yang inklusif di kampus. Eka, Ketua KMMK, menjelaskan bahwa organisasinya berprinsip inklusif, tidak membatasi siapa pun yang ingin bergabung, meskipun secara praktis sebagian besar pendaftar sudah berhijab.

Menurut Eka, KMMK secara tegas menghindari ideologi yang dianggap radikal. Jika ada anggotanya terindikasi berafiliasi ke kelompok radikal, organisasi akan segera menanggapi. KMMK juga aktif berdialog dengan unit kegiatan mahasiswa (UKM) keagamaan lain meskipun fokusnya terletak pada persiapan kegiatan bersama, bukan pembahasan spesifik tentang keberagaman.

Tameng Diri, Pelipur Hati

Di balik pengalaman stigma dan diskriminasi, cadar memiliki makna yang mendalam bagi para penggunanya. Bagi Nala, misalnya, cadar adalah sebuah tameng dan penjagaan diri, sekaligus motivasi untuk menjaga sikap untuk tidak berinteraksi berlebihan dengan lawan jenis. Nala merasa terlindungi dari isu kekerasan dan pelecehan, meskipun menyadari ada kasus pelecehan yang menimpa perempuan bercadar.

Juga bagi Syifa, cadar menjadi perisai yang melindunginya dari fitnah laki-laki yang bukan mahram dan pandangan yang haram. Lebih dari itu, cadar adalah identitasnya sebagai muslimah yang menjalankan syariat Islam, sekaligus bentuk ketaatan kepada suami.

Beragamnya motivasi untuk memakai cadar diungkap dalam jurnal yang ditulis Athifa dkk., di antaranya trauma dari pelecehan spesifik, mengikuti tren, atau terpengaruh pergaulan dengan teman sebaya yang aktif dalam kajian agama.

Meski telah memutuskan bercadar, perjalanan menjadi istikamah jelas berliku. Nisa, misalnya, mengaku terkadang melepas cadar secara kondisional, menggantinya dengan masker ketika lingkungan dirasa tidak cadar-friendly atau saat cadar sifonnya basah dan mencetak wajah. Nala juga pernah mengalami fase ini saat SMP ketika motivasinya belum sepenuhnya dari hati. Namun, pengalaman catcalling saat ia tidak bercadar menjadi “teguran langsung” yang meyakinkannya tentang manfaat cadar sebagai penjaga diri.

“Mungkin kayak oh iya iya, ternyata emang pakai cadar juga ada manfaatnya, gitu. Ya itu tadi, sebagai bentuk menjaga diri,” ujarnya.

Menggugat Narasi Media

Representasi perempuan bercadar di media memiliki pengaruh besar dalam membentuk stigma di tengah masyarakat. Sejak peristiwa serangan 11 September 2001, kecenderungan Islamofobia meningkat tajam, terutama di negara-negara Barat. Perempuan Muslim yang mengenakan hijab maupun cadar kerap dijadikan simbol yang dianggap mencolok dan berbeda, lalu disematkan sebagai bagian dari narasi ancaman atau ekstremisme. 

Dalam konteks ini, pakaian mereka bukan lagi sekadar ekspresi keimanan, tetapi dimaknai sebagai penanda identitas yang problematik di mata masyarakat liberal. Beberapa negara seperti Prancis dan Jerman bahkan telah memberlakukan pelarangan terhadap cadar, dengan alasan bahwa penutup wajah tersebut dianggap sebagai simbol politik atau keterkaitan dengan ideologi radikal.

Syifa Fatma berharap media dapat lebih berempati dalam pemberitaannya. Dia juga meminta media untuk berkomunikasi langsung dengan perempuan bercadar, meliput kegiatan positif mereka, alih-alih hanya berfokus pada hal negatif yang kemudian menimbulkan stigma luas.

Pandangan agak berbeda disampaikan Nala. Sesekali dia melihat pemberitaan media yang cukup memihak, mungkin karena pengaruh lingkungan atau algoritma yang “sefrekuensi” yang membuatnya kerap terhubung dengan berita-berita positif. Sebagai contoh, ketika ada penolakan terhadap perempuan bercadar, mereka seperti kesal dan mempertanyakan: “Kenapa sih kita ditolak? Apa salahnya kita?”

Perspektif keberagaman dalam diri Nala di antaranya tergambar dalam bagaimana dia menyikapi penolakan masyarakat terhadap kehadiran gereja di lingkungan asalnya di Bekasi. Dia menyayangkan bagaimana masyarakat mudah terpengaruh oleh ketakutan seperti anggapan bahwa pembangunan gereja akan menyebabkan orang “murtad”. Padahal Indonesia adalah negara multikultural yang seharusnya memberikan jaminan pada kebebasan beribadah.

“Cuma ya itu tadi, gitu, justru kita tuh malah jadi bagian dari yang menolak itu juga,” keluh Nala.

Membongkar Prasangka

Di tengah tantangan stigma dan diskriminasi, muncul berbagai strategi personal dalam menavigasi pandangan publik, serta harapan kolektif yang menuntut peran aktif dari media dan institusi demi terciptanya harmoni kampus. Semua dimulai dari yang paling sederhana: memberi penjelasan setiap kali ada pertanyaan. Nala melakukannya ketika ditanya tentang alasan bercadar atau afiliasi alirannya. 

“Untuk memberi mereka lebih paham aja, sih. Biar mereka tuh gak salah-salah gitu tentang diri aku juga, tentang orang-orang bercadar,” tuturnya.

Syifa menambakan, selain memberikan penjelasan verbal, membuktikan diri dengan berakhlak baik menjadi strategi ampuh lain bagi mahasiswi bercadar. Perilaku baik secara efektif akan membuktikan bahwa stigma tidak benar. 

“Kita coba buktikan aja dengan perilaku dari kita sendiri,” katanya.

Fleksibilitas juga menjadi kunci adaptasi. Nisa, misalnya, sesekali melepas cadar atau menggantinya dengan masker dalam kondisi tertentu. 

“Ketika aku mendapatkan situasi yang kayak gitu, maka aku milih buat kayak: ‘Oh, kayaknya aku di bagian sini aku lepas cadar aja deh’,” ujar Nisa.

Terhadap aturan-aturan kampus yang melarang penggunaan cadar di momen-momen tertentu, Nisa juga mengaku tidak keberatan. Dia akan membuka cadar karena tahu bahwa itu dilakukan semata untuk melakukan validasi identitas dan dia tahu betapa penting proses tersebut. 

“Toh juga setelah aku searching, cadar ini itu tergantung kitanya mau ngambil persaksian mana, apakah ingin mengambil hukum yang diwajibkan, apakah ingin mengambil hukum yang disunahkan, atau yang dimakruhkan,” jelas Nisa, menunjukkan pemahaman fleksibilitasnya.

Merangkai toleransi selalu merupakan jalan panjang. Nala, Nisa, Syifa, dan perempuan-perempuan bercadar memiliki keyakinan bahwa itu bisa diusahakan bareng-bareng. Salah satu langkah pertama adalah dengan membongkar sitgma dan prasangka. 

Syifa sadar betul, tidak semua orang bercadar bisa membuka diri lebih dulu. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak segan untuk mengenali mereka sebab mereka tetaplah anak muda seperti pada umumnya.

“Coba kamu lebih dekat,” tuturnya. “Lebih banyak ngobrol sama orang yang emang seperti ini (bercadar), gitu.”

*Liputan ini merupakan hasil kolaborasi BandungBergerak dengan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dalam program Jurnalisme Inklusif.

Reporter: Fuza Nihayatul Chusna
Penulis: Raffael Nadhef
Editor: Tri Joko Her Riadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *