Sikap Setengah Hati Unpad: Dukung Palestina, Tapi Tak Tolak Menteri di Balik Kontribusi Pasukan BOP

Beberapa mahasiswa Unpad tolak kedatangan Menteri Luar Negeri Sugiono. (Dok. @draftanakunpad5)

Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita sebut dukung penuh kemerdekaan Palestina, salah satunya lewat izin membawa bendera Palestina saat prosesi wisuda. Namun, klaim itu berbanding terbalik dengan sikap kampus yang tetap buka pintu bagi kedatangan Menteri Luar Negeri Sugiono, sosok yang ikut bahas kontribusi pasukan Indonesia untuk Board of Peace (BOP) atau International Stabilization Force (ISF) di Gaza.

Hal ini mencuat dalam dialog terbuka mahasiswa lintas fakultas bersama Arief, Sabtu (15/8/2026), di depan Gedung Rektorat. Mulanya, Samuel Josep Jeremia, mahasiswa FISIP, pertanyakan langsung motif kampus yang berulang kali terima kunjungan pejabat negara, termasuk Sugiono, di tengah sikap pemerintah yang dinilai tak berpihak jelas kepada Palestina.

“Apalagi kemarin Menteri Luar Negeri yang saya pribadi kurang sepakat untuk hadir di Unpad dengan masuknya BOP dan tidak berpihaknya kepada Palestina. Ini jadi sebuah penasaran besar bagi kami mahasiswa.”

Rektor Sebut Tak Pernah Mengundang

Menjawab itu, Arief menegaskan pihaknya tak pernah mengundang para menteri untuk datang ke kampus. Ia sebut kampus bersifat terbuka bagi siapa pun sebagaimana motto inklusif yang disebutnya, termasuk pejabat negara. Dan disebutnya pula, kehadiran Sugiono sebelumnya terjadi lantaran ada kerja sama dengan pihak Martha Tilaar, bukan undangan resmi dari rektorat.

“Yang pertama, kami tidak mengundang. Yang kedua, kampus ini adalah terbuka. Kami tidak bisa menutup kampus, bilang Anda tidak boleh datang. Kemarin Pak Menteri bukan kami mengundang, mereka datang. Dan kalau mereka datang, masa saya sebagai tuan rumah bilang Anda tidak boleh masuk.”

Juga, ia sebut prinsip keterbukaan itu sebagai bagian dari upaya menjadikan Unpad sebagai “melting point” bagi berbagai gagasan. Sedang sikap pribadinya, ia tegaskan mendukung kemerdekaan Palestina, dengan klaim pernah menyampaikan hal itu langsung kepada Sugiono saat kunjungan berlangsung.

“Saya sampaikan bahwa pada prinsipnya kami sebagai pimpinan di Unpad menyatakan bahwa kami mendukung penuh kemerdekaan Palestina. Dan beliau juga menyatakan hal yang sama,” kata Arief, sambil menambahkan bahwa kampus mengizinkan mahasiswa membawa atribut Palestina saat wisuda sebagai bukti sikap itu.

“Tidak Pernah Punya Sikap yang Jelas”

Jawaban rektor itu tak sepenuhnya diterima mahasiswa. Farrel Danendra, mahasiswa FISIP, menilai Unpad justru tak pernah menunjukkan sikap yang tegas terhadap berbagai isu yang melibatkan kampus, termasuk terhadap Menlu Sugiono.

“Universitas Padjadjaran tidak pernah mempunyai sikap yang jelas, baik itu terhadap MBG ketika masuk kampus, Menlu datang, dan lain sebagainya.”

Tanggapi itu, Arief bantah dengan sebut kampusnya pernah keluarkan Maklumat Padjadjaran soal isu BOP, yang menurutnya hanya disuarakan oleh dua kampus di Indonesia: Unpad dan UGM. Farel membalas, sikap itu hanya menyentuh sebagian isu tertentu, bukan jadi pendirian yang konsisten di tiap persoalan serupa.

Direktur Kemahasiswaan Unpad Inu Isnaeni Sidiq menambahkan, kampus sebelumnya juga pernah gelar forum diskusi terbuka semacam peringatan Hari UNESCO Internasional dengan ngundang narasumber dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, agar diskusi berimbang. Semacam itu, ia dorong mahasiswa menyampaikan aspirasi lewat jalur formal, tak sekadar aksi turun ke jalan: “Supaya apa? Noise kalian jadi voice. Kalau kalian teriak-teriak, noise, nggak ada yang denger.”

Protes di Lapangan dan Dunia Maya

Keresahan mahasiswa terhadap kunjungan Sugiono tak hanya diumbar di dialog itu saja. Di hari-hari sebelumnya, tepatnya pada Prabu Day-3 (12/8), sejumlah mahasiswa Unpad gelar aksi tolak kedatangan Sugiono sambil bawa spanduk bertuliskan “Tolak Menlu Zionis” dan “Aing Jeung Palestina”. Aksi ini berakhir ramai di akun @draftanakunpad5.

Penolakan itu turut digerakkan oleh Reza Savero, mahasiswa FH Unpad. Ia juga mengunggah penolakannya lewat instagram yang cuplik berita CNBC Indonesia soal keterangan Sugiono yang kontributif dalam BOP. Dalam berita itu, Sugiono sebut sembilan negara telah nyatakan komitmen kontribusi dana senilai total US$7 miliar untuk Gaza, sedang Indonesia pilih berkontribusi lewat pengerahan pasukan sebagai bagian dari ISF.

Reza menyertakan keterangan “Siamo tutti anti sionisti” (Kita semua adalah anti-Zionis) dan menandai akun Instagram Prabu Unpad dengan kalimat kritik: “Shame on you!”

Kritik yang Sejalan

Keresahan atas sikap kampus yang dinilai inkonsisten ini juga telah muncul dalam tulisan opini mahasiswa Unpad menjelang masa orientasi mahasiswa baru, yang berjudul “SURAT TERBUKA UNTUK MAHASISWA BARU DAN PARA PANITIA MASA ORIENTASI: KETIKA PROTES DIBALAS NYINYIRAN”. Dalam tulisannya, penulis yang bernama pena “Bukan Maba” sebut kesuksesan masa orientasi mestinya diukur dari sejauh mana panitia mampu menumbuhkan sikap kritis dan penyadaran politik pada maba, bukan dari banyaknya pejabat atau bintang tamu yang dihadirkan.

Bagai penerka, kritik itu akurat dengan keresahan serupa di kalangan mahasiswa soal kecenderungan kampus mendatangkan kehadiran figur publik serta pejabat ketimbang membangun penuh sikap dan kesadaran kritis mahasiswa terhadap isu-isu yang tengah berkembang.

Prioritas Rektor Dipertanyakan

Masih dalam dialog terbuka, mahasiswa lain turut kaitkan sikap kampus soal fasilitas dengan cara pandang rektor terhadap pihak eksternal. Saat Arief sebut dirinya malu bila fasilitas kampus yang usang terlihat oleh tamu dari luar, mahasiswa itu balik bertanya kenapa rasa malu itu baru muncul saat berkaitan dengan citra di hadapan pihak luar, bukan sejak awal terhadap mahasiswa yang bayar iuran pembangunan.

“Terkait fasilitas yang kurang layak, kenapa Bapak malah malunya sama kunjungan dari luar? Emang Bapak nggak malu sama mahasiswa yang membayar iuran bangunan?” tanyanya.

Arief bantah anggapan itu dan nyatakan rasa malunya berlaku baik kepada mahasiswa maupun pihak luar.

Penulis: Raffael Nadhef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *