Mahasiswa Batal Wisuda sebab Gelar Belum Diganti, Ini Segudang Keluhan dari Mahasiswa Lintas Fakultas untuk Rektor Unpad

Para mahasiswa baru kedokteran tengah jalani ospek fakultas. (Dok. Raffael Nadhef)

Sejumlah mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad urung ikuti wisuda bulan Agustus lalu sebab perubahan gelar dari Sarjana Teknologi Pertanian (S.TP.) menjadi Sarjana Teknik (S.T.) tak kunjung disahkan. Meski, proses itu disebut sudah berjalan bertahun-tahun di tingkat kurikulum. Persoalan ini mencuat dalam dialog terbuka mahasiswa lintas fakultas bersama Rektor Unpad Arief Sjamsulaksana Kartasasmita, Sabtu (15/8/2026), di depan Gedung Rektorat, usai kepulangan Menteri Brian Yuliarto.

Dalam dialog itu, mahasiswa dari FISIP, FTIP, PSDKU Pangandaran, Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Farmasi (FF), Fakultas Peternakan (Fapet), hingga Fakultas Pertanian (Faperta) bergantian melayangkan keluhan, mulai dari fasilitas kampus yang bertahun-tahun tak diperbaiki, transparansi pengadaan laboratorium, sampai kelas yang membludak akibat kebijakan kuota mahasiswa baru.

“Memang banyak mahasiswa dari Teknik Pertanian yang harusnya lulus pada bulan Agustus kemarin tapi mengundurkan diri karena memang menunggu keputusan dari S.T. ini,” ujar Ketua BEM Kema FTIP Mohammad Hafaz Nur Rizqi kepada Arief.

Saat didesak sebut tanggal pasti penyelesaian perubahan gelar itu, Arief tak beri kepastian: “Saya akan segera cepatlah nanti, ya,” tanpa juga merinci lebih lanjut mekanisme atau jangka waktu penyelesaiannya.

Ia hanya sebut FTIP tengah diarahkan jadi Fakultas Teknik Industri, yang juga akan menghimpun prodi Teknologi Pangan, Teknik Pertanian, Teknik Elektro. Ia juga berjanji mahasiswa yang masa studinya molor akibat keterlambatan proses ini takkan dibebani UKT tambahan, tanpa memastikan kapan kebijakan itu berlaku efektif.

Jalan Rusak dan Lampu Mati yang Bertahun-tahun Dibiarkan

Para Kabem Fakultas melaporkan penerangan jalan yang gelap di beberapa titik kampus, termasuk di depan FISIP hingga luar gedung Saintek menuju FK, serta jalan menuju kawasan Ciparanje yang masih berlubang dan berpasir juga pernah sebabkan mahasiswa terjatuh saat melintas.

Arief akui sudah berulang kali mendengar keluhan serupa, meski perbaikan belum juga terealisasi hingga dialog ini berlangsung. Ia minta mahasiswa melaporkan titik-titik yang masih gelap paling lambat Senin pekan berikutnya, tanpa menjelaskan mengapa keluhan yang sama terus berulang tanpa penyelesaian selama ini.

“Kalau untuk beli lampu mah insyaAllah ada-lah. Dananya mah insyaAllah.”

Anggaran Lab Disebut Sudah Cair

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Zahrotur Rusyda Hinduan sebut tiap fakultas sudah dapat anggaran peremajaan alat laboratorium sebesar Rp500 juta, yang juga dijanjikan per semester ada terus.

Mahasiswa kemudian pertanyakan apakah kebijakan itu benar sudah tersosialisasi ke kaprodi dan dekan masing-masing fakultas, mengingat sebagian alat lab di lapangan masih dilaporkan usang. Ia juga minta agar rencana belanja fakultas untuk alat lab bisa diakses mahasiswa secara real time.

Arief menyatakan pihaknya terbuka soal rencana belanja itu, dan turut ungkapkan kekhawatirannya sendiri soal potensi alat lab yang dibeli dengan anggaran mahasiswa justru dipakai untuk kepentingan riset pribadi dosen.

“Buat kepentingan dosen dia reset misalnya. Saya tidak berharap bisa terjadi seperti itu. Jadi makanya saya minta tolong kawal.”

Klarifikasi Polemik PSDKU Pangandaran

Wakil Ketua BEM PSDKU Pangandaran Yuzhar Daffaa menagih kejelasan soal isu sengketa nota kesepahaman (MoU) antara Unpad dan Pemerintah Kabupaten Pangandaran yang sempat ramai di media lokal, sekaligus minta transparansi soal pembangunan fasilitas di sana.

Arief bantah ada sengketa dan sebut isu itu muncul akibat simpang siur informasi soal rendahnya jumlah pendaftar asal Pangandaran.

Sedang soal pendanaan, Arief menjelaskan pembangunan gedung dan laboratorium PSDKU Pangandaran kini sepenuhnya dibiayai dari dana internal Unpad dan kerja sama dengan perbankan, menyusul terhentinya bantuan dana dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sejak sekitar empat tahun lalu.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Transformasi Digital, Keuangan dan Pengelolaan Bisnis Maman Setiawan jawab anggaran pembangunan gedung dua itu, khusus tahun lalu, sebesar 550 juta, meski 5 detik sebelumnya disebut 500 juta.

“Khusus tahun lalu kita mengeluarkan dana berapa itu?” tanya Arief.

“Yang mana, ya? … Oh itu 500 juta. … 550 juta,” jawab Setiawan.

Rotasi Koas Berubah-ubah

Plt. Ketua BEM Kema FK Unpad 2026 Aretha Camryn Nur Haldis mempertanyakan aturan masa studi yang kerap berubah-ubah dan berdampak langsung pada rotasi koas di berbagai rumah sakit jejaring, termasuk kasus pembatalan mendadak penempatan ke luar kota.

Arief jawab soal masa studi itu bersumber dari data perkonsil (Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia), dan dikaitkan pula dengan rumah sakit jejaring yang menurutnya kini: “nggak bisa lagi dipakai buat koas”.

“Di rumah sakit cuma dorong-dorong (brankar). … Belum siap prosesnya, jadi kadang-kadang adik yang sudah mau ke Garut tiba-tiba nggak jadi, pindah ke sana.”

Ia sebut sudah minta ke Fakultas Kedokteran agar diperbaiki, meski tak paparkan linimasa perbaikan sistem rotasi itu.

Camryn sebut juga adanya simpang siur informasi soal durasi koas yang berubah dari semula tiga semester. Lagi, Arief menjanjikan akan mengecek ulang ke pihak fakultas.

Kapasitas Kampus Penuh, Kelas di Faperta Sampai 50 Orang

Ketua BEM KM Fakultas Pertanian Fathan Zaky Al Ghifari melaporkan jumlah mahasiswa yang terus bertambah tiap tahun tanpa diimbangi penambahan fasilitas, sehingga satu kelas bisa diisi hingga 50 orang.

Arief menjelaskan kondisi ini adalah konsekuensi langsung dari kebijakan kampus menaikkan utilisasi kapasitas dari sekitar 70% pada 2017-2022 jadi 100% sejak tahun ajaran 2024/2025, menyusul teguran pemerintah yang menilai kapasitas terpasang tak terisi maksimal.

Artinya, lonjakan jumlah mahasiswa per kelas yang dikeluhkan hari ini adalah turut hasil pertimbangan rektorat sendiri menaikkan kuota penerimaan tanpa disertai penambahan fasilitas belajar yang proporsional sejak awal.

Hanya, Arief pastikan kuota penerimaan mahasiswa baru takkan ditambah lagi tahun depan, dan sebut pembangunan gedung kuliah bersama setinggi 12 dan 7 lantai di lahan tanah merah sebagai solusi. Meski, ia sendiri mengaku proyek itu baru bisa rampung dalam kurun 6 bulan atau setahun ke depan.

Rusyda menambahkan, tahun ini Unpad menekan angka penerimaan mendekati 99% dari kuota, dibanding tahun lalu yang sempat menerima 102%.

“Nah sekarang kami malah ditegur karena disuruh menurunkan gitu. … Tahun lalu kami memang menerima 102%. Kalau sekarang kami itu menerima benar-benar 99% gitu, ya.”

Penulis: Raffael Nadhef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *