(Dok. dJ/Raffael Nadhef)
Kami keliling kampus malam-malam. Ngobrol sama satpam. Nanya ke mahasiswa. Dan ternyata… setiap sudut punya cerita.

Bagian 1/3
FIB PSBJ, Gedung Pusat Studi Bahasa Jepang
Kalau ada satu gedung yang namanya paling sering muncul tiap kali orang ngobrolin horor Unpad, itu PSBJ.
Pak Hendra (sebut saja begitu), satpam FIB yang udah belasan tahun jaga di sini, ngomong langsung ke kami tanpa basa-basi: “Dari semua tempat yang pernah saya jaga, yang paling seram itu di PSBJ.” Dan dia bukan orang yang belum kemana-mana. Dia udah keliling banyak fakultas.
Anak-anak FIB kadang nyebutnya obake, istilah Jepang untuk hantu. Dan orang-orang yang pernah latihan malam di sekitar gedung ini tahu sendiri rasanya. Bayangan orang lalu-lalang di dalam perpustakaan bahasa Jepang, si toshokan, padahal perpusnya udah dikunci rapet. Ada yang lihat kakek-kakek duduk baca koran di dalam toshokan tengah malam. Ada yang lihat nenek-nenek berdiri diam di lantai dua. Siang-siang, saklar lampu nyala-mati sendiri kayak ada yang main-mainin.

(Dok. dJ/Raffael Nadhef)
Satu alumni pernah dapat giliran tugas sendirian di ruang chanoyu, rumah adat Jepang kecil di dalam kompleks PSBJ, waktu malam acara. Lagi beres-beres, santai, gak curiga apa-apa. Pintu terbuka. Dan sekelebat, tepat di depan matanya, sosok berjubah hitam lewat. Cepat. Jelas. Badannya langsung merinding, dan dia bahkan sampe demam setelahnya.
Yang nggak banyak diketahui: PSBJ pernah masuk TV nasional buat acara uji nyali. Komunitas dari Bandung datang, puluhan orang. Tapi kata satpam yang masih inget kejadian itu, kalau rame, jarang muncul. “Tapi kalau sendiri,” katanya, “pasti lihat.”
FIB Gedung C

(Dok. dJ/Raffael Nadhef)
Di FIB, reputasi Gedung C udah lama beredar, dan bahkan satpam senior pun ngerasainnya sendiri.
Pak Hendra, yang udah bertahun-tahun jaga, cerita terus terang: daripada naik patroli ke lantai dua atau tiga sendirian, dia lebih milih duduk di luar aja sampai subuh. “Auranya beda,” katanya. “Sangat terasa.”
Wulan, mahasiswi FIB, cerita ini dengan nada yang masih kayak nggak percaya sendiri. Sore menjelang magrib, hujan deras. Dia nunggu temannya di depan Gedung C, sendirian, berdiri dekat Mading. Matanya nggak sengaja tertarik ke ruangan arsip di balik jendela.
Di kaca itu, nempel muka. Hitam gosong. Transparan, tapi jelas banget bentuknya. Wulan langsung teriak manggil teman-temannya dan kabur.
Satpam lain yang bertugas di FIB punya cerita sendiri. Waktu naik sendirian ke Gedung C malam-malam buat matiin lampu, di lantai atas ada sosok duduk di kursi. Dia mendekat, dan sosok itu hilang gitu aja. Di lain waktu, dia lihat sosok perempuan berbaju merah di sana, cuma sekali, seolah memang sengaja menampakkan diri sebelum pergi.
Dan satu hal yang jadi cerita lama di kalangan anak FIB: konon pernah ada pocong yang ikut mengangguk-angguk ngikutin irama gamelan waktu latihan malam di dalam gedung. Waktu patroli malam pun, satpam di sini sering dengar langkah kaki yang ikut berjalan persis di belakang mereka. Persis. Di belakang.
FMIPA dan Geologi

(Dok. dJ/Raffael Nadhef)
Jalur IPA. Kalau kamu pernah lewat sini malam-malam, kamu pasti ngerasain bedanya.
Pohon-pohon besar, penerangan yang minim, dan belokan-belokan sepi yang terasa jauh banget dari bagian kampus yang ramai. Pak Hendra waktu kami tanya langsung bilang: “Jalur IPA itu yang seram. Pagi aja sudah gelap, apalagi malam.”
Dari sekitar FMIPA, ada satu cerita yang sampe sekarang susah dilupain orang yang ngalaminnya. Sepasang kakak-beradik dan dua teman mereka selfie santai di dekat pohon beringin besar, menjelang magrib. Iseng, nggak mikir macam-macam. Waktu foto dibuka, di belakang mereka ada sosok besar berbulu, mata merah menyala, ukurannya jauh lebih besar dari manusia. Sayang, foto itu sekarang udah hilang.
Di area Geologi, laporannya beda lagi. Bukan satu sosok, tapi banyak: hantu-hantu merah yang melayang-layang, terutama di gedung lama, di salah satu ruang kelas, dan di area lab. Gak jelas apa mereka, gak ada yang mau terlalu dekat buat mastiin.
Dan di balik lebatnya pepohonan antara Geologi dan Fapet, tim penelusuran kami nemuin sebuah gubuk …
(Dok. dJ/Raffael Nadhef dan RMU/Raisyah)
FISIP Gedung D Lantai 3
Cerita ini tiap generasi selalu ada. Beda orang, kejadiannya serupa. Yang sekarang menceritakannya, sebut saja Zahra.
Ada cowok, anak Gedung D FISIP. Malam itu dia harus ke toilet, dan di Gedung D cuma ada satu: di lantai 3, pojok, remang-remang. Jam 04.00–05.00 pagi, gedung udah sepi total.
Waktu di dalam, dia mulai dengar sesuatu. Samar-samar, kayak orang bergumam. Suaranya terasa jauh. Dan kata orang-orang, justru itu yang harus bikin waspada. Kalau suaranya terasa jauh, artinya sumbernya dekat. Pun sebaliknya.
Dia selesai. Mau turun. Berdiri di ambang lorong lantai 3 yang panjang itu.
Di ujung lorong, ada sosok berdiri.
Pocong.
Mereka berhadapan. Diam. Beberapa detik yang rasanya jauh lebih panjang dari seharusnya. Lalu pocong itu melompat. Terbang ke arahnya.
Cowok itu langsung lari turun tangga, tutup pintu, duduk di lantai bawah dengan napas ngos-ngosan.
Dari sudut FISIP lain juga ada cerita soal sosok yang berbeda. Seorang mahasiswi pulang lewat depan gedung tengah malam, lihat kuntilanak. Dia baca istighfar. Si kuntilanak menoleh. Geleng-geleng kepala pelan. Lalu bilang, “Gak takut, gak takut.”
Di lab komputer Gedung D, ada kursi gerak sendiri, pintu buka sendiri, suara manggil padahal baru jam tiga sore. Dan dari parkiran Gedung D, seseorang berhasil foto sosok pocong di tangga pakai kamera HP waktu ospek malam.
Kawasan Unpad Jatinangor
Dari semua cerita yang kami kumpulkan, satu pertanyaan terus muncul: kenapa banyak sekali?
Menurut satu narasumber, Unpad Jatinangor berdiri di atas tanah bekas perkebunan karet milik seorang Belanda. Namanya, kata para satpam lama yang masih inget:
Tuan Baud.
Jejak figur yang sama konon masih ada di ITB, lewat tugu Loji di sana.
Tapi bukan cuma soal perkebunan. Di bawah kampus ini dulu ada permukiman penduduk: para petani karet, rumah-rumah mereka, dan makam-makam keluarga mereka. Waktu Unpad mulai bangun gedung demi gedung, banyak makam dipindahkan. Tapi nggak semua.
Di PPBS, satu makam sesepuh sampai sekarang masih ada di bawah gedung dan nggak pernah berhasil dipindahkan. Setiap Lebaran, kata satpam yang jaga di sana, masih ada yang datang untuk ziarah. Di area Balwil, ada satu makam anak kecil yang nggak berhasil dikeruk waktu pembangunan. Masih di sana. Tepat di bawah.
Artinya, kita hidup dan belajar di atas tanah mereka.
Bagian 2/3
ATM BNI, GERBANG LAMA

(Dok. dJ/Raffael Nadhef)
Coba bayangin: dini hari, kamu butuh uang. Kamu jalan ke ATM BNI, dan heran, “Kok ramai banget jam segitu?” Tapi ya udah, kamu ikut antre. Lima menit. Sepuluh menit. Antrean nggak gerak-gerak.
Itulah yang dialami Laras, mahasiswi. Dia berdiri di sana, sabar, sampai matanya iseng turun ke bawah.
Nggak ada telapak kaki.
Semua yang antre di depannya, yang tampilannya persis kayak mahasiswa biasa, ternyata cuma melayang. Kaki mereka putus di mata kaki. Laras langsung balik badan, kabur tanpa nengok lagi. Meski memang bisikan untuk balik badan masih dia dengar.
Cerita serupa pernah dialami dua orang lain di waktu yang berbeda.
Tengah malam, ngantre di luar ATM, liat ada kepala orang di dalam mesin. Tapi ditunggu lama, nggak keluar-keluar. Pas mereka cek ke bawah. Nggak ada kaki. Mereka ngibrit. Dan lagi-lagi, ada yang manggil.
Cerita lain datang dari circle mahasiswa yang jalan bareng di ATM. Rombongan depan sempat nengok ke belakang di tengah jalan, dan ngitung: “Ada lima orang di belakang, ya, oke.”
Sampai kosan, rombongan depan nanya santai:
“Eh, tadi yang satu lagi siapa? Kok di belakang jadi berlima?”
Rombongan belakang pucat: “Hah? Dari tadi kita di belakang cuma berempat…”
Tapi jelas ada yang ikut jalan. Dari tadi. Sampai depan kosan.
“Wujudnya kayak manusia biasa. Gak transparan, sumpah. Meski aku gak liat kakinya.”
Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Unpad
Dari semua fakultas yang disebut angker, Pak Ardi (sebut saja begitu), satpam yang udah bertahun-tahun di Unpad, mengakui satu hal. la berucap dengan nada yang berat: “Yang serem itu di rumah sakit.”
Ceritanya… di area ruang dokter, ada sosok yang terlihat dari jendela kantin pada jam 3-4 subuh. Tapi sosok ini justru keliatannya bukan dari luar gedung, tapi dari dalam. Sosok itu ngintip ke arah yang berjaga di luar. Muncul tepat saat satpam mau matiin lampu dan bersiap pulang.
Yang lebih berat datang dari cerita di rumah sakit: sosok suster. Bukan putih kayak perawat biasa, tapi merah.
Ceritanya, sosok perawat ini sempet berlaga kayak < perawat manusia. Dia ngeganti infusan pasien. Si pasien bingung: “Kenapa saya udah diganti lagi infusannya, sus?” Si perawat gak gubris. Cuma senyum.
Ini beredar di antara satpam yang pernah backup jaga di sana, termasuk soal sosok yang mengikuti dari kejauhan.
Jalur dari area Geologi, melewati MIPA, sampai ke Kedokteran udah lama dikenal sebagai salah satu koridor paling berat di kampus, terutama setelah malam turun.
Jembatan Cincin

(Dok. dJ/Raffael Nadhef)
Kalau ada satu titik di Jatinangor yang ceritanya paling tua, itu Jembatan Cincin.
Mahasiswa yang pernah ngekos di sekitar Cikuda pasti paham: lewat jembatan ini malam-malam itu soal nyali. Pohon bambu rapat di kanan kiri, penerangan yang nyaris nggak ada, dan suasana yang berubah total begitu matahari turun. Laporan soal tempat ini udah ada dari dulu: kuntilanak, suara cekikikan dari balik rumpun bambu, kepala melayang, sampai bola api yang muncul di tengah gelap.
Seorang Seorang mahasiswi maha yang dulu ngekos deket jembatan itu cerita: hampir tiap tengah malam dia denger suara kursi diseret di kamar kosong, tepat di atasnya. Sampai satu malam, dia denger ada ketukan keras di pintu kamarnya.
Dia buka. Nggak ada siapa-siapa.
Tapi baru aja nutup pintu, tetiba ketukannya muncul lagi. Dan nggak ada siapa-siapa lagi.
Dan ada satu cerita yang lebih tua lagi, yang terus diwariskan dari mulut ke mulut. Di gang sempit dekat jembatan itu, tiap malam-malam tertentu antara jam 12-2 dua pagi, terdengar: suara delman lewat.
Padahal, mana ada delman yang mau/bisa lewat gang sesempit itu (?)
BALE WILASA 1
“Namanya juga gedung,” kata Pak Rama (sebut saja begitu), satpam Balwil 1, waktu kami tanya ada apa di sana. “Di semua gedung, pasti ada yang numpang,” katanya sambil menyeringai.
Para penghuni lantai 5 udah hafal betul dengan suara itu: meja atau kursi yang geser-geser sendiri dari kamar sebelah yang kosong, hampir tiap malam. Beberapa penghuni udah kebal, tapi nggak semua sekuat itu. Yang nggak kuat, akhirnya baca Surah Yasin dan Surah Jin dulu, baru pergi tidur di kos teman.
Yang lebih bikin bergidik: ada laporan soal sosok yang menyerupai penghuni. Suatu malam, seorang mahasiswi baru bangun tidur, masih setengah sadar, lalu keluar kamar. Di ranjang atas temannya, dia liat sosok yang persis perawakan petugas gedung. “Hah kok bisa? Ngapain? Gak mungkin, gak mungkin.”
Dia ngibrit ke bawah, nanya ke satpam. Dan katanya, si petugas itu lagi libur. Dia memberanikan untuk balik. Ya, nggak ada siapa-siapa di sana.
Lalu di area pos jaga Pintu C, cerita lain datang dari rekan Pak Rama. Malam-malam saat jaga, temannya pernah lihat sosok putih di kebun belakang. Pak Rama sendiri pernah dengar suara tangisan dari arah sana. Dan beberapa bulan lalu, ada satpam lain yang tetiba lari masuk gedung, dikejar sesuatu yang.. nggak tau apa, tapi putih-putih.
Satu detail yang jarang orang tahu: di bawah area Balwil ini, ada satu makam yang nggak berhasil dikeruk waktu pembangunan.
Masih ada di sana. Di bawah. Dan dari beberapa kesaksian yang saling menguatkan, itu adalah: makam anak kecil.
SC Fikom
Malam Jumat. Kami dapet cerita dari satu mahasiswa. Saat itu dia masuk ke toilet lantai dua SC Fikom. Waktu keluar, mukanya berubah. Panik. Pucet.
“Ada suara ketawa,” katanya. “Dari ventilasi. Jelas banget. Arahnya ke jurang di bawah.”
Pak Surya (sebut saja begitu), satpam Fikom yang udah lama jaga di sini, nggak kaget sama sekali. “Kalau di SC Fikom jangan berisik,” katanya kalem. “Apalagi malam Jumat. Kecuali, kamu pengin ketemu.”
Sosok yang tinggal di sana udah lama dikenal anak-anak KAPPA, komunitas pencinta alam Fikom. Mereka memanggilnya:
Si Nyai.
Perempuan. Bukan nenek, bukan juga kuntilanak dalam bayangan kebanyakan orang. Dan konon dia cuma muncul kalau kamu sendirian.
Seorang mahasiswi pernah cerita: dia sendirian ke toilet malam-malam, meski agak merinding. Tetiba dia dengar
suara nangis. Terisak-isak. Tapi perlahan, itu berubah jadi tawa. Cekikikan.
Suaranya muncul dari ventilasi yang langsung menghadap ke jurang di bawah SC. Jelaas banget. Dia langsung keluar tanpa nengok.
Dan ini yang melengkapi semuanya: di bawah SC Fikom, tepat di jurang yang menghadap ke bawah itu, ada permakaman warga. Taman Melati. Bakal keliatan kalau kamu liat dari ketinggian SC.
Si Nyai tinggal di atas makam… Masuk akal kalau dia nggak mau pergi.
Bagian 3/3
PPBS, Toilet Lantai 2
Malam itu, Nanda (sebut saja begitu) masuk toilet lantai dua PPBS kayak biasa. Nggak butuh waktu lama sampai dia keluar lagi, setengah berlari, napasnya nggak karuan.
“Ada anak kecil,” bisiknya.
Pak Deni (sebut saja begitu), satpam yang malam itu kebagian shift backup, nggak kaget. Nggak juga langsung percaya. Tapi wajahnya datar waktu dia mengonfirmasi, “Ada anak kecil. Yang biasa jaga di sini juga bilang memang ada.”
Selesai. Singkat. Kayak laporan cuaca.
Tapi cerita yang gak kalah bikin bulu kuduk berdiri datang dari seorang mahasiswi yang pernah PKL di sini. Suatu hari dia lagi sendirian di kamar mandi lantai dua itu. Sepi. Wajar. Sampai tiba-tiba ada yang menyandarkan kepala ke pundaknya.
Dia nggak panik. Kira itu teman, baru ada yang datang.
Tapi waktu dia noleh… nggak ada siapa-siapa. Dia sendirian, dan masih sendirian.
Pundaknya sakit sejak hari itu sampai sisa masa PKL-nya habis. Waktu pulang ke rumah dan diperiksa, katanya si anak kecil itu ikut. Terbawa sampai ke rumahnya.
Bukan hal yang mengejutkan, sebetulnya, kalau tahu sejarahnya. PPBS berdiri di atas lahan yang dulunya permukiman. Sebelum gedung ini ada, tanah ini punya penghuninya sendiri, lengkap dengan makam-makam tua yang udah lama nggak ada yang ingat keberadaannya.
Pak Deni sendiri pernah mengalaminya langsung. Waktu bertugas di Gerbang H dekat area D3 Pertanian, jam satu lewat dini hari, dia melihat sosok perempuan rambut panjang. Transparan. Nggak jelas sebetulnya. Tapi cukup jelas buat bikin dia demam setelahnya.
Dan soal makam itu, kata Pak Deni, satu nisan tua masih ada sampai sekarang. Di sudut kampus ini. Kebanyakan orang nggak tahu di mana tepatnya, dan mungkin memang lebih baik begitu.
Lintas Gedung

(Dok. dJ/Raffael Nadhef)
Di antara semua yang kami temukan selama liputan ini, satu nama terus muncul. Dari orang yang berbeda. Dari gedung yang berbeda. Dari tahun yang berbeda. Nama itu sama.
Si Merah.
Pak Surya (sebut saja begitu) dari Fikom, yang hampir lima tahun jaga di PSBJ sebelum akhirnya pindah pos, bicara soal ini dengan nada yang beda dari biasanya. Lebih pelan. Lebih hati-hati.
“Di seluruh Unpad, dia yang paling sakti.”
Sosok perempuan berbaju merah. Yang bikin aneh, kata Pak Surya, penampilannya nggak seram. Nggak kayak hantu yang orang-orang bayangkan: nggak pucat, nggak bergigi panjang, nggak melayang sambil kepalanya miring. Dia tampak… biasa. Tapi kehadirannya terasa lain. Dan udah banyak satpam dari beberapa gedung berbeda yang pernah melihatnya, dari PSBJ, ke FIB, sampai Fikom. Semua cerita itu mengarah ke sosok yang persis sama.
“Kayak berkuasa,” kata Pak Surya. “Tapi nggak pernah mengganggu.”
Di PSBJ yang gedungnya udah tua dan berlapis sejarah, dia bukan tamu yang sesekali mampir. Dia lebih kayak penghuni yang diakui. Yang udah ada lebih lama dari siapa pun yang masih bekerja di sana. Dan dia nggak diam di satu tempat, katanya dia berpindah-pindah di antara gedung-gedung yang saling berdekatan, kayak lagi berkeliling sesuatu yang dia anggap miliknya.
Terlalu banyak orang, dari terlalu banyak tempat dan waktu yang berbeda, yang melihat hal yang sama, sampai sulit untuk sekadar menyebutnya kebetulan.
Pascasarjana Fikom
Kalau SC Fikom punya Si Nyai yang muncul diam-diam, Pascasarjana Fikom punya penghuninya sendiri yang sedikit lebih… berani.
Kata Pak Surya, “Penghuninya di sana itu iseng. Kalau kamu nggak mengganggu, biasanya nggak apa-apa. Tapi kalau dia lagi usil…”
Pernah ada kejadian, entah dosen entah staf, seseorang tiba-tiba dijambak rambutnya dari belakang. Nggak ada orang lain di sekitarnya. Nggak ada suara sebelumnya, nggak ada penampakan setelahnya. Rambut ditarik, selesai. Cukup buat bikin orang nggak mau berlama-lama sendirian di sana.
Kawasan bawah Pascasarjana juga udah lama punya reputasinya sendiri di kalangan mahasiswa yang sering kena kelas malam. Ada bagian-bagian tertentu di sana yang rasanya beda, kayak beda atmosfer dari ruangan yang sama. Susah dijelaskan. Tapi buat yang pernah ngerasain, mereka nggak perlu penjelasan.
Danau Unpad

(Dok. dJ/Raffael Nadhef)
Arbo, atau Danau Unpad, siang hari kelihatannya tempat paling aman di kampus. Tapi saat itu, malam terasa turun lebih cepat dari tempat-tempat lain.
Raka dan Dito (sebut saja begitu) lagi duduk santai di tepi danau. Di tengah-tengah obrolan, Dito kebelet dan pergi ke kamar mandi. Raka ditinggal sendirian.
Waktu Dito balik, Raka masih duduk di tempat yang sama. Posisinya nggak berubah, matanya ke bawah, ke layar HP-nya.
Dito manggil namanya. Nggak ada respons. Sekali lagi. Tetap diam.
Dito mendekat, menyentuh pundak Raka, menarik sedikit. Raka berbalik.
Wajahnya pucat. Tangannya masih pegang HP. Di layarnya, ada foto yang lagi dia ambil, tapi dia nggak ingat memotret apa. Dito refleks ngucap, “Astagfirullah.”
Raka nyambung: “Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.”
Tapi suaranya salah. Pelan. Datar sekali. Sambil menggeleng-gelengkan kepala kecil-kecil. Sambil senyum tipis yang sama sekali nggak cocok dengan situasinya. Matanya nggak lepas dari layar. Nggak kaget. Nggak noleh. Kayak dia nggak sadar ada yang baru balik ke sampingnya.
Kayak ada yang lain yang lagi pakai suaranya.
Di tempat yang sama, di area Ekoriparian, malam yang lain. Sinta (sebut saja begitu) pulang dari warnet bareng teman-temannya, lewat Danau bawah, pukul 18.30, udah mulai gelap.
Yang dengar cuma dia.
Suara anak kecil. Dari arah danau. Kayak lagi berenang. Lalu tertawa.
Dari dalam air.
Teman-temannya nggak dengar apa-apa. Nggak percaya waktu Sinta cerita. Keesokan harinya, Sinta nggak masuk kampus. Sakit. Berasa tenggelam di bawah air.
UKM Timur
Di UKM Timur, penghuni kali ini bahkan udah punya nama: Tante.
Seorang mahasiswa yang sering lembur di sini cerita bahwa Tante udah beberapa kali iseng mengganggu. Suaranya bisa berubah: menangis kayak bayi, lalu dalam hitungan detik berubah jadi tawa perempuan dewasa. Bukan suara yang sama. Dua suara berbeda, dari satu sumber yang nggak kelihatan.
Tapi yang paling susah dilupakan terjadi satu malam, sekitar pukul 02.00–03.00 dini hari. Dia lagi duduk kerja kayak biasa, sampai entah kenapa kepalanya mendongak.
Ada yang lagi terbang melewati langit-langit ruangan.
Bale Wilasa 12
Di Bale Wilasa 12, di Jalan GKPN, ceritanya beda dari semua yang ada di sini.
Yang pernah tinggal di sana tahu. Ada sosok gosong yang suka menggedor kamar malam-malam, datang dengan bau sangit yang mendahului kemunculannya, bau yang nggak jelas asalnya dari mana.
Taman tengah gedung selalu terasa berat waktu dilewati. Kayak ada tekanan yang nggak kasat mata.
Di lantai dua, ada satu kamar terbengkalai di belakang dapur. Kamar itu udah lama nggak ada penghuninya. Tapi dari dalam, sesekali, terdengar suara ketukan. Dari dalam. Berulang. Konsisten. Kayak ada yang ingin keluar.
Dan satu hal lagi yang paling sering terjadi dan paling susah diabaikan: kipas angin di ruang tengah. Mati sendiri, menyala sendiri, tanpa jadwal, tanpa sebab yang bisa dijelaskan. Sudah terlalu sering untuk dianggap kerusakan biasa.
…
Total 17 titik lokasi. Dari gerbang kampus sampai danau, dari toilet lantai dua sampai langit-langit UKM.
Semua cerita ini dilontarkan. Hasil wawancara langsung dengan satpam yang bertahun-tahun menghabiskan malam di sini, dan mahasiswa yang mengalaminya sendiri, dengan tubuh mereka, dengan kepala mereka yang nggak bisa berhenti memikirkannya setelahnya. Nama-nama kami samarkan, tapi kejadiannya nggak ada yang perlu disamarkan.
Peta Hantu Unpad, dicukupkan.
Penulis: Raffael Nadhef
Desain Peta: Allysa Audya, Selfa Kirana
Reporter: Risa Adrina, Raffael Nadhef, Azza Rahmadina, Kislies Putri, Bonifasia Trinari, Aniqa Nourah, Zhafira Adzra, Raisyah Mutiara
—dJatinangor x RadioMu
