(Dok. FTIP Unpad)
Di tengah kesibukan kampus yang padat, Graha, mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad, justru memilih untuk menambah kesibukan lain dengan membangun sebuah usaha bernama Tiriz di dalam kampus sejak masih berstatus maba di tahun 2023.
Pada tahun 2025, Graha hanya membutuhkan sepuluh tanda tangan untuk merealisasikan rencana pembukaan outlet Tiriz di kawasan Puri, Jatinangor. Namun di tengah bangunannya yang hampir rampung, harapan ini sempat pupus karena adanya kendala dari penolakan salah satu warga sekitar.
“Harus ngumpulin sepuluh tanda tangan. Kita udah ngumpulin sembilan cuma satunya lagi enggak bisa,” kata Graha, Rabu (6/5).
Kegagalan di Puri justru membuka jalan bagi Tiriz untuk bisa berkembang di dalam kampus. Tersebarnya informasi soal tawaran Fakultas kepada seluruh mahasiswa di FTIP yang ingin mengelola bisnis di salah satu ruangan yang tak terpakai, menjadi sebuah kabar baik bagi Tiriz. Tawaran itu diberikan oleh pihak fakultas dengan sistem yang telah disepakati.
Lewat pengalaman ini, menjadikan pelajaran bahwa sebuah usaha tidak selalu berjalan mulus meski rencana sudah disiapkan dengan matang karena kendala yang tak terduga bisa muncul kapan saja.
Berawal dari Hobi Memasak dan Pergi ke Warnet hingga Menjadi Peluang Bisnis
Ketertarikan Graha dalam berwirausaha tak muncul secara tiba-tiba, tapi berawal dari pengalaman pribadinya yang punya hobi memasak dan larangan dari orang tua untuk pergi ke warnet. Tanpa adanya uang saku lagi dari orang tua, menjadikan titik awalnya untuk mencari cara agar terus bisa memenuhi keinginannya.
“Akhirnya aku ngeliat pemulung, ngambil barang bekas, disetorin ke pengepulnya dan menghasilkan uang. Nah, di situ aku ngeliat kayaknya dari hal sekecil itu pun bisa dapat uang,” ungkap Graha.
Berdasarkan pernyataan ini Graha menemukan sudut pandang baru yang mendorongnya untuk mencoba bisnis yang lebih serius dan peluang yang lebih besar. Graha menjalankan bisnis pertamanya saat masih SMA, bisnis ini bergerak pada bidang F&B dengan nama Mieger yang berlokasikan di Ujung Berung, Bandung.
Ekosistem Kampus dan Campur Tangan Institusi
Selain berangkat dari pengalaman pribadi, Graha mendirikan bisnis Tiriz karena latar belakangnya sebagai mahasiswa Teknologi Industri Pertanian yang mendorongnya ingin mengolah hasil pertanian menjadi produk yang lebih tahan lama. Keinginannya kemudian dapat terwujud melalui usaha yang dirintis dari program kampus Unpad Preneur, yang pada tahun 2026 berganti nama menjadi Wirausaha Muda Padjadjaran.
Unpad Preneur merupakan sebuah program tahunan dari kampus yang mewadahi mahasiswa Universitas Padjadjaran baik sarjana atau terapan yang punya minat dalam berwirausaha untuk dapat merealisasikan ide bisnisnya yang inovatif.
Graha bersama tim lintas fakultasnya saat itu berhasil mendapatkan posisi sebagai tim terbaik sehingga tim mereka mendapatkan dana hibah dari innocreavest dan juga berkesempatan untuk mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) di Nasional, termasuk modal awal yang bernilai lima juta rupiah bisa mereka dapatkan dari pihak kampus.
Mahasiswa yang kerap dipanggil dengan sapaan Graha juga mengaku bahwa dirinya pernah mengikuti pelatihan barista selama satu bulan melalui program Cempor dari Dispora Bandung.
Walau begitu, keberadaan usaha Tiriz di dalam kampus tetap berada dalam pengawasan dan regulasi fakultas. Ruangan dari Fakultas yang saat ini digunakan sebagai outlet Tiriz tetap dibersamai dengan sistem yang telah diatur oleh pihak Fakultas, yaitu pemotongan hasil lewat persenan.
“Mereka memanfaatkan fasilitas atas izin dari dosen yang bertugas dalam hal unit usaha dan unit Inovasi dan Hilirisasi Kepakaran (IHK), tetapi pengelolaan sarana dan prasarana tetap oleh fakultas,” ungkap Agus Budiman, bagian sarana dan prasarana FTIP dalam wawancara pada Jumat, (8/5).
Kendala awal yang tak terhindarkan
Pada tahun pertama Tiriz dibangun, produk yang dipasarkan hanya es krim saja dengan sistem penjualan pre-order selama sekitar satu tahun. Namun, metode ini dinilai tidak dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang panjang sehingga mereka mulai mencari strategi baru. Pada 2024, Tiriz berinovasi dengan aktif mengikuti berbagai event dan membuka booth penjualan guna memperluas pasar sekaligus memperkuat eksistensi usahanya.
Namun pada tahun yang sama saat nama Tiriz mulai melambung, satu persatu orang dalam tim tidak bisa ikut terlibat lagi dalam perjalanan bisnis ini karena ingin meningkatkan fokus di jalan lain yang telah dipilih.
Selain persoalan sumber daya manusia yang semakin mengurang, kendala lain yang turut menamani proses pengembangannya diantaranya pernah mengalami kerugian karena kesalahan teknis tidak menyalakan lemari pendingin yang mengakibatkan kerugian hingga jutaan rupiah, mendapatkan berbagai keluhan dari konsumen, sampai membagi waktu untuk bisa fokus antara urusan akademik dan operasional bisnisnya.
“Untungnya dalam kurikulum di FTIP ini itu ada di mana matkulnya yang selaras dengan wirausaha, jadi di situ dibantu juga,” ucap Graha.
Kondisi ini membuktikan bahwa menjalankan bisnis ditengah kesibukan kampus tidaklah mudah karena dituntut untuk dapat mengatur waktu dengan baik dan mempertahankan mental saat menghadapi risiko.
Kontribusi untuk lingkungan kampus
Selain menjadi bisnis yang cukup eksis di dalam maupun luar kampus Unpad, Graha mengatakan bahwa kini Tiriz yang bergerak pada bidang F&B berhasil meraup keuntungan 1 juta setiap harinya.
Tidak hanya itu Tiriz juga kini membuka rekrutmen barista dengan pendaftar yang sudah mencapai kurang lebih sebanyak 500 orang dan menerapkan sistem shift pagi-siang yang telah dirancang menyesuaikan jadwal kuliah para staf.
Setiap shift mendapatkan gaji, dengan pemberian bonus untuk yang mencapai target tinggi, seperti yang diungkapkan oleh Khanza sebagai salah satu barista di Tiriz.
“Mengenai finansial, Tiriz mungkin emang membantu karena setiap shift itu pasti kan ada gajinya ya. Apabila mereka juga bisa mencapai target yang lebih tinggi, itu pasti dari Graha juga bakal ngasih bonus,” ucap Khanza pada Rabu, (6/5).
Selain membuka kesempatan bekerja untuk mahasiswa di sekitar kampus, Graha juga menerima titipan produk dari mahasiswa lain yang ingin berwirausaha.
Pandangan mahasiswa Soshum terhadap Tiriz, terjebak di ‘Bubble’ Saintek
Pandangan dari mahasiswa Unpad soal Tiriz, yaitu menurut Hasbi dari Fikom 2023 juga mengemukakan bahwa Tiriz merupakan brand es krim lokal yang punya potensi besar, namun menurutnya Tiriz mempunyai poin plus dan minus yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
Poin plus menurut pandangan Hasbi terhadap Tiriz, yaitu lokasi usaha ini berada di lingkungan kampus sehingga relate dengan campus life dan dekat dengan target market mereka sehingga opportunity ini bisa mereka maksimalkan, poin plus ke dua menurutnya juga di zaman ini mendapatkan ice cream dengan harga dari mulai lima ribu adalah salah satu strategi marketing mereka dibersamai dengan packaging produknya yang praktis dan varian rasa yang tidak basic dengan menambahkan variasi rasa lain seperti matcha.
Beberapa statement dari Hasbi ini didukung juga oleh salah satu mahasiswa lainnya dari Sekolah Vokasi angkatan 2025 yang akrab dipanggil Zahra, “Menurut aku topping nya nilai plus sih, soalnya dia variatif dibanding es krim FK, trus sosmed nya aktif, jadi kita tau info-info tentang Tiriz itu di mana, menu nya apa aja,” ungkap Zahra, Minggu (10/5).
Dibalik kepopuleran bisnis milik salah satu mahasiswa FTIP ini, ternyata nama Tiriz belum sepenuhnya dikenal oleh mahasiswa selain yang berada di lingkungan Saintek.
Hasbi juga sempat menilai bahwa Tiriz masih mempunyai persoalan segmentasi pasar.
“Dominan orang yang mengenal Tiriz itu mahasiswa yang berasal dari saintek,” kata Hasbi, Sabtu (9/5).
Kondisi ini terbukti ketika salah satu mahasiswa Soshum dari FISIP yang mengaku belum familiar dengan merek Tiriz karena mengira bahwa produk yang sempat ia beli adalah produk milik Tiriz namun ternyata itu adalah produk dari tempat lain.
“Belum aja sih, dulu tuh mau beli cookies ice cream kan ke FTIP, awalnya kirain itu tiriz, ternyata bukan,” ujar Nayla pada Jumat, (15/5).
Kesalahpahaman ini menunjukkan bahwa tingkat awareness terhadap Tiriz belum merata khususnya pada mahasiswa non-Saintek sehingga ini menjadi tantangan baru untuk Tiriz dalam memperkuat promosinya.
Proyeksi masa depan dan refleksi dari Tiriz
Ke depan, Tiriz menargetkan perluasan menu dari es krim ke minuman dan cookies, operasional Sabtu-Minggu, serta masuk ke marketplace online sebagai langkah untuk tetap bersaing dengan kompetitor.
Meski kini Tiriz berhasil meraup keuntungan satu juta per hari, perjalanannya tidak lepas dari kegagalan, tanda tangan yang tak terkumpul di Puri hingga kerugian akibat kesalahan teknis. Bagi Graha dan timnya, kegagalan adalah bagian dari proses.
“Jangan takut untuk mencoba hal yang baru. Banyakin gagalnya dulu, biar terbiasa mentalnya, karena akhirnya di suatu jurang pun pasti ada emas,” kata Graha sebagai motivasi untuk para mahasiswa lainnya.
Penulis: Fathiani Hanifah
Editor: Raffael Nadhef
