Unpad Pertimbangkan Titah Mendiktisaintek untuk Kelola MBG, BEM FEB dan Fikom Tolak Keras

(Dok. dJ/Alya Chaerani)

JATINANGOR (7/5/2027) — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran (Unpad) kompak tolak keras imbauan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto yang wajibkan kampus kelola Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Sikap ini diambil setelah Universitas Hasanudin (Unhas) resmikan dapur Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Selasa (28/4) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menyambut positif kebijakan tersebut. 

“Siapa gerangan yang dapat menjamin bahwa hal ini adalah bukan sebuah bentuk kooptasi dan dominasi negara di tingkat pendidikan tinggi?” ujar Ketua BEM Fikom Unpad Christofer Mourinho, Kamis (7/5).

Ia khawatir terlibatnya kampus dalam program prioritas pemerintah ini membuat posisi perguruan tinggi berisiko direndahkan jadi sekadar operator program, alih-alih fokus pada tugas utamanya: pendidikan, riset, dan pengabdian. 

Hal serupa juga dilontarkan oleh Ketua BEM FEB Muhammad Athar Ataurrahman Akbar. Menurutnya, SPPG ini terindikasi jadi bentuk usaha yang bisa komersialisasikan kampus. 

“SPPG terindikasi bentuk usaha komersialisasi kampus yang dapat menggeserkan tujuan utama kampus sebagai instansi pendidikan. Independensi kampus dapat terancam dengan potensi intervensi internal demi kepentingan eksternal,” jelas Athar, Rabu (6/5).

Di sisi lain, Unpad melalui Kepala Kantor Komunikasi Publik Dandi Supriadi menyatakan pihaknya tengah lakukan pertimbangan matang. 

“Unpad sejak keluarnya imbauan kementerian tersebut langsung mengkajinya untuk mempertimbangkan keputusan terbaik,” jelas Dandi, Rabu (6/5).

Cacat Logika Anggaran dan Konflik Kepentingan 

Penolakan dari BEM FEB dan Fikom itu menitikberatkan pada aspek ekonomi dan integritas kampus. Mereka soroti fakta bahwa 83% anggaran MBG (Rp223 Triliun) diambil dari pos dana pendidikan. Ketua BEM Fikom anggap ini cacat logika sebab korbankan alokasi dana kampus demi program yang tidak berkaitan langsung dengan kualitas pembelajaran.

“Perguruan tinggi semestinya menjadi institusi yang menjunjung moral dan intelektual, bukan institusi yang tamak mengeruk kapital,” kata Mourinho.

Selain soal anggaran, ia juga soroti potensi adanya konflik kepentingan antara kampus dan negara. Yakni, hasil riset kampus dikhawatirkan akan “diarahkan secara paksa” untuk dukung citra program pemerintah ketimbang berdasarkan urgensi keilmuan. 

Ketua BEM FEB bahkan endus potensial pengaruh atau praktik “tambal sulam” anggaran pendidikan yang teralokasi melalui dapur di dalam kampus.

Rasa skeptis terhadap alasan riset ini juga diamini oleh akademisi. Dosen Fikom Unpad Maimon Herawati kritisi logika kampus seperti Unhas yang harus turun langsung ke proses produksi demi alasan riset dan inovasi manajemen. Menurutnya, tim riset bisa tetap kontribusi tanpa harus ubah fungsi kampus jadi dapur. 

“Tinggal tim riset embedded saja ke SPPG terdekat. Nggak sekali dua kali kok riset masuk ke dalam proses produksi, kerja sama kampus dengan lembaga tertentu. Suami saya pernah riset tentang keramik anti peluru. Nggak perlu Unpad sampai diubah jadi bagian dari TNI AD, kan,” jelasnya, Rabu (6/5).

Catatan Buruk MBG

Mulanya proyeksi MBG adalah ingin memberdayakan kantin sekolah dan UMKM lokal. Namun, jika institusi sebesar kampus turut mengambil alih, wajar bila UMKM ini hengkang

Apalagi, operasional MBG secara nasional pun punya catatan buruk. Berdasarkan data per April 2026, sebanyak 1.720 SPPG di seluruh Indonesia terpaksa tutup sementara akibat masalah sanitasi, sementara kasus keracunan telah menimpa lebih dari 33.000 pelajar.

Hingga berita ini diturunkan, Unpad belum memutusakan mengelola fasilitas SPPG, berbeda dengan Unhas yang sudah beroperasi dan IPB yang berencana bangun dua unit dapur pada bulan Mei ini. Ketua BEM FEB Unpad imbau agar kampus lebih fokus pada isu-isu mendasar.

“Kami menghimbau agar kampus lebih fokus pada isu-isu mendasar seperti kualitas pendidikan hingga kesejahteraan yang lebih urgent demi membangun kampus yang lebih ideal.”

Penulis: Raffael Nadhef, Fuza Nihayatul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *