Bukan soal Impostor, Online Disinhibition Effect Bikin Maba Prefer Cuap-Cuap di DAU Ketimbang Forum Resmi dari Panit Ospek

Ilustrasi anonimitas maba di forum ospek. (Dok. dJ/Raffael Nadhef)

Online disinhibition effect, atau sederhananya efek lepas kendali di ruang anonim secara daring, turut bikin mahasiswa baru (maba) prefer cuap-cuap di DAU X ketimbang forum resmi dari panitia ospek. Bukan lagi semata soal fasilitator yang dicap “impostor”. Ini disampaikan psikolog sekaligus akademisi Hammad Zahid Muharram kepada dJatinangor, Sabtu (3/10/2026).

“Ada pula online disinhibition effect yang menjelaskan bahwa saat situasi lebih anonim, orang lebih lepas dan lebih emosional dalam berbicara.”

Menurutnya, maba juga bisa merasa saat menulis di media sosial, ini membantunya melepas emosi, mencari validasi, dan mencari teman senasib. Kebutuhan itu takda di kanal formal.

Kanal Resmi Dinilai Berbeda

Efek itu, kata Zahid, bisa menjelaskan kenapa nada unggahan maba di medsos terasa tajam dan bisa sangat subjektif. Secara kognitif, ia meyakini maba paham bahwa melapor ke kanal resmi bertujuan menyelesaikan masalah, sehingga isinya cenderung hanya kritik dan saran.

“Mereka tidak bisa seekspresif saat menyampaikan di medsos.”

Pola itu tampak di unggahan DAU di X. Salah satu cuitan, misalnya, mengeluhkan larangan membawa motor selama ospek: “Jujur budaya-budaya gini (bukan Faperta saja) buat apa deuh? GAK GUNA”.

Keluhan lain juga muncul di Fakultas Farmasi: “Ada binjas, mentoring, dinkel, peka saat praktik harus urus jurnal plus laprak seabrek plus tugas peka nggak ada habisnya.” Polemik itu kemudian menyoal rasa tak percaya maba terhadap kanal evaluasi resmi ataupun fasilitatornya.

Anonimitas yang Dipercaya

Zahid menjelaskan, pilihan maba pada ruang anonim publik adalah pola yang umum. Disebutnya, penelitian soal perundungan dan perpeloncoan di berbagai negara berulang kali menemukan bahwa sebagian besar orang yang mengalaminya tak melapor lewat jalur resmi, misalnya studi tentang hazing di Amerika Serikat oleh Allan dan Madden (2012). Konteksnya beda dengan Indonesia, tapi polanya hampir sama.

“Kanal yang tersedia belum tentu bisa menjadi kanal yang membuat seseorang berani untuk memakainya,” kata Zahid.

Ia lalu menganalogikan pintu darurat di gedung yang tak otomatis bikin orang merasa aman melewatinya. Secara psikologis, katanya, orang membedakan anonimitas yang riil dengan anonimitas yang dipercaya.

“Jadi yang terjadi adalah jika kanal dari panitia memang anonim, seharusnya tidak ada alasan untuk takut. Masalahnya, si maba pasti berpikir: siapa yang membuka dan membaca kanal itu?”

Zahid menambahkan, maba juga mungkin bertanya apakah pembacanya berasal dari struktur yang sama dengan yang dikeluhkan, dan apakah gaya bahasa atau detail cerita bikin penulisnya mudah ditebak. Selama pertanyaan itu menggantung, anonimitas yang dianggap aman oleh panitia belum tentu terasa anonim bagi maba.

Menfess Tunjukkan Sesama

Zahid sebut ruang seperti menfess justru menunjukkan adanya pendengar dan respons yang langsung terlihat, termasuk dukungan dari sesama maba. Hal ini berbeda dengan kanal resmi yang mekanisme responsnya tak sebegitu transparannya, sehingga lama-lama dibaca sebagai tempat “tidak ada yang mendengar”.

Kata Zahid, kondisi ini terkait dua gejala dalam psikologi sosial.

Pertama, pluralistic ignorance: terjadi saat tiap orang diam-diam merasa keberatan tapi mengira hanya dirinya sendiri sebab semua orang terlihat baik-baik saja.

Kedua, spiral of silence: terjadi saat orang yang merasa pendapatnya adalah pendapat minoritas akan pilih diam.

“Ruang anonim publik bisa memecah kebuntuan itu, karena ketika satu orang bicara, lalu terlihat bahwa banyak yang merasakan hal serupa, maka orang-orang akan lebih merasa diperhatikan,” kata Zahid.

Kaderisasi dan Kanal Pengaduan

Kaderisasi juga, kata Zahid, biasanya membangun rasa “kita” dalam satu angkatan. Dalam perspektif itu, keluhan bisa dianggap sebagian orang sebagai tanda tak setia kepada teman satu angkatan, sehingga maba yang masih butuh “diterima” akan berpikir ulang.

Zahid kemudian menambahkan, senior yang telah melewati proses berat cenderung menilai ospek sebagai sesuatu yang berharga. Karenanya, wajar bila senior membaca keluhan maba sebagai tanda “tak tahan banting”, sedang maba yang belum paham maknanya merasa beban ospek itu berat.

Di sisi lain, dalam proses mengadu, Zahid menilai masalah terbesar sering muncul usai laporan masuk, yang seringnya tanpa kabar atau tidak disampaikan ke khalayak luas.

“Kanal yang dipercaya harus punya kebiasaan melaporkan balik secara rutin tanpa menyebut identitas, misalnya bulan ini masuk sekian masukan, ini yang sudah diubah, ini yang belum beserta alasannya.”

Menurutnya, hal itu menjawab pertanyaan yang membuat banyak orang enggan melapor: bagaimana ia tahu laporannya dibaca. Pihak yang membaca keluhan pun, kata Zahid, harus mengakui perasaan pelapor lebih dulu, baru meluruskan fakta, tanpa langsung menilai sikap maba secara negatif.

Agar Tak Jadi Bola Liar

Zahid menegaskan, keluhan di media sosial adalah tanda ada kepercayaan yang perlu diperbaiki.

Untuk BEM dan panitia, ia menyarankan menerima lebih dulu fakta bahwa ada maba yang keberatan, baru meluruskan bagian yang keliru. Pun, panitia perlu dibekali agar bisa mendengarkan keluhan tanpa langsung membela diri.

“Ingat bahwa kanal pengaduan bisa dibuat dalam sehari, sedangkan kepercayaan baru bisa tumbuh setelah orang melihat suaranya ditanggapi atau ucapannya diperhatikan,” kata Zahid.

Di sisi maba, Zahid menilai perlu belajar menyampaikan kritik dengan baik dan mengecek informasi sebelum menyebarkannya. Medsos berguna untuk menyuarakan keresahan, tapi tak serta-merta bisa menyelesaikan masalah.

“Hal itu pun perlu ditekankan kepada maba, agar tidak menjadi bola liar yang bergulir di khalayak luas.”

Penulis: Raffael Nadhef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *