Di Negeri yang Asapnya Punya Alamat

(Dok. detiknews)

Dari langit, hutan itu tampak seperti karpet tua yang dibakar di bagian depan lalu diganti dengan karpet baru di belakangnya.

Bagian hijau berdiri rapi dalam barisan—sawit, sawit, dan sawit—seolah-olah alam memang sejak awal menyukai keseragaman.

Di bawahnya, tanah menghitam dan pohon-pohon yang tersisa berdiri dengan tubuh hangus.

Aku tidak tahu banyak soal kehutanan.

Aku hanya orang biasa yang percaya kepada peta. Di peta, bagian yang hijau muda disebut perkebunan. Bagian yang hijau tua disebut kawasan hutan.

Bagian hitam tidak perlu disebut apa-apa; ia akan segera diberi nama baru setelah hujan datang, alat berat bekerja, dan seseorang menancapkan papan dengan keterangan yang tak menerangkan.

Mereka menyebutnya pembangunan.

Pembangunan, kata orang-orang di TV, harus terus bergerak. Ia tak boleh terhalang oleh pohon, hewan, atau cerita-cerita lama orang kampung soal sungai yang dulu jernih.

Berarti, jika hutan terlalu lebat, ia perlu dirapikan; jika gambut terlalu basah, ia perlu dikeringkan; jika tanah terlalu banyak ditumbuhi pohon liar, ia perlu dibersihkan agar bisa menghasilkan sesuatu yang “lebih berguna”.

Misalnya, barisan pohon yang tumbuh lurus.

Aku pernah bertanya kepada petugas yang berdiri di pinggir jalan sambil pakai rompi bersih. “Kalau hutan ini terbakar, apakah itu berbahaya?”

Ia menatap asap yang naik perlahan di kejauhan: “Tergantung.”

“Tergantung pada apa?”

“Tergantung siapa yang bertanya.”

Jawaban itu sangat masuk akal.

Di negeri ini, banyak hal memang harus disesuaikan lebih dulu. Hujan, misalnya, baru dianggap cukup deras setelah kantor-kantor selesai mengirim laporan. Asap baru dianggap mengganggu setelah ia masuk ke ruang rapat. Dan hutan baru disebut penting setelah ia habis.

Pada suatu musim kemarau, api datang lebih awal daripada biasanya. Orang-orang bilang api itu liar. Ia melompat dari ranting ke ranting, dari semak ke tanah gambut, dari tanah gambut ke langit. Tidak ada yang bisa mengendalikan api liar, kata mereka. Api tidak punya mata, tidak punya alamat, tidak juga punya kepentingan.

Aku percaya. Kenapa tidak?

Api itu memang tampak sungguh liar. Ia membuat daun-daun tua itu menjadi abu. Ia mengusir orangutan, ular, burung, dan monyet dari rumah mereka. Ia menyelinap ke dalam dada anak-anak yang sedang belajar mengeja. Ia menempel di rambut ibu-ibu yang menjemur pakaian. Ia bahkan masuk ke kamar bayi yang belum tahu apa arti bencana.

Tapi, api itu juga sangat sopan.

Ia tidak melompati jalan besar. Ia tidak sembarangan menyentuh deretan sawit yang berdiri rapi. Ia tidak membakar papan nama perusahaan, pos keamanan, atau bangunan-bangunan yang beratap seng.

Ia hanya berputar-putar di sekitar hutan yang pohonnya sudah diberi nomor dan tanah yang belum memiliki masa depan di brosur investasi.

Api memang liar, tapi tampaknya ia tahu tata krama.

“Hebat sekali,” kataku kepada seorang warga yang sedang menutup hidung dengan kain basah. “Api ini bisa membedakan mana yang harus dibakar dan mana yang harus dibiarkan.”

Warga itu batuk cukup lama sebelum menjawab.

“Bukan api yang membedakan,” katanya.

Aku tidak mengerti. Jadi aku mengangguk saja.

Di ujung kampung, seorang anak bertanya kepada ayahnya kenapa langit berwarna abu-abu. Ayahnya menjawab bahwa itu kabut. Anak itu lalu bertanya, “Apakah kabut juga bisa bikin mata perih? Dada sesak?” Sang ayah terdiam. Barangkali ia sedang mencari kata yang lebih baik daripada asap.

Di TV, presenter berita mengatakan bahwa pemerintah telah bergerak cepat. Kalimat itu diulang beberapa kali, diselingi gambar helikopter, petugas dengan selang air, dan titik merah di peta. Semua orang tampak sibuk. Sebagian memadamkan api. Sebagian lagi memadamkan pertanyaan.

“Kebakaran ini akibat cuaca,” kata seseorang.

“Kemarau sedang panjang,” kata yang lain.

“Warga harus menjaga lingkungan,” kata orang ketiga.

Aku kembali percaya. Cuaca memang sangat kuat. Ia bisa mengeringkan gambut, memindahkan api, mengaburkan pandangan, dan rupanya juga bisa membawa jeriken, membuka kanal, serta memilih tanah mana yang akan segera berubah menjadi perkebunan.

Barangkali cuaca memang lebih rajin daripada manusia.

Di dekat tanah yang menghitam itu, aku melihat sebuah papan kecil setengah terbakar. Tulisan di atasnya sudah sulit dibaca. Hanya tersisa satu kata: dilarang.

Aku berdiri cukup lama di sana, mencoba menebak larangan apa yang dimaksud. Mungkin dilarang membakar. Mungkin dilarang masuk. Mungkin juga dilarang bertanya.

Di negeri ini, sebuah kata bisa memiliki banyak arti, tergantung siapa yang membacanya dan dari sisi mana ia berdiri.

Lalu alat berat datang.

Mereka bekerja sejak pagi, perlahan tapi pasti. Pohon-pohon yang tersisa diratakan. Tanah digemburkan. Parit dibuat. Di atas lahan yang dulu disebut hutan, orang-orang menanam bibit-bibit kecil dengan jarak yang sama. Sangat rapi. Sangat hijau. Sangat menjanjikan.

Seorang petugas kembali datang dengan rompi bersihnya. Ia tersenyum saat melihat barisan tanaman baru itu.

“Bagus, ya,” katanya, “akhirnya lahannya produktif.”

Aku mengangguk. Aku memang tidak tahu banyak soal kehutanan.

Dari langit, tanah itu kembali tampak hijau. Barisan sawit berdiri seperti murid-murid yang tak pernah terlambat upacara. Tidak ada lagi hutan yang terlalu ramai. Tidak ada lagi pohon liar yang menghalangi pandangan. Tidak ada lagi tanah kosong yang tidak menghasilkan.

Hanya ada asap tipis yang kadang-kadang masih tinggal di antara batang-batang muda.

Asap itu, kata orang-orang, tidak punya rumah.

Namun, aku mulai curiga: di negeri ini, asap justru punya alamat yang sangat jelas. Ia tinggal di paru-paru warga, di mata anak-anak, di pakaian yang dijemur, di sungai yang menghitam, dan di tanah yang kelak disebut “lahap siap dikembangkan”.

Api memang tidak buta.

Ia hanya perlu patuh.

Penulis: Kontri/Keisha Alia Magani
Editor: Raffael Nadhef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *