Prabowo berpidato. (Dok. Sekretariat Negara)
Pidato Presiden Prabowo Subianto di Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Munas HIPMI) XVIII pada hari Rabu (10/6) lalu ramai diperbincangkan publik. Banyak yang soroti kesalahan hitung Prabowo demi cocoklogi tanggal 10 Juni dengan angka 8, ia percaya angka itu melekat dengannya sehingga ada kecocokan dirinya dengan HIPMI.
Menyadari kesalahan dalam pernyataannya, Prabowo mengubah mekanisme perhitungannya dengan mengambil angka 1 dari tanggal 10 dan menambahkannya dengan angka 6. Meski hasilnya tetap menunjukkan angka 7, ia mengaitkan perhitungan itu dengan angka 8. Peserta Munas merespons dengan gelak tawa dan riuh tepuk tangan.
Pertanyaannya bukanlah soal kemampuan kognitif sang presiden, tapi soal caranya menarik tepuk tangan hadirin meski ia baru saja melakukan kesalahan.
Retorika, atau seni berbicara di hadapan publik untuk persuasi pendengarnya, bisa jadi alat untuk menjawab pertanyaan itu. Teori retorika terus beradaptasi dengan perubahan zaman, menjadikannya alat yang penting dalam komunikasi publik, termasuk dalam konteks pidato.
Filsuf Yunani Aristoteles mengkaji retorika dalam bukunya Rhetorica. Dalam buku itu ia merumuskan tiga elemen yang menentukan totalitas suatu pidato: logos, ethos, dan pathos, yang juga dikenal sebagai trias retorika.
Mari bedah pidato Prabowo di atas dengan trias retorika.
Pertama, logos, atau kemampuan untuk menyampaikan argumen yang rasional dan logis. Argumen yang kuat adalah argumen yang didukung dengan fakta, data, dan logika yang bisa diverifikasi kebenarannya. Di hadapan ribuan pengusaha muda yang terbiasa dengan angka, salah hitung 10+6=17 itu meruntuhkan logos yang Prabowo bangun.
Yang mengkhawatirkan justru bukan di kesalahan hitungnya, tapi keyakinannya dalam menyampaikan perhitungan yang salah itu. Di menit-menit berikutnya, Prabowo menunjukkan upaya perbaikan dengan mengutip langsung isi buku Liah Greenfield, The Spirit of Capitalism, untuk menguatkan argumennya bahwa pertumbuhan ekonomi modern tidak bisa dilepaskan dari stimulasi nasionalisme.
Kedua, ethos, atau kredibilitas dan kepercayaan yang dimiliki oleh orator. Aristoteles menekankan ethos bukan soal siapa kamu sebelum naik podium, tapi kesan karakter yang tercipta dari kata-kata yang keluar. Kesalahan hitung yang dilakukan oleh seorang presiden dalam pidatonya menunjukkan kesan persiapan yang kurang matang. Dalam pidato itu pula Prabowo beberapa kali pakai kata ganti “gua-lu” untuk mencairkan suasana, tapi memunculkan kesan kurang profesional di mata publik atau investor asing yang membutuhkan kepastian hukum.
Ketiga, pathos, atau strategi untuk memengaruhi emosi audiens agar pesan mudah diterima. Prabowo tampil hangat, antusias, dan membangun suasana perayaan yang bikin peserta Munas memperhatikan pidatonya, meski ada kesalahan hitung tadi. Tepuk tangan adalah bukti pathos yang berhasil, walau ada kekurangan pada logos dan ethos. Pidato yang bertumpu pada emosi memang bisa menggerakkan orang di dalam ruangan, tapi tidak meninggalkan kepercayaan yang tahan lama.
Lantas, bagaimana seorang orator seharusnya berpidato?
Dalam teori retorika, ada lima pilar yang membantu proses penyusunan komunikasi persuasif, dalam konteks ini adalah pidato. Kelima pilar itu adalah invention, arrangement, style, delivery, dan memory. Mari bahas satu per satu.
Invention, atau menemukan gagasan. Pada tahap ini seorang orator mengumpulkan bahan untuk argumennya sesuai dengan kebutuhan audiens. Dalam pidatonya di Munas HIPMI XVIII, Prabowo menyiapkan pidato sudah didukung dengan data, seperti data ketimpangan bunga kredit. Namun, materi cocoklogi angka 8 yang lemah bisa jadi evaluasi. Orator yang baik memverifikasi tiap argumen dan klaim sekecil apapun sebelum naik ke atas podium.
Arrangement, atau menyusun struktur pidato. Aristoteles berpesan untuk menghindari struktur yang rumit agar audiens bisa memahami isi dengan baik. Struktur pidato yang umum digunakan terdiri atas pembukaan, isi, dan penutup. Pidato yang dibawakan oleh Prabowo sudah menerapkan ketiga struktur itu secara runtut, tapi bagian isi terasa disampaikan secara lompat-lompat. Awalnya membahas hilirisasi, lompat ke cerita kalah pilpres, lompat izin minum kopi, lalu balik lagi ke pembahasan ekonomi. Alangkah baiknya isi disampaikan secara linear agar audiens bisa memahami maksud dan tujuan dari orator.
Selanjutnya style, yakni memilih gaya bahasa yang tepat. Prabowo memilih gaya bahasa formal yang disisipi dengan bahasa gaul, seperti penggunaan kata ganti “gua-lu”. Betul bahwa penggunaan bahasa gaul bisa mencairkan suasana, tapi hal ini berpotensi melunturkan sisi formalitas dari presiden. Gaya bahasa yang efektif adalah gaya yang adaptif dan tetap menjaga wibawanya. Penggunaan bahasa sehari-hari diperbolehkan, tapi kata ganti bersifat personal dan terlalu akrab sebaiknya dihindari di ruang publik. Hal ini penting agar pesan kebijakan tetap dihormati secara kelembagaan.
Lalu ada delivery atau cara membawakan pidato. Audiens menyukai pembawaan yang natural dan mengalir. Pidatonya di Munas HIPMI telah menunjukkan bahwa Prabowo adalah orator ulung dalam membawakan pidatonya. Ia menyampaikan pidato dengan antusias dan penuh percaya diri. Ia juga menggunakan pesan nonverbal agar audiens terus memperhatikan pidatonya.
Terakhir ada memory, yakni seberapa jauh orator menguasai materi pidatonya. Pernyataan 10+6=17 mengindikasikan bahwa Prabowo belum menyiapkan cocokloginya dengan baik hingga terjadilah salah hitung. Meski selama menyampaikan pidatonya Prabowo jarang melihat atau membaca naskah yang sudah disiapkan. Orator yang baik bisa menguasai materi yang akan disampaikan, bukan hanya sekedar hafal naskah. Latihan juga penting untuk melatih memory agar orator paham betul apa yang ia bawakan dalam pidatonya nanti.
Pada akhirnya, publik yang menilai bagaimana pidato ini bisa menyentuh hati mereka. Dari analisis ini, menjadi presiden bukan hanya soal kebijakan tepat atau keputusan berani. Di setiap pidato, presiden adalah orator yang pikul beban berat. Kata-katanya, atau retorikanya, menjadi cermin kredibilitas bangsa. Maka, jelaslah retorika adalah sebuah proses, mulai dari memilih materi, menyusun dengan cermat, hingga menyampaikan dengan sadar. Jika satu proses terlewat, yang retak bukan sekadar kalimat, tapi kepercayaan.
Penulis: Allysa Audya
