(Dok. dJ/Cintamy Salsabila)
JATINANGOR (16/5/2026) – Aksi demonstrasi terjadi di depan Polsek Jatinangor, Sabtu (16/5), yang diinisiasi oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kader GMNI sekaligus Koordinator Lapangan Aksi Reza Savero sebut kasus penjambretan dan pelindasan mahasiswa Unpad pada 12 Mei lalu picu aksi kali ini.
Massa aksi juga kecewa terhadap kepolisian yang dinilai baru akan bekerja saat sebuah kasus sudah viral. Mereka tegas, penangkapan pelaku usai viral bukan suatu prestasi, justru bukti gagal sejak awal dalam cegah kriminalitas.
“Penangkapan pelaku jambret ini dilakukan setelah kasusnya jadi rame. Kalau nggak rame, mungkin nggak akan ditangkep tuh pelakunya. Kebetulan ini jadi bahan bakar kami untuk menuntut,” ucap Reza.
Menurutnya, kasus kriminalitas seharusnya tidak selesai begitu saja saat pelaku tertangkap, tapi mesti ada upaya preventif dan evaluasi terhadap kinerja polisi. Ia lalu beri contoh perilaku polisi yang abai saat tangani masalah: pencurian sepatu di Perumahan Puri dan pencurian motor temannya pada 2024 lalu yang belum capai titik terang. Bahkan menurutnya, polisi baru akan proses satu kasus saat nominal kerugian capai satu juta rupiah, meski kasus seonggok motor pun tak kunjung cerah.
Karenanya, ia tuntut Polsek Jatinangor agar berbendah mendalam.
“Kami menuntut polsek untuk segera melakukan reformasi birokrasi. Tidak hanya normatif tapi progresif juga. Dalam artian, banyak pedulilah terhadap laporan masyarakat. Jangan kayak sekarang (harus tunggu viral dulu),” tambahnya.
Sebagai respons atas tuntutan ini, Kapolsek Jatinangor Rogers Thomas sebut pihaknya telah lakukan upaya dalam jaga keamanan Jatinangor.
“Respons kami sangat cepat, yakni melakukan kegiatan-kegiatan kepolisian, di antaranya patroli, penjagaan, pengawalan,” ungkapnya.
Kontras dengan pernyataan itu, mahasiswa Fikom Unpad Kinan mengaku belum pernah melihat polisi melakukan patroli pada malam hari di gang-gang kecil seperti Hegarmanah.
“Jujur nggak pernah sama sekali liat (ada polisi patroli di gang-gang kecil Jatinangor),” ujarnya.
Rogers sebut alasan patroli belum menyeluruh adalah karena kurangnya personel polisi yang ditugaskan di Jatinangor. Ia bahkan salahkan komunikasi masyarakat yang dinilai jarang melapor, meski dilansir dari polressabang.id disebut bahwa polisi mesti proaktif.
Hal ini pun segera didebat oleh mahasiswa FISIP Unpad sekaligus massa aksi di sana, Sammy. Ia sebut masalah yang dijadikan dalih oleh kepolisian jauh lebih dalam daripada yang terlihai. Yakni menurutnya, jika masyarakat jarang melapor, ini sebab minimnya tingkat kepercayaan terhadap kepolisian.
“Ketika saya jadi mahasiswa baru, di depan kosan itu ada begal. Respons masyarakat pada saat itu bukan telepon polisi, tapi ngegebukin (pelaku). Berarti kan itu nyata, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap polisi itu minim,” ungkapnya.
Diskusi antara massa aksi dengan kapolsek berlangsung sekitar 45 menit. Pada akhirnya, massa aksi tuntut kepolisian untuk beri jaminan atas kasus-kasus yang sampai sekarang belum diusut tuntas. Namun, pihak kepolisian tolak untuk membuat janji.
“Kita tetap mengupayakan semua perkara beres ya, kita bakal jalan terus. Tapi maaf ya, saya tidak bisa janji untuk kasih jaminan harus selesai kapan,” tutup Rogers.
Penulis: Gina Sonya
Editor: Raffael Nadhef
