Kousei dan Kaori dalam anime Shigatsu wa Kimi no Uso.
Tak terasa bulan April telah tiba, waktu ketika lini masa media sosial berubah jadi tempat berduka. Bukan karena bencana nasional atau bencana kemanusiaan. Tapi karena satu anime bergenre romansa yang bertema sekolahan dan musik.
Namanya Shigatsu wa Kimi no Uso atau Your lie in April. Ia kembali diingat, diangkat, dan ditangisi oleh jutaan orang yang sudah tau bagaimana cerita itu berakhir. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa akhir dari anime itu bukan canon (cerita asli sang pencipta).
Alasan Menarik
Kenapa Harus di Bulan April?
Karena judul Shigatsu wa Kimi no Uso sendiri memiliki arti kebohongan di bulan April. Di jepang, bulan April menjadi bulan dengan tahun ajaran baru dimulai. Dan ia jadi bulan dengan bunga sakura bermekaran dan berguguran. Ia menjadi lambang awal yang baru sekaligus bulan kebohongan.
Anime ini bercerita tentang Arima Kousei, Pianis yang kehilangan kemampuan mendengar nada usai trauma emosional setelah mendapatkan pelatihan yang keras dan ibunya yang meninggal. Dalam trauma itu, ia bertemu dengan Miyazono Kaori yang sedang asyik memainkan pianika di taman bersama anak-anak saat bunga sakura terhempas angin.
Trauma sebagai Sistem yang Terstruktur dengan Rapi
Salah satu yang membuat anime ini berbeda dengan yang lainnya adalah cara bagaimana membangun trauma sebagai sistem. Bukan plot device yang memaksa karakter bertindak agar cerita tetap menarik seperti plot armor, flashback, dan nakama power.
Kousei diceritakan tidak hanya sekedar mendapat pelatihan keras dan ibunya yang meninggal. Ia juga mengalami apa yang dalam psikologi disebut trauma kompleks. Yakni, Kousei merasakan respons kasih sayang dan kekerasan emosional secara silih berganti.
Ibunya memaksa Kousei berlatih piano sampai jarinya berdarah. Tapi dibalik kerasnya pelatihan ibunya itu, Kousei sadar ada setitik kasih sayang yang nyata. Ia memperjuangkan itu dan berharap mendapatkannya.
Ia juga berharap dengan prestasinya dalam piano, ibunya bisa sembuh dan kembali tersenyum. Namun sayangnya, itu tidak pernah berhasil.
Ketika akhirnya Kousei bisa bermain piano lagi bersama Kaori sebagai violin di sisinya, penonton tidak hanya melihat Kousei yang perlahan kembali pulih bersama Kaori, tapi juga melihat bagaimana seseorang belajar hidup berdampingan dengan luka, bukan menghapusnya. Seperti halnya Kousei yang tetap bermain piano setelah mengalami trauma kompleks sejak masih kecil.
Hal ini terkait fenomena menarik secara sosiologis.
Shigatsu wa Kimi no Uso tamat perdana di 11 hari sebelum bulan April pada 2015. Setelah ini, tahun-tahun berikutnya di waktu yang sama selalu ada gelombang posting bertema anime ini. Biasanya pada akhir bulan Maret dan awal bulan April.
Lebih dari nostalgia biasa, ini adalah ritual berkabung kolektif di mana komunitas anime tanpa koordinasi, alias secara organik, menciptakan musim berduka tahunan yang dirayakan bersama.
Fenomena ini memiliki nama dalam kajian emosi sosial: emotional contagion dan collective effervescence. Yakni, kondisi emosional menyebar dan diperkuat dalam komunitas sehingga menciptakan pengalaman bersama yang terasa lebih besar dari diri sendiri. Seperti festival, konser, dan olahraga bekerja dengan mekanisme yang serupa.
Bedanya dalam kasus anime ini, objek yang memicu itu adalah kesedihan; orang-orang memilih untuk sengaja memicu emosi itu sendiri dan mencarinya kembali. Ini adalah pilihan sadar yang dipilih oleh orang-orang untuk merasakan sesuatu yang menyakitkan tapi bermakna.
Ada stereotipe yang menyebut anime sebagai pelarian dari realitas. Tapi, anime ini dan respons kolektif di sekitarnya menunjukkan sesuatu yang justru sebaliknya: bagaimana seseorang melarikan diri dari dunia nyata hanya untuk mengetahui bahwa ia akan menangis di tempat lain.
Menangisi anime bukanlah kelemahan, tapi emotional literacy. Yakni, kemampuan mengenali, memaknai, dan merasakan emosi kompleks dalam ruang yang aman. Fiksi menyediakan jarak yang cukup mendekati emosi yang akan sangat menyakitkan jika dihadapi langsung di dunia nyata.
Hal ini dapat disebut juga dengan Parasosial Grief. Yakni, seorang berduka terhadap karakter fiksi atau publik figur sebagai bentuk emosi yang nyata. menangisi hal yang sama setiap tahunnya.
Tidak ada yang salah dengan menangisi karakter fiksi, justru ini adalah bukti sebuah karya bekerja seperti seharusnya.
Fenomena seperti ini berangkat dari Teori Parasocial Interaction yang diperkenalkan oleh Donald Horton dan R. Richard Wohl pada tahun 1956. Ini menjelaskan hubungan satu arah antara penonton dan para pujaannya, seperti idola, publik figur, ataupun karakter fiksi.
Di mana Letak Kebohongannya? (SPOILER ALERT)
Judul anime ini menyimpan ironi yang cantik. Kaori menjadikan kebohongan sebagai hadiah terbesar yang ia sampaikan pada Kousei. Ia tidak menyembuhkan trauma Kousei, tapi ia datang untuk mengingatkan Kousei bahwa hidup layak dijalani meski tau itu akan segera berakhir.
Kebohongan Kaori baru terungkap setelah kepergiannya. Ia berpura-pura menyukai orang lain dengan menyebut Kousei sebagai “teman A”, padahal lewat surat terakhirnya ia menyatakan, “I love you.” Kebohongan itu ternyata adalah cintanya kepada Kousei.
Setiap April, dari tahun ke tahun, jutaan orang kembali pada cerita itu. Mereka sudah tahu kebohongannya, tahu akhir yang menanti, tapi tetap memilih untuk mengingatnya.
Skor dan Rekomendasi
Saya beri nilai 9. Dari segi cerita, pembentukan karakter dengan traumanya, dan bagaimana anime ini ditutup, lengkap tanpa celah. Terlepas dari skor di My Anime List (8,14) dan IMDB (8,6) saat artikel ini ditulis.
Anime ini sangat direkomendasikan bagi orang yang ingin memulai anime sad romance. Ini dapat menjadi awal yang baik sebelum lebih jauh mendalami anime lain, seperti Clanad, Angel Beats, dan Plastic Memory.
Penulis: Muhammad Hafiz
Editor: Raffael Nadhef
