Beda Keterangan Dekanat dan Keamanan Fikom soal Blokade Student Centre

Penutupan akses masuk Student Centre Fikom, Rabu 1 Maret 2023. (dJatinangor/Muti)

dJatinangor.com – Pemandangan berbeda nampak di gedung Student Centre (SC) Fikom sejak pekan pertama perkuliahan semester genap 2022/2023 dimulai. Gedung yang biasanya ramai digunakan oleh mahasiswa untuk pusat kegiatan di luar perkuliahan, mendadak “diblokade” tanpa kejelasan. Keterangan yang diperoleh dari pihak fakultas dan pihak keamanan pun berseberangan.

Sejak dimulainya perkuliahan semester genap dan adanya kebijakan peralihan perkuliahan daring ke luring, membuat Fikom jauh lebih padat dari sebelumnya. Area luar, kantin, plaza, hingga gedung perkuliahan, semua terlihat dipadati oleh mahasiswa. Namun, gedung Student Centre yang biasanya menjadi pusat kegiatan mahasiswa justru terlihat sepi akibat akses masuk yang dibatasi.

Berdasar pantauan, sejak pekan pertama perkuliahan, Student Centre sudah diblokade menggunakan dua road barrier besi dilengkapi dengan batu berukuran besar dan ember yang disemen di antara kedua road barrier. Blokade ini awalnya hanya menutup bagian tangga untuk naik ke area parkir saja. Namun, pada Rabu (1/3) pagi, blokade yang dilakukan semakin mengetat dengan tali tambang yang melintang di sepanjang pinggir jalan masuk ke SC, lengkap dengan cone pembatas jalan. Akibatnya, mahasiswa yang berjalan kaki pun harus melompati blokade tersebut untuk bisa masuk ke area depan SC.

Tidak adanya sosialisasi yang disampaikan kepada mahasiswa membuat tindakan ini dipertanyakan, terutama mahasiswa yang rutin berkegiatan di Student Centre, bahkan sekretariat ormawa pun sulit untuk diakses sehingga mengganggu kegiatan mereka. Ketidakjelasan ini semakin bertambah ketika adanya perbedaan pernyataan yang diberikan oleh pihak fakultas dan pihak keamanan.

Berdasar penelusuran, pihak fakultas mengaku tidak mengetahui tindakan ini. Hal tersebut disampaikan Manajer Pembelajaran, Kemahasiswaan dan Alumni, Agus Setiaman, saat ditemui dJatinangor.com di kantornya, Rabu (1/3) sore. Dirinya juga tidak mengetahui siapa yang melakukan blokade tersebut. Meski demikian, Agus menyebut pihaknya telah mendengar laporan terkait isu keamanan di SC Fikom.

“Kalau anda tanya saya, saya malah tidak tahu. Saya tidak tahu siapa yang memerintahkan (tindakan blokade), tetapi bahwa itu sudah ada pembicaraannya, ya  kami akui bahwa itu sudah dibicarakan (isu keamanannya, bukan tindakannya),” ucap Agus.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan isu keamanan yang dimaksud ialah terkait kendaraan bermotor milik mahasiswa yang diparkir di SC Fikom. Karena letaknya yang terpisah dari gedung Fikom membuat pengawasan oleh pihak keamanan menjadi tidak maksimal. Akibatnya, ada potensi kehilangan barang, seperti helm hingga unit kendaraan akibat kunci motor yang tertinggal.

Selain itu, Agus menduga tindakan blokade ini diperintahkah langsung oleh pihak keamanan universitas. Dirinya beralasan bahwa keamanan fakultas tidak memiliki kewenangan seperti itu.

“Kalau saya, sih, cenderungnya ya, (tindakan ini) bukan dari kita sebetulnya, yang memerintahkan itu, tapi kelihatannya di-handle langsung keamanan universitas. Kalau keamanan fakultas tidak punya kewenangan apapun, hanya (berwenang) dalam bentuk melaporkan,” lanjutnya.

Ketidaktahuan fakultas terkait adanya tindakan blokade SC Fikom ini juga terlihat ketika dJatinangor.com selesai melakukan wawancara. Pada pukul 15.45 WIB, seseorang dari fakultas terlihat mengunjungi depan gedung SC Fikom dan memotret blokade tambahan yang baru dipasang.

Pernyataan berbeda justru didapatkan saat mengonfirmasi langsung ke pihak keamanan Fikom. Heru, satpam Fikom, menjelaskan bahwa blokade dilakukan atas inisiasi dari pihak keamanan fakultas dengan tujuan mencegah mahasiswa memarkirkan kendaraannya di area gedung SC Fikom karena sulit dipantau oleh pihak keamanan.

“Instruksi sarpras, enggak, cuma saya minta izin saja untuk antisipasi pencegahanlah sama hal yang tidak diinginkan,” ucap Heru.

Heru mengklaim tindakan yang dilakukan pihaknya telah mendapat izin dari para petinggi fakultas secara lisan. Dirinya juga berharap diberikan aturan tertulis guna mempertegas tindakan blokade yang dilakukan.

“Semalam, kita udah ngomong ke Bu Wadek (dia bilangnya) ‘oh ya sudah gak papa, pak, lanjut aja, nanti saya koordinasi dengan pak Agus.’ Udah (ada izin, tetapi tidak tertulis), dari Sarpras udah, dari Manajer udah, dari Wadek udah. Pengennya saya juga tertulis, lebih enak,” sambungnya. 

Perihal adanya pengetatan blokade menggunakan tali tambang, disebabkan masih adanya mahasiswa yang memaksa parkir motor di SC dan mobil di pinggir jalan, sehingga mengganggu ketika odong kampus melintas di jalanan dua arah.

“Kenapa saya ikat? Dari kemarin sudah diikat, pake batu, minimal orang bisa lewat, (tetapi) itu digeser (buat) masuk motor. Makanya kita inisiatif pakai tambang,” jelasnya.

Berdasar keterangan pihak keamanan maupun fakultas, penyekatan akses masuk Student Centre kemungkinan masih akan terus diberlakukan hingga waktu yang belum ditentukan.

*sebagian isi berita direvisi pada 2 Maret 2023 pukul 17.28 WIB. Semula tertulis pada paragraf terakhir: “penutupan akses masuk”, diubah menjadi “penyekatan akses masuk”

Muti Muthmainnah, Ridho Danu Prasetyo, Ridwan Budi Luhur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *