Tak Ada Lilin bagi Mereka yang Membakar Bumi

ilustrasi lilin ulang tahun prabowo yang membakar hutan kalimantan

Ilustrasi lilin tuk ulang tahun Prabowo yang membakar hutan kalimantan. (Dok. Pixabay)

Besok, Tuan Presiden, para kacungmu akan mengucapkan selamat atas kelahiranmu.

Mungkin akan ada kue, lilin-lilin yang berdiri seperti tiang bendera, dan doa-doa yang naik ke langit dari mulut mereka yang tak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi rakyat di bawah bayang-bayangmu.

Sementara di Kalimantan, hutan-hutan sedang mengembuskan napas terakhirnya.

Pepohonan yang dahulu menjulang seperti jemari bumi yang hendak menyentuh Tuhan, kini patah satu demi satu.

Langitnya menjadi kain kafan raksasa. Sungainya menelan abu seperti seorang ibu yang dipaksa meminum air mata anaknya sendiri.

Dan kau, di balik meja yang mengilap, mungkin sedang menghitung usia, menghitung hari, menghitung suara, tanpa pernah menghitung berapa banyak kehidupan yang telah kehilangan tempat untuk pulang.

Presiden, kau bukan Tuhan.

Kau hanya manusia yang diberi pena lalu mengira setiap goresannya adalah takdir.

Kau hanya manusia yang diberi kursi lalu mengira bumi adalah alas kakinya.

Kau hanya manusia yang mengenakan lambang negara lalu mengira darah yang mengalir di dalam lambang itu tak pernah bisa mengering.

Betapa dinginnya tanganmu, jika sebuah hutan terbakar dan kau masih dapat menyebutnya sekadar angka dalam laporan.

Betapa dinginnya hatimu, jika seorang ibu kehilangan anak dan kau masih dapat tidur di bawah atap yang tak pernah bocor.

Betapa dinginnya sebuah kekuasaan, jika suara rakyat harus menjadi batu sebelum bisa menembus telingamu.

Besok, lilin-lilin itu akan padam.

Namun, Tuan Presiden, ada api yang tidak tunduk pada tiupan manusia.

Ada api di dalam ingatan. Ada api di dalam kesaksian. Ada api yang tumbuh dari nama-nama mereka yang kau kira akan dilupakan oleh waktu.

Aku tidak meminta kematianmu.

Aku meminta umur yang panjang, sepanjang jalan yang harus ditempuh oleh setiap akibat dari keputusanmu.

Hiduplah, Presiden.

Hiduplah sampai hutan yang kau biarkan terbakar menjadi rimba di dalam tidurmu.

Hiduplah sampai suara yang kau bungkam menjadi ribuan burung yang hinggap di jendela istanamu.

Hiduplah sampai kau melihat bahwa singgasana bukanlah gunung, bahwa mahkota bukanlah matahari, bahwa sebuah jabatan bukanlah tangan yang mampu menghentikan musim kematian.

Jika kelak, di tengah malam yang paling sunyi, kau bertanya kepada cermin siapa dirimu sebenarnya,

semoga cermin itu tidak menjawab dengan wajah seorang presiden.

Semoga ia menjawab dengan wajah seorang manusia yang akhirnya harus melihat segala sesuatu yang telah ia lakukan kepada manusia lainnya.

Selamat ulang tahun, Tuan Presiden.

Semoga usiamu panjang.

Sebab bumi masih menyimpan nama-nama yang harus kau dengar.

Dan sejarah, Tuan, tidak pernah meniup lilin untuk orang-orang yang mengira dirinya Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *