Daftar Ulang Camaba Masih Menggantung, Janji Unpad Tak Kunjung Rampung 

Gedung Rektorat Unpad. Dok. Alya Chaerani

Pada 15 Agustus lalu di Gedung Rektorat Unpad, Mendiktisaintek Brian tegaskan calon mahasiswa baru (camaba) yang gagal daftar ulang sebab terkendala biaya dipersilakan untuk mendaftar kembali. Ini dilakukan sebagai respons atas sistem desil yang bermasalah hingga kuota KIPK jalur mandiri yang terbatas. 

Namun, proses daftar ulang ini masih tertahan di tahap kurasi data, usai Direktur Kemahasiswaan (Dirkema) Unpad Inu Isnaeni minta Adkesma tiap fakultas untuk menghimpun data. 

“Nah itu sudah kami terima (datanya), ada 80 total setelah kami verifikasi, dan semua itu adalah maba yang tertolak KIPK. Saat ini kami sedang verifikasi ulang perubahan desil. Setelah itu, kami akan melakukan wawancara kepada mereka yang datanya sudah diverifikasi,” ucapnya, Jumat (28/8). 

Ia ungkap tahap wawancara akan dilaksanakan pada 4 September. Meski, ia tak bisa janjikan tanggal yang lebih akurat untuk keseluruhan proses. 

Padahal, dari pernyataan Adkesma BEM Fakultas Peternakan (Fapet) Unpad Nadira, Dirkema janjikan proses kurasi akan selesai satu minggu usai tenggat pengumpulan data, yakni 24 Agustus, mengingat tenggat pengumpulan data itu 17 Agustus lalu.

“Setelah dihitung datanya, pas itu bilangnya progresannya sekitar satu minggu gitu,” ucap Nadira, Rabu (26/8).

Namun, proses verifikasi terlambat hingga berita ini naik (hampir seminggu). Inu mengaku masih harus lakukan crawling data ulang usai dikirim Adkesma.

“Banyak yang NIK-nya tidak ada. Jadi kami harus crawling lagi data-data dari sistem pendaftaran untuk mencari NIK mereka. Karena kan untuk pengecekan desil tuh harus pakai NIK, ya. Sementara di daftar yang dikirimkan oleh teman-teman Adkesma melalui Ezra itu ada yang tidak ada NIK-nya.”

Ia lalu menambahkan, Unpad juga mengalami kesulitan dalam mengurus proses daftar ulang yang semacam ini, sebab tahap penerimaan maba harusnya telah usai. Hal ini jadi tantangan baru bagi Unpad atas diskresi yang dilakukan Brian. 

Hadapi Ketidakpastian, Camaba Terpaksa Telan Janji Manis Unpad

Di sisi lain, banyak camaba yang keluhkan ketidakpastian proses ini. Lamanya proses yang dilakukan Unpad dan informasi yang simpang siur menambah kekhawatiran mereka. Apalagi perkuliahan dan masa orientasi kampus sudah dimulai. 

Salah satu camaba, Kayla (bukan nama sebenarnya), hanya bisa meratapi sukacita yang dibagikan oleh maba Unpad di media sosial. Foto dan video Prabu tersebar di mana-mana, tapi ia tak ada di sana. 

“Sedih banget, apalagi beberapa dari temen aku ada di sana. Itu bener-bener sakit hati, jujur gak bisa bohong,” ungkapnya, Minggu (30/8).

Tanggapi ini, Inu sebut mekanisme keterlambatan perkuliahan dan masa orientasi akan diproses dan dikoordinasikan langsung dengan pihak fakultas dan program studi yang bersangkutan. Meski, ia sendiri belum jelaskan secara pasti bagaimana cara maba mengejar ketertinggalannya. Ia katakan proses mengejar ketertinggalan itu bisa diurus nanti. 

“Ikuti saja prosesnya,” katanya, tanpa jelaskan secara jelas prosesnya seperti apa. 

Selain tak jelaskan proses untuk kejar ketertinggalan, Dirkema juga belum kunjung jelaskan transparansi progres daftar ulang. 

Hingga berita ini naik, Dirkema belum menginformasikan soal wawancara yang disebutnya akan dilaksanakan pada 4 September. Inu baru sampaikan informasi demikian kepada dJatinangor pada Jumat (28/8) lalu. 

Camaba lainnya, Marin (bukan nama sebenarnya), akui ia dan temannya merasa dibohongi oleh Unpad. Mereka tak kunjung dapat kabar meski sudah proaktif bertanya sejak 16 Agustus lalu hingga saat ini.

“Bahkan kita tuh sempet mikir bakalan dibohongi Unpad,” ungkapnya, Minggu (30/8).

Transparansi yang nol besar ini membuat camaba merasa komitmen Unpad menguap di tengah jalan. Sebagai pihak yang dirugikan, Kayla ungkapkan rasa kecewanya.

“Perjalanan bersama Unpad ini terasa penuh dinamika, namun diwarnai rasa kecewa akibat adanya janji dan program krusial dari Dirkema yang terabaikan. Komitmen awal yang menguap begitu saja menjadi catatan kritis bahwa evaluasi mendalam sangat dibutuhkan.”

Apa yang dialami oleh camaba saat ini berpotensi ingkari komitmen Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita atas apa katanya di tahun 2025 lalu.

“Jadi prinsipnya adalah tidak boleh ada yang tidak kuliah gara-gara tidak punya biaya.”

Namun nyatanya, saat ini ada 80 camaba yang nasibnya masih menggantung.

Penulis: Gina Sonya, Chevina Hanaya
Reporter: Gina Sonya, Chevina Hanaya, Raffael Nadhef
Editor: Raffael Nadhef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *