Fasis dan Rasis: Istilah Londo Ireng yang Keluar dari Mulut Pemimpin

Ilustrasi fasis dari anime Porco Rosso

Sejak jadi pemimpin negeri, Prabowo Subianto senang betul melabeli para pengkritik dengan sebutan-sebutan yang ia cipta sendiri. Dulu antek asing, sebutan buat pengkritik yang diklaimnya dapat dana dari pihak luar negeri. Sudah kenyang dengan antek asing, kini para pengkritik disuruh menelan label baru: londo ireng

Istilah ini mengandung makna yang berlapis, mulai dari kecenderungan fasis sampai implikasi rasis yang tidak sepatutnya keluar dari mulut seorang pemimpin. 

Frasa Warisan Kolonial

Dilansir dari IDN Times, istilah londo ireng atau Belanda Hitam awalnya dipakai untuk menyebut tentara dari Afrika Barat yang direkrut Belanda untuk bergabung ke Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Lalu, usai kemerdekaan, istilah ini bergeser makna jadi ejekan untuk pribumi yang berpihak pada pemerintah Belanda. 

Kini frasa warisan kolonial ini kembali muncul ke permukaan. Di atas panggung politik, Prabowo pakai istilah ini untuk wartawan yang tidak pernah absen mengkritik pemerintah. 

“Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? Pengamat, LSM? LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphone-mu siapa?” katanya saat berpidato di Puncak Harlah ke-28 PKB, mengutip CNN Indonesia.

Logical Fallacy dan Kecenderungan Fasis

Ada cacat logika yang tersimpan dalam pidatonya ini. Pertama, ia anggap kritik sama dengan tidak patriotik. Implikasinya, hanya ada dua opsi: jadi nasionalis yang manut apa kata pemimpin atau jadi pengkritik yang tidak patriotik. 

Ini adalah bentuk false dilemma, alias cacat logika yang menyajikan dua pilihan sebagai satu-satunya kemungkinan. Seolah tidak ada opsi ketiga, seolah kritik akan selalu jadi bentuk pengkhianatan terhadap negara. 

Selain itu, istilah londo ireng yang digunakannya juga mengadopsi sikap fasis. Sama seperti antek asing, Prabowo pakai istilah ini untuk ciptakan musuh bersama. Paham fasisme tidak mengenal oposisi, yang ada hanyalah musuh bersama. Maka ketika muncul sebuah kritik, si pengkritik akan otomatis jadi orang yang mengancam kedaulatan bangsa. 

Klaim musuh bersama yang mengancam kedaulatan bangsa ini tak perlu pembuktian. Jason Stanley (dalam Sletvold & D. Brothers, 2021) menyatakan, fasisme tidak mementingan pembuktian secara intelektual, argumen yang benar dalam fasisme adalah argumen emosional yang menarik perhatian. 

Prabowo tidak pernah memaparkan bukti bahwa kritik yang dilontarkan wartawan mendapat dana dari pihak asing. Hanya dengan memberikan label yang dramatis seperti londo ireng, Prabowo berupaya untuk meyakinkan masyarakat bahwa wartawan yang mengkritik adalah pengkhianat negara. 

Padahal, pers punya fungsi sebagai watchdog. Dalam The Elements of Journalism, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menyatakan, salah satu fungsi pers adalah pengawas kekuasaan. Sudah menjadi tugas pers untuk mengawasi kerja-kerja pemerintah dan menuliskan kritik terhadap kerja-kerja yang buruk. 

Namun sekali lagi, fasis tidak mementingkan nalar. Fasis tidak peduli apa saja fungsi pers dan apa saja bentuk kritik yang membangun. Yang terpenting dalam fasisme adalah pemimpin selalu benar dan oposisi selalu mengancam kedaulatan negara. 

Implikasi Rasisme

Berbeda dengan antek asing, istilah londo ireng maknanya lebih berlapis. Terdapat implikasi rasis yang melanggengkan degradasi terhadap kulit hitam. Seolah “ireng” tidak bermartabat dan layak dijadikan olok-olok. 

Secara harfiah, londo berarti orang Belanda dan ireng berarti hitam. Londo ireng sejak dulu  diartikan sebagai orang kulit hitam yang bekerja untuk orang Belanda. Dari istilahnya saja sudah menciptakan stigma orang kulit hitam adalah orang dengan posisi subordinat. 

Singkatnya, logika yang diterapkan oleh Prabowo seperti ini: pengkhianat negara adalah orang yang tidak bermartabat. Orang kulit hitam adalah kelas bawah yang tidak bermartabat yang bekerja untuk Belanda (orang luar negeri). Maka, wartawan sebagai si pengkhianat negara haruslah dicap sebagai londo ireng. 

Dengan menjadikan londo ireng sebagai label untuk pengkhianat negara, Prabowo melanggengkan warisan kolonial: degradasi terhadap orang kulit hitam.

Rasisme yang terselubung ini juga bisa dikatakan sebagai perwujudan paham fasisme. Menurut Ebenstein (dalam Heru Maruta, 2015), fasisme memiliki tujuh unsur: kurangnya nalar, kesetaraan yang tiada, normalisasi kekerasan, supremasi elite, totaliterisme, matinya hukum, dan rasialisme serta imperialisme.

Rasis dalam fasisme sengaja dinormalisasikan untuk menciptakan ketidaksetaraan antara elite (pemerintah) dengan penentang elite. Istilah londo ireng disebut secara sengaja untuk memosisikan pengkritik sebagai orang yang posisinya jauh di bawah pemerintah, sehingga pantas untuk dicemooh. 

Pada intinya, menyamakan wartawan yang sedang menjalankan fungsi pers dengan frasa warisan kolonial adalah penyimpangan nalar yang disengaja. Prabowo berupaya mematikan kritik dengan narasi fasis yang dibalut dengan kiasan rasis.

Penulis: Gina Sonya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *