Sudah Seberapa “Kotak” Dirimu Hari Ini?

Ilustrasi kotak. (Dok. Pngtree)

Aku mematut diriku di hadapan Cermin Penghakiman dengan perasaan aneh membalut batinku. Ini sudah kedua kalinya bulan ini — dan sudah nggak terhitung (baca: lupa) secara keseluruhannya — tapi entah kenapa masih membuatku gugup setengah mampus. Seperti pertama kali.

Entah apa yang abnormal, tapi aku terus-terusan merasa ada yang salah. Cermin Penghakiman hanya membiarkanku berdiri dan mematung, membuatku memandangi pantulan tubuhku yang sedang kusayat-sayat dengan Belati Penyempurna agar tubuhku betulan bisa jadi kotak — apakah dia menikmati kesakitanku? Oh, ataukah aku yang jadi masalah? Habisnya, tubuhku terus saja “merengek” untuk kembali ke wujud semula — sial! Bahkan sekarang sudah ada bagian yang tumpul lagi!

Kuhela napasku dengan pasrah, Cermin Penghakiman sudah menatapku lekat-lekat, seperti menitahku untuk meraih Belati Penyempurna dari peletakannya. Jariku menggenggam erat perkakas berujung tajam itu erat-erat, sebelum desis-desisan kecil merambat ke seluruh penjuru ruangan.

***

“Beku Penyembuh satu,” kataku pada Tuan Pat si Segiempat. Tuan Pat mengangguk disertai senyuman yang akan membuatku aneh jika harus melihatnya tidak tersenyum. Apa yang akan terjadi jika suatu hari nanti ia ditinggal oleh orang yang dicintainya? Apakah senyuman tenang seperti itu masih akan terpatri di wajahnya? Aku sampai tidak bisa membayangkan wajah itu berlinang air mata.

Ketika Beku Penyembuh sudah diletakkan dihadapanku, aku menempelkannya ke bagian tubuhku yang kusayat-sayat sembari merenung. Tuan Pat, lagi-lagi, hanya tersenyum dan kembali mengatur toko dengan tubuhnya yang berbentuk persegi sempurna: berujung lancip dan kokoh, seperti ia sudah siap untuk menjadi kotak selamanya. Kenapa bisa teguh seperti itu? Ibu memang pernah bilang kalau aku hanya perlu menyerahkan diri di hadapan Cermin Penghakiman sampai usiaku 18 tahun dan aku tahu maksudnya itu karena makhluk-makhluk seperti kami dianggap sudah teguh dengan kekotakannya di usia “dewasa”, tapi aku sekarang 17 tahun! Maksudku, aku tidak tahu apakah wajar jika dengan usiaku ini, tubuhku masih bergelambir seperti agar-agar anggur?

Aku mengerti maksud ibu yang menyuruhku untuk mengikuti Aturan Pengkotak-kotakan. Itu adalah supaya aku bisa menanamkan “moral seperti kotak yang sekotak-kotaknya”, sehingga aku bisa memahami “rasanya” menjadi kotak dan bisa teguh dengan ke-kotak-anku! Namun, mengapa aku begitu payah melakukannya? Mengapa aku tidak bisa membayangkan diriku sebagai kotak? Bahkan aku sudah sampai merapalkan mantra-manta agar aku bisa menjadi kotak, tapi aku tetap tidak bisa “menjadi” kotak! Siapa yang salah? Oh, mungkin aku yang salah!

“Berapa usiamu?”

Aku mendengar bariton tenang Tuan Pat dari balik konternya. 

Kepayahanku untuk menanggapinya secara cepat membuatku sedikit gelagapan, “Tujuh belas.”

Tuan Pat tidak bicara lagi, mungkin ia juga sudah menyadari kalau aku adalah pelanggan setia di tokonya — habisnya aku tahu hanya Tuan Pat yang tidak akan banyak bertanya kalau aku terus-menerus membeli Beku Penyembuh setiap bulan. Tatapan aneh yang kupahami maksudnya setiap aku masuk ke dalam toko lain itu sangat membuatku, err, tidak nyaman.

“Berarti tahun depan kamu sudah tidak akan datang lagi ke tokoku.”

Suara tenangnya membuatku sedikit gugup — gugup yang tidak buruk, ada sesuatu di balik suaranya yang seperti semilir angin di padang rumput. Tuan Pat jarang berbicara, tapi sekalinya berbicara, ia seolah membawa sejuk di padang yang gersang. Eh, tapi, apa yang dia katakan tadi? Aku tidak akan datang lagi ke tokonya?

“Tentu saja aku akan datang, aku, kan, tidak akan hanya membeli Beku Penyembuh — oh.”

Aku baru menyadari ucapannya. Apakah ia bisa melihat bahwa tidak ada harapan untukku? Peraturan itu! Ya, peraturan itu! Mereka yang masih menyayat dirinya setelah usia 18 tahun akan diasingkan. Dan lebih buruknya lagi: dilenyapkan! Aku hanya bisa terkekeh canggung sekarang.

“Aku tidak akan lenyap.”

“Memang tidak akan.”

Apa maksudnya jawaban yang seperti ada di dalam kabut itu? Ingin rasanya aku bertanya lebih lanjut, tapi aku merasa tidak perlu: ia tidak akan menjawabku. Ah, prasangka jelek macam apa itu? Memang ini ada yang salah dengan diriku.

Aku berjalan keluar dari toko dengan pandanganku mengarah ke depan dan postur tubuh yang berdiri tegap — sesuai dengan Aturan Pengkotak-kotakan! Lihat, lihat! Aku sudah melakukan semuanya sesuai prosedur yang ditetapkan, tapi kenapa aku masih merasa ada yang salah? Payah! Aku kesulitan dalam memahami ini semua. Mengapa aku masih tidak bisa menetapkan diri sebagai kotak? Kalau dipikir-pikir, aturan untuk meneguhkan diri sebagai kotak dalam waktu 18 tahun itu begitu singkat! Harusnya, jika begitu, prosesnya akan sangat mudah, bukan? Semua orang pasti bisa melakukannya!

“Dunia ini yang salah!”

Langkahku terhenti melihat pekikan keras dari arah Lapangan Bujur Sangkar. Mataku membelalak, melihat sosok yang wujudnya tidak kotak, berdiri di tengah lapangan dengan sekumpulan Penjaga Kekotakan yang tengah membentuk pagar kotak, membatasi ruang gerak si Makhluk Abstrak.

“Aku bukan kotak dan aku nggak akan pernah mau jadi kotak! Singkirkan si Belati Bangsat itu dari hadapanku, dasar tolol! Nggak bakal kubiarkan ujungnya menyentuh barang sedikit pun bagian dari kehidupanku!

Aku adalah aku! Aku nggak bakalan tunduk untuk memahat hayatku menjadi satu komponen yang palsu! Jika kalian ingin menyayat tubuhku maka tanggalkanlah pula jiwaku!”

Dengan satu kali hentakan, pagar kotak itu semakin mempersempit ruang gerak si Makhluk Abstrak. Sialnya, aku menangkap tatapannya dan — sial, aku tidak bisa menemukan sekelebat pun penyesalan di wajahnya yang berbangga. Kupejamkan mata karena aku tahu apa yang akan terjadi setelahnya, langkahku selanjutnya disertai lolongan yang teramat panjang.

“Hidup tidak kotak!” begitu kata-kata terakhirnya. Yang entah semboyan atau pernyataan.

Ada yang seperti itu, ternyata ada yang seperti itu. Seperti tuas yang menjalankan sebuah kereta pemikiran di alam bawah sadarku.

***

Sudah seberapa “kotak” dirimu hari ini?

Kalimat bernada motivasional yang tertera di sebelah tengah atas Cermin Penghakiman membuatku terpaku, selama ini aku menekan akalku dan menyangkal maksud terselubung yang tersimpan di balik barisan 6 kata tersebut. Mataku beralih pada pantulan tubuhku ,  aku rusak edan. Muncul lebam-lebam yang jadi cikal bakal sudut baru.

Ternyata benar. Dua minggu ini kuhabiskan dengan tidak melaksanakan Aturan Pengkotak-kotakan dan membiarkan pikiranku berpikir sesuka monyet yang tidak ada kotak-kotaknya. Luar biasa! Pikiran itu sungguhan bisa merombak sekujur wujud makhluk sepertiku dengan sangat cepat.

Gimana kalau aku hidup seperti makhluk abstrak juga?

Ah, mukaku jadi makin masam. Seminggu ke belakang, aku sok-sokan jadi pembangkang yang padahal cemas tingkat maut. Kepalaku lebih buruk dari Es Buah Kotak basi, isinya cuma aku takut mati. Aku takut dengan sangat bakal mati.

Seberapa banyak lagi si Manusia Abstrak lainnya? Apakah mereka nggak pernah takut mati? Aku mungkin kelihatannya bego dan kebelet jadi kotak sekarang—tapi aku beneran takut mati. Aku pengecut. Jangankan kalau ajal menjemput, aku pernah dirundung karena nggak mau nonton film Hantu Kotak Tukang Pecut.

Kuraih Belati Penyempurna dan lagi-lagi kusayati anomali dari tubuhku, berusaha buat memahatnya jadi bentuk kotak lancip sempurna. Aku putus asa, aku belum siap jadi kotak geprek, kotak gepeng, kotak berdarah … intinya apapun yang tertulis sebagai mati yang paling mengerikan nan menyedihkan. 

Namun, tatapan si Makhluk Abstrak menjelang kematiannya kembali menghantuiku. Ada bisikan-bisikan aneh yang bikin aku mau jumpalitan.

Bukannya jelas yang paling buruk adalah mati sekotak-kotaknya?

Penulis: Delinda Alifia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *