Topeng Zero: Tangan Kotor untuk Dunia yang Bersih

Kaisar Britania ke-99, Lelouch vi Britannia dan Zero.

Pernahkah terbayang olehmu sebuah dunia yang tampak damai, tapi sebenarnya dibangun di atas manipulasi dan pengorbanan besar?

Lelouch vi Britannia, dari Code Geass: Lelouch of the Rebellion, adalah karakter yang berdiri tepat di balik dunia semacam itu. Di satu sisi, ia punya tujuan mulia: menciptakan dunia yang lebih baik, terutama demi adiknya. Tapi disisi lain, cara yang ia tempuh kerap melibatkan tindakan yang ekstrem.

Di sinilah yang menarik: segala sesuatu yang Lelouch lakukan untuk mengubah dunia dipengaruhi oleh perpaduan pemikiran yang kompleks. Dari hasrat mewujudkan dunia ideal, kesediaan menghalalkan segala cara (Machiavellisme), perannya sebagai anti-hero yang sulit diletakkan pada sisi manapun, hingga Suzaku, sahabat Lelouch, yang justru berdiri di jalur yang berseberangan dengannya.

Bagi Suzaku, dunia bisa berubah dari dalam sistem itu sendiri, pemberontakan tidak bisa dijustifikasi sebagai cara mencapai tujuan (deontologi). Ia meyakini, cara yang salah hanya akan menghasilkan kondisi yang sama buruknya. Hal ini bikin batas antara benar dan salah jadi makin samar, dan membuat Lelouch terus terjebak dalam dilema moral yang makin berkembang sepanjang cerita. 

Dari perpaduan paham itu, satu pertanyaan mendasar muncul: apakah niat baik cukup untuk membenarkan semua tindakan Lelouch?

Semua Sosok Lelouch

Lelouch adalah karakter dengan kepribadian yang kompleks dan keinginan yang kontradiktif. Ia mendambakan kedamaian, tapi menggapainya melalui perang dan darah. Sifat itu tidak datang seketika. Ada tahapan panjang yang membentuknya menjadi sosok yang dikenal sebagai pemikir, ahli strategi, dan jenius yang menyimpan dendam pada dunia.

Masa Naif Lelouch

Lelouch tumbuh sebagai seorang pangeran Kekaisaran Britannia. Di masa kecilnya, ia sensitif dan penuh kasih sayang. Anak yang polos, tanpa ideologi, tanpa agenda tersembunyi. Ia sangat dekat dengan ibu dan adiknya, dan tumbuh dengan keyakinan naif bahwa dunia itu adil, bahwa sang ayah, Kaisar, adalah figur yang bisa dipercaya.

Namun, semua itu runtuh ketika ibunya terbunuh dalam sebuah insiden. Tidak satupun yang datang melindunginya, tak ada para ksatria, tak ada pula sang kaisar. Ayah yang ia percaya hanya diam di atas tahtanya. Di titik itulah Lelouch berubah: dari anak yang percaya pada dunia, menjadi seseorang yang digerakkan oleh dendam.

Pada usia sepuluh tahun, ia melakukan sesuatu yang tak terbayangkan oleh siapa pun. Ia datang ke aula besar tempat sang kaisar bertakhta, dikelilingi pejabat dan bangsawan, lalu mempertanyakan ketidakhadiran ayahnya saat ibunya diserang. Tidak puas dengan jawabannya, Lelouch menantang sang kaisar dan melepaskan haknya sebagai pangeran.

Lelouch pergi usai membuang haknya sebagai bangsawan.

“Aku tidak butuh nama keluarga dari pria pengecut sepertimu.”

Dengan kata-kata itu, ia membuang takhta dan diasingkan bersama adiknya ke sebuah negeri yang jauh bernama Jepang.

Lelouch dalam Pengasingan

Di tanah asing itu, Lelouch mengganti nama keluarganya menjadi Lamperouge sebagai bagian dari rencananya membalas dendam kepada sang ayah. Ia dan adiknya tinggal bersama keluarga Kururugi sebagai sandera politik; secara nilai, keduanya sudah tidak berarti apa-apa. Darah bangsawan mereka masih mengalir, tapi hak istimewanya sudah hilang, membuat mereka rentan dan lemah secara politis.

Amarah besar tersimpan dalam diri Lelouch, tapi ia tidak bisa mengekspresikannya. Ia tahu itu berbahaya bagi adiknya. Maka amarah itu ia ubah menjadi tekad: dendam yang lebih dingin, lebih terkontrol, dan jauh lebih berbahaya.

Di sinilah Lelouch mulai belajar pakai topeng dalam kehidupan sosialnya. Di depan orang lain, ia tampil sebagai anak biasa seusianya, sementara pikirannya terus menganalisis, mengamati, dan merencanakan. Catur menjadi medium penting untuk melatih strategi, sekaligus cara membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih punya kendali atas sesuatu: pikirannya sendiri.

Masa kecil Lelouch dan Suzaku.

Di luar semua itu, ada satu hal yang ia jalani dengan tulus: persahabatannya dengan Kururugi Suzaku. Keduanya bertengkar, pandangan mereka kerap berbenturan, tapi hubungan itu jujur. Ini adalah salah satu momen paling otentik dalam hidup Lelouch, sebelum berbagai motif dan kepentingan mulai mengaburkan segalanya.

Lelouch Bertemu Geass

Memasuki masa remaja, Lelouch memendam keputusasaan yang dalam terhadap dunia, meski selalu ia tutupi dengan dendam dan tekad untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi adiknya.

Titik balik itu datang ketika ia dan temannya terlibat dalam sebuah insiden: sebuah truk yang mereka coba selamatkan ternyata dioperasikan oleh teroris tersamar. Di dalam truk itu, ada sebuah kapsul yang memancing rasa ingin tahunya. Di sana pula ia kembali berjumpa Suzaku, yang kini telah memilih jalan yang berbeda, bergabung sebagai tentara Britannia dengan tugas mengamankan kapsul itu.

Ketika kapsul itu akhirnya terbuka, isinya bukan gas beracun. Tapi seorang gadis berambut hijau, alias rahasia yang disembunyikan Britannia itu sendiri. Sebelum situasinya sempat dipahami, prajurit Britannia lain datang. Suzaku menolak menembak Lelouch dan ditembak di tempat. Lelouch pun ditembak, tapi berhasil diselamatkan oleh gadis itu. Dan disanalah gadis itu menawarkan sebuah kontrak: kekuatan sang raja, dengan imbalan kematiannya sendiri.

Lelouch menerimanya. Ia langsung menggunakan kekuatan itu untuk menghabisi para prajurit Britannia. Dan sejak saat itu, hidupnya berubah selamanya. Ia mulai menjalani hidupnya dalam kebohongan, mengotori tangannya dengan darah, memakai dua wajah: seorang siswa biasa di Ashford Academy, dan Zero, pemimpin Kuro no Kishidan yang bersumpah menghancurkan Britannia.

Semua itulah yang membentuk Lelouch menjadi sosok yang kita saksikan dalam anime. Seorang jenius, arsitek strategi yang selalu berhasil dalam eksekusinya. Dimulai dari dunia istana yang tenang dan aman, lalu dihancurkan oleh kematian sang ibu yang tak seorang pun cegah. Lalu pengasingan, persahabatan yang jujur bersama Suzaku, kehidupan ganda di Ashford Academy, hingga pertemuannya dengan C.C. yang mengubah segalanya.

Geass menjadi saluran bagi seluruh dendam dan amarah yang selama ini ia pendam. Dan dengan topeng Zero, ia mulai berjalan menuju tujuannya: memperbaiki dunia, sekaligus menghancurkan Britannia.

Ideologi yang Berbenturan dan Beririsan

Di hadapan sekutu dan musuhnya, Lelouch tampak seperti sosok yang dingin, strategis, bahkan kejam tanpa hati. Tapi di balik itu semua, ada banyak pertimbangan dan kebimbangan yang terus menghantuinya, terutama ketika keputusan yang diambil sudah tidak bisa ditarik kembali.

Salah satu momennya adalah insiden di Area Nippon, ketika ribuan orang menjadi korban dan Euphemia, yang dikenal baik dan egaliter terhadap orang Jepang, terpaksa dijadikan kambing hitam dari sebuah tragedi yang tidak direncanakan siapa pun. Geass-nya bocor di saat paling genting: sebuah candaan berubah menjadi perintah mutlak yang tidak bisa dicabut.

Lelouch tidak mundur. Ia memilih menggunakan insiden itu untuk meneruskan rencananya, meski harus menanggung beban yang tidak pernah benar-benar pergi dari dirinya. Di sinilah terlihat bahwa kekejaman yang ia lakukan bukan karena hilangnya nurani, justru karena ia menjadikan nurani itu sebagai alat untuk mencapai sesuatu yang lebih besar.

Lelouch adalah seorang Machiavellian, meski kita tidak pernah mendengarnya menyebut nama itu secara langsung. Dalam praktiknya, prinsip Machiavelli hidup dalam setiap keputusannya. Dalam Il Principe, Machiavelli menulis bahwa lebih baik menjadi pemimpin yang ditakuti daripada dicintai, jika seseorang tidak bisa menjadi keduanya. 

Sebagai Zero maupun sebagai kaisar yang kejam, Lelouch tidak berusaha untuk dicintai. Ia merancang dirinya agar ditakuti sekaligus dipercaya. Dan ia membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan jika dikelola dengan benar. Orang-orang tidak mematuhi Zero karena cinta, tapi karena mereka percaya setiap perintahnya punya alasan di baliknya. Bagi Lelouch, Zero adalah simbol. Bukan manusia, dan karena itu bisa diisi oleh siapa pun.

Di saat yang sama, Lelouch juga seorang Utilitarian. Setiap keputusan besarnya, seperti mengorbankan warga sipil, memanipulasi ingatan orang-orang, mengorbankan nama baiknya sendiri, bermuara pada satu logika: kerugian hari ini demi keuntungan yang jauh lebih besar di masa depan

Utilitarianisme menilai moralitas sebuah tindakan dari dampak yang dihasilkan. Lelouch tahu tangannya kotor, dan ia tidak pernah menyangkalnya. Yang ia pegang teguh adalah keyakinan bahwa pengorbanan hari ini adalah satu-satunya jalan menuju masa depan yang lebih cerah. Dan tidak ada yang bersedia menanggung beban itu kecuali dirinya sendiri.

Dalam diri Lelouch, Utilitarianisme berfungsi sebagai sistem nilai, sementara Machiavellisme adalah metode untuk mewujudkannya. Utilitarianisme menjawab mengapa ia rela menanggung kebencian seluruh dunia dan memilih menghapusnya dengan kematiannya sendiri. Machiavellisme menjawab bagaimana ia membangun dan menjalankan peran sebagai Zero: bagaimana ia membentuk persepsi di mata kawan dan lawan, bagaimana ia menjadikan ketakutan sebagai fondasi kekuasaan. 

Hasilnya bisa dilihat, Zero tetap menjadi simbol yang tidak pernah benar-benar hilang.

Suzaku berdiri di kutub yang berbeda. Ia menganut deontologis, meski kita tidak pernah mendengarnya menyebut hal itu secara langsung. Baginya, dunia bisa diubah dari dalam sistem itu sendiri; kekerasan dan pemberontakan tidak bisa dibenarkan sebagai jalan menuju tujuan apa pun. Ia percaya, cara yang salah hanya akan melahirkan dunia yang sama buruknya.

Keyakinan itulah yang mendorongnya masuk ke jajaran Ksatria Britannia, dengan tekad menjadi Knight One dan menjadikan Jepang sebagai wilayah protektorat. Berlawanan dengan ini, Lelouch tidak percaya pada sistem. Ia hanya percaya pada dirinya sendiri.

Namun pada akhirnya, dua jalan yang tampak berlawanan itu bermuara pada tujuan yang sama: dunia tanpa kebencian dan penderitaan. Dan keduanya pun bersatu dalam satu rencana terakhir: Lelouch memusatkan seluruh kebencian dunia pada dirinya, lalu menugaskan Suzaku yang menerima jubah Zero untuk mengakhiri semuanya. Yakni membunuh sang kaisar kejam Lelouch di hadapan dunia, dan menjadi simbol perdamaian.

Zero Requiem

Suzaku menusuk Lelouch.

Zero Requiem adalah puncak dari seluruh perjalanan dan pemikiran Lelouch. Setelah lewati berbagai konflik batin, ia merancang sebuah rencana yang menjadikan dirinya pusat kebencian dunia. Dengan citra sebagai tiran, ia menarik seluruh kemarahan dan kebencian ke arahnya. Lalu Suzaku, dalam peran Zero yang Lelouch serahkan sendiri, membunuhnya di hadapan semua orang. Tindakan itu menjadi simbol berakhirnya konflik, dan awal dari perdamaian baru. 

Dengan kematian Lelouch, kebencian dunia seolah ikut luruh, karena simbol kejahatan yang selama ini dituju telah tiada.

Zero Requiem bisa dipandang sebagai bentuk paling ekstrem dari Utilitarianisme yang selama ini Lelouch anut: mengorbankan satu pihak demi kebaikan yang lebih besar. Tapi ada yang berbeda kali ini. Tidak seperti keputusan-keputusan sebelumnya yang memakan korban tanpa persetujuan siapa pun, dalam rencana ini Lelouch secara sadar menjadikan dirinya korban utama. 

Machiavellisme pun masih tampak, ia membangun citra sebagai musuh dunia, memanipulasi persepsi hingga akhir. Tapi kali ini, manipulasi itu tidak lagi untuk kepentingan pribadinya. Ia untuk stabilitas dunia yang ia tinggalkan.

Dari Zero Requiem, muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab: apakah pengorbanan diri bisa membenarkan semua yang telah dilakukan sebelumnya? 

Di satu sisi, tindakan Lelouch bisa dibaca sebagai bentuk tanggung jawab, ia tidak lari dari konsekuensi, dan menanggung seluruh kebencian dunia hingga napas terakhirnya. Di sisi lain, kematiannya tidak serta-merta menghapus dampak dari semua keputusannya yang telah merugikan begitu banyak pihak. 

Ini menunjukkan sesuatu yang penting dalam etika: tujuan yang baik tidak selalu sepenuhnya membenarkan cara yang digunakan.

Penutup

Dari perjalanan Lelouch kita bisa melihat dan memahami bahwa sesungguhnya tidak ada masa depan yang lebih baik tanpa ada yang berkorban atau dikorbankan. Dalam kepemimpinannya, lebih baik dipercaya atas dasar takut ketimbang cinta.

Kita melihat Lelouch yang punya cita-cita membangun dunia ideal tanpa kebencian. Ia pun melakukan berbagai pengorbanan besar, seperti kematian ribuan orang Jepang dan pengorbanan dirinya sendiri dalam Zero Requiem.

Lelouch tahu ribuan orang meninggal karenanya, ia tidak pernah menyangkal dan mencuci tangannya. Tapi ia meyakini bahwa pengorbanan itu diperlukan untuk membentuk persepsi yang lebih besar. Yakni, menjadikan kekaisaran britania sebagai musuh utama yang bengis dan tidak bisa dipercaya.

Rencananya berhasil. Semua orang bangkit melawan Kekaisaran Britania. Bahkan, ia berhasil mendukung pendirian United Nations dengan Kuro no Kishidan sebagai militer utamanya. 

Dan dari situlah satu hal yang bisa kita pelajari dari Lelouch, sesuatu yang juga bisa kita temukan praktiknya dalam sejarah manusia: cita-cita yang besar menuntut keberanian untuk menggunakan segala cara dan segala sumber daya yang ada. Lelouch tidak setengah-setengah, dan justru karena itu ia berhasil.

Tentu cara-caranya tidak akan pernah bersih. Tapi Lelouch sudah memilih sikapnya sejak awal, ia tidak lari dari konsekuensinya, dan ia membayarnya dengan hidupnya sendiri. Bagi kami, itu bukan nihilisme, itu adalah bentuk tanggung jawab yang paling jujur yang bisa ditunjukkan seseorang.

Penulis: Hafiz Thamrin dan Nisrina Hawa
Editor: Raffael Nadhef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *