Ilustrasi buku dari Freepik.
Menikmati karya orang lain dan merasa enjoy saat membacanya adalah sebuah anugerah. Namun, bagaimana jika pengarang karya tersebut adalah “celaka” bagi orang lain di masa lalunya?
Salah satu hal yang menjadi buah pikiran ketika menemukan buku bagus dan memberikan efek ke pembaca adalah bagaimana cara penulis menemukan ide dan mengolahnya hingga menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.
Di sisi lain, antara karya dan pengarang, atau buku dan penulis, turut menimbulkan perdebatan klasik dalam kritik sastra yang dikenal sebagai “The Death of the Author” (Kematian Sang Penulis), sebuah konsep dari esai tahun 1967 oleh kritikus Prancis, Roland Barthes.
Dilema Moral Membaca Karya Penulis Problematik
Memisahkan karya dengan kehidupan pribadi penulis biasanya menjadi argumen pembaca saat ditanya: bagaimana jika penulis favoritmu ternyata tidak sebaik karya-karyanya?
Sebagai pembaca, kita sering kali jatuh cinta dengan rangkaian kata dan cara penulis mengolah ide hingga menjadi narasi yang berkesan. Namun, apa yang terjadi bila rasa cinta itu berbenturan dengan kenyataan bahwa sang penulis merupakan pelaku kejahatan di masa lalu?
Ada banyak fakta yang bisa kita ulik dari tiap rangkaian kata yang tersusun rapi menjadi sebuah buku.
Dalam dunia literatur, memang tidak akan luput dari yang namanya skandal. Beberapa nama besar tercatat pernah menjadi tokoh pendukung, bahkan tokoh utama, dalam kasus yang kontroversial seperti berikut ini:
George Orwell
Penulis yang dikenal dengan buku Animal Farm dan 1984 ini sering dielu-elukan sebagai ikon anti-totalitarianisme dan menjadi arah kiblat penulis favorit pembaca.
Meski terkenal dengan karyanya yang menjadi acuan politik dunia, Orwell menyimpan catatan kelam. Melalui artikel Association of Royal Navy Officers (ARNO) pada November 2023, terungkap bahwa dalam buku Eric & Us, Orwell disebut pernah melakukan percobaan pemerkosaan terhadap sepupunya, Jacintha Buddicom, pada tahun 1921.
Tidak sampai di sana, dalam buku pertamanya, Burmese Days, ia banyak menggambarkan eksploitasi seksual sistemik dengan perwira Inggris sering “membeli” gadis lokal untuk menjadi pelayan sekaligus pemuas kebutuhan seksual.
Melalui artikel The Conversation, Orwell disorot sebagai predator seksual terhadap perempuan bahkan hingga melakukan upaya pemerkosaan. Yang naas, ini jarang dibahas di lingkungan sastra.
Tentu, sebagai pembaca, kita perlu menentukan sikap lebih lanjut terhadap fakta ini sendiri.
J.K Rowling
Pencipta seri terkenal Harry Potter ini dikecam karena dukungan terang-terangannya terhadap Israel di tengah genosida yang masih terjadi di Palestina. Banyak pembaca hingga penggemar setianya merasa dikhianati oleh sikap politik sang penulis ini.
Colleen Hoover
Dikenal sebagai “ratu” genre romance lewat salah satu bukunya It Ends With Us, Hoover dikritik habis-habisan karena memasarkan “KDRT” di bukunya dengan cara yang mengabaikan perasaan para penyintas.
Seterusnya, melansir artikel ABC News, Hoover juga dinilai mengeksploitasi penderitaan perempuan demi meraup keuntungan dan reputasi.
…
Usai dari penulis-penulis luar negeri tersebut, kita beralih ke penulis Indonesia yang terkenal dengan series Bumi dan beberapa judul buku stand alone seperti Hujan, Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin, Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Tentu saja, kita akan mengupas tentang:
Tere Liye
Penulis besar yang karyanya sering menjadi gerbang awal bagi banyak orang dalam menyukai literasi.
Isu ghostwriter yang menimpa penulis ini selalu menjadi perbincangan publik. Ada beberapa faktor yang menjadikan isu ini terus dibicarakan, seperti tiap kali ia merilis buku barunya.
Selain isu ghoswriter, penulis ini juga sering dnilai arogan dalam menyikapi kritik yang disampaikan kepadanya. Seperti salah satu kutipan dari blog pribadinya yang berbunyi:
Jangan mau menjadi KRITIKUS buku, tapi tidak pernah menulis buku.
Atau juga:
1000 komentar yang kita buat di dunia maya, tidak akan merubah pangkat kita menjadi penulis buku. Mulailah menulis buku, jangan menghabiskan waktu menjadi komentator, dan mulailah jadi pelaku.
Hal ini sontak membuatnya ramai diperbincangkan para pembaca yang menganggap penulis ini antikritik.
Pengaruh Buku Tanpa Memuja Penulisnya
Apa yang terjadi jika kita sebagai pembaca menyelesaikan satu buku tanpa mencari tahu lebih jauh mengenai penulisnya, yang mungkin saja memberikan dampak besar setelah membaca bukunya?
Mungkin kita akan merasa lebih kagum atau mulai membaca karya-karya mereka yang lain.
Namun, kekaguman itu bisa saja sirna setelah mengetahui sang penulis menyimpan catatan kelam, yang bahkan dijadikan referensi dalam karyanya.
Di sinilah pembaca berada di persimpangan jalan: tetap menikmati karyanya atau memblokir seluruh akses terhadap karya tersebut.
- Hak Otonom antara Penulis dan Pembaca
Ada argumen bahwa setelah buku diterbitkan, ia bukan lagi milik penulis, melainkan milik pembaca. Jika buku itu memberi dampak positif, pembacalah yang pertama kali merasakannya. Namun, celah besar dari pola pikir ini adalah anggapan bahwa sebuah karya lahir di ruang hampa. Sebelum berempati terlalu jauh kepada penulis, ada baiknya kita mencari tahu apa yang melatarbelakangi lahirnya karya yang begitu berkesan tersebut.
- Konten vs. Konteks
Argumen bahwa “kebermanfaatan karya tidak harus sejalan dengan dukungan kepada penciptanya” bisa kita balikkan: konten (karya) dan konteks (penulis) sulit untuk benar-benar dipisahkan. Bisa saja karya yang bagus tersebut menjadi “alat pembersih” atau cara penulis “mencuci tangan” agar kejahatan masa lalunya terlupakan.
- Menghentikan Tindakan Normalisasi terhadap Perilaku Buruk
Satu hal sederhana yang sering terlupakan adalah bagaimana cara kita menghentikan normalisasi terhadap perilaku buruk yang terus menerus terjadi. Bagi orang-orang yang memilih untuk berhenti mengonsumsi karya penulis bermasalah bisa dikatakan sebagai pemutus mata rantai sekaligus bentuk kritik terhadap perilaku buruk dan tercela yang dibiasakan.
Bagaimana untuk Terus Menjadi Pembaca yang Baik?
Salah satu kutipan buku Althusser Pembunuh: Banalitas Kejantanan milik Francis Dupuis-Deri menyatakan seperti ini:
Sejalan dengan perdebatan dewasa ini tentang seruan untuk memboikot seniman yang telah memerkosa atau membunuh perempuan, dia pada giliranya bertanya dapatkah kita memisahkan penulis dari karyanya, yaitu mengutuk aksi pembunuhan Althusser sambil terus mempelajari dan mengutip karya filsafatnya. Dalam perdebatan yang membelah banyak orang ini, di satu sisi pencarian kepuasan pribadi dari mengonsumsi sebuah karya atas nama kebebasan diutamakan, dan di sisi lain terdapat penghormatan terhadap ingatan akan korban dan penolakan atas kekebalan yang menguntungkan para pelaku kekerasan, antara lain seperti Althusser.
Ini bisa menjadi acuan kita untuk terus bisa menjadi pembaca yang baik di antara banyaknya karya dari penulis problematik.
Kutipan lain dalam buku tersebut juga mencerminkan bagaimana kita sebagai pembaca tidak perlu memberikan ruang lebih kepada para penulis problematik ini, sebab masih banyak karya lain yang menunggu untuk dibaca.
Dan sekarang saya tahu bahwa ada banyak dunia pemikiran yang belum saya pelajari dan hanya saya ketahui sedikit atau tidak sama sekali hal-hal tersebut … Jadi, kalau saya mengabaikan tulisan-tulisan orang-orang seperti mereka, saya tetap tidak akan kekurangan bacaan.
Beberapa buku bisa saja menjadi kesukaan para pembaca sekalian, ada banyak kisah pula yang mendampingi buku tersebut hingga menjadi sebuah kesukaan, bukan?
Namun, sekarang ini, setelah mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana penulis buku dan kisah kelam mereka, tidakkah perlu bagi kita, para pembaca, untuk tahu dan mengenal lebih jauh penulisnya agar bisa menyesuaikan tindakan yang tepat saat menyukai suatu buku?
Seni mungkin abadi, tapi korban yang mengalami hal-hal buruk tersebut haruslah mendapat empati.
Penulis: Ghina Wafiya
Editor: Raffael Nadhef
