AI Eksploitasi Kerja-Kerja Jurnalistik

Diskusi soal relevansi jurnalisme di era kreator konten dan AI, Minggu (3/5/2026), di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung.

BANDUNG (3/5/2026) — Praktik jurnalisme di Indonesia tengah hadapi ancaman eksploitasi baru dalam ekosistem digital yang didominasi oleh kecerdasan buatan (AI). Hal ini tercetus dalam diskusi peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, Minggu (3/5). 

Terungkap dalam diskusi, teknologi AI secara masif menyerap produk jurnalisme sebagai “makan bergizi gratis” untuk melatih model mereka. Namun, itu tanpa memberikan kompensasi ekonomi kepada media.

“Kita ada di kolonialisme gaya baru yang terbungkus kapitalisme. Alangkah bodohnya kalau saya udah gitu (capek-capek memproduksi informasi), tapi saya dijajah untuk memperkaya orang lain lagi (melalui sistem yang tak bisa dikontrol),” ujar Kepala Laboratorium AI dan Big Data Fikom Unpad Abie Besman.

Ia soroti bagaimana jurnalis kini hanya diposisikan sebagai “buruh konten” yang menyuplai data kepada AI tanpa kejelasan masa depan profesi.

Krisis ini terjadi tepat saat industri media nasional sedang ringkih. Ketua Aji Bandung Iqbal paparkan data PHK yang mencapai 923 pekerja media dalam dua tahun terakhir. Ketika publik beralih melakukan percakapan langsung dengan AI tanpa perlu mengeklik tautan asli, akibatnya pendapatan media dari iklan otomatis anjlok. 

Inilah paradoks saat ini. AI perlu data jurnalisme yang terverifikasi agar tidak “halusinasi”, tapi di saat yang sama, mekanisme kerja AI justru membunuh model bisnis media yang menyuplai data itu.

Dilema “Google Zero” dan Kematian Klik

Salah satu poin paling krusial yang dibahas adalah skenario google zero atau zero-click search. Pemimpin Redaksi BandungBergerak Tri Joko Her Riadi memproyeksi soal bagaimana kebiasaan orang mencari informasi akan berubah total dalam 5-10 tahun ke depan. Yakni, publik tak lagi masuk ke website media, tapi hanya tanya-jawab pada AI.

Joko memberi analoginya. Bayangkan, seorang reporter harus mengeluarkan energi besar, seperti ribuan kalori untuk turun ke lapangan, wawancara narasumber, hingga mengolah data investigasi yang rumit, lalu berakhir sebagai ringkasan di sebuah chatbot. 

AI mendapatkan reputasi sebagai asisten yang pintar berkat data itu, sementara media yang mendanai liputan itu tidak mendapatkan apa-apa, kata Joko.

Data Kita, Uang Mereka

Abie Besman menjelaskan fenomena blackboxing ini sebagai celah yang sangat berbahaya. Meski AI terlihat pintar, ia sebut bahwa pengguna tak pernah benar-benar tahu dari mana satu paragraf informasinya berasal: apakah dari laporan investigasi yang mahal atau sekadar komentar terserak di media sosial. Karenanya, ini dinilai wajar bila AI mencampuradukkan keduanya.

Bagi perusahaan teknologi, produk jurnalisme adalah “makanan bergizi gratis” yang memastikan algoritma mereka tetap relevan. Namun bagi jurnalis, pelepasan data ke World Wide Web secara gratis saat ini terasa seperti menyerahkan senjata kepada lawan. 

Abie mengingatkan, di era digital ini, data adalah aset yang paling berharga tapi sering dilepas begitu saja ke sistem platform. 

“Di mana kita gratisan ngelepasin semuanya, gitu. Padahal, di masa depan atau masa kini hanya ada dua currency (mata uang) untuk media massa. Yang pertama adalah data kita, yang kedua adalah audiens kita. Kalau dua-duanya nggak kita komodifikasi, selesai,” tegasnya.

Ia pun mewanti-wanti para jurnalis agar lebih protektif terhadap aset intelektual mereka. “Jangan sebar data kita ke mana-mana. Kunci, pegang. Karena itulah currency di masa depan. Itu sama uang kita.”

Media-media besar seperti New York Times punya kebijakan untuk menuntut bila informasinya diisap AI seenaknya. Namun, muncul pertanyaan: bagaimana dengan media lokal atau pers mahasiswa yang sumber dayanya terbatas dan seolah dipaksa menyerah pada keadaan bahwa datanya adalah komoditas cuma-cuma bagi raksasa teknologi global.

Jurnalisme Investigasi sebagai Benteng Terakhir

Meski kondisinya suram, Joko sebut ada satu “celah tanding” yang tidak bisa disentuh AI. Yakni, kedalaman dan kemanusiaan (human story). Menurutnya, AI mungkin bisa merangkum fakta di permukaan, tapi ia tidak bisa melakukan verifikasi di lapangan atau menemui lapisan fakta yang tersembunyi.

“Yang viral itu kadang fakta di permukaan saja, tapi untuk mencapai lapisan-lapisan dalam itu, jurnalisme itulah yang dibutuhkan. Kerja verifikasi, kerja mencari data, menemui narasumber yang bersembunyi, mencari tempat-tempat yang jauh,” ungkap Joko.

Ia menambahkan, pengungkapan fakta mendalam perlu ketekunan kultural yang tidak dimiliki algoritma. “Selalu ada lapis lain dari fakta yang sering kali hanya jurnalis atau media-media yang kuat, yang punya kultur kuat, itu yang bisa mengungkap itu.”

Rujukannya, ia mencontohkan media yang menginformasikan hal viral soal empunya SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang joget-joget. Hanya sebatas viral joget, tanpa menguak fakta dalam-dalamnya melalui investigasi, seperti mencari lapis-lapis pelanggaran atau ketidakadilannya: siapa pemiliknya, latar belakangnya, hingga persoalan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.

Jurnalis KompasTV Sharifah Vidaa Fatimah Alatas pun ungkap hal serupa. “Tidak bisa dinafikan kalau memang saat ini jurnalisme yang ada … itu based on apa yang juga lagi hangat di media sosial (viral).”

Lebih lanjut, media-media lokal di instagram, menurut Joko, juga kerap mengunggah informasi kehilangan dalam frekuensi belasan tiap bulan. Namun, itu tidak ditindaklanjuti dan seakan hanya memviralkan saja. Padahal melalui investigasi, belasan kejadian itu bisa jadi pola.

Menurut Joko, tanpa daya kritis untuk gali pola di balik keriuhan itu, jurnalisme akan selamanya kalah cepat dari algoritma. Di sinilah letak garis pembatasnya: eksploitasi ini hanya bisa dilawan jika media berhenti mengejar viralitas dan kembali pada “agama” aslinya, yakni trust

Kekuatan jurnalisme masa depan bukan lagi pada seberapa banyak klik yang didapat, tapi pada seberapa kuat komunitas yang mau mendukung media itu karena mereka perlu informasi yang jujur dan berpihak, ungkap Joko.

Mengutip Pink Floyd, kata Abie, menghadapi eksploitasi AI berarti media harus berani menjadi “bata yang berbeda” di tengah tembok informasi yang kian seragam; perlu jurnalisme yang tidak hanya pintar secara teknis, tapi juga street smart dalam menjaga aset datanya agar tidak habis diperah oleh algoritma.

Penulis: Raffael Nadhef
Editor: Hasanudin Yahya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *