Kantin FEB Unpad. (Dok. dJ/Jihan Naila)
Sivitas Akademika Unpad soroti perbedaan kantin Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), mulai dari kebersihan, asap rokok, minimnya tempat duduk, hingga anggaran pemeliharaan.
Manajer Fikom Deni Rustiandi sebut anggaran fakultas untuk pemeliharaan kantin belum jadi prioritas.
“Anggaran fakultas untuk pemeliharaan kantin saat ini tidak menjadi prioritas karena masih diperuntukkan peningkatan fasilitas mahasiswa, terutama akademik dan kemahasiswaan,” kata Deni kepada dJatinangor, Jumat (9/10/2026).
Di sisi lain, Tenaga Kependidikan Sarpras FEB Unpad Ade Iwan Supriatna menilai kebersihan kantin juga butuh kesadaran mahasiswa.
Pengelolaan dan Anggaran Kantin
Deni menjelaskan, perizinan kantin kini diatur lewat Peraturan Rektor Unpad Nomor 41 Tahun 2025, termasuk standar kebersihan dan evaluasi berkala. Namun, penerapannya di fakultas baru jalan tahun depan sebab kontrak kantin sudah dibuat di awal tahun.
Dari aturan itu, biaya sewa dan biaya lain dari pengelolaan kantin jadi tanggung jawab pengelola. Pengelola juga wajib memperbaiki kerusakan akibat kelalaiannya. Namun, Deni menegaskan, fakultas tetap perhatian pada fasilitas kantin lewat kebijakan seperti ruang khusus merokok dan edaran tanpa styrofoam.
Di FEB, anggaran pemeliharaan kantin berasal dari sewa kantin. “Untuk anggaran pemeliharaan ada dari persentase sewa kantin tersebut melalui Universitas,” kata Ade kepada dJatinangor, Rabu (28/10).
Soal kebersihan, Ade sebut ada petugas khusus yang menanganinya.
“Kami menyiapkan OB khusus yang menangani terkait kebersihan, dan dibantu oleh OB dari outsourcing.”.
Ia juga sebut kebersihan dan kenyamanan kantin butuh kesadaran mahasiswa atau pihak lain, seperti buang sampah dan bekas makan ke tempat sampah terpilah.
Keluhan Mahasiswa dan Suara Pedagang
Andi Salma Karima, mahasiswa Fikom, nilai tata letak kursi dan meja di kantin Fikom masih bercampur dengan area merokok. Ia berharap ada sekat. Kebersihan juga membuat ia lebih sering bungkus makanan.
“Kalau kita lagi makan terus tempatnya kotor, otomatis kita jadi nggak mood buat makan,” ujarnya kepada dJatinangor, Rabu (14/10).
Wisnutama Chandra Wijaya, mahasiswa FEB, nilai bangku di kantin kurang. “FEB sendiri satu angkatan bisa 800-an orang,” ujarnya kepada dJatinangor, Rabu (21/10).
Saat membandingkan, ia nilai kantin Fikom lebih unggul, dengan variasi produk dan ketersediaan bangku yang jauh lebih banyak dibanding kantin FEB.
Pedagang kantin Fikom, AA Bejah sebut ada aturan kebersihan dari fakultas, seperti peralatan masak dan meja yang harus steril. Tak hanya soal sterilitas yang darinya perlu selalu ditingkatkan, ia juga berharap kepada fakultas agar meja dan kursinya ditingkatkan agar kantin bisa menampung lebih banyak pengunjung.
Adakah Dukungan Alumni dan Rencana Perbaikan?
Dukungan alumni khusus untuk kantin disebut belum ada, baik di Fikom maupun FEB.
Di FEB, Ade cerita pernah ada pihak lain yang menawarkan sponsor. Sementara di Fikom, Deni sebut beberapa pedagang kantin justru diajak alumni untuk buka lapak di Fikom semasa mereka kuliah.
Lalu soal rencana perbaikan, diungkap Fikom sedang bekerja sama dengan beberapa pihak eksternal untuk meningkatkan fasilitasnya.
“Kami sudah melakukan kerja sama menggandeng beberapa pihak eksternal untuk meningkatkan fasilitas kenyamanan kantin. Saat ini masih dalam proses, mudah-mudahan dalam waktu dekat segera terimplementasikan, tunggu saja,” ujar Deni.
Penulis: Jihan Naila
Editor: Raffael Nadhef
