Tanpa Osjur dan Panggilan “Kak” yang Dinilai Otoriter, Sastra Inggris Unpad Sambut Maba lewat Botram hingga Karaoke

Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris (Gemasi) Unpad sambut mahasiswa baru (maba) tanpa ospek jurusan dan doktrin panggilan “Kak”, “Akang”, atau “Teteh” kepada senior. Sebagai ganti ospek, Gemasi gelar GEMASI’s Annual Threshold Educational Session (GATES), yang melibatkan mahasiswa lintas angkatan, dosen, serta alumni. 

Pelaksanaan GATES memadukan berbagai kegiatan edukatif dan rekreatif tanpa diwarnai senioritas. Mulai dari potluck party (botram), karaoke, wisuda bersama, jalan-jalan di mall Bandung, hingga pelatihan dasar organisasi dan pengisian rencana studi bersama.

Wakil Kepala Gemasi Devita Mayna Nurpratiwi menegaskan, kegiatan ini sengaja tak menerapkan senioritas, hierarki yang kaku, maupun sikap otoriter dalam berorganisasi dan berinteraksi sehari-hari. “Salah satu hal sederhana yang mencerminkan prinsip tersebut adalah tidak adanya kewajiban menggunakan ‘Kakak’, ‘Akang’, ‘Teteh’ untuk mahasiswa yang lebih tua,” ujarnya kepada dJatinangor, Rabu (21/10/2026) 

Tolak Senioritas dan Tanpa Komdis 

Devita menjelaskan, konsep GATES berangkat dari nilai-nilai yang dipelajari selama menempuh pendidikan di sasing. Melalui pembelajaran soal budaya, termasuk perkembangan first world countries lalu perkembangan third world countries beserta perspektif dunianya, kegiatan ini mengajak untuk melihat berbagai praktik sosial secara kritis.

Karenanya, Devita menilai, budaya ospek yang mengandalkan senioritas, hierarki, dan praktik-praktik yang cenderung maskulin serta otoriter tak sejalan dengan nilai yang ingin dibangun di lingkungan sasing. 

Termasuk, ini diejawantahkan dengan tidak adanya komdis.

“Kami tidak menggunakan sistem komdis yang mengandalkan senioritas atau pendekatan otoriter untuk menjaga ketertiban. Namun, bukan berarti ketiadaan sistem tersebut bikin kami mengabaikan disiplin atau aturan. Kami tetap memiliki kesepakatan, tanggung jawab, dan mekanisme koordinasi yang diperlukan agar kegiatan maupun kehidupan organisasi berjalan dengan baik,” kata Devita.

Ia menegaskan, pengenalan lingkungan kampus tak semestinya disertai tekanan atau perlakuan yang menempatkan satu pihak di atas pihak lain seperti lewat komdis. Soal kedisiplinan dan ketertiban, keduanya bisa tumbuh dari kesadaran tiap individu untuk menghargai orang lain, memahami batasan, dan menjalankan tanggung jawabnya. 

Potret Pengganti Osjur dan Akar Tradisinya

Kegiatan ini biasanya dimulai pada bulan Agustus dalam beberapa waktu. Ini jadi ruang untuk menyambut maba, melibatkan seluruh keluarga besar Sastra Inggris (Sasing) Unpad dalam berbagai kegiatan. 

Salah satu kegiatan yang biasa dilakukan adalah menghadiri acara yudisium. Momen ini jadi kesempatan bagi maba, mahasiswa tingkat akhir, alumni, dan dosen untuk bertemu. 

GATES, sesuai dengan namanya “educational session”, juga mencakup kegiatan edukatif yang membantu maba untuk beradaptasi dengan kehidupan perkuliahan dan lingkungan kampus. Di antaranya, pelatihan dasar organisasi, pengisian rencana studi bersama, serta sesi berbagi cerita dan pengalaman mengenai kehidupan akademik, lingkungan, dan budaya kampus. 

Diungkap pula, keputusan untuk tak menyelenggarakan osjur bukanlah sesuatu yang baru muncul tahun ini. Praktik ini sudah berlangsung sejak lama, disebut oleh Devia, bahkan sejak generasi dosen masih menjadi mahasiswa. 

Meski tradisinya lama, rangkaian kegiatannya tidak seragam. Devia mengatakan GATES dirancang berbeda tiap tahun berdasarkan evaluasi internal panitia, diskusi dengan kaprodi dan dosen, serta aspirasi mahasiswa lintas angkatan. 

“Experiment baru, experience baru,” kata Devia.

Tanggapan Maba

Salah satu maba sasing, Chealsea Vannesa, mengaku nyaman dengan tidak adanya osjur. Katanya, suasana jadi lebih fleksibel dan tidak bikin stres. Dan alasan Gemasi tak gelar osjur, yakni menghindari elitisme dan senioritas, sudah dijelaskan saat pemaparan materi.

Ia juga merasa lebih dihargai sebab maba panggil kating langsung dengan nama.

“Kami sebagai deting merasa lebih dihargai aja sih, kayak nggak ada perbedaan,” kata Chelsea kepada dJatinangor, Kamis (22/10).

Meski begitu, ia mengaku ada kekurangan. Ia merasa kurang dekat dengan teman seangkatan sebab tak ada osjur rutin yang bikin maba saling bertemu.

Lalu soal atribut himpunan, Chelsea sebut di sasing tak mewajibkan membelinya, seperti cardigan dan varsity. Beda dengan kebanyakan himpunan di Unpad. Bahkan di sasing pun disebut tak ada “jaket himpunan”.

Penulis: Zahra Nurul
Editor: Raffael Nadhef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *