(Dok. Gramedia)
Hari ini langit Jakarta cukup biru, seolah ikut sambut tujuh belas Agustus. Di balik gumpalan awan yang menggunung, penerjun dari Kopassus turun satu per satu.
Bendera merah putih melambai-lambai, terjun bebas dari ketinggian dibarengi pesawat yang melandai.
Aksi pengibaran itu diikuti oleh berbagai formasi. Kemudian, bersamaan dengan sang saka merah putih, foto presiden ikut dibentangkan di langit negeri.
“81 Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur” kalimat yang membentang di langit biru. Namun dalam sepersekian waktu, klausa “Prabowo is Watching You” akan tampak di sudut matamu.
Barangkali Big Brother merasuki raganya malam tadi. Barangkali 1984 tidak ada bedanya dengan hari ini.
Pemujaan kepada Big Brother di novel 1984 bersifat absolut. Foto-fotonya terpampang di sudut jalan karena Big Brother ingin sosoknya tertanam di benak tiap individu.
“Ini merupakan sebuah simbol penghormatan bangsa,” kata pembawa acara saat foto Prabowo ditampilkan di hari kemerdekaan.
Untuk sesaat saya mematung.
Alih-alih menyoroti Aceh yang masih berduka, atau NTT yang sedang ditimpa musibah, pemerintah sibuk memilih foto Prabowo yang paling gagah—agar sorotan rakyat ada sepenuhnya pada sosok Presiden Republik Indonesia.
Kemarin orang yang mengkritik negeri dituduh tidak patriotik. Hari ini foto presiden terpampang di langit negeri. Besok, apa yang akan terjadi? Doktrin paksa kepada masyarakat bahwa dua tambah dua sama dengan lima?
Oh, bukan, yang benar adalah sepuluh tambah enam sama dengan tujuh belas.
Ah sudahlah, daripada dianggap tidak patriotik, atau diculik dan disiksa sampai mati, lebih baik saya ucapkan selamat kepada negeri ini. “Selamat hari kemerdekaan Oceania—”
Oh, maksud saya, “Selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia.”
Penulis: Gina Sonya
