Penuhnya transportasi kampus Unpad (odong) di rute Soshum yang berhenti di depan Fakultas Hukum. (Dok. dJatinangor)
JATINANGOR (4/7/2026) – Direktur Pengelolaan Aset dan Sarana Prasarana Unpad Edward Henry sangkal kabar soal pengenalan odong listrik pada tahun ajaran baru 2026. Bukan juga nantinya meninggalkan odong lama (solar), ia sekaligus tegaskan bahwa jika proyek itu terealisasi (lewat sponsor), odong lama tetap beroperasi.
“Nah yang tadi dibilang oleh sopir (soal odong listrik yang akan dikenalkan pada tahun ajaran baru 2026) itu nggak benar. Ini udah bulan Juni, mana odongnya? Kan nggak ada. Kita ini sedang berupaya, udah ngirim proposal sana sini,” ujar Edward saat ditemui langsung di ruang Direktorat Sarpras Unpad, Senin (29/6).
Ia juga mengonfirmasi, takkan menonaktifkan armada lama dan tetap memakainya sebagai “cadangan” operasional jika baterai odong listrik habis. “Yang ini (odong lama) masih sehat, ya ada odong listrik, ya udah pakai aja dua-duanya. Gak perlu kemudian satu jadi mati, satu hidup. Gak gitu konsepnya.”
Skema kombinasi solar dan listrik inilah yang kan jadi kenyataan di lingkungan Unpad. Alih-alih memotong emisi secara total demi wacana Green Campus, rencana angkutan kampus Unpad justru tunjukkan potret dilematis.
Masalah angkutan kampus ini tak hanya terjadi di kampus Jatinangor, tapi juga di PSDKU Pangandaran. Lewat pesan di WhatsApp sebelumnya, Selasa (23/6), Edward sempat mengeklaim, empat armada di PSDKU Pangandaran sudah cukup akomodasi sekitar 1.000 mahasiswanya.
Namun, klaim itu kontras dengan pernyataan Sarpras PSDKU Pangandaran Eri. ia sebut jumlah armada yang beroperasi di sana hanya dua unit, bukan empat.
“Jumlah armada di PSDKU hanya ada dua angkutan kampus dengan 17 orang per unit. Selama dua tahun ini, masih terpenuhi dengan dua unit saja,” kata Eri saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (23/6).
Usai dikonfirmasi ulang pada Senin (29/6) soal jumlah armada di PSDKU Pangandaran, Edward meralat sendiri klaimnya. “Dua, ya, dua. Jadi, sementara ini relatif cukup. Kita juga nggak tuli. Kalau memang kritis, tambah.”
Klaim “relatif cukup” ini tak sepenuhnya sejalan dengan pengalaman mahasiswa pengguna odong di sana.
Rafli, mahasiswa PSDKU Pangandaran, sebut dua unit odong yang ada saat ini sebenarnya, “Cukup gak cukup.” Ia mengaku kerap menunggu lama, terutama pada hari Senin saat semua program studi punya jadwal kuliah bersamaan.
“Perlu nambah 1 atau 2 sih, apalagi semester ganjil nanti banyak maba yang nggak punya kendaraan, jadi pasti mereka seringnya naik odong,” ujarnya lewat pesan daring, Kamis (2/7).
Senada, Sarah (bukan nama sebenarnya), mahasiswa PSDKU Pangandaran lainnya, juga menilai jumlah odong perlu ditambah. Mirip seperti Rafli, ia cerita sempat menunggu lama sebab penuh, apalagi saat di musim hujan.
“Nunggunya lumayan lama dan penuh karena pada pake odong, sedangkan di PSDKU ini odong terbatas,” ujarnya lewat pesan daring, Kamis (2/7).
Lalu polemik lain soal kontradiksi penggunaan solar dengan wacana Green Campus, Kepala PK3L Unpad Kusnahadi Susanto justru mengkritik balik mahasiswa. “Saya nggak tau, di teman-teman mahasiswa itu apa sih yang terpikir dengan Green Campus gitu, ya. Ada satu sisi positif, ada yang sisi yang lain, sepertinya Green Campus itu menyulitkan gitu, ya.”
Ia juga bilang, saat kampus menyediakan fasilitas Green Campus, bukan berarti yang lama dihilangkan. Alias, odong listrik ini salah satu cara mencicil agar emisi odong solar tak bertambah.
Sebab menurutnya, mempertahankan odong solar yang masih sehat adalah “jalan tengah” ketimbang menonaktifkannya. Termasuk hindari protes mahasiswa jika kekurangan transportasi kampus.
Tak hanya Kusnahadi, Edward bahkan minta mahasiswa perluas definisi “hijau” yang dipahami. Menurutnya, indikator Green Campus tak boleh dipersempit dengan urusan knalpot dan pohon, tapi harus mencakup aspek ketertiban dan keamanan yang sekarang lagi dicoba seperti melalui gate system.
“Jadi jangan pohon aja yang green itu. Keamanan juga green. Bukan knalpot aja yang green itu. Banyak variabel lain. Nah makanya perspektif green-nya kamu belajar lagi.”
Akhirnya, proyeksi odong listrik ini munculkan kesimpulan sementara. Yakni, wacana Green Campus masih perlu sokongan sponsor, sebagaimana kata Edward, bukan komitmen dengan dana mandiri. Dan sebelum itu ada, kepulan asap dari solar masih berembus.
Penulis: Kislies Putri
Reporter: Kislies Putri, Cintamy Salsabila
Editor: Raffael Nadhef
