Pandi cerita soal “sampah adalah berlian yang terserak” pada Kamis (15/4/2026). (dJ/Raffael Nadhef)
dJatinangor.com – Di sudut Rancaekek Wetan, di atas balong air yang tenang, sebuah perahu unik bertahtakan 51 galon bekas mengapung dengan mantap. Di atasnya, seorang pria kelahiran 1984 duduk semringah, membawa tongkat dayung yang lebih mirip pentungan satpam.
Namanya Pandi Mulyana. Bagi sebagian orang, ia adalah seniman; bagi perangkat desa, ia mungkin batu sandungan; tapi bagi dirinya sendiri, ia adalah pria yang membayar harga sebuah lingkungan bersih dengan nyawa buah hatinya.
“Toh besok kita bisa mati, mungkin nggak akan bisa berbuat baik lagi. Nah, di situ itu (semeninggal anaknya) jadi pelajaran berharga,” ujarnya dengan rasa damai.
Namun, ketenangan dan kedamaiannya ini adalah kemewahan yang baru ia tuai setelah bertahun-tahun kegilaan di jalanan. Kamis itu (15/4), ia berceritera.
Peluru di Tengah Malam
Lelakon Pandi dimulai pada tahun 2018. Saat itu, Jalan Walini bukan sekadar akses transportasi, tapi “altar” tempat ribuan orang membuang limbah tanpa rasa bersalah. Bau busuk menjadi oksigen sehari-hari.
Ketika laporan ke kantor desa hanya dijawab “tidak ada anggaran”, Pandi menyadari bahwa kewarasan tidak akan pernah bisa menyelesaikan tumpukan busuk setinggi setengah badan jalan itu.
“Salah satu jalannya kita harus jadi orang gila,” kenang Pandi, dari suaranya yang berat seolah menarik kembali ingatan enam tahun silam.
Maka, tepat pukul 12 malam, ketika Rancaekek terlelap dingin, Pandi bersama bapak dan keponakannya turun ke jalan. Untuk apa, untuk mengacak-ngacak sampah. Dengan sorot lampu motor yang pucat, mereka membongkar kantong-kantong plastik, menyeret isinya ke tengah aspal agar nantinya terjemur matahari dan digilas roda-roda truk.
Targetnya adalah amarah publik, mula-mula bukan kebersihan.
Esok paginya, misinya berhasil. Media sosial riuh. Umpatan “orang gila tidak punya otak” mengalir deras di grup-grup Facebook. Pandi hanya berdiri di tepi jalan, memandangi kekacauan itu sambil tersenyum tipis di balik masker.
“Saya ingin mereka melihat sampah itu. Saya ingin mereka merasa terganggu, karena selama sampah itu rapi di pinggir jalan, mereka akan menganggapnya sebagai tempat sampah abadi,” tuturnya.
Berlian di Dalam Popok
Pandi tidak hanya berhenti pada aksi teatrikal. Kedua matanya menangkap sesuatu yang paling menjijikkan di antara gundukan limbah: popok bayi atau diaper. Lembek, berbau pesing, dan penuh belatung. Namun, di tangan pria yang hanya mengecap pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini, benda itu adalah “berlian yang tercecer”.
Ia mulai mencuci popok-popok itu, menguliti isinya, lalu mencampurnya dengan semen. Hasilnya, pot-pot tanaman dan kanvas lukis yang kokoh. Media tanamnya pun tak menyentuh tanah, hanya abu dari pembakaran plastik yang telah ia saring.
Namun, estetika kerap berbenturan dengan birokrasi. Saat Jalan Walini mulai bersolek dengan deretan bunga kuning hasil keringatnya, seorang pejabat kecamatan justru datang dengan keberatan. Alasannya, pohon-pohon itu membuat jalan menjadi sempit. “Heurin,” katanya.
“Kenapa waktu sampah memenuhi setengah badan jalan, Bapak tidak bilang itu sempit?” tanya Pandi kala itu. Pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban memuaskan. Ia justru dipinta untuk membeli tanahnya itu jika ingin menanam bunga.
Kekecewaan itu membuatnya mundur. Selama tiga bulan, ia membiarkan Jalan Walini kembali pada takdir asalnya: menjadi lautan sampah.
“Di situ saya ambil keputusan, kita tidak mau bekerja sama dengan pemerintah. Berjalan sendiri lebih nyaman,” tegasnya.
Sepiring Berlima
Tahun 2022 menjadi palung terdalam bagi kehidupan Pandi. Demi totalitas mengelola limbah popok, ia menutup bisnis pemancingannya yang tengah ramai. Keputusan itu menyeret keluarganya ke titik nadir ekonomi.
Warung bangkrut. Tabungan ludes. Untuk membeli satu sak semen pun ia tak mampu. Di meja makan, ia harus menyaksikan istri dan anak-anaknya berbagi satu piring nasi untuk berlima. Saat itulah, pria penganut stoikisme ini mulai meragukan Tuhan.
“Di mana Tuhan saya?” ia bertanya pada langit-langit rumahnya yang sepi. “Katanya berbuat baik hasilnya baik, kok nyatanya seperti ini? Saya tidak pernah menjahati orang, saya menyelamatkan lingkungan, kok hasilnya seperti ini?”
Pandi mengenang masa itu sebagai “perburuan iman”. Hampir ia melepaskan segala keyakinannya sebelum sebuah keajaiban, yang ia sebut sebagai “telepon dari Allah”, datang 15 menit kemudian melalui tawaran bantuan yang tak terduga. Namun, itu hanyalah pembuka bagi ujian yang jauh lebih besar.
Di Balik Kebersihan
Jika ada satu luka yang tak pernah benar-benar kering di hati Pandi, luka itu bernama Aik. Putra kecilnya yang baru berusia dua setengah tahun itu adalah saksi bisu perjuangan ayahnya di Jalan Walini. Aik sering ikut ayahnya menyiram tanaman di pinggir jalan, menenteng ember kecil dengan semangat masa kecilnya.

Kondisi Jalan Walini, Desa Rancaekek Wetan, pada Kamis (15/4). (dJ/Raffael Nadhef)
Suatu siang, Pandi harus kembali ke jalan untuk membawa tanah bagi pot-potnya. Aik sedang bermain di sekitar sawah. Ketika Pandi pulang pukul 11 siang, suasana telah berubah mencekam. Saudaranya bertanya, “Aik di mana?”
Ternyata anak itu ditemukan telah tenggelam di balongnya.
Dunia Pandi runtuh. Namun, dalam duka yang paling gelap, ia menemukan sebuah tafsir spiritual yang ekstrem. Ia memandang kepergian Aik bukan sebagai tragedi, justru sebagai “barter” agar ia tetap tegak di jalan sunyinya.
“Mungkin ini kendala. Seolah-olah Tuhan bilang: ‘Biar anak kamu Saya selamatkan, kamu teruskan perjuangan kamu. Kamu tidak akan berani mengganggu anak kamu (dengan berhenti berjuang),’” ucapnya dengan suara yang bergetar tapi stabil. “Kalau saya berhenti sekarang, berarti saya membiarkan anak saya hilang dengan sia-sia.”
Amor Fati
Kini, Pandi tetap di sana, di antara aroma sampah dan gemericik air Rancaekek. Ia menunjukkan sebuah karya seni bertajuk Amor Fati, Cinta Takdir. Sebuah seni rupa berupa rangkaian pohon yang tumbuh di atas karang. Filosofinya, meski karang tak punya nutrisi untuk pohon, tapi dalam karya Pandi, pohon itu tetap berbuah.
Ia juga menunjukkan potongan gelas pecah (beling) yang ia susun menjadi objek estetik. “Sehancur apa pun kehidupan kita, itu bukan akhir dari segalanya. Hancur ini akan jadi sesuatu yang menakjubkan,” katanya sambil menunjuk retakan di karyanya.
Pandi menolak mendaftarkan hak cipta atas perahu galon atau teknik popok semennya. Baginya, mendaftarkan Kekayaan Intelektual (KI) adalah bentuk kesombongan. Ia lebih memilih disebut “orang gila” yang bermanfaat daripada “orang waras” yang hanya bergerak jika ada anggaran.
Sore itu, di atas perahu galon yang bergoyang pelan, Pandi memandangi balongnya. Baginya, mengurus sampah hanya punya dua kemungkinan: “untung” karena mendapat pembelajaran, atau “untung banget” karena mendapat hasil dan silaturahmi; tidak ada kerugian.
“Kalau kita mau kaya, kita harus mau miskin. Kalau kita mau tahu artinya siang, kita harus tahu artinya malam,” tutupnya.
Ia pun mendayung perahunya, perlahan menembus senja, membawa serta ingatan tentang Aik, bau popok yang kini jadi seni, dan keteguhan hati yang ditempa dari kehancuran yang ia cintai.
Penulis: Raffael Nadhef
Editor: Hasanudin Yahya
