Official art Jigokuraku @jigokuraku_PB.
WARNING: SPOILER ALERT!
Kenapa seseorang tetap memilih untuk hidup, bahkan ketika mati terasa lebih mudah?
Anime Jigokuraku dibuka dengan premis yang sebenarnya sederhana: sekelompok kriminal dikirim ke pulau misterius buat nyari ramuan kehidupan. Penawarannya juga sangat sederhana! Kalau berhasil, mereka bakal dibebasin. Tapi, kalau gagal … ya, mati.
Tiap kriminal nantinya ditemani algojo dari klan Yamada Asaemon, yang tugasnya juga sederhana: memastikan mereka nggak kabur dan eksekusi di tempat kalau mereka melanggar aturan.
Kedengarannya seperti misi biasa, kan? Berangkat ke pulau yang katanya surga, nyari ramuan, dapat, balik, dan bebas jadi rakyat biasa!
Seenggaknya begitu, sampai akhirnya mereka sadar, pulau itu bukan tempat normal.
Tapi, ceritanya bukan cuma soal perjalanan untuk bertahan hidup. Lebih ke … cara untuk tetap memaknai kehidupan ketika yang di depan mata adalah kematian.
KENAPA INI MENARIK?
Gabimaru the Hollow atau the Backburner?
Gabimaru, protagonis dalam anime ini, dari awal kelihatannya memang kaya karakter yang “selesai”. Gabimaru bahkan dapet julukan “Si Hampa” karena hidupnya yang nggak banyak berekspresi, nggak ada keraguan, dan nggak ada keterikatan.
Dari awal episode sudah dikasih lihat eksekusi demi eksekusi yang dia terima … dan Gabimaru masih hidup.
Awalnya, penonton bakal dibuat mikir kalo Gabimaru memang karakter immortal. Dipenggal? Gak bisa. Dibakar? Masih hidup. Ditarik pakai sapi? Ah, langsung jadi rendang yang harganya 22 ribu di Elok! Lucunya, dirinya juga bersikeras kalau dia nggak takut mati.
Dia selalu mikir, hidup atau mati itu nggak ada bedanya. Bahkan, menurutnya kalau dia mati, ya sudah … masih ada shinobi lain yang bisa gantiin dia. Pendengar setia Backburner, kah?
Bisikan untuk Bertahan
Kalau memang dia sepengen itu untuk mati, kenapa tubuhnya terus melawan setiap kali mau dibunuh? Kenapa selalu ada dorongan buat bertahan?
Jawabannya sederhana, bahkan Sagiri—algojo yang nantinya menemani Gabimaru—yang dari awal cuma mengawasi sesi eksekusi bisa langsung sadar. Tapi, memang butuh waktu yang lama sampai dia jujur sama dirinya sendiri, dia masih punya alasan untuk hidup.
Alasannya, bagi orang lain, memang bukan sesuatu yang besar atau heroik. Bukan karena mau jadi yang paling kuat—dia cukup percaya diri dengan kemampuannya, sih. Tapi, bagi orang lain, alasan ini adalah sesuatu yang … sangat manusia bagi seorang Gabimaru.
Dia cuma pengen pulang—ke mana pun, asal ada istrinya, Yui.
Cinta = Distraksi?
Gabimaru sendiri awalnya menganggap hal-hal yang nggak ada kaitan dengan pekerjaannya sebagai kelemahan.
Menurutnya, cinta itu gangguan! Distraksi! Bikin kerjaannya sebagai shinobi jadi tidak efisien!
Dan itu adalah logika yang … familiar—di dunia nyata juga sering begitu, lho. Pasti beberapa dari kalian pernah dicekoki kalimat “Fokus aja, jangan mikirin cinta-cintaan dulu”.
Seolah-olah, keterikatan itu otomatis mengurangi performa dan peduli sama seseorang itu selalu berarti gangguan—padahal kalau sejak awal memang ada keinginan untuk menjalin hubungan, hal-hal kaya perasaan justru jadi kekuatan.
Di titik ini, Gabimaru jadi representasi dari cara berpikir itu.
Awalnya, dia menekan perasaannya dan meyakinkan dirinya sendiri, dia nggak butuh siapa-siapa. Bahkan, sampai bilang, mati juga nggak masalah—padahal tubuhnya sendiri nolak.
Untungnya, Sagiri datang bukan cuma sebagai algojo, tapi sebagai seseorang yang “maksa” dia buat jujur. “Sebagai sahabat yang berharga,” katanya. (EPS2 S2)
Sagiri membuat Gabimaru sadar, di balik semua penolakan itu, ada satu hal yang dia pertahankan mati-matian: Yui.
Keinginan untuk Pulang
Perjalanan Gabimaru berubah … hidupnya bukan lagi tentang cara untuk bertahan hidup, tapi untuk pulang. Bahkan, setelah dia mengakui alasannya bertahan hidup itu demi Yui, kekuatannya berubah—jadi lebih kuat.
Saking seringnya dia mention istrinya dan mengakui hubungan mereka dengan bangga, Gabimaru diakui sebagai sosok yang gentleman oleh Gantetsusai, salah satu kriminal berbadan besar yang turut ikut ekspedisi.
Tentunya, hal itu juga memicu momen di mana keberadaan istrinya dipertanyakan. Yuzuriha—salah satu kriminal dengan latar belakang shinobi—bahkan sempat curiga … jangan-jangan itu cuma genjutsu?!
Masuk akal, sih. Sebagai sesama shinobi, Yuzuriha tahu betul betapa mudahnya genjutsu memanipulasi pikiran Gabimaru yang terbilang masih remaja.
Namun, ketika tahu fakta ini, Sagiri justru jadi orang yang paling takut. Karena, kalau itu beneran cuma halusinasi, berarti Gabimaru sebenarnya kosong—dia nggak punya alasan apa-apa untuk hidup.
Sebaliknya, ketika dengar ini, jawaban Gabimaru nggak defensif dan nggak butuh pembuktian rumit. Dia … bisa ngerasain eksistensi Yui, dia yakin itu nyata.
Kelemahan Jadi Kekuatan
Momen ketika Gabimaru mengakui keberadaan Yui menjadi titik balik di mana “kelemahan” itu berubah bentuk.
Di Jigokuraku, shinobi diajarkan untuk jangan pernah menunjukkan kelemahannya. Sayangnya, perasaan—terutama cinta—masuk ke dalam kategori itu.
Tapi, justru ketika Gabimaru semakin mengakui keterikatan dengan Yui, semakin kuat Tao-nya—energi kehidupan yang jadi kunci untuk bertahan di sana. Dirinya jadi semakin stabil … dan semakin “hidup”.
Jigokuraku sedang pelan-pelan membalik logika: untuk jadi kuat, manusia harus kosong. Tapi, Gabimaru justru jadi kuat karena dia punya sesuatu yang bisa hilang … seseorang yang dia lindungi, seseorang yang ingin dia ingat, dan seseorang yang dia cintai.
Dan, yap, itu bikin dia rentan. Tapi, juga bikin dia punya arah—untuk pulang.
Hidup seperti Gabimaru!
Sementara itu, karakter lain di pulau itu tentunya punya alasan hidup masing-masing. Tapi, at the end, mereka saling bunuh. Seolah-olah, punya alasan hidup aja nggak cukup buat manusia tetap jadi “manusia”.
Jadi, mungkin yang membedakan bukan sekadar punya alasan atau nggak. Tapi, jenis keterikatan seperti apa yang dia punya. Apakah itu sekadar ambisi … atau sesuatu yang benar-benar dia rasakan?
Di titik ini, ceritanya jadi terasa dekat dengan realita yang ada di depan mata. Sering kali, yang kita sebut “fokus” itu sebenarnya bukan kekuatan, tapi cara halus untuk menghindar.
Menghindar dari apa? Dari kemungkinan terganggu, kemungkinan kehilangan, dan sesuatu yang terlalu “penting”.
Padahal, kalau yang kita lihat dari Gabimaru, justru sebaliknya. Hal yang bikin dia bertahan bukan karena dia bisa memisahkan urusannya dengan rapi. Tapi, karena dia berhenti pura-pura nggak punya apa-apa.
Dia mengakui fakta ada seseorang yang dia pedulikan—baginya, itu bukan distraksi … itu alasan untuk bertahan.
Mungkin yang selama ini kita hindari bukan kelemahan, tapi kemungkinan untuk kehilangan. Makanya, beberapa dari kita memilih untuk ngejauh ketika sedang ada objektif lain. Padahal, bisa jadi … di situlah kita mulai kehilangan alasan untuk pulang.
SKOR DAN REKOMENDASI
Overall, 8,9/10 jadi nilai paling pas untuk Jigokuraku!
Dia nggak cuma berhasil menyajikan alur yang mind blowing, tapi juga mampu melarutkan penontonnya untuk melihat ulang cara mereka memaknai hidup.
Alasan kenapa Jigokuraku belum dapat nilai sempurna, ada beberapa karakter yang keburu mati padahal latar belakang kisahnya belum jelas—kenapa dia jadi seseorang dengan karakter yang seperti ini? Salah satunya adalah Yuzuriha.
Yuzuriha sebelumnya diceritakan sebagai kriminal dengan latar belakang shinobi. Di akhir hidupnya, hanya disinggung dia punya seorang adik. Setelah itu? Nggak ada apa-apa, padahal Yuzuriha termasuk karakter yang ambil peran besar di perjalanan mereka.
Hal yang belum dijelaskan itu jadi sebuah pertanyaan besar soal bagaimana cara karakter lain memaknai hidup mereka: kenapa mereka mati-matian bertahan hidup?
Jadi, buat kamu yang masih dalam perjalanan mencari makna itu, anime ini bisa jadi kompas supaya kamu bisa membedah hal-hal yang penting di hidup kamu.
Penulis: Cintamy Salsabila
Editor: Raffael Nadhef
