Misogini dalam Ruang Aksi

Perempuan di Aksi

Perempuan yang membawa poster keresahannya di Aksi Indonesia Gelap Jakarta, Jumat (21/2). Dok. Naia Emmyra

Pada Jumat (21/2), massa yang terdiri dari berbagai gender dan kalangan hadir dalam aksi “Indonesia Gelap” yang berlokasi di Patung Kuda, Jakarta. Massa aksi menuntut kelayakan hidup sebagai rakyat serta mempertanyakan hal-hal yang dilanggar oleh para penguasa.

“Betul-betul kita sebagai masyarakat, sebagai rakyat yang benar-benar ingin menggaungkan apa sih sebenarnya yang tidak diberikan oleh pemerintah, apa sih sebenarnya sikap pemerintah yang kita harus kritik, harus kita gaungkan lah ibaratnya,” ucap Gloria Stevanie, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) yang juga berorator dalam aksi Indonesia Gelap pada wawancara Kamis (6/3).

Berbagai kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat dipertanyakan transparansinya. Mereka menuntut berbagai kebijakan seperti efisiensi anggaran, evaluasi MBG, multifungsi ABRI, reformasi POLRI, revisi UU TNI dan POLRI, perampasan aset, tukin dosen, dan beberapa tuntutan lainnya. 

Hidup Perempuan yang Melawan!

Massa aksi Indonesia gelap yang baru saja tiba disajikan dengan orasi yang disuarakan oleh lima perempuan dengan lantang.

 “Kami, ibu-ibu, tidak perlu cuan. Tidak perlu dibayar. Kami bukan penyusup, preman-preman yang dibayar, bukan,” ucap perempuan berkerudung abu-abu

“Koalisi Nasional Perempuan Indonesia (KNPRI) selalu bersuara di setiap ketidakadilan. Takbir!” lanjutnya.

Mereka, massa perempuan, dengan berani menyerukan dengan lantang apa yang mereka resahkan dari negara yang kerap kali membuat mereka geram akan kebijakannya—yang sangat tidak bijak.

“Seratus hari demokrasi udah diacak-acak. Kebijakan yang dibuat tanpa naskah akademik. Mereka anti-pengetahuan. Mereka anti-keterbukaan. Lima tahun merupakan waktu yang lama, teman-teman. Sekarang, seratus hari, kita sudah diinjak-injak.” ujar Gloria saat aksi Indonesia Gelap di Jakarta (21/2)

Tangan-tangan mereka mengangkat propaganda keresahan yang berisikan tentang isu efisiensi anggaran hingga isu yang mengikat erat diri mereka, isu perempuan.

“Teman-teman, saya berdiri di sini bukan hanya sebagai perempuan, bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi lebih dari itu, saya adalah rakyat Indonesia,” seru Gloria dari atas mobil komando, yang berperan sebagai panggung orasi.

“Hidup perempuan yang melawan!” seru massa aksi yang kembali dibalas dengan kalimat yang sama.

Tak hanya Gloria, massa perempuan lain dengan berani berorasi tanpa takut dengan keberadaan manusia berseragam coklat yang sedari tadi berjalan santai di atas jembatan penyebrangan. Namun, keberanian itu ternyata mendapatkan sorotan negatif dari berbagai orang di media sosial. 

Di TikTok muncul cuplikan viral yang memperlihatkan massa perempuan berorasi sambil memberikan komando kepada massa yang lain untuk menyenandungkan lirik lagu yang terang-terangan menyinggung presiden Indonesia yang sedang menjabat saat ini.

“Syalalalalalala~ Prabowo anjing!” serunya, diikuti oleh massa aksi yang hadir hari itu.

Tak hanya viral di TikTok, muncul cuitan yang berasal dari akun @draftanakunpad3 di aplikasi X yang mengkritik aksi dari pemudi tersebut.

Postingan kritik terhadap massa perempuan yang melakukan orasi. (Sumber: media sosial X @draftanakunpad3)

Gloria menanggapi bahwa ia sangat menyayangkan adanya cuitan tersebut. “Karena saat aksi itu kan kita benar-benar tidak dikotak-kotakan oleh gender, tidak dikotak-kotakan dari pekerjaan, tidak dikotak-kotakkan dari struktur sosial, tapi betul-betul kita sebagai masyarakat,” ucapnya.

Ezra juga menambahkan pandangannya terkait cuitan tersebut dan menyetujui adanya kecenderungan misoginis.

“Sebenarnya kalau misalnya bicara apakah ada tendensius untuk seksis ini, di bahasanya nggak ada. Tapi, mungkin bagi aku, kenapa kalau misalnya selama ini laki-laki yang bersuara kayak gini—kenapa misalnya kalau laki-laki yang ngomong ‘Prabowo anjing’ nggak pernah ada omongan-omongan kayak gini, di menfess. Tapi, ketika A, seorang perempuan ngomong kayak gini, baru diserang secara sosial media. Seksisnya tuh disitu,” jelas Ezra mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, yang merupakan Tim Posko Pengaduan Tindakan Diskriminasi dan Kekerasan Kema Unpad saat berlangsungnya aksi

Misogini yang Duduk dalam Ruang Publik

Tak hanya terjadi saat demo, sentimen negatif terhadap video viral tersebut terus dilayangkan oleh masyarakat. Mereka diserang terang-terangan secara personal sampai muncul hinaan seksis yang beredar di media sosial.

Komentar kritik terhadap orator perempuan secara personal. (Sumber: media sosial TikTok)

Gloria turut menyayangkan kejadian yang menimpa perempuan yang dimaksud di dalam menfess tersebut. “Aku sangat menyayangkan kenapa ga dikritik substansinya, tapi kenapa harus ke gender dan juga kenapa harus penampilan luar,” jelasnya saat diwawancarai pada Kamis (6/3).

Bahkan, ia sampai mengutip kalimat dari Rocky Gerung yang menyatakan bahwa dalam berpolitik itu tidak memerlukan sopan santun.

Menurut Gloria, tuntutan terkait UU PRT pada aksi ‘Indonesia Gelap’ kemarin, apabila tidak disahkan, hal itu dianggap sangat tidak memihak rakyat. Namun, ia keheranan terhadap mereka yang masih bertanya-tanya mengapa isu ini perlu dibawa ke ruang aksi—padahal tuntutan tersebut sangat bersangkutan dengan perempuan.

“Sebagaimana kita tahu, sebentar lagi IWD, International Women’s Day, kita harus paham bahwasannya urgensitas dalam prioritas undang-undang untuk kaum yang termarjinalkan, seperti perempuan, kaum disabilitas, itu sangat minim exposure-nya,” tegasnya.

Gloria menambahkan, “Mungkin saya paham kalau masih banyak urgensitas-urgensitas lain, tapi tidak mengecilkan ruang bahwasannya, masih tetap harus digaungkan kebutuhannya.”

Perjuangan perempuan di ruang publik tidak hanya menghadapi ancaman verbal, tetapi juga ancaman fisik. Banyak peserta aksi perempuan yang mengalami intimidasi, pelecehan, bahkan kekerasan seksual di tengah demonstrasi.

“Ruang aman ketika lagi aksi adalah hal yang jarang sekali ada, karena ketika lagi aksi, candaan-candaan seksisme masih sering dikeluarkan orang-orang,” jelas Ezra

Ezra melanjutkan, “Bahkan seringkali orang-orang yang memiliki niat jahat itu memanfaatkan kondisi chaos dalam aksi untuk melakukan tindakan-tindakan pelecehan dan kekerasan.”

Namun, berbagai ketakutan sosial yang ada tidak mengurangi keberanian massa perempuan yang turun ke jalan. Bertambahnya massa yang hadir menunjukkan bahwa mereka sadar kalau mereka tidak boleh diam untuk memperlihatkan perlawanan pada ketidakadilan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Gloria dalam wawancaranya, “ Jadi kemarin pas aku lihat banyak perempuan berorasi, datang ke aksi, hujan-hujanan, membaur ke massa aksi tuh kaya, akhirnya ini merupakan turning point-nya perempuan itu diterima dengan baik, diperlakukan dengan baik, diberikan ruang yang aman dan nyaman di aksi.” 

Mendapat serangan berlapis mulai dari media sosial hingga turun langsung ke titik aksi tetap tidak menggoyahkan keberanian merekas untuk bersuara dan menciptakan ruang perlawanan yang adil dan setara.

“Kebetulan aku sendiri, aku tuh Instagramnya di-hack. Posisi aku pas saat aksi tuh, aku gak pernah megang HP, gitu ya. Dan setelah ditelusuri lebih dalam, memang ada beberapa instansi.” ucap Gloria.

Suara dari Bawah Jembatan

Pada Sabtu (8/3), kembali dilaksanakan aksi dalam rangka memperingati International Women’s Day yang diadakan di kolong jembatan samping Taman Cikapayang. Terdapat 49 tuntutan yang diajukan demi menyejahterakan perempuan dalam berbagai sektor. Mulai dari pelajar, pekerja, sampai penyandang disabilitas, semuanya mendapatkan panggung untuk bersuara dalam aksi tersebut.

Segala bentuk karya seni ditampilkan oleh perempuan-perempuan yang hadir, salah satunya adalah puisi yang menyerukan keresahan mereka sebagai seorang perempuan di negara ini.

Widya, yang berorasi lewat puisi sekaligus merupakan koordinator aksi tersebut, menyadari adanya ketidakadilan serta tumpang tindih antara hukum, faktor sosial, ekonomi yang ada di Indonesia—yang menjadikannya alasan untuk turun ke aksi tersebut.

“Karena aku perempuan dan aku juga ingin menyuarakan perempuan-perempuan di sana yang tidak bisa bersuara, yang masih belum paham bahwa perempuan adalah korban dari pikiran patriarki, dari pola struktural, dan … interpretasi agama,” ucapnya.

Kemudian ia menambahkan, “Makanya kenapa aku ingin terus memperjuangkan perempuan yang tidak bisa melawan.”

Widya mengaku pernah mengalami peristiwa misoginis, di mana orang-orang bagai membungkamnya dengan landasan ia adalah perempuan. “Itu menyakitkan sekali sebagai aku, perempuan yang ingin bersuara,” keluhnya.

Adanya standar ganda dalam ruang aksi menunjukkan pengentalan dari budaya patriarki yang kini menyeruak di tempat yang seharusnya menjadi panggung bagi semua orang untuk bersuara tanpa memandang perbedaan apapun.

Terkait mengapa orang-orang lebih mudah mengkritik seorang perempuan dibanding dengan laki-laki ini dituangkan oleh Ezra yang berkata, “Karena sangat mudah untuk mengarahkan panah dan menembakkan kepada perempuan.”

Penulis: Cintamy dan Adel

Editor: Delinda dan Fuza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *