Pupusnya Lahan Hijau Jatinangor

sawah Jatinangor

Sawah di antara rumah Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang (Dok. Penulis)

Kabut tebal di tahun 1992 membungkus bumi Jatinangor. Sejuk yang menusuk tidak menyurutkan semangat Nyanyang melintasi petak demi petak sawah pagi ini. Hatinya penuh hanya dengan membayangkan pulang ke rumah membawa susu sapi Fapet Unpad langganan keluarga tercinta.

“Wanci terus lumampah, tempat terus robah, nanging kenangan mah tetep langgeng salawasna”

Atau mungkin kalimat ini akan terdengar lebih familiar:

“Time flies, places change, but memories last forever”

Persawahan dan perkebunan yang dahulu selalu Nyanyang lewati telah berubah menjadi bangunan-bangunan. Mengutip Tempo, pada masa penjajahan Belanda, Jatinangor adalah perkebunan yang dimiliki oleh perusahaan Maatschappij tot Exploitatie der Baud-Landen. 

Jatinangor mungkin banyak berubah 33 tahun kebelakang, tapi ingatan Nyanyang tak pernah pudar.

“Wahana pertama yang saya datangi ketika kecil itu sawah,” ungkapnya.

Cukup menjelaskan senyuman nostalgia yang menggantung di bibirnya. Ada kerinduan yang barang kali belum dapat tersampaikan melalaui kata-kata pada kesederhanaan di masa lampau. 

“Anak sekarang lebih suka main ke kota, jarang ke sawah.”

Pernyataan itu mengisyaratkan adanya perubahan dari Jatinangor yang semula merupakan kawasan agraris menjadi kawasan yang semakin urban dan terikat dengan kebutuhan modern. Padahal sebelum Jatinangor dikenal sebagai kawasan pendidikan , wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai kawasan agraris.

Mengenal Tentang Jatinangor

Per tahun 2023, Jatinangor telah memiliki penduduk sebanyak 102.610 jiwa. Setidaknya itu data terakhir yang dapat diakses pada publikasi BPS dalam dengan judul ‘Jatinangor Dalam Angka 2024’.

Jatinangor merupakan wilayah yang terbagi atas 12 desa dengan pertumbuhan penduduk yang berbeda-beda. Melihat grafik di atas, penduduk Jatinangor sebelum tahun 2019 cenderung mengalami peningkatan sebelum akhirnya turun semasa covid-19 (periode 2019–2020).

Sedikit instruksi: Untuk melihat perbandingan lanskap muka wilayah, pembaca dapat menggeser lingkaran putih di foto ke kiri dan ke kanan.

Desa Cipacing sendiri memiliki banyak penduduk karena telah menjadi kawasan pemukiman yang padat sejak tahun 2003. Hal ini dapat terlihat dari tampilan perbandingan wilayahnya pada tahun 2003 dan 2023 yang menunjukan banyaknya bagunan tempat tinggal di kawasan Cipacing.

Lantas, bagaimana dengan perkembangan kawasan Jatinangor dengan pengaruh dinamika perkembangan penduduk dan titelnya sebagai Kawasan Pendidikan?

Jejak Perubahan dalam 20 tahun

Sumber: Kampus-kampus di Jatinangor, Apa Lagi Selain Unpad dan ITB?

Pada Tahun 1989, Jatinangor ditetapkan sebagai kawasan perguruan tinggi (KPT). Kawasan yang dulunya perkebunan, berubah menjadi kawasan yang padat dengan mahasiswa berlalu-lalang. Terdapat empat kampus ternama di Jatinangor. Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN) menjadi kampus pertama di kawasan pendidikan ini, tepatnya pada tahun 1982. 

Kemudian setahun setelahnya, Universitas Padjadjaran (Unpad) mulai memindahkan kegiatan akademiknya ke kampus Jatinangor pada tahun 1983.

Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menjadi kampus ketiga yang membangun komplek pendidikannya di Jatinangor, tepatnya pada tahun 1988. Lalu Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi kampus keempat yang beridiri di Jatinangor tepatnya pada tahun 2010 silam.

Maka tak heran lagi dengan adanya pembangunan empat kampus tersebut, terdapat perubahan signifikan yang dirasakan oleh warga lokal. Sawah hijau tempat mereka mencari sumber penghidupan, perlahan mulai berganti dengan lahan pemukiman. Padi-padi yang menguning tergantikan dengan warna kelabu beton bangunan. 

Baban Sutaeban atau yang akrab disapa dengan nama Beben, selaku ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Sukamaju, ketika ditemui di kediamannya menuturkan bahwa sejumlah tempat yang kini menjadi landmark Jatinangor dulunya merupakan lahan hijau.

Wawan, Kepala Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD) Pertanian Jatinangor mengungkapkan perubahan lanskap di Jatinangor ini karena adanya pembangun sehingga berkurangnya lahan terbuka hijau. pemukiman, untuk usaha, dan untuk fasilitas umum yang tadilah, jalan tol atau tempat itu.

“Kebanyakan tadi, satu dari pembangunan yang merupakan kebijakan pemerintah ya, kayak jalan tol. Itu kan jalan tol. Terus perumahan-perumahan. Dulu enggak ada perumahan di sini. Komplek-komplek perumahan, maksudnya bukan perumahan warga ya, tapi komplek perumahan, dulu enggak ada. Sekarang kan menjamur,” tutur Wawan

Melalui satelit Google, kami mengajak pembaca menelusuri jejak perubahan Jatinangor selama dua dekade (2013–2023). Pembaca dapat menarik lingkaran putih ke kiri dan ke kanan, untuk melihat perubahan yang terjadi di beberapa wilayah Jatinangor. Tidak hanya kawasan pendidikan saja yang dibangun di atas sawah hijau Jatinangor. Kawasan ibukota Jatinangor alias Ciseke kecil, juga turut berkontribusi sebagai tempat menjamurnya indekos mahasiswa.

Bila berbicara tentang mahasiswa, terlebih mahasiswa Jatinangor ada satu tempat sakral yang tak boleh dilewatkan, yakni Jatos atau Jatinangor Town Square— tempat mahasiswa menggantungkan seluruh hajat kehidupannya.

Namun sejatinya, Jatos hanyalah pembuka gerbang dari proyek pembangunan di Jatinangor. Menyadari prospek bisnis di kawasan pendidikan ini, para investor pun berduyun-duyun datang dan meminang lahan di di “jalur dollar” — spot strategis di pinggir jalan, begitu Beben menyebutnya. Pembangunan apartemen dan perumahan pun terlihat di sejumlah tempat;

“Rumah” yang Berubah

Siapa yang menghuni akan berpengaruh pada rumah hunian mereka. Hal ini berlaku pada realitas keadaan sawah dan jumlah para penggarap sawah di Jatinangor. Jika dilihat melalui data kawasan pertanian dan kawasan bukan pertanian pada rentang waktu satu tahun di 2023 dan 2024, Jatinangor telah mengalami banyak alih fungsi lahan pertanian.

Lahan di Jatinangor berdasarkan Lahan Bukan Pertanian dan Lahan Pertanian tahun 2023 (Sumber: UPTD Pertanian Kecamatan Jatinangor)
Lahan di Jatinangor berdasarkan Lahan Bukan Pertanian dan Lahan Pertanian tahun 2024 (Sumber: UPTD Pertanian Kecamatan Jatinangor)

Secara definitif, kawasan pertanian merupakan sebuah kawasan yang terbagi atas lahan sawah dan lahan pertanian bukan sawah yang terdiri atas hutan milik negara, hutan milik warga, kolam, dan lainnya. Sementara itu lahan bukan pertanian adalah lahan yang mayoritas terdiri dari bangunan-bangunan.

Data tersebut menunjukan bahwasannya lahan pertanian masih mendominasi wilayah Jatinangor sebanyak 50,39% dari 2.570 hektar. Sementara itu, hanya dalam kurun waktu satu tahun, luas tanah pertanian berkurang menjadi 27,63% dari 2.570 hektar.

Sebuah penurunan yang fantastis bagi lahan pertanian!

Lalu dalam BPS sendiri tidak ada data yang signifikan menyebutkan bagaimana perkembangan petani dari tahun ke tahun. Data tersebut seolah menjadi tidak penting karena Jatinangor telah memiliki titel baru sebagai kawasan pendidikan.

Meski begitu, UPTD Pertanian Jatinangor merangkum bagaimana perkembangan para petani di tengah-tengah julukan Jatinangor ‘Si Kawasan Pendidikan’.

Hidup sebagai petani di kawasan yang tidak lagi berfokus pada perkembangan pertanian, menimbulkan banyak permasalahan baru di kelompok tani. Bahkan tidak semua dari petani di Jatinangor memiliki lahan sendiri.

Data tersebut menjelaskan bahwasannya petani pun dibagi kedalam beberapa kelompok. Untuk lebih mengenal bagaimana pembagian jenis petani, berikut sendikit penjelasannya:

Definisi singkat tentang buruh tani, penggarap, dan pemilik penggarap

Sulit membandingkan keberadaan profesi petani dalam realitas pencatatan penduduk yang saat ini ada. Meski begitu, melihat bagaimana adanya penurunan lahan pertanian yang drastis, sudah cukup menjadi bukti bahwa para petani kehilangan lahan garapan mereka. Utamanya bagi mereka yang merupakan buruh tani.

“Dulu itu, rektor pertama Unpad (di Jatinangor) menghimbau ke masyarakat Jatinangor yang punya tanah di pinggir jalan, atau yang sawahnya dekat ke Unpad, pokoknya radius satu kilometer dari Unpad, jangan dijual, katanya. Mengapa? Itu kasihan, itu kan tani-tani semua kan. Tapi yaa, karena kebutuhan dan ekonominya menengah ke bawah, akhirnya pada dijual” ujar Pak Beben.

Kampus Tumbuh Sawah Runtuh

Jatinangor menjadi kawasan yang didatangi anak muda terbaik bangsa. Mereka berbondong-bondong datang untuk belajar di kampus ternama. Tahun ini saja, Unpad menyambut 3.000 mahasiswa hanya lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Meningkat 225 orang dibandingkan dengan 2024 yang berjumlah 2.775. ITB juga telah menerima 1.270 mahasiswa melalui SNBT. IPDN dan Ikopin tak kalah sibuk menyiapkan tempat untuk pemuda-pemudi tersebut.

Lonjakan mahasiswa baru itu juga disambut dengan pengadaan Rumah Sakit Unpad (RS Unpad). Dapat dilihat dari visualisasi di atas, terdapat perubahan yang terjadi di halaman RS Unpad sebelum dan sesudah RS Unpad berdiri.

Perubahan lanskap kampus juga terjadi di ITB. Sebelum dibangunnya danau ITB tempat rekreasi mahasiswa jogging di pagi ataupun sore hari, lahan tersebut mulanya merupakan lahan hijau.

Perubahan lanskap kampus juga terjadi di ITB. Sebelum dibangunnya danau ITB tempat rekreasi mahasiswa jogging di pagi ataupun sore hari, lahan tersebut mulanya merupakan lahan hijau.

Contoh di atas, hanyalah bagian kecil dari dinamika perubahan alih fungsi lahan di Jatinangor. Tidak hanya menjadi pusat kegiatan empat universitas besar yang digadang-gadang sebagai “kota pendidikan”. Melainkan Jatinangor disebut-sebut akan menjadi kawasan perkotaan. Meninggalkan jati dirinya sebagai kecamatan yang menaungi tiga belas desa agraris menjadi simpul urbanisasi. Sedikit demi sedikit sawah dan lahan hijau berubah menjadi bangunan, tanah warisan beralih tangan, desa-desa seakan kehilangan napasnya.

Perubahan terjadi tidak hanya di permukaan tanah, tetapi juga nilai jual tanah itu sendiri. Dijual dengan harga murah, kepemilikan tanah di Jatinangor berubah. Beben mengenang betapa murahnya harga tanah di masa lalu.

“Harganya cuman sejuta lah tahun 94, sejuta satu bata. 6 tahun ke belakang saya beli lagi di harga 6–7 juta. Di bagian sana udah ada yang nawar 12 juta,” ujar Beben.

Sekarang, petani harus memohon kepada pemilik tanah untuk memperpanjang sewa mereka. Agar buruh tani tetap ada pekerjaan dan anak cucu mereka tetap makan. Harapannya tanah tempat mereka lahir tidak dijual.

Dulu, angin meniup halus padi sambil membawa nyanyian jangkrik dan aliran air. Kini berganti dengan deru mesin, klakson kendaraan, dan langkah kaki mahasiswa maupun kegiatannya yang mengisi hari di Jatinangor.

Kebisingan kecamatan ini meredup ketika liburan tiba. Irigasi yang mengalir ke desa Sukamaju juga berhenti ketika mahasiswa libur. Persoalan air juga muncul akibat pembangunan yang tumbuh tak terkendali. Air tanah tidak ada, ironisnya mereka mengandalkan air tanah yang berasal dari limbah pemukiman di sekitar kampus yang banyak ditinggali mahasiswa. 

“itu ‘kan banyak limbah sekarang. Mahasiswa pada mandi airnya ke sana (sawah). Kemudian cuci piring, cuci pakaian, airnya ke sana. Airnya pada ke sawah ‘kan. Kalau tidak ditampung, air pada, eh padi pada mati. Enggak ada airnya, kayak terpaksa dimasukkan aja ke sawah. Makanya, beras di sini itu enggak enak,” tutur Beben

Kesulitan irigasi juga dibenarkan oleh Wawan selaku Kepala UPTD Pertanian Jatinangor. Permasalahan irigasi yang sangat penting bagi petani ini seringkali tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Mereka butuh air, tapi begitu kita ngajukan untuk sarana airnya enggak…itu, itu efek negatif dari, efek negatifnya itu. Karena dianggap Jatinangor itu sudah bukan daerah untuk kawasan pertanian,” terang Wawan

Wawan juga mengungkapkan beberapa saluran irigasi pertanian dulu tersumbat atau bocor akibat adanya Banjir imbas pembangunan jalan tol. Tanpa bantuan dari pemerintah perbaikan atau pembangunan sarana irigasi tidak bisa dilakukan karena membutuhkan alat dan biaya yang besar.

Petani yang Tetap Tinggal 

Lahan persawahan boleh semakin berkurang, pembangunan kawasan pendidikan bisa digencarkan, tetapi di tengah kesulitan itu petani tetap bergandengan tangan lewat Gapoktan. Bahu membahu saling menolong untuk menggarap lahan pertanian yang sebagian besar bukan milik mereka sendiri.

Beben yang diamanahi menjadi ketua Gapoktan bertugas menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat terkait bantuan kebutuhan pertanian. Walaupun, beberapa orang tidak tau masih ada petani yang bertahan.

“Bahkan pada waktu itu ada dari departemen pertanian. Saya mengajukan alat-alat pertanian. Enggak percaya dia. Jatinangor disebut banyak lahan pertaniannya. Kan itu kota pendidikan katanya. Itu Pak di Jatinangor yang pinggir jalan. Kalau ke daerah-daerah itu banyak. Kalau boleh, ya kurang lebih ada sekitar 27 atau 30 hektar lah gitu. Sekarang sekitar 30-an lah sekarang,” ungkap Beben

Lahan pertanian di Sukamaju sendiri saling berdekatan. Oleh karena itu, Beben mengungkapkan pertanian itu harus ada prinsip-prinsipnya, seperti menanam hingga memanen secara bersamaan. Kebiasaan itu dilakukan agar tidak ada hama yang hidup secara terus menerus sepanjang tahun. Namun, sekarang kurang diterapkan karena perubahan karakteristik pedesaan menjadi kawasan pendidikan menuju perkotaan.

“Ya seharusnya kan kalau diambil, ambil (panen) semua gitu kan seharusnya seperti itu. Iya. Waktu mencangkul mencangkul semua gitu kan seharusnya aturan pertaniannya. gitu. Tapi sekarang dengan adanya mungkin apa nama Jatinangor jadi lain sekarang.”

Selain itu, Beben mengungkapkan kurang diterapkannya kebiasaan itu karena kurangnya penyuluhan kepada kelompok tani.

Walaupun dilanda berbagai kesulitan dan perubahan lahan dari masa ke masa, pertanian di Jatinangor termasuk unggul. Nyanyang mengungkapkan kualitas tanaman padi di Jatinangor termasuk ke jenis yang unggul.

“Bahwa termasuk kualitas dari padi ya dari kualitas jenis padi paling unggul juga kalau kawasan Jatinangor. Cuman yang diketahuinya itu bukan sebelah Jatinangornya. Tapi di kawasan seperti Rancaekek atau Cileunyi-nya. Orang pastilah melihatnya juga di manalah Jatinangor gitu ‘kan,” tutur Nyanyang

Nyatanya petani Jatinangor masih ada, walaupun lahan mereka mulai tergerus dengan kedatangan mahasiswa dan pekerja. Kepala UPTD pertanian mengungkapkan jika petani di Jatinangor harus lebih diperhatikan keberlangsungan hidupnya. Terutama soal air yang menumbuhkan padi, supaya masyarakat masih bisa memakan nasi di piring mereka. Karena perut kosong sekarang, tidak bisa menanti.

“Harapannya ini tetap, sebelum ini terealisasi (kawasan perkotaan) dengan ini, diperhatikanlah pertanian ini. Sarana prasarananya. Kayak tadi, ya terutama untuk bisa enggak ini dialirkan air ini? Kalau dialirkan air berarti kan ada tanaman. Kalau ada tanaman berarti ada panen. Kalau ada panen berarti ada makanan untuk kita,” tegas Wawan

Penulis: Gabriella Esther Heryono, Qurrota Ayuni M.T., Fuza Nihayatul Chusna, Intan Sayyidah Putri, dan Naila Rana A. (Kontributor)
Editor: Fuza Nihayatul Chusna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *