Sayonara

Anak-anak tersenyum melepaskan balon (Sumber: Freepik)

‘Perpisahan bukanlah akhir dari sebuah cerita

Namun awal bagi cerita yang baru’

***

Teng…Teng…Teng…

Lonceng kelulusan sudah dibunyikan, lagu perpisahan dinyanyikan, ijazah telah dibagikan, inilah akhir dari masa-masa SMA yang indah bagi kami yang baru saja di luluskan. Saat ini upacara kelulusan sudah selesai, selanjutnya para lulusan berkumpul dengan junior atau dengan teman yang lainnya untuk mengucap salam perpisahan. Saat itu ketika aku sedang meratap di ruang klub jepang, sampai terdengar suara orang yang berlari di lorong dan membuka pintu ruangan yang tertutup sambil memanggil namaku.

“Rini!”

Aku Pun berbalik dan melihat orang yang memanggil ku, dia adalah sahabat terbaikku.

“Shania…”

Nafasnya tersengal karena lelah berlari, sepertinya sedari tadi ia mencariku yang menghilang dari aula seusai upacara kelulusan. Seketika aku berdiri, Shania pun mendekatiku perlahan, selangkah aku maju, Shania sudah ada dihadapanku.

“Rini…”

Akupun memeluk Shania, membenamkan mukaku di dadanya, tanpa ku sadari airmata ku keluar, perlahan aku menangis, Shania pun mengatakan sesuatu.

“Udah Rin…kita udah lulus, semuanya sudah berakhir”

Mendengar ucapan Shania, aku mengangkat muka ku, melihat Shania yang tersenyum, namun sorot matanya memancarkan kesedihan, aku pun menunduk dan meluapkan seluruh perasaanku yang mengatakan bahwa aku tidak pernah menginginkan semua ini berakhir.

Setelah aku selesai bicara, Shania pun melepas pelukanku dan memegang kedua pundakku, aku tetap menunduk menangis di hadapan sahabatku, hingga kenangan-kenangan itu terlintas.

‘Ohh…aku ingat’

***

3 tahun yang lalu…

“baiklah, pada akhirnya aku pasti menyesali 3 tahun ini”

Itulah yang aku katakan di hari pertama sekolah, hingga pada saat upacara penerimaan siswa baru,  seorang mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya padaku.

“Halo…namaku Shania Putri Aqila, salam kenal”

Melihat hal itu akupun menyalami tangannya dan memperkenalkan diriku.

“Ohh…halo namaku Rini Azzahra Putri, salam kenal juga ya, hehe..”

Sejak itu pun kami mulai berteman, meski awalnya aku hanya pura-pura tapi setelah mengenal satu sama lain sehingga hubungan kami semakin membaik sampai kami menjadi sahabat.

***

Di minggu pertama, kami harus memilih jurusan yang akan kami ikuti hingga setelahnya di minggu kedua kami harus memilih sebuah klub, Saat itu aku dan Shania sangat kebingungan ingin masuk ke klub apa sampai kami mendengar desas-desus bahwa ada klub yang apabila tahun ini tidak memiliki anggota maka klub itu akan dibubarkan, Karena penasaran kami menanyakan tentang desas-desus itu ke wali kelas kami bu Dinda saat jam istirahat.

“Bu, kira-kira ibu tahu tentang klub yang akan dibubarkan”

Bu Dinda pun mengangguk dan mengatakan 

“Oh..klub yang dimaksud itu klub jepang”

Kemudian bu Dinda menjelaskan tentang pembina dan lokasi klub, tapi bu Dinda tidak memberi tahu hal-hal lainnya seperti kegiatan klubnya, setelah itu, kami berterima kasih dan bel berbunyi yang artinya jam istirahat siang sudah selesai.di SMA ini, kegiatan klub selalu di lakukan setelah jam sekolah hingga sore, jadi aku dan Shania akan pergi ke ruang klub.

Setibanya kami di ruang klub, kami terheran, lampu ruang menyala dan musik pembuka anime terdengar, pintu juga dibiarkan terbuka sedikit jadi aku membuka pintunya perlahan dan mengucap ‘permisi’ demi kesopanan.Setelah pintu terbuka, seorang menyapaku dengan semangat sambil mengangkat tangannya.

“Yo!”

Ternyata klub ini sudah memiliki anggota lain selain kami,kemudian orang itu bertanya ‘apakah kalian anggota baru juga’ aku pun terkaget, berarti mereka juga anggota baru.Lalu seorang masuk ke ruangan dan duduk di sebelahnya sambil tersenyum dan memperkenalkan dirinya.

“Halo, nama ku Nabilah Fitriani dari kelas 1 bahasa dan ini Adriani Farisya sama kelasnya dengan ku tapi ialah ketua klubnya”

Farisya pun langsung mengangguk sombong. Kini aku dan Shania sudah bergabung dengan klub jepang, mulai besok kami akan memulai kegiatan klub dan dari sinilah kenangan kami dimulai.

***

Beberapa bulan telah berlalu, kini klub jepang sudah memiliki kegiatan seperti nonton anime dan membaca manga juga mengkaji suatu karya sastra berbahasa jepang, meskipun begitu terkadang guru BK selalu memarahi kami karena sudah melanggar peraturan sekolah, namun kami hanya bisa berkata.

“Pak ini kegiatan klub ini, apabila ada sesuatu mohon di tanyakan dulu ke pak Adit selaku pembimbing klub ini”

Setelah mendengarnya guru BK hanya bisa mengingatkan untuk melakukan kegiatan klub dengan benar.Tetapi di banding itu ada hal yang lebih buruk, yaitu di tahun ini klub jepang tidak bisa ikut berpartisipasi dalam acara pameran budaya Desember, karena syarat untuk bisa ikut berpartisipasi berupa klub harus memiliki 5 anggota dan sudah 1 tahun genap sejak berdiri.

Dan dari semua syarat itu, belum satupun kami penuhi, oleh karena itu jugalah kami berkumpul untuk membahas hal ini bersama pak Adit, namun ia hanya bisa mengatakan ‘saya sudah mengusahakannya, tapi tetap saja tidak bisa’, juga kami yang hanya bisa pasrah dengan peraturan sekolah.

***

Di bulan Desember, pameran budaya telah berlalu dengan baik meski kami tidak berpartisipasi di dalamnya, liburan semester juga telah berlalu hingga tidak disadari kami sudah naik ke kelas 2, yang artinya waktu kami untuk bersama hanya tersisa 2 tahun. Bersamaan dengan itu otomatis  kami juga memiliki adik kelas, inilah peluang kami untuk mendapatkan anggota baru, maka dari itu, saat minggu ke 2 kami menyebar maupun memasang poster di mading untuk mencari anggota baru.

Saat itu waktu menunjukan pukul 11.30 yang berarti istirahat siang telah tiba, maka aku pun segera pergi untuk memasang poster klub jepang di mading-mading sekolah.

Setelah memasang poster di perpustakaan dan gerbang depan, maka aku pergi menuju mading utama yang terletak di dekat ruang guru, saat sampai di sana aku segera menyiapkan poster dan paku payung, ketika hendak memasang poster, seorang gadis yang terlihat terburu-buru berlari sehingga menabrak ku.

“Akhh….!”

Akupun terjatuh tertimpa oleh gadis itu, namun si gadis kembali berdiri lalu setelah melihat ku  gadis itu segera meminta maaf dan pergi entah kemana, sementara itu aku melanjutkan pekerjaan ku.

Setelah memasang poster aku segera pergi ke ruang UKS untuk mengobati luka ku, sesampainya di ruang UKS aku melihat gadis yang menabrakku tadi sedang meminta maaf kepada petugas UKS, aku pun menghampirinya setelah mengobati luka ku, ketika melihat ku gadis itu terlihat ketakutan bersembunyi di belakang petugas UKS, aku langsung bertanya kepada gadis itu dan tidak dijawab yang akhirnya petugas UKS menjelaskannya dengan singkat.

“Dia ingin bergabung dengan klub jepang namun tidak tahu tempatnya dan terus mencarinya”

Kini aku paham, jadi sedari tadi gadis ini sedang mencari ruang klub jepang.Kemudian aku pun mendekati gadis itu lalu mengatakan bahwa aku ini adalah anggota klub jepang, gadis itu pun tersenyum dan berdiri, setelahnya aku mengajaknya untuk pergi ke ruang klub jepang sambil menarik tanganku dan berlari hingga sampai di ruang klub yang pintunya terbuka, di dalamnya terlihat Farisya yang duduk di kursi sambil membaca buku, ia terkejut saat melihat kami dan bertanya tentang gadis di belakangku namun saat aku ingin mengenalkannya aku tidak tahu siapa namanya, gadis itu pun maju dan memperkenalkan dirinya.

“Namaku Stephia Lani dari kelas 1 IPA, mohon bantuan untuk kedepannya”

Setelah mendengar kalimat itu, Farisya tersenyum senang, disusul Shania dan Nabilah yang masuk ke ruang klub mereka juga tersenyum karena akhirnya kami memiliki 5 anggota yang berarti kami bisa ikut berpartisipasi di acara pameran budaya Desember nanti.

***

Terkadang kami juga berbuat kenakalan seperti telat masuk ke kelas sehingga kami mendapatkan hukuman berupa membersihkan gedung olahraga ataupun hormat ke bendera di siang yang terik, meskipun begitu kami tetap bahagia karena bisa terus bersama.

Karena kenakalan kami yang dianggap sudah melewati batas, kami di atas namakan klub jepang dilarang berpartisipasi dalam acara pameran budaya Desember tahun ini dan ketika mendengar hal itu pak Adit merajuk sampai kami memberikannya figure Asuna titania edisi terbaru, barulah pak Adit kembali bahagia.

Dan banyak lagi kejadian-kejadian yang terjadi setelahnya hingga tanpa kami sadari 2 tahun sudah berlalu…

***

Sekarang kami berempat sudah kelas 3 yang berarti tidak lama lagi waktu kami akan berakhir, kami akan segera lulus, berpisah dan meninggalkan Lani sendiri, maka dari itu kami mencari anggota baru untuk Lani, namun kami tidak berhasil dan Lani hanya bisa mengatakan ‘tidak apa-apa’, meskipun ia mengatakan hal seperti itu, dari tatapannya bisa dilihat bahwa ia sedih.

Beberapa bulan ini berlalu dengan cepat, kami yang sudah kelas akhir tidak bisa sering melakukan kegiatan klub karena disibukkan dengan belajar dan kami juga tidak bisa mengikuti acara pameran budaya Desember sehingga klub jepang tidak bisa ikut berpartisipasi di acara pameran budaya Desember dan itu membuat Lani semakin sedih.

***

Hingga akhirnya bulan juni, yang artinya sebentar lagi kami akan lulus dan meninggalkan Lani,maka untuk itu kami pergi ke Batu Kuda yang berada di Gunung Manglayang, kami berencana berkemah di sana dan menikmati waktu-waktu terakhir kami sebagai anggota klub jepang di SMA.

Kami sampai di tempat dekat jalur pendakian, di sana terdapat jalan setapak yang rencananya akan kami susuri waktu malam.Karena waktu masih menunjukan pukul 8 pagi, maka kami putuskan untuk mendaki gunung itu, dan di saat yang bersamaan ada banyak pendaki yang mendaki dalam satu rombongan dipimpin oleh orang yang memakai perlengkapan lengkap, maka kami pun bertanya apakah kami bisa ikut mendaki bersama dan kami diizinkan ikut mendaki bersama.

Kemudian kami pun berjalan di belakang pendaki itu, lama kelamaan kami tau nama pemimpin rombongan itu, pak Urwa, setidaknya begitulah yang lain memanggilnya.Kami mendaki, terus-menerus mendaki, melewati curang dan menggunakan akar-akar besar sebagai pijakan hingga akhirnya beberapa jam kemudian kami sampai di puncak, sesampainya di puncak kami beristirahat dan makan siang bersama pak Urwa hingga saat selesai makan kami diajak berfoto bersama.

Setelah kami berfoto, pak Urwa menginstruksikan kami berbaris bersama para pendaki yang lain untuk di rekam, di sana kami dipimpin pak Urwa yang berteriak duluan mengatakan ‘SAPALA’ dan dilanjutkan kami yang berteriak ‘santri pecinta alam!’, setelah itu kami bertepuk tangan dan kembali turun ke Batu Kuda.

Sesampainya di Batu Kuda kami berpamitan dengan pak Urwa dan siswa-siswinya yang akan kembali ke sekolah.Selanjutnya kami berkemas dan segera menyusuri jalan setapak tersebut hingga sampailah kami di ujung jalan setapak itu yang ternyata di sana ada air terjun kecil dan hamparan rumput hijau yang luas, kami segera mendirikan tenda dan menghamparkan karpet besar tempat kami makan malam, setelahnya kami memasak makan malam.Setelah matang, kami sajikan makan malam itu dan menyantapnya di atas karpet yang hangat ditemani bintang-bintang yang bersinar di tengah malam purnama sambil bernostalgia tentang hari-hari kami di klub jepang.

Namun…

Begitu malam ini berakhir, masa SMA kami juga ikut berakhir, esok hari kami akan lulus dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, sementara itu Lani kami tinggal sendiri di klub jepang.

Seketika itu, kami berdiri, menghadap bintang-bintang di tengah purnama, ditemani kunang-kunang berterbangan dengan cahayanya yang indah bagai cahaya di tengah gelap.

Di malam itu kami semua termenung di tengah terang purnama, saat itu kami masih bisa melihat pohon-pohon juga hamparan rumput yang luas, seketika angin pun berhembus membuat rumput bergoyang dan daun-daun berterbangan.

Tes..tes..tes..

Bunga air mata pun jatuh berguguran.

“Lani….”

Airmata Lani mulai keluar, mengalir melalui pipi, jatuh ke tanah, namun ia tetap tersenyum, Faris pun mendekati Lani yang mulai menangis.

“Aku… aku tidak apa-apa kok….”

Tapi dibalik kata itu, Lani berbohong, air matanya terus mengucur.

“Ke-kenapa… kenapa airmata ku terus keluar”

Lani pun mulai menangis, seketika itu Farisya memeluk Lani dan mengatakan. 

“Lanii, maafkan… kami yang mulai besok harus meninggalkanmu sendiri”

Kemudian suasana pun lengang sesaat….

“Ahh… kenapa airmata ku keluar”

Airmata kami pun keluar sendirinya, padahal kami tidak menangis dan meskipun kami mengusapnya, air mata itu terus mengucur…, kemudian kami menatap purnama biru yang indah, ditemani angin yang berhembus, lalu tanpa di sadari, air mata kami terus mengucur, karena ada satu rasa yang tidak bisa kami bendung dan tak bisa kami tahan lagi, yaitu ‘rasa sedih untuk mengucap selamat tinggal’

Di tengah hamparan rumput hijau yang luas, disaksikan purnama yang bersinar, kami menangis tak kuasa diri, kami saling memeluk dan mengucap kata rindu,  hingga kami pun tertidur di sana.Inilah malam terakhir kami, di Batu Kuda, tempat kami mengukir kenangan terakhir kami, di sana aku berkata. 

“Aku tidak menyesali masa SMA ku 3 tahun kebelakang”

Itulah kata-kata terakhir ku di malam terakhir dari masa SMA kami.

***

Dengan tatapan itu, Shania tersenyum, tapi itu bukan senyum bahagia, melainkan senyum haru, dari matanya terpancar suatu yang tak bisa dijabarkan, dari pintu, masuklah, Nabilah, Farisya dan Lani.Kemudian Lani menaiki podium dan mulai berbicara dengan airmata yang jatuh ke wajahnya.

“Kakak-kakak kelasku…terima kasih…terima kasih karena sudah membimbingku selama 2 tahun ini, kalian begitu baik padaku…, kini kalian sudah lulus, sekarang…tersenyumlah, tertawalah dan jalani hidup ini dengan bahagia karena kalian akan menempuh jalan yang baru…”

Lani pun mulai menangis, tetapi ia tetap tersenyum dan melanjutkan kalimatnya.

“Berbahagialah…jalani hidup baru kalian…tanpa melupakan semua kenangan yang telah kita ukir bersama…”

Kemudian setelah itu, Lani turun dari podium dan jatuh terduduk, lekas kami mendekatinya dan memeluknya, kami menangis di sana.

Di tengah tangisan itu…aku tersenyum kecil

“Hihi…..”

Selama 3 tahun ini kami telah menghabiskan waktu bersama, dalam susah dan senang,mengejar mimpi dan impian, dan Dimulai dari detik ini, cerita kami telah berakhir…..

Semuanya…terimakasih, semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti dan Sayonara….

Penulis: Hafidz Thamrin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *