[Resensi] Menanam Pohon Lemon Bersama Zoulfa

Judul buku: As Long As The Lemon Trees Grow
Penulis: Zoulfa Katouh
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: 2023 (cetakan ketiga)
Tebal: 479 halaman
ISBN: 978-602-441-313-2

“Kisah ini tentang mereka yang tidak punya pilihan kecuali meninggalkan rumah mereka” (Khatouh, 2023: 463)

Sebuah novel fiksi berlatarkan perang Suriah, mengangkat kisah kemanusiaan dan romansa di tengah peperangan. Seorang gadis bernama Salama, harus kehilangan ibunya, sementara ayah dan kakaknya, Hamza ditawan, entah itu masih hidup atau mati. Salama, Sang Apoteker yang merangkap menjadi dokter bedah dadakan, harus menjalankan pesan Hamza untuk menjaga istrinya yang sedang hamil, Layla dari perang dan mengungsi ke Eropa.

Novel ini dibuka dengan pengenalan tokoh Salama dengan menjelaskan bagaimana situasi perang di Suriah memberikan dampak secara batin/mental juga fisik terhadap Salama. Latar belakang tempat pada kisah ini, kota Homs yang porak-poranda juga dipaparkan secara detail, seperti reruntuhan bangunan dan masyarakat sekitar yang simpatik terhadap satu sama lain. Salama yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang apoteker, kini terpaksa untuk menjadi dokter karena kurangnya tenaga kesehatan akibat perang di Suriah. 

Hingga akhirnya muncul sosok Khawf dari rasa takut dan putus asa Salama di hidupnya. Sosok pria dengan mata dingin, selalu mendorong Salama untuk pergi dari Suriah. Khawf bisa dibilang adalah sosok yang kerap kali melakukan reality check terhadap Salama ketika ia enggan untuk memikirkan dirinya sendiri di tengah konflik di Suriah.

Namun di tengah kekacauan perang, Kenan datang dan hadir di kehidupan Salama. Pemuda bermata hijau dengan kobaran semangat untuk membela negaranya. Rasa semangat itu menular ke Salama, menginspirasi Salama untuk tetap bertahan di tengah rumah sakit yang penuh korban bom ataupun penembak jitu. Secercah harapan yang diberikan Kenan juga membuat Salama yakin bahwa suatu saat ada kecerahan di masa depan mereka. 

“Kau tidak perlu merasa bersalah saat memikirkan masa depanmu. Kita tidak perlu berhenti hidup hanya karena kita akan mati. Siapa pun bisa tewas sewaktu-waktu, di mana pun di dunia ini. Kita bukan pengecualian. Kita hanya lebih sering melihat kematian daripada mereka.” (Khatouh, 2023: 132).

Cara Zoulfa Menaruh Harapan di Tengah Peperangan Dalam ‘As Long As The Lemon Trees Grow’

Zoulfa adalah penulis Kanada yang berasal dari Suriah. Kini, ia menetap di Swiss untuk mengejar gelar master jurusan farmasi. Ketika di Swiss, Zoulfa menyadari bahwa tidak banyak orang yang tahu mengenai fakta keras yang terjadi di Suriah. Selama ini, di dunia tahu Suriah hanya dari apa yang dilaporkan media, buku-buku nonfiksi politik yang membuat nyawa, korban, anak yatim piatu, dan para pengungsi hanyalah sebuah angka.

Novel ini terinspirasi dari peristiwa revolusi di Suriah yang bermula pada Maret 2011, tetapi pihak militer baru mulai pengeboman terhadap masyarakat sipil pada Juni 2012. Pembantaian Karam El Zeitoun pada 11 Maret 2012 juga menjadi referensi novel ini.

Tokoh dalam cerita ini sangat jauh dari batasan stereotip. Karakter Layla dan Salama memiliki jiwa yang bebas dan berani, meskipun mereka adalah dua perempuan berhijab di tengah konflik Suriah. Karakter Kenan, pemuda yang menolak toxic masculinity terutama sebagai tokoh yang berasal dari Timur. Kenan berani untuk menerima perasaannya dalam bentuk apapun, merupakan pemuda yang lembut dan sangat menyayangi keluarganya. Semua tokoh dalam novel ini menyinarkan rasa cinta mereka kepada diri mereka, tempat asal mereka, dan berani mempertaruhkan segala hal demi kebebasan. Dalam novel ini, Zoulfa memberikan representasi masyarakat yang sangat jarang diperlihatkan di kalangan Barat. Mengingat, buku ini ditulis oleh keturunan Timur yang tinggal di Barat.

Sebagai sebuah debut, Zoulfa berhasil membawa pembaca menaiki emotional rollercoaster pada setiap bab nya. Caranya mengupas emosi yang dirasakan Salama yang harus melawan rasa takutnya di setiap langkah kehidupannya di Suriah sangat detail sehingga para pembaca tidak hanya merasa simpati, tetapi juga merasakan apa yang dirasakan Salama.

Zoulfa memastikan para pembaca tidak hanya merasakan kesedihan dengan latar belakang novelnya, ia menciptakan kisah cinta Salama dan Kenan sebagai bentuk resistensi dan bukti bahwa dalam keadaan apapun, bahkan dalam keadaan yang meregang nyawa, warga Suriah tetap akan menemukan rasa cinta terhadap tanah air mereka sehingga membuat mereka semangat untuk bertahan di tanah Suriah.

Hal tersebut mencerminkan salah satu ayat di Al-Quran, surat Al-Alaq ayat 5-6 yang berbunyi “”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Selain memberikan para pembaca sedikit gambaran mengenai apa yang dihadapi oleh penduduk Suriah, cerita ini mengajarkan para pembaca untuk selalu bersyukur dan menemukan cahaya kehidupan di setiap kesengsaraan yang mereka hadapi. Dengan harapan, suatu saat nanti semua tanah air yang kini sedang menghadapi konflik, perang, bahkan genosida akan mencapai kebebasan yang layak untuk mereka dapatkan. 

Penulis: Abigail Ghaissani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *