Menilik Kerja Sama Unpad dengan Alfa X dan Lawson

Suasana Lawson di tengah terik matahari pada Rabu (29/5) siang lalu.

dJatinangor.com — Universitas Padjadjaran (Unpad), yang berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), menjalin kerja sama dengan dua perusahaan ritel, PT Lancar Wiguna Sejahtera (Lawson) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamart). Kesepakatan ini bertujuan untuk menyediakan fasilitas yang memadai bagi mahasiswa Unpad, seperti tempat untuk bersantai, makan, dan bersosialisasi di sekitar kampus.

Setelah sukses menjalin kerja sama dengan Alfa X 2023 lalu, Unpad kini turut meneken kerja sama dengan Lawson pada April 2024 sebagai salah satu program pemasukan dana bagi kampus terkait status Unpad sebagai PTN-BH.

Langkah Unpad yang mulai melebarkan sayap usahanya melalui kerja sama dengan berbagai perusahaan ritel pun lantas mengundang rasa penasaran bagi Kema Unpad.

dJatinangor.com berkesempatan untuk mewawancarai Direktur Sarana, Prasarana, dan Manajemen Aset Unpad, Edward Henry tentang kerjasama ini. Edward menjelaskan, latar belakang dari adanya kerjasama ini adalah memenuhi kebutuhan mahasiswa untuk nongkrong.

“Tujuannya butuh tempat nongkrong sambil jajan. Nah, yang kalian sukai berdasarkan hasil survei di berbagai tempat, Lawson itu kan ngantri, orang beli makan. Jadi, dasarnya sederhana aja,” jelas Edward pada Rabu (29/5) lalu.

Pada awalnya, Unpad menawarkan kerjasama kepada Indomaret dan perusahaan sejenis yang umum dan kekinian, termasuk Alfa X. Tetapi pihak Indomaret tak memberikan respon apapun terhadap tawaran tersebut. Sehingga Unpad akhirnya memilih untuk bekerja sama dengan Alfa X.

Tak berhenti, tahun ini Unpad kembali menghubungi pihak Indomaret dan juga Lawson. Kemudian, Lawson memberikan respon yang lebih cepat sehingga diputuskan Pihak yang lebih dulu merespon adalah Lawson sehingga langsung menjalin kerjasama.

“Kemarin Indomaret merespon, telat. Jadi nanti juga akan ada Indomaret Point, tapi nyusul,” ujar Edward.

Menurut Edward, sistem kerja sama Unpad dengan perusahaan ritel tak jauh berbeda dengan kantin yang berada di tiap fakultas, yakni sisrtem sewa lahan. Jadi, pihak Lawson dan Alfa X menyewa tanah Unpad untuk digunakan sebagai lokasi usaha.

Edward merinci, Lawson menyewa tanah seluas 60 meter persegi dan Alfa X menyewa seluas 150 meter persegi. Kerja sama tersebut berdurasi selama lima tahun dengan harga sewa tanah senilai Rp1 juta per meter persegi untuk satu tahun.

Selain fasilitas hangout dan penyedia makanan, Unpad juga menyediakan fasilitas taman sebagai sarana penghias yang bisa digunakan oleh para mahasiswa.

“Setiap ada Lawson atau Alfa X itu kan disediakan taman, itu tamannya punya kita. Maka dijaga aja dengan baik, jangan berperilaku jahat, tidak merusak, keberadaan mereka (Alfa X dan Lawson) dimanfaatkan saja sesuai kebutuhan,” harap Edward.

Tanggapan Mahasiswa

Keberadaan fasilitas seperti Alfa X dan Lawson disebut sangat membantu kegiatan mahasiswa, khususnya bagi yang menghabiskan banyak waktu untuk berkegiatan di dalam lingkungan kampus. Kehadiran toko-toko ritel ini memberikan opsi baru untuk berkumpul selain kantin-kantin fakultas.

Selain makanan dan minuman, Alfa X maupun Lawson juga menjual barang-barang kebutuhan yang esensial bagi mahasiswa seperti di minimarket pada umumnya. Sehingga, mahasiswa memiliki akses yang lebih mudah dibanding harus berbelanja ke minimarket di luar lingkungan kampus.

Meski demikian, beberapa mahasiswa juga turut menyampaikan keluh kesahnya terkait pelayanan di Alfa X maupun Lawson.

Ghalia, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) merasa bahwa pelayanan Alfa X, terutama pada kasirnya sangat lambat. Terutama ketika sedang ada acara dan waktu-waktu ramai pengunjung. Menurutnya, kursi-kursi di Alfa X juga kurang nyaman untuk digunakan dalam waktu yang cukup lama.

“Kalau Alfa X itu sistemnya lama banget, kayak lambat banget di kasirnya. Apalagi kalau lagi rame, itu ya Allah ngantrinya luar biasa. Alfa X itu karena ruangannya kecil itu dingin banget apalagi kalo lu lama disitu. Kursi-kursinya tuh, apalagi yang tinggi, itu sangat-sangat tidak direkomendasikan kalo mau duduk lama-lama. Ga ada kenyamanannya sama sekali. Jadi kalo mau pake working space nya dengan waktu yang lama itu menurutku ga akan nyaman karena kursinya keras-keras gitu.” jelas Ghalia saat diwawancarai dJatinangor.com.

Ghalia juga mengeluhkan kerapian toko yang dinilai kurang pada waktu pagi hari. Menurut pengalamannya, ia merasa kurang nyaman saat berjalan di lorong karena dipenuhi kardus-kardus barang yang belum tersusun rapi.

Sementara, George, mahasiswa Fakultas Teknik Industri Pertanian (FTIP) dan Meutia, mahasiswa Fakultas Teknik Geologi (FTG) merasa working hour Alfa X dan Lawson kurang menyesuaikan dengan aktivitas mahasiswa di kampus.

Menurut mereka, mahasiswa Unpad seringkali berkegiatan di kampus hingga malam hari. Mahasiswa Unpad juga disebut kurang memiliki opsi tempat yang bisa digunakan pada malam hari. Sehingga, mereka menilai Alfa X maupun Lawson seharusnya bisa buka hingga lebih malam, atau bahkan 24 jam dan bisa sangat membantu mahasiswa.

Alfa X juga memiliki area working space serta meeting room yang bisa digunakan oleh mahasiswa. Namun, Working space-nya dinilai perlu diperluas karena banyak mahasiswa yang tidak kebagian tempat karena kursi dan meja yang kurang pada waktu-waktu tertentu. Sementara untuk meeting room di Alfa X, Meutia merasa bahwa fasilitas tersebut kurang efektif karena harganya mahal.

“Menurut aku gak efektif deh karena mahal sih apalagi kan itu adanya di kawasan mahasiswa ya, kan mahasiswa maunya yg murah atau gratis gitu jadi bisa dibilang salah sasaran juga dan  selama aku ke Alfa X juga working space (meeting room) nya kayak sepi terus” jelasnya.

Meski demikian, para mahasiswa menilai bahwa Alfa X dan Lawson sebaiknya terus hadir di lingkungan Unpad. Mereka juga berharap agar para ritel bisa meningkatkan pelayanan maupun fasilitas yang dihadirkan.

Selain itu, mahasiswa juga berharap serta menantikan penambahan fasilitas yang serupa di lingkungan Unpad, terutama di sekitar jalur IPA agar lokasi toko-toko ritel lebih merata dan tidak hanya berpusat di sekitar jalur IPS.

Penulis: Yoga Firman, Abigail Ghaissani
Editor: Ridho Danu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *