Gigit, Tru, dan Rahasia

Suasana tenang di Danau Ekoriparian Padjadjaran di sore hari. (dJatinangor/Z)

♫. Keep Me – Novo Amor

Kamu pernah menginjak kotoran ayam? Lalu kamu mengeluh karena itu kotor dan menjijikan. Kamu terburu-buru untuk mencucinya agar kamu kembali suci. Tapi bagaimana jika kotoran itu melekat di tubuhmu? Lalu kamu merasa sekujur tubuhmu itu kotor dan menjijikkan. Kamu tidak bisa membersihkan kotoran itu karena selamanya akan berada di tubuhmu. Selamanya tubuhmu akan kotor dan menjijikkan.

Kotor.

Menjijikkan. 

Aku melihat pantulan manusia kotor itu dari kaca di depanku. Aku kasihan padanya. Tubuhnya dililit ular, lehernya terlihat sesak, sudah tidak ada kehidupan dari sorot matanya. 

Dingin. Tidak ada satu pun helai benang yang memeluk tubuh ringkih dan berdosa ini. Menyedihkan. Bahkan aku tidak diizinkan untuk menghela napas, tanganku ditarik untuk memenuhi nafsu manusia bejat di atasku ini. Lagi. Sudah dua kali dalam hari ini, dan sekarang baru pukul 06.00 pagi. 

Setelah puas, manusia bejat ini meninggalkanku begitu saja. Meninggalkanku bersama luka-luka yang tidak ada bekasnya, tapi sekujur tubuhku hancur dibuatnya. 

“Ayah gabisa antar kamu ke sekolah. Saya harus ke pasar.”

Bajingan. 

Langkahnya terdengar menjauhi kamar, beriringan dengan jatuhnya air mata sialan ini. Harusnya aku marah, harusnya aku memberontak, harusnya aku berteriak. Tapi yang malah dilakukan anak bodoh ini hanya diam. Selama 12 tahun ini aku membiarkan luka itu semakin besar, aku membiarkan luka itu semakin mengotori diriku.

Aku memakai kembali pakaian abu putih ini. Entah kemana hari ini aku harus pergi. Aku hanya mengikuti kakiku, terserah dia mau melangkah kemana. Rasanya Tuhan suka sekali melihat aku tersiksa sampai-sampai tidak ada satu pun truk yang berlalu lalang lalu tubuhku terhantam dan aku bisa pergi jauh sekali. 

Langkahku terhenti di depan papan bertuliskan “Ekoriparian Padjadjaran” Ahh.. ternyata kakiku ingin aku terus bersedih dan merenungi nasib payahku ini. Lalu aku duduk di atas kursi taman, mendengarkan gemercik air danau dan belaian angin sore hari. Satu-satunya harapan yang pasti tidak akan tercapai adalah berkuliah di sini. Aku tidak memiliki banyak keberanian. Diriku terlalu dipenuhi rasa malu dan rendah diri, aku terlalu malu bertemu orang-orang yang berpendidikan itu.

Waktu terus berlalu hingga matahari tidak menampakkan dirinya lagi. Aku berkeliling melihat sekitar. Hanya ada aku dan seekor kucing berwarna hitam dengan titik-titik putih di badannya. Kucing itu memakai kalung dengan bandul bergambar sebuah kaca pembesar yang pecah. Aku mendekati kucing itu dan membelainya lembut. 

“Halo, manis. Nama kamu siapa?” 

“Namanya Rahasia.” Aku terperanjat kaget ketika tiba-tiba ada suara laki-laki di belakangku. Saat ku tengok, berdiri laki-laki berkacamata memakai jaket dan pakaian serba hitam. Tingginya mungkin sekitar 180an? Yang jelas tinggiku 160 dan aku harus mendongak untuk melihat wajahnya. Tangannya memegang makanan kucing. Ia berjalan mendekati kucing yang katanya namanya Rahasia itu. Sekilas aku mencium wangi disinfektan semacam bau karbol. 

“Kenapa namanya Rahasia?” tanyaku sambil ikut jongkok di sebelahnya.

“Pengen aja.” Jawaban macam apa itu?

Aku mendengus kesal. Kemudian ikut memberi makan Rahasia. 

“Ngapain anak SMA masuk ke sini?”

Aku mengernyit dan menghentikan aktivitas muliaku ini (memberi makan Rahasia), “Memangnya ada peraturan yang bilang kalau aku gaboleh ke sini?” 

Mata berwarna cokelat itu bertemu denganku. Entah kenapa aku merasa seperti diintimidasi. “Gak ada, sih.” Kemudian dia kembali sibuk dengan Rahasia. 

Oke?

“Nama lo siapa?” Akhirnya ada kalimat tidak mengesalkan yang keluar dari mulutnya.

“Gigit.”

“Hah?” Dia kebingungan. Aku sudah biasa mendengar respon itu. Memang namaku Gigit, kok. 

“Iya namaku Gigit. Aneh, kan? Sama kaya Rahasia, nih. Harusnya aku jadi kucing aja.”

“Kenapa emang kalau jadi manusia?”

“Capek.” Jawabku singkat dan cepat. Sedetik kemudian aku mendengar suara kekehan dari mulutnya. 

“Semua orang capek. Gak capek kalau udah di surga.” 

“Meong…”

“Kalau nama kamu siapa?”

“Nama gue Tru.” Aku terdiam selama beberapa detik. “Kok? Nama kita aneh, sih? Nama kamu beneran Tru?” Tru hanya mengangguk. 

Beberapa menit berlalu hanya diisi oleh keheningan hingga tiga kalimat keluar dari mulutnya yang membuat sekujur tubuhku sukses membeku. “Lo gapapa?”

Ah… Ternyata ini rasanya? Ternyata ini rasanya dipedulikan oleh seseorang. Ternyata rasanya aneh dan sakit. Ternyata memang lebih baik tidak ada yang bertanya padaku seperti itu, karena rasanya sakit sekali sampai-sampai aku tidak bisa menjawabnya. Mulutku tertutup tapi aku menangis. Aku tertunduk dan menangis keras seolah-olah luka ini akhirnya menemukan lubang untuk meluap. 

Aku tidak peduli bagaimana Tru di depanku melihatku menangis seperti orang kesetanan. Air mata sialan ini juga terus mengalir tanpa seizinku. Aku tidak melihat bagaimana responnya tapi aku merasakan tepukan pelan di pundakku yang membuatku semakin ingin untuk menangis. 

Rasanya sakit sekali. Aku baru menyadari serapuh apa tubuh dan hati ini saat mendapatkan hal sekecil itu. Tapi sungguh, rasanya seperti kamu menemukan satu alasan lain untuk tetap hidup. Kenyataan bahwa ada orang yang peduli padamu adalah hal yang sangat, sangat, sangat harus disyukuri karena tidak semua orang punya itu. 

“Lo kaya lagu-lagunya Novo Amor. Kosong dan kesepian. Gue udah liat lo duduk di sini dari siang tadi. Sampe gue keluar Laboratorium, lo masih duduk di sini.”

Aku masih menangis, menunggu untuk Tru melanjutkan kata-katanya. “Mungkin abis ini lo bisa dengerin lagu-lagunya. Setiap gue dengerin lagunya, gue selalu merasa tenang dan kosong di saat yang sama. Mungkin lo bisa dengerin juga. Kadang lagu bisa jadi teman lo waktu lo gak punya siapa-siapa buat cerita. Atau lo bisa hubungin gue,” Tru memberiku sebuah kartu nama berwarna hitam dengan logo kaca pembesar pecah di dusut kanan atas. Sama seperti punya Rahasia. Di kartu nama itu tercantum nama Tru, nomor telepon, dan “Tim Pencari Fakta”.

Aku mengangguk dan mengusap air mata ini. “Terima kasih. Ternyata Rahasia itu punya kamu.” 

Tru mengangguk kemudian berdiri sambil menggendong Rahasia. “Gue pamit dulu.” Aku mengangguk dan ikut berdiri, “gue gatau apa hal berat yang udah lo laluin. Tapi gue cuma mau bilang, lo keren udah bertahan sejauh ini.”

Aku melihat Tru melangkah pergi. Aku tidak menangis lagi, aku tersenyum sekarang. Waktu menunjukkan pukul 19.10 malam. Aku memutuskan untuk pulang sebelum Ayah menyebutku pelacur dan sebagainya. Rasanya kakiku melangkah sangat ringan. Rasanya Sebagian besar luka ini hilang entah kemana perginya. Aku berjalan tidak sendirian tetapi ditemani lagu-lagu Novo Amor yang aku dengarkan lewat earphone hitam ini. 

Terima kasih, Tru dan Rahasia.

***

Tiga hari berlalu, Tru tidak mendapatkan kabar apapun dari Gigit. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Ekoriparian lagi dengan harapan bisa bertemu dengan Gigit. Alih-alih bertemu dengan Gigit, yang Tru lihat adalah beberapa Tim Penyelamat sedang mengangkat sebuah mayat dari dalam danau Ekoriparian. Langkah Tru terhenti seketika ketika melihat mayat itu memakai seragam putih abu. Tru tahu betul siapa itu. 

Penulis: Z.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *