Cerita dari Asrama KIP-K, Difasilitasi Tapi Terdiskriminasi

Lorong salah satu lantai di asrama Bale Wilasa 1, Universitas Padjadjaran. (dJatinangor / Natau)

dJatinangor.com – Universitas Padjadjaran adalah salah satu kampus negeri yang menyediakan tempat bernaung (asrama) untuk mahasiswanya. Asrama tersebut acap dikenal dengan nama Bale Wilasa, yang terbagi menjadi banyak macam. Salah satunya adalah Bale Wilasa 1, tempat mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) atau dulu disebut Bidikmisi. Usai mendapatkan tanda bukti berupa Nomor Pokok Mahasiswa (NPM), mahasiswa KIP-K boleh langsung mendaftarkan dirinya untuk diseleksi kembali oleh pihak asrama. Bagi penerima KIP-K, Bale Wilasa 1 menjadi opsi tempat tinggal selama satu tahun hingga kemudian daya tampungnya dialihkan kepada mahasiswa baru angkatan selanjutnya. 

Salah satu manfaat yang didapatkan dari KIP-K di Universitas Padjadjaran ialah opsi tinggal di asrama selama satu tahun dengan harga yang jauh lebih murah dibanding harga kost standar. Bale Wilasa 1 menjadi tempat untuk perempuan sedangkan laki-laki berada di Bale Wilasa 3. Siapa sangka, manfaat inilah yang menjadi dasar pertama saya untuk mengenal lingkungan kampus lebih jauh. Sebagai seorang perantau,  saya memiliki waktu lebih untuk mengenal dan mencari tempat tinggal yang strategis setelah keluar dari asrama.

Memasuki pertengahan bulan September, asrama Bale Wilasa 1 dan 3 dibuka untuk registrasi. Hampir semua mahasiswa KIP-K menginginkan tinggal di asrama, membuka pikiran bahwa Bale Wilasa banyak diminati. Saya yang menjadi pendaftar bahkan sempat khawatir kalah saing. Imajinasi saya melayang kala melihat gambar bagusnya Bale Wilasa yang didapat dari mbah google hingga harapanku pun meninggi, “Saya harus masuk asrama”.

Sebelum itu, panitia Keluarga Bidikmisi (KABIM) Universitas Padjadjaran menerangkan mahasiswa KIP-K umumnya akan mendapatkan tempat tinggal (asrama) selama 1 tahun secara gratis. Mantap sudah rancangan kehidupan awal perantauan saya. Sampai akhirnya, panitia membawa persyaratan tambahan, salah satunya biaya yang harus dibayar oleh penghuni asrama. 200 ribu rupiah tertera dengan penulisan tebal, “Bagaimana bisa?” pikirku tidak terima. Padahal baru kemarin panitia KABIM mengatakan bahwa asrama untuk mahasiswa KIP-K gratis. 

Sebagai informasi, setidaknya pada tiga tahun terakhir, sampai dengan 2019, Bale Wilasa tidak dikenakan tarif apapun bagi mahasiswa Bidikmisi.

September menjadi bukti nyata mahasiswa KIP-K menginjakkan kaki ke dalam asrama. Masih tegak berdiri papan bertuliskan ‘Bale Wilasa 1’, menampilkan 4 bangunan yang masing-masing berlantai 5. Semuanya dicat kuning dan lantai pertama dibuat berkeramik. Sangat mempesona sampai pikiran saya liar memikirkan bentuk kamarnya nanti.

Beberapa meja berjejer rapi, dua kursi dibuat berhadapan tiap satu meja, langsung menggambarkan tempat untuk mahasiswa yang lolos seleksi melakukan registrasi. Ketika bukti pembayaran diserahkan, kunci kamar langsung terdengar saling bertabrakan satu sama lain. Saya mendapatkan kamar di gedung D, lantai dua. Setelah pintu terbuka, luar biasanya semua imajinasi dan ekspektasi yang saya miliki, semuanya binasa.

Lantai semen yang dilapisi karpet yang sudah sobek. Tidak ada jemuran, tidak ada lampu sama sekali. Lemari yang bagian atasnya sudah menghitam. Lantai belakang yang sudah sangat hitam, dan kamar mandi yang kusam nan kotor. Selama kurang lebih satu minggu, banyak sekali kejadian yang membuat saya kecewa dengan keadaan Bale Wilasa 1.

Air pun terkadang mati, dan ketika hidup akan sangat kotor (butuh 3-4 hari sampai air tersebut bersih kembali). Stopkontak yang berbunyi (konslet). Bahkan atap kamar mandi yang bocor, saya tidak tahu air jenis apa yang menetes menghujani lantai dan sesekali mengenai saya. Benar-benar tidak disangka.

Saya ingat awal mula dibentuknya grup baru, pesan pertama yang ketua pengurus sampaikan, “Jika ada permasalahan, silahkan langsung sampaikan di grup ini–”. Saat itu pun, ternyata banyak yang memberikan keluhannya, akan tetapi yang ditangani hanyalah hal-hal kecil. Seperti permasalahan listrik yang konslet, lampu yang mati, kran air yang bocor, dan sebagainya.

Enam bulan waktu tersisa untuk mahasiswa KIP-K bernaung di bawah atap Bale Wilasa 1. Kepengurusan dan penanggungjawab asrama pun berganti. Kabar baik datang. Kini, tarif yang dikenakan bagi penghuni turun menjadi 50 ribu per bulan. Namun, permasalahan yang sama terkait fasilitas masih tetap muncul, dan seperti biasa, permasalahan yang kecil akan diperbaiki, selebihnya, selalu hanya dijawab dengan klise, “menunggu kelanjutan dari pihak universitas”.

Apa terdapat diskriminasi?

Bale Wilasa 1 dan Bale Wilasa 3 yang khusus digunakan sebagai asrama KIP-K sempat membuat saya berpikir, “mengapa harus Bale Wilasa 1 dan 3?”. Pernyataan spontan pernah terucap dari salah satu penghuni asrama Bale Wilasa 3. Laki-laki yang berusaha menyampaikan kebenaran melalui pendapatnya yang demikian, “semakin kecil nomor asrama, maka semakin murah harganya.” 

Tidak ada yang salah persoalan harga dalam hal ini, justru terbilang sangat murah. Akan tetapi, teman saya lainnya berpendapat bahwa kondisi sebenarnya Bale Wilasa 3 hampir sama dengan Bale Wilasa 1. Dua gedung dengan cat kuning khasnya berdiri megah dari luar. Nyatanya, satu lantai di gedung B (lantai 3) sama sekali tidak digunakan karena kerusakan nya (tidak layak huni). Sejenak saya berpikir, pada awalnya asrama Bidikmisi atau KIP-K adalah Bale Wilasa 1 dan Bale Wilasa 2. Lantas, mengapa berpindah menjadi Bale Wilasa 3?

Sementara, Bale Wilasa 2 adalah asrama yang sangat bagus dan terawat. Ketika saya iseng bertanya, “mengapa asramanya tidak di Bale Wilasa 2 saja ya pak?–” dan dijawab, “mana boleh kalian tinggal di sini (Bale Wilasa 2), ini untuk mahasiswa dari luar–” Lah? Apakah pernyataan ini nyambung dengan pernyataan salah satu penghuni Bale Wilasa 3 tadi?

Teman saya dari Fakultas Peternakan bercerita. Ia mengeluh ketika saya bertanya tentang kenyamanan Bale Wilasa 3. Ia menjelaskan, kamar Bale Wilasa 3 memang lebih baik dari Bale Wilasa 1. Akan tetapi, tidak semua kamar dalam satu gedung bisa dikatakan layak huni. Ia bercerita mendapatkan kursi rusak ketika masuk ke kamarnya di lantai dua. Pernah ada berita mengenai air yang merembes ke luar, dan entah bagaimana kacaunya lantai 3 yang sampai dengan sekarang belum dilakukan perbaikan sehingga tentunya tidak berpenghuni. 

Sedikit mirip kasusnya, Bale Wilasa 1 di gedung A dan B, pada lantai empat dan lima juga awalnya tidak berpenghuni karena kerusakan yang sama. Atap yang bocor dan kondisi bangunan yang sangat memprihatinkan. Lantai dua saja tidak jarang mengeluh persoalan atap bocor, tidak terbayangkan separah apa lantai lima ketika hujan deras menghantam bangunan tua tersebut. Benar-benar kasus yang sama pada satu pengertian ‘asrama untuk mahasiswa KIP-K’. Ini sangat janggal, Bale Wilasa 2 (sangat terawat) yang awalnya merupakan tempat seharusnya mahasiswa KIP-K tinggal, dipindahkan menjadi Bale Wilasa 3, yang ternyata tidak begitu terawat.

Apakah mahasiswa KIP-K dipandang berbeda dari mahasiswa reguler? Padahal secara mata telanjang saja sangat terlihat, mahasiswa KIP-K atau bukan, adalah manusia. Apakah karena KIP-K dikaitkan dengan beasiswa kurang mampu, menyimpulkan bahwa mahasiswa KIP-K harus mendapatkan tempat yang berbeda? Menurut saya, semua mahasiswa berhak mendapatkan kesetaraan. Toh, mahasiswa KIP-K juga membayar UKT sesuai ketentuan dari pihak kampus. Lalu mengapa manfaat yang diberikan rasanya seperti tempat diskriminasi? Setidaknya, mahasiswa  KIP-K diberikan tempat yang layak huni dan terawat dengan baik fasilitasnya. Itu saja sudah cukup.

Sampai dengan sekarang, bangunan di Bale Wilasa 1, terutama gedung A dan B, saya rasa membutuhkan renovasi. Apakah menunggu untuk hancur dahulu supaya pembangunan gedung baru bisa dilakukan? Jadi sampai angkatan keberapa mahasiswa KIP-K merasakan problematika terkait asrama? Unpad sendiri sudah menuliskan tujuan awal disediakan asrama mahasiswa KIP-K adalah supaya mahasiswa bisa tenang dalam mengikuti pembelajaran, sedangkan kondisi asrama nya sendiri pun memprihatinkan. Jadi dibutuhkan suara untuk perubahan bisa terjadi, dan semoga suara ini bisa tersampaikan.


Penulis: Natau Lasniroha
Editor: Ridho Danu

Catatan Redaksi: Artikel opini ini disunting pada 15 Maret 2023, pukul 12:46 WIB, menambahkan kalimat baru (kalimat 3 dan 4) pada paragraf ke-11.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *