ETLE Mobile, Bukti Polisi Utamakan Uang daripada Keselamatan

Awal bulan ini, Hari Bhayangkara diperingati. Hari tersebut adalah hari peringatan ulang tahun Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Walau baru diperingati bulan ini, “hadiah” dari kepolisian telah dibagikan kepada masyarakat sejak bulan lalu atau bahkan beberapa bulan sebelumnya. Tentu saja, hadiah itu adalah surat konfirmasi tilang dari inovasi terbaru Polri yang terus menyebar ke berbagai wilayah, yaitu ETLE Mobile.

Electronic Traffic Law Enforcement atau ETLE sendiri merupakan sistem tilang yang dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan kamera statis atau CCTV yang terpasang di berbagai jalan raya. Pengendara roda dua atau roda empat yang terekam kamera melakukan pelanggaran lalu lintas akan diberikan surat konfirmasi tilang berisi bukti foto pelanggaran. Polri telah bekerja sama dengan Pos Indonesia dalam urusan pengantaran surat konfirmasi kepada pemilik kendaraan. Sistem ini sudah diterapkan bertahap secara nasional sejak Maret 2021 lalu.

Pelanggaran yang dikenai tilang elektronik ini ditetapkan sesuai dengan peraturan dalam UU No.22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pelanggaran tersebut, di antaranya melanggar rambu lalu lintas atau marka jalan, melawan arus, menerobos lampu merah, melebihi batas kecepatan maksimum, tidak menggunakan helm, tidak memakai sabuk pengaman, tidak menyalakan lampu saat siang hari bagi pengendara motor, menggunakan plat nomor palsu, berkendara sambil mengoperasikan ponsel, hingga mengangkut muatan berlebih/berboncengan lebih dari tiga orang.

Pada akhir bulan kemarin, warganet dibuat heboh dengan unggahan yang berisi surat konfirmasi tilang dengan foto pelanggaran di area persawahan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Publik sempat mengira adanya kamera CCTV di area sawah. Padahal, CCTV semestinya ditempatkan pada jalan utama tengah kota atau yang rawan kecelakaan, bukan masuk ke dalam perdesaan.

Menanggapi hal tersebut, Ditlantas Polda Jawa Tengah Kombes Pol. Agus Suryo Nugroho mengungkapkan bahwa foto tilang yang berlatar di persawahan tidak dipotret melalui CCTV, melainkan kamera yang dibawa oleh anggota polisi ketika berpatroli. Ini merupakan bagian dari sistem tilang elektronik berbasis mobile atau ETLE Mobile. Kepolisian juga menyebut bahwa lokasi pemotretan berada di jalan penghubung antar kabupaten yang kebetulan di sekitarnya area persawahan.

Bekerja Bagai Robot

Tanggapan kepolisian terkait viralnya foto surat konfirmasi tilang dengan bukti pelanggaran di area persawahan tersebut menyadarkan publik adanya sistem tilang terbaru, ETLE Mobile. Walau seolah sistem baru, tetapi jika dilihat dari data pemberitaan, ETLE Mobile ternyata sudah ada sejak Maret 2021. Hanya saja, wilayah penerapannya masih sebatas di Jakarta.

Sistem ETLE Mobile sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ETLE biasa. Satu-satunya yang membedakan keduanya adalah letak kameranya. Jika di ETLE biasa menggunakan kamera statis, pada ETLE Mobile ini kameranya bersifat dinamis atau dapat berpindah tempat. Hal yang membuat kamera dapat berpindah adalah gerak manusia, tepatnya polisi yang berpatroli. Kamera yang digunakan terpasang pada sebuah alat kecil layaknya ponsel, sehingga mudah untuk dibawa ke mana saja.

Tidak semua polisi bisa melakukan pemotretan pelanggaran, sistem ETLE Mobile hanya dapat dijalankan oleh polisi yang memenuhi kualifikasi tertentu saja. Selain dibawa oleh personel kepolisian, kamera juga diletakkan pada bagian mobil patroli. Mobil ini disebut mobil Integrated Capture Attitude Record (INCAR).

Polisi yang merekam kejadian pelanggaran tak banyak bicara atau bahkan benar-benar dilakukan secara diam. Hal ini, terbukti dari pengakuan pengendara motor yang fotonya di sekitar persawahan sempat viral. Pemotor asal Klaten tersebut sempat kaget ketika kurir pos tiba-tiba mengantarkan surat konfirmasi tilang kepadanya.

Perilaku dari polisi ini layaknya sebuah robot yang bergerak dengan kamera. Tak ada interaksi, hanya memotret dan mengirim gambarnya ke data pusat. Benar-benar menyerupai sebuah CCTV berjalan.

Omong Kosong Mengayomi

Sikap polisi dalam menjalankan sistem ETLE Mobile seolah menghilangkan akal dan kemanusiaan. Jika kita beranggapan tujuan penilangan untuk melindungi masyarakat, itu salah besar. Nyatanya, tugas polisi hanya sampai pada pemotretan untuk surat tilang. Setelahnya, mereka tidak peduli atas tindakan pengendara. Jika tindakan seperti tidak menggunakan helm itu melanggar aturan karena berbahaya bagi pengendara, nyatanya polisi membiarkan saja. Hal ini, membuat seakan sebuah foto untuk keperluan tilang lebih penting dari keselamatan seseorang.

Hal yang paling mendekati dari tujuan tilang adalah untuk efek jera. Namun, apa jadinya jika efek jera itu datang lebih awal? Bukan tentang membayar sanksi tilang, tetapi bagaimana jika pengendara mengalami kecelakaan tak lama ketika polisi melakukan pemotretan? Tentu, kita akan kembali menyalahkan si pengendara. Namun, bagaimana peran kepolisian di situ? Nol besar! Sudah jelas mengetahui pelanggaran itu berbahaya, tetapi malah membiarkan saja.

Dalam penerapan sistem ETLE ini, slogan polisi mengayomi masyarakat hanyalah omong kosong belaka. Sama manusianya, tetapi bersikap tak peduli dalam kenyataannya. ETLE Mobile merupakan inovasi yang patut diapresiasi, tetapi diperlukan solusi agar polisi tetap menjadi pengayom masyarakat. Kepolisian yang hidup di tengah masyarakat selayaknya bersahabat, dekat dan penuh cinta, bukan mementingkan uang semata. Selamat Hari Bhayangkara!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *