home Review Ziarah: Cinta dan Kesetiaan

Ziarah: Cinta dan Kesetiaan

facebooktwittergoogle_plusmailfacebooktwittergoogle_plusmail

Keinginan menjadi setia boleh jadi menjadi barang langka dewasa ini. Banyak orang menganggap bahwa kesetiaan merupakan barang kuno yang sulit dicari. Hiruk pikuk modernisasi seakan mulai menghilangkan istilah setia dalam kamus kehidupan. Cinta dan kesetiaan bukanlah suatu hal yang mudah dimiliki dalam suatu hubungan. Perlu prinsip yang kuat dalam menanamkan keduanya untuk menciptakan hubungan yang kekal. Rasa kehilangan yang dirasakan Mbah Sri kepada mendiang sang suami yang gugur di medan perang menjadi bukti bahwa cinta dan kesetiaan itu benar-benar ada.

Ziarah dengan gamblang mengangkat perjalanan Mbah Sri, seorang nenek berusia 95 tahun, yang menyusuri lembah, gunung, dan bukit dan berbagai bentang alam di pelosok desa, demi menemukan letak sebenarnya dari makam sang suami yang pergi meninggalkannya ketika Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948.

Berpuluh-puluh tahun berlalu, Mbah Sri menjanda hingga masa tuanya. Kerabat, saudara, dan sahabat-sahabat terbaiknya mati satu persatu. Mereka dimakamkan disamping suami dan isteri mereka. Mbah Sri pun memiliki harapan yang sama, ingin tetap berdua bersama Mbah Prawiro sekalipun di dalam tanah. Namun sayang seribu sayang, ia tak tahu menahu dimana makam sang suami berada. Demi mewujudkan impiannya itu, Mbah Sri memutuskan untuk mencari makam sang suami.

Pada suatu sore, Mbah Sri bertemu dengan seorang bekas tentara yang mengenal sosok Prawiro, suaminya. Veteran itu memberikan petunjuk dimana sebenarnya Mbah Prawiro ditembak dan dimakamkan. Berbekal informasi yang hanya sedikit, Mbah Sri semakin menggebu untuk mencari keberadaan makam suaminya itu.

Dalam perjalanan panjangnya itu, Mbah Sri bertemu dengan orang-orang yang turut serta memperjuangkan tanahnya bahkan juga berdialog dengan orang-orang yang tersingkir dari tanahnya sendiri. Di situlah perjalanan Mbah Sri tidak hanya semata-mata perjalanan menyusuri perjalanan cintanya, namun juga perjalanan menyusuri luka-luka yang dialami bangsanya.

Film Ziarah memang menjadi film yang cukup dekat dengan kehidupan kita sebenarnya berkat pemilihan pemain-pemain dalam film ini. Film ini tidak seperti film Indonesia lainnya yang menjual aktor dan aktris, namun film ini menjual jalan cerita yang menarik dan berbeda. Beberapa pemain memang memiliki latar belakang seni, seperti pemain wayang orang dan pemain teater. Namun tidak dengan pemeran utama film ini, Mbah Sri, yang diperankan oleh Mbah Ponco Sutiyem, dimana ia tidak sama sekali mempunya kemampuan di bidang peran. Ini merupakan suatu kelebihan yang dimiliki oleh film Ziarah.

Film besutan Sutradara BW Putra Negara ini mampu menuangkan ide cerita dan gagasan menjadi sebuah cerita yang menarik, yang mampu membawa penonton bermain emosi, dan dikemas secara menarik dengan bahasa, gambar, dan kesan dramatik yang epik.

Untuk para penikmat film yang kerap meminta sesuatu yang berbeda dari film Indonesia, cobalah untuk menonton film ini. Drama yang penceritaannya berbeda daripada film lain ini benar-benar akan menyentuh kita tentang berdamai dengan masa lalu, dengan kenangan tentang orang tercinta yang kita simpan erat-erat. Film ini juga berbicara tentang sejarah. Kita tidak dibawa untuk mengorek kepahitan masa lalu, namun diajak untuk belajar dari sejarah, dan mengambil beribu pilihan untuk hidup lebih baik.

(Muhammad Fajar Imani)

Editor: Gerhan Zinadine Ahmad

The following two tabs change content below.