home Review Their Finest, Kisah Pembuatan Film Propaganda Penuh Drama

Their Finest, Kisah Pembuatan Film Propaganda Penuh Drama

facebooktwittergoogle_plusmailfacebooktwittergoogle_plusmail

“I’m not afraid of the dark

Are you? (Are you?) Are you? (Are you?)

Gee, but it’s nice in the dark

With the moon and you

 

When we go strolling in the park at night

The darkness is a boon

Who cares if we’re without a light?

They can’t black out the moon”

 

Konflik tidak pernah lepas dalam kehidupan manusia. Sejak awal manusia hadir di bumi, konflik, kekerasan, dan perang sudah jadi sebuah rutinitas dengan periodisasi yang tidak tentu. Walau begitu kita sepakat, kekerasan dan perang sebisa mungkin kita hindari. Atas nama kemanusiaan maupun logika, perang adalah sebuah tindakan yang menghancurkan kehidupan manusia dan menghasilkan kesia-siaan bagi masyarakat awam di kedua belah pihak.

Meski begitu, manusia memang unik. Imajinasi manusia kerap bisa membuat sebuah hal, bahkan yang terburuk seperti perang, menjadi sebuah hal yang lucu atau menginsipirasi. Perang dimunculkan sebagai sebuah kejadian yang mengandung peristiwa komedi dalam film tahun 1926, The General. Kali lain, perang memunculkan seorang pahlawan kemanusiaan yang menginspirasi, seperti kisah dalam film Hackshaw Ridge.

Dan kemudian ada pula yang mengandung keduanya, mengandung humor dan menginspirasi. Film Their Finest bisa menjadi salah satu contohnya. Dalam kasus Their Finest, romansa hadir pula menjadi bumbu cerita.

Film Their Finest adalah film yang diadaptasi dari buku berjudul “Their Finest Hour and a Half” karangan Lissa Evans. Adaptasi ini mengubah sebagian besar plot, menghilangkan dan memasukkan karakter-karakter, tetapi tetap mempertahankan premis dan latar cerita.

Film Their Finest sendiri mengambil latar London pada masa Perang Dunia II. Tokoh utama cerita adalah seorang perempuan bernama Catrin Cole. Ia merupakan seorang penulis naskah film yang baru masuk dalam dunia pembuatan film. Proyek-proyek film yang melibatkan Catrin adalah film yang digarap oleh Kementrian Informasi Inggris. Film itu ditujukan untuk mengangkat semangat masyarakat untuk menghadapi dan mendukung perang.

Pada masa perang, selain lewat radio, film memang menjadi sebuah media propaganda pemerintah. Film yang awalnya dibuat sebagai hiburan dimasuki pula oleh kepentingan politik.

Dalam film ini selain Catrin, ada pula Tom Buckley, penulis naskah senior dan Ambrose Hilliard, aktor piawai yang terjebak pada kepopuleran di masa lalu. Mereka dipertemukan dalam sebuah proyek pembuatan film berjudul “The Nancy Starling”. Film yang mereka buat menceritakan aksi dua perempuan kembar bersaudara serta paman mereka untuk menyelamatkan tentara sekutu yang terjebak di Dunkirk, Prancis, sebuah parodi dari peristiwa sebenarnya yang dinamakan Penyelamatan Dunkirk.

Cerita dalam film ini kentara sekali mengusung nilai-nilai feminisme yang kental. Sejak awal, hal itu diperlihatkan pada berbagai perlakuan yang diterima oleh Catrin. Diskriminasi pada upah dan tingkah (calon) suami yang merasa tersaingi dalam memberikan nafkah memperlihatkan hal itu.

“They are girls! Here girls don’t want to be the hero. They want to have the hero. They want to have by him!”

Nilai-nilai feminisme yang lain juga terlihat pada kehadiran berbagai karakter cerita perempuan. Itu terutama dirasakan ketika melihat kehadiran atasan Catrin, Phyl Moore.

Narasi feminisme itu sendiri mengalir dengan cukup halus, terutama setelah melewati bagian awal film. Mulai dari pertengahan film menuju akhir, bahkan sosok perempuan tangguh itu digambarkan cenderung lebih realistis. Tragedi dan cobaan yang muncul, baik dalam kehidupan pribadi Catrin maupun dalam kehidupan kerjanya cukup mengguncang. Dan itu dapat dilalui olehnya. Maka, bila menonton film ini, sulit untuk tidak kagum pada sosok Catrin ini.

Namun, entah bagaimana narasi itu malah menjadi antiklimaks di bagian akhir. Adegan menonton film “The Nancy Starling” di bioskop menyesatkan perhatian dari alur utama film. Walau sekedar potongan-potongan film, drama dan humor yang diberikan olehnya cukup besar dan hampir menyamai dosis drama dalam film secara keseluruhan. Bahkan, saya hampir melupakan plot twist yang dimunculkan sebelumnya. Mungkin itu karena ditampilkan pula ekspresi-ekspresi wajah penonton film.

Mengenai romansa, film ini memberikan memberikan porsi yang cukup untuk unsur itu. Walau formula alur romansa yang ditawarkan begitu umum dan klise, itu cukup baik menjadi bumbu cerita. Kisah romansa antara Catrin dan Tom terutama menonjol ketika Catrin membayangkan sebuah adegan alternatif yang diharapkannya terjadi pada kehidupan nyata.

Akhirnya, film ini berhasil menampilkan sebuah drama yang baik. Sisipan inspirasi dan humornya pun memberi nilai tambah. Bila liburan ini Anda membutuhkan sebuah hiburan yang emosional, film ini nampaknya cocok. Jangan lupa, film ini adalah tentang kerja-kerja pembuatan film. Berbagai dinamika pembuatan film yang disisipkan dalam kisah membuat film ini makin menarik untuk ditonton

(Ahmad Zuhhad)

Editor: Gerhan Zinadine Ahmad

The following two tabs change content below.