home Headlines, Kampus Sengkarut Dana Hadiah Forsi 2016

Sengkarut Dana Hadiah Forsi 2016

facebooktwittergoogle_plusmailfacebooktwittergoogle_plusmail
Tim Sepak Bola Fikom berhasil keluar sebagai juara pertama dalam kompetisi sepak bola Forsi 2016 yang diadakan di GOR Jati, Unpad, Jatinangor (13/10/2016). Namun, dana hadiah dari kemenangan itu sampai saat ini belum juga mereka terima lantaran ada permasalahan dalam proses pencairannya. Foto oleh: Divisi Pubdok Forsi 2016.

Festival Olahraga dan Seni (Forsi) notabenenya adalah salah satu acara tahunan terbesar di ranah Universitas Padjadjaran (Unpad). Namun, gelaran Forsi terakhir yang berlangsung pada Oktober 2016 lalu, masih menyisakan masalah. Dana hadiah para pemenang lomba Forsi 2016 hingga kini belum ada satupun yang turun. Padahal, Forsi akan kembali digelar beberapa bulan lagi.

Maka dari itu, Panitia Forsi 2016 berinisiatif mengadakan forum untuk membahas masalah ini dengan perwakilan pemenang lomba Forsi 2016 di Sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM Kema) Unpad, pada Selasa (11/4). Dari total 700-an pemenang lomba, hanya belasan yang hadir pada sore itu.

“Aku nggak bisa toleransi lagi lah! Sudah terlambat kalau kalian minta toleransi, kami kemarin-kemarin sudah ngikutin sistem kalian,” ujar Yudha menggebu-gebu di hadapan peserta forum. Mahasiswa Fakultas Teknik Geologi angkatan 2013 itu merupakan pemenang lomba pidato di Forsi 2016.

Kekecewaan yang sama juga diutarakan oleh Justi Tama Hutagalung, pemenang lomba lari Forsi 2016. Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2013 itu tidak melihat adanya usaha lebih dari panitia untuk memberi kejelasan soal masalah yang mereka hadapi sebelum digelarnya forum ini.

“Pemenang dapet piala doang, abis itu udah. Selanjutnya nggak ada pemberitahuan lanjutan tentang uang hadiah. Bukan saya ngejar uangnya, tapi kami juga butuh kejelasan di sini. Kalau apresiasi melalui hadiah terhambat, maka sampaikanlah. Kasih kami kejelasan dulu masalahnya apa,” keluhnya.

Di sana, panitia menjelaskan sekaligus menjawab satu persatu pertanyaan dan keluhan yang disampaikan para pemenang lomba. Ketua Pelaksana Forsi 2016 Adrian Rizky menjelaskan bahwa pencairan dana ini terus tertunda karena memakan proses yang lama dari pihak rektorat. Meski begitu, ia mengaku panitia sudah berkali-kali ke rektorat untuk mempertanyakan hal ini.

Ketika disinggung pertanyaan uang pendaftaran dkemanakan, Adrian mengatakan bahwa itu semua sudah dialokasikan untuk biaya operasional seperti membayar juri, wasit, dan lain-lain.

Langit mulai gelap. Adzan maghrib yang berkumandang dari Masjid Raya Unpad sudah terdengar. Seraya dengan itu, forum pun dibubarkan. Forum tersebut hanya menghasilkan janji pertanggungjawaban Adrian Rizky yang akan terus mengabarkan keadaan terkini dari rektorat soal pencairan dana ini.

***

Pada hari yang sama, sebelum mengikuti jalannya forum komunikasi antara Panita Forsi 2016 dan perwakilan pemenang lomba, dJATINANGOR menemui Ikhwan Hardiman, Kepala Bidang Minat dan Bakat BEM Purwadaksi. Bidang Minat dan Bakat merupakan divisi yang bertanggung jawab terhadap acara Forsi setiap tahunnya.

Dalam pertemuan itu, Ikhwan yang saat itu memakai setelan kaos dan celana pendek menjelaskan secara runut soal permasalahan dana hadiah Forsi 2016. Ia mengatakan bahwa adanya pergantian pejabat di Bagian Kemahasiswaan Rektorat pada November lalu menjadi salah satu alasan mengapa dana hadiah itu tertunda.

“Pokoknya waktu pertama beres, awal bulan November, kami (ia dan panitia) mulai ke atas (rektorat) buat nanyain perihal hadiah. Tapi mereka minta semacam penyesuaian karena ada pergantian pejabat di sana, salah satunya orang yang ngurus Forsi ini,” terang lelaki berambut gondrong itu.

Ikhwan dan perwakilan dari Panitia Forsi 2016 merencanakan untuk kembali lagi ke rektorat pada akhir November. Namun, di akhir November itu muncul pernyataan dari Rektor Unpad Tri Hanggono kepada Navajo, Ketua BEM tahun lalu bahwa pemenang Forsi tidak akan diberi hadiah berupa uang tunai, tetapi diberi beasiswa berupa pemotongan Uang Kuliah Tunggal (UKT).

“Memberi hadiah dalam bentuk uang tunai itu ‘nggak mendidik’ kata Pak Tri. Jadi, solusinya nanti nama-nama pemenang dicatat siapa saja, terus dikasih ke rektorat supaya hadiahnya bisa disesuaikan dengan UKT-nya. Misalnya, UKT dia dua juta terus dia dapat hadiah Rp 500.000, berarti nanti UKT-nya dikurangi jadi 1,5 juta,” paparnya.

Singkat cerita, pada Februari lalu, tepatnya beberapa hari sebelum masa herregistrasi semester genap, Ikhwan beserta panitia kembali ke Bagian Kemahasiswaan dan Pendidikan untuk menanyakan hal tersebut. Namun, sampai saat itu pihak Kemahasiswaan dan Pendidikan belum memprosesnya karena belum ada verifikasi Surat Keputusan (SK) dari Rektor. Para pemenang lomba akhirnya harus membayar UKT semester genap masing-masing seperti biasa tanpa ada potongan.

dJATINANGOR kemudian mencoba mengonfirmasi hal ini ke pihak rektorat sehari setelah forum dilaksanakan (12/4). Kami menemui Irma Nuraini, staf bagian Pendidikan yang juga mengurus hal ini sejak adanya kebijakan Rektor mengenai hadiah Forsi yang dialihkan ke UKT. Siang itu, dJATINANGOR datang ke sana bersama Ketua Pelaksana Forsi 2016, Adrian Rizky.

“Di SK-nya memang harusnya dipotong dari DPP (Dana Pengembangan Pendidikan) semester genap. Tapi karena kenyataannya prosesnya lama, jadi harus bersinggungan sama tenggat waktu herregistrasi,” kata Irma ketika ditemui di ruangannya.

“Padahal kalau menurut saya, praktisnya kan, ya udah, dicairin saja. Tapi, pimpinan di sini maunya nggak seperti itu. Jadi, rencananya akan dipotong ke semester ganjil yang akan datang,” tambahnya.

Pertanyaan lain kemudian mengemuka. “Nah, yang jadi permasalahan, bagaimana dengan pemenang yang tahun ini akan lulus, Bu?” tanya Adrian. Mereka yang akan lulus tahun ini tentu tidak perlu dan tidak akan membayar UKT lagi di semester ganjil yang akan datang.

Menanggapi pertanyaan itu, Irma menjelaskan bahwa bagi yang akan lulus pada tahun ini akan langsung diberi uang tunai sejumlah dengan nominal yang dimenanginya. “Tapi di situ menurut saya aneh, yang lulus boleh dikasih uang tunai, sedangkan yang belum lulus nggak boleh, apa bedanya? Pemberlakuannya kan sama,” ujarnya bingung.

Meski begitu, Irma masih belum bisa memberitahu tanggal pastinya kapan uang itu akan turun. Ia mengatakan bahwa pihaknya masih akan merundingkan hal ini bersama pihak Kemahasiswaan yang saat itu sedang berada di luar dan tidak bisa kami temui.

Reaksi Mahasiswa

Kebijakan dari Tri Hanggono, Rektor Unpad yang menginginkan agar dana hadiah Forsi 2016 tidak berupa uang tunai tetapi berupa pemotongan UKT, pada kenyataannya menemui banyak permasalahan. Mulai dari prosesnya yang lama, tidak adanya kejelasan dari panitia, hingga seperti apa kelanjutannya bagi pemenang yang lulus tahun ini. Mahasiswa pun menanggapi hal itu dengan beragam reaksi. Ada yang pro, ada pula yang kontra.

Feriza Ali, mahasiswa Fakultas Hukum yang memenangkan lomba lari 5K Forsi 2016, merupakan salah satu orang yang pro terhadap kebijakan dana hadiah Forsi dari Rektor itu. “Soalnya, duitnya jelas, digunakan buat manfaat, bukan hura-hura doang,” tuturnya.

Senada dengan Feriza Ali, Didi, Mahasiswi Fakultas Pertanian angkatan 2015 juga menyatakan dukungannya terhadap kebijakan itu. Ia yang pada Forsi kemarin menjadi pemenang lomba jingle itu mengaku tidak terlalu mempermasalahkan bila dana hadiahnya dialihkan ke UKT.

“Aku pribadi sih fine-fine aja, soalnya toh duitnya buat kita-kita juga kan?,” akunya via fitur percakapan di LINE. Meski demikian, Didi menyatakan kecewa terhadap panitia terkait pemberian informasi tentang dana hadiah ini. Ia menyebut bahwa kerja dari panitia “lelet dan bertele-tele”.

Bertentangan dengan kedua pernyataan Feriza dan Didi, Yusrin Zata, Manajer dari Tim Sepak Bola Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) yang memenangkan kompetisi sepak bola di Forsi 2016, merasa kebijakan Rektor terkait hadiah Forsi ini “tidak masuk akal”.

“Kalau menurut gue sih, aneh. Ini kan lomba non akademik ya, namanya saja Festival Olahraga dan Seni, kenapa hadiahnya dimasukkan ke UKT? Udah gitu ini juga kan salah satu program kerja BEM, harusnya udah ada dong dananya,” kata mahasiswi Fikom angkatan 2012 itu.

Manajer Sepak Bola Fikom yang akrab dipanggil Tata itu ternyata akan segera wisuda tahun ini. Ia pun memberikan tanggapannya terkait sistem pencairan dana yang berbenturan dengan kelulusannya. “Saking lamanya (proses pencairan), sebenernya gue udah lupa (akan hadiahnya). Tapi bakal gue ambil sih (uangnya), nantinya kan juga bisa buat uang kas tim,” jawabnya.

Senada dengan Tata, Justi Tama Hutagalung juga mengkritisi kebijakan ini. “Kalau uangnya besar, dua juta atau tiga juta, itu nggak apa-apa masuk ke UKT. Kalau cuma dua ratus tiga-ratus ribu, ngapain? Bukannya saya sombong dari segi materi, tapi kalau dari UKT empat juta dipotong tiga ratus ribu, berapa sisanya? Sama saja mending kita bayar total empat juta,” ungkapnya ketika ditemui setelah forum komunikasi yang diadakan pada Selasa (11/4) itu.

Di sisi lain, imbas dari lamanya proses pencairan dana yang dilakukan pihak rektorat juga turut dirasakan panitia. Ikhwan bercerita bahwa pihak panitia beberapa kali pernah dituduh menggelapkan dana hadiah dari rektorat.

“Ke saya aja ada orang yang  tiba-tiba nge-LINE gini, ‘Saya tahu Kang, kalau Akang megang duit delapan juta dari rektorat.’ Ada yang begitu, satu orang. Kalau yang lain-lain nggak nyebutin jumlahnya berapa,” akunya.

Ikhwan pun tidak tinggal diam ketika difitnah seperti itu.“Ya sudah saya bilang, ‘Oh iya Teh, kalau gitu saya mau atuh lihat buktinya. Atau, nanti kita ke ATM sama-sama, kita lihat saldo di ATM saya ada berapa’”

Menemui Titik Terang

Pada Kamis (20/4) pukul 10.10 WIB, lewat grup percakapan LINE yang dinamakan “Forkom Apresiasi”, Adrian Rizky menyampaikan kabar terkini soal dana hadiah itu. Ia memberitahukan bahwa sudah ada keputusan dari pihak rektorat, tepatnya Bagian Kemahasiswaan dan Pendidikan yang menyatakan hadiah bagi para pemenang yang semester depan masih aktif berkuliah, sudah pasti akan dimasukkan ke UKT semeseter ganjil yang akan datang.

Sedangkan, bagi pemenang yang sudah lulus, uangnya akan ditransfer dari rekening rektorat ke rekening masing-masing. Hal ini memerlukan beberapa persyaratan seperti fotokopi nomor rekening, fotokopi halaman depan buku tabungan, dan fotokopi Surat Keterangan Lulus atau Kartu Rencana Studi (KRS) terakhir dengan skripsi yang tercantum di KRS bagi yang berencana lulus pada Agustus nanti. Semuanya diserahkan ke panitia pada Jumat (21/4) di Brooklyn, Unpad. Nantinya, panitia akan menyerahkannya ke pihak rektorat yang berwenang.

Hal ini juga berlaku bagi pemenang yang sudah sidang skripsi dan sedang menjalani program keprofesian, sedangkan bagi pemenang yang terdaftar dalam bidik misi atau yang UKT-nya nol rupiah hanya perlu mengumpulkan fotokopi buku tabungan halaman depan.

Irma Nuraini pun ketika ditemui di ruangannya pada Rabu (12/4) lalu, mengiyakan bahwa SK perihal dana hadiah Forsi 2016 sudah diverifikasi oleh Rektor.

Selain itu, Adrian juga mengunggah berkas berisi daftar pemenang beserta nominal hadiah yang akan didapat. Ia mengaku bahwa daftar nominal hadiah untuk para pemenang itu sudah diajukan dan disetujui oleh pihak Kemahasiswaan dan Pendidikan Rektorat Unpad.

Kabar tersebut langsung disambut dengan antusias oleh para perwakilan pemenang lomba Forsi 2016 yang tergabung di grup. Ucapan “Terima kasih banyak, Kang” yang disertai emotikon senyum dan ucapan serupa lainnya dilontarkan oleh beberapa anggota grup sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja panitia.

(Gerhan Zinadine Ahmad | Ananda Putri)

Editor: Lia Elita

The following two tabs change content below.