home Feature, Inspirasi Peraih Runner-up IVED 2017: Berprestasi di Pengalaman Pertama

Peraih Runner-up IVED 2017: Berprestasi di Pengalaman Pertama

facebooktwittergoogle_plusmailfacebooktwittergoogle_plusmail
Siti Rochmah Aga Desyana, Giovanni Nickson, Sarah Aurelia (ki-ka) peraih runner up kategori novice pada IVED 2017 yang diadakan di Universitas Sanata Dharma, Selasa (17/1). Foto: Dokumentasi ESU

 

Beberapa wakil mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) melalui Unit Kegiatan Mahasiswa English Speaking Union (ESU) telah menorehkan prestasi pada tingkat nasional di ajang Indonesian Varsities English Debate (IVED) yang diiadakan pada 13-17 Januari 2017 di Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta.

IVED merupakan salah satu lomba debat terbesar di Indonesia. Kompetisi ini diikuti 40 universitas yang berlomba untuk main competition dan 21 universitas untuk novice competition. Beberapa di antaranya ialah Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Univesitas Pelita Harapan, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Padjadjaran.

ESU Unpad mengirim dua tim yaitu tim Unpad A dan Unpad B. Tim Unpad A diwakili oleh Rita Nurhasanah (FISIP), Muhamad Fadilah (FEB), dan Nabila Balkis (Fisip), sedangkan tim Unpad B diwakili oleh Giovanni Nickson (Fikom), Sarah Aurelia (Fapsi), dan Desyana (FH).

Selain itu, ESU Unpad juga mengirimkan perwakilan N1 (calon adjudikator atau juri). Tim Unpad A diwakili oleh Fahmi Rizki dan tim Unpad B oleh Feysal Fathur (Fisip).

Kompetisi ini telah diikuti dengan baik oleh perwakilan dari Unpad, khususnya tim Unpad B. Hal tersebut dapat dilihat dari pencapaian akhir mereka yang mampu meraih posisi runner up di kategori novice competition (pendatang baru).

Giovanni Nickson atau Gio yang merupakan salah satu wakil debat tim Unpad B menceritakan mengenai pertandingan yang diikutinya ketika ditemui di sebuah kafe di Jalan Riau, Bandung, pada Jumat (20/1/2017) lalu.

Gio mengaku walaupun hanya menang di kelas novice (pendatang baru), tapi bukan berarti kualitas mereka berbeda dengan kelas main, “Sebenernya yang membuat main dan novice sama itu ada di preliminary round. Selama enam round (di preliminary) itu tetep ngelawan tim-tim yang main. Cuma sistem perolehannya yang nge-break itu akan beda,” jelasnya. Gio dan timnya harus melalui tahapan yang ketat dengan melalui enam tahap preliminary, octo final, quarter final, dan grand final.

Gio juga menceritakan mengenai persiapannya sebelum kompetisi, “Kami latihan sudah semenjak September atau Oktober gitu. Jadi makanya dulu sering bolak-balik ITB, (Unpad) Jatinangor sama (Unpad) Dipati Ukur. Di sana kami bisa latihan seminggu dua kali atau seminggu tiga kali.” Seperti yang diketahui, Unpad memiliki dua kampus untuk S1 sehingga mereka harus bolak-balik dari Jatinangor ke Dipati Ukur karena pelatihan ESU dan beberapa dari mereka ada yang berada di sana.

“Latihannya capek banget kalau ke ITB itu sampe jam sebelas malem baru sampe Jatinangor. Dan itu kayak two times per week. Belum diitung sama latihan di sekre,” tambah Gio.

Untuk mengikuti perlombaan IVED Gio mengungkapkan biaya yang dikeluarkan sebesar delapan ratus ribu hanya untuk biaya makan dan penginapan selama lima hari, belum termasuk biaya transportasi dan kebutuhan lain. Semua itu ditanggung sendiri oleh tiap perwakilan yang mengikuti perlombaan tersebut.

Untungnya, perjuangan mereka tidak sia-sia. Pada 17 Januari 2017, tim Unpad B melaju ke grand final dan meraih posisi runner up untuk lomba dengan keketatan setingkat IVED.

Mengetahui timnya masuk grand final, Gio mengaku terkejut karena ini juga merupakan prestasi perdana ESU hingga masuk ke grand final di kompetisi IVED. “Sebenernya gak nyangka. Dan kita masuk delapan besar, peringkat kedua, padahal awalnya gak masuk. Terus kayak kami tuh tiap ronde menang, sampe final itu kaget-kaget gitu loh.  Karena tim Unpad A kan gak lolos ke 16 besar. Jadi intinya Unpad B itu last hope of winning,” ungkapnya.

Berkat motivasi yang didapatkan, apa yang mereka harapkan terwujud, “Kita udah ngalahin 19 tim. Banyak kan yang mikir novice itu pemula, tapi ada salah satu senior yang udah jago banget lomba bilang the debate was so good, it should be put in main category. Dan dia juga support kita banget,” ungkap Gio bahagia dengan apresiasi yang telah mereka dapatkan.

Di sisi lain, Sarah wakil lain tim Unpad B mengungkapkan mengenai mosi yang diperlombakan, “Kemaren tuh tentang ekonomi, internasional, sama psychiatric health. Ada juga tentang education dan feminist movement.”

Sarah juga mengungkapkan bahwa, “Debat itu selalu memberi kejutan, menambah relasi, dan bikin mau muntah kalo mosinya susah.” Namun, mereka dapat membawakan alur debat dengan baik. Pasalnya kedua tim memang  sudah mempersiapkan diri dengan matang secara intensif untuk mengahadapi kompetisi ini.

“Kami udah dilatih selama dua bulan mempersiapkan semuanya mulai dari latihan debat, latihan berbagai motion, nyusun argmen, dan segala macemnya,” terangnya.

Saat ditanya apa dorongan yang memacu semangat tim agar mampu memberikan yang terbaik, Sarah menjawab,“Motivasi untuk menang adalah biar kami bertiga bisa ikut kategori main dan dikenal sama komunitas debat lainnya.”

Sarah juga bersyukur karena telah banyak pihak yang membantu dan mendukung timnya, “Banyak pihak yang mendukung. Di-support sama ESU banget. Di-support sama tim Unpad A juga,” aku mahasiswi Fakultas Psikologi Unpad tersebut.

Baik Gio maupun Sarah mengatakan bahwa kendalanya berada pada prapertandingan. Seperti masalah internal yang berkaitan dengan penentuan perwakilan debat. Namun, tak ada masalah berarti yang mereka hadapi dari pralomba hingga pascalomba lantaran bukan kali ini saja mereka mengikuti perlombaan.

Meski kecewa tidak bisa mempersembahkan gelar juara, Sarah tetap bangga bisa keluar sebagai runner up, mengingat Unpad belum pernah masuk grand final di kedua kategori. “Overall, gak nyangka sih. Dan seneng juga, jadi tau apa yang harus ditingkatkan, jadi semangat ikut debat lagi,” tutup Sarah.

 

(Yuviniar Ekawati)

Editor: Gerhan Zinadine Ahmad

The following two tabs change content below.