home Feature, Headlines, Kampus Bapak Datang, Bapak Bicara, Bapak Senang

Bapak Datang, Bapak Bicara, Bapak Senang

facebooktwittergoogle_plusmailfacebooktwittergoogle_plusmail
Dalam peringatan 2 tahun kepemimpinan Rektor Tri Hanggono, BEM Kema Unpad menggelar audiensi yang mempertemukan Tri Hanggono dengan mahasiswa. Setelah pertemuan pada Rabu (19/4) siang ini, akan diadakan lagi acara serupa pada Sabtu (22/4). Foto: Nadhen Ivan

Waktu menunjukkan pukul 13.40. Rabu (19/4) siang itu, panas terik matahari yang menyengat kulit hanya mampu sedikit ditepis oleh atap Bale Pabukon Unpad. Ketiadaan alat pendingin ruangan di gedung itu pun membuat suasana di dalamnya terasa gerah. Namun, ratusan mahasiswa yang berkumpul di sana tidak merasa jera. Untuk menghilangkan rasa gerah, sebagian mereka akhirnya memilih menunggu di dekat pintu Bale Pabukon sambil mengobrol satu sama lain.

Para mahasiswa itu sedang menunggu “bapak”-nya. Bapak yang dimaksud adalah Rektor Unpad Tri Hanggono.  Bila sesuai jadwal, Tri Hanggono harusnya sudah hadir pukul 12.00. Namun, sampai saat itu, ia tak kunjung datang jua. Berkali-kali pembawa acara “Satu Hari Bersama Bapak” itu berusaha mengulur waktu dengan menyampaikan beberapa informasi berkaitan dengan perayaan dua tahun dilantiknya Tri Hanggono. Acara itu memang dirancang oleh BEM Kema Unpad sebagai forum penyampaian aspirasi mahasiswa kepada Rektor Unpad yang dilantik pada 13 April dua tahun lalu.

Sekitar pukul 14.00 sebuah mobil berwarna putih masuk ke pelataran Bale Pabukon. Menduga kendaraan itu adalah kendaraan Tri Hanggono, para mahasiswa di teras gedung pun masuk sambil menyampaikan informasi itu ke teman-temannya.

“Rektor datang! Rektor datang! Ayo masuk!” seru seseorang.

Ternyata benar, sang bapak sudah datang. Ia kemudian langsung diarahkan oleh Presiden BEM Kema Unpad Novri Firmansyah ke panggung yang telah disediakan. Di panggung itu, Tri Hanggono duduk bersebelahan dengan Reiza Dienaputra, Direktur Pendidikan dan Kemahasiswaan yang sudah terlebih dahulu datang. Mereka duduk menghadap ke arah para mahasiswa yang duduk lesehan di atas karpet yang disediakan oleh panitia acara. Ketika itu, Tri Hanggono terlihat tegang. Kedua tangannya diIetakkan ke paha kiri dan terus begitu hingga beberapa lama. Berbeda dengan Tri, Reiza telihat lebih tenang. Sesekali ia memainkan layar telepon genggamnya.

Acara akhirnya dimulai. Beberapa agenda seremonial, seperti pembacaan Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Unpad dilakukan terlebih dahulu. dJATINANGOR sempat mendengar seorang peserta mengeluh karena acara yang sudah ngaret harus diisi agenda seremonial dulu.

Setelah Himne Unpad dinyanyikan oleh para hadirin, Novri Firmansyah pun maju ke depan. Sebagai pembukaan acara, ia memaparkan hasil survei kinerja Tri Hanggono menurut mahasiswa Unpad dan nota kesepahaman antara Kema Unpad dan calon Rektor Unpad 2015-2019 saat proses pemilihan rektor yang lalu. Terakhir, ia menyebutkan tujuh poin sikap Kema Unpad mengenai kinerja Tri Hanggono yang akan dibicarakan pada pertemuan itu.

Infografis: Zuhhad A. dan Piktochart

Setelah pembukaan acara oleh Novri, Tri Hanggono pun dipersilahkan maju oleh pembawa acara. Raut wajahnya terlihat berubah drastis. Ia menyunggingkan senyum lebar dan dengan percaya diri meminta pelantang suara kepada pembawa acara.

“Saya senang atas hasil survei yang dilakukan,” ujar Tri Hanggono kemudian. Menurutnya, hasil survei itu memotivasi dirinya untuk bekerja lebih baik lagi dan mengevaluasi diri lagi. Ia mengaku senang karena lewat survei itu, mahasiswa mau mengkritisi dirinya.

“Walaupun demikian, saya juga berkeyakinan, kalian semua tetap …,” ia berhenti dan memperbaiki kata-katanya. “Kita bersama-sama patut mensyukuri. Bahwa dalam perjalanan kita menjaga atau berkegiatan dalam lembaga ini insya Allah ada dan banyak hal yang juga patut kita syukuri.“

“Saya perpanjang saja (waktu pertemuannya). Saya punya waktu hingga azan asar,” ujarnya lagi.

Setelah itu, ia menanggapi salah satu poin sikap Kema Unpad, meminta Rektor mau mengadakan forum aspiratif satu bulan sekali. Ia berpendapat, aspirasi mahasiswa lebih baik tidak harus selalu harus langsung disampaikan kepada dirinya. Ia menawarkan alternatif, mahasiswa sebaiknya menyampaikan aspirasi lewat tulisan agar bisa terdokumentasi. Ia juga menawarkan agar mahasiswa mau menyampaikan aspirasi lewat para ketua program studi atau manajer kemahasiswaan, dekan atau wakil dekan setiap fakultas.

“Orang tua kalian itu ketua program studi,” ujarnya menambahkan.

Ketika penjelasan dari dirinya dirasa cukup, Tri Hanggono mempersilahkan mahasiswa untuk bertanya langsung. Ia tidak menyadari panitia acara sudah memiliki agenda dan protokol sendiri.

“Maaf prof. Untuk sesi tanya jawab, kita ada pakai moderator,” ujar salah seorang pembawa acara memberitahu. Ia kemudian menyebut nama Zul Karami, Wakil Presiden BEM Kema, untuk menjadi moderator sesi tanya jawab.

“Saya sebagai moderator ingin mencoba memberikan alur dari pertemuan kita kali ini agar tidak ke mana-mana,” jelas Zul, Ia pun menyebut akan membagi sesi tanya jawab dalam beberapa babak. Babak pertama tanya jawab digunakan untuk membahas mengenai uang kuliah tunggal (UKT).

Seorang mahasiswa bernama Subhan diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan aspirasinya. Pada kesempatan itu, ia langsung menodong rektor untuk menjelaskan kondisi keuangan Unpad sebenarnya dengan rinci.

Agid Faisal, mahasiswa FPIK kemudian diberi kesempatan kedua untuk menyampaikan aspirasi. Ia mempertanyakan mengapa ia masih harus mengeluarkan uang di luar pembayaran UKT (uang kuliah tunggal). Ia juga meminta penjelasan mengenai berapa rincian anggaran akademik setiap fakultas.

Sementara, mahasiswa ketiga yang dipersilahkan menyampaikan aspirasi mempertanyakan mengenai isu ada tidaknya penyesuaian UKT .

Menanggapi berbagai pertanyaan itu, rektor menyampaikan komitmennya bahwa tidak akan ada mahasiswa Unpad yang harus berhenti kuliah karena tidak mampu membayar UKT. Ia menambahkan, kebijakan penyesuaian UKT  sebenarnya tidak ada dan mahasiswa yang tidak mampu membayar akan dialihkan ke beasiswa-beasiswa yang ada.

“Maka saya ingin tunjukkan, di sebelah mana ketidakadilannya,” ujar Tri.

Mengenai keuangan Unpad, Tri Hanggono mempertanyakan, rincian anggaran apa yang ingin ditanyakan oleh pihak mahasiswa. Ia menyebut, bila pun mahasiswa ingin pihak Rektorat memberikan transparansi anggaran, sebagai PTN-BH, Unpad harus mengikuti alur yang sesuai.

“Sekarang begini, semua rakyat Indonesia ada gak yang tanya ke Pak Jokowi, ‘saya ingin tahu detail anggarannya.’ Begitu gak?” tanya Tri sambil beranalogi. “Ada wakilnya , wakil rakyat. Siapa wakil mahasiswa yang mengetahui anggaran? Ada gak?” tanya Tri lagi beretorika yang dibalas oleh pihak mahasiswa dengan jawaban “tidak ada”.

“Ketua BEM (wakilnya). Karena dia selalu hadir pada rapat MWA,” ujar Tri lagi. Kali ini gemuruh suara cemoohan yang ditujukan kepada Novri memenuhi ruangan Bale Pabukon.

Setelah itu, Zul berusaha mengklarifikasi kembali mengenai transparansi anggaran yang dimaksud. “Kami menemukan tidak adanya laporan keuangan di tahun 2016 di situs Unpad. Ternyata untuk 2014, 2015 itu bisa kami buka. Itu seperti apa Prof?” tanya Zul.

Tri lalu menjawab bahwa laporan keuangan tahun 2016 belum bisa disebarluaskan karena masih diperiksa oleh para akuntan publik dan BPK. Sementara, untuk laporan keuangan 2017, karena Unpad sudah resmi menjadi PTN-BH, laporan keuangan itu akan diaudit oleh MWA tiap triwulan. Untuk triwulan pertama tahun ini, pihak Rektorat akan menyampaikan laporan keuangannya kepada forum Majelis Wali Amanat (MWA) pada 25 April.

Pada kesempatan itu, Tri Hanggono juga menyoroti isu pendanaan kegiatan kemahasiswaan. Menurutnya, saat ini karena sistem pendanaan kegiatan berdasarkan program, mahasiswa harus mulai membiasakan membuat perencanaan yang jelas untuk membuat sebuah program yang bisa menghasilkan luaran yang terbaik. Bila misalnya sebuah organisasi kemahasiswaan mengirimkan wakilnya untuk mengikuti lomba, Tri berharap mahasiswa itu bisa menunjukkan bahwa mereka adalah yang terbaik di bidang lomba itu.

“Sekiranya teman-teman sudah mendapatkan dari …,”kata Zul ragu-ragu ingin memotong penjelasan Tri. Waktu yang ditetapkan memang semakin sempit. Namun, keraguan Zul itu dimanfaatkan rektor. Ia kembali melanjutkan penjelasannya beberapa saat. Para mahasiswa yang hadir hanya diam. Ketika rektor selesai menjelaskan, para mahasiswa bertepuk tangan sambil sebagian bertempik sorak. Entah menyindir, entah memuji.

Termin tanya jawab selanjutnya dibuka. Kali ini membahas mengenai kegiatan kemahasiswaaan.

Seorang mahasiswa bertanya mengenai kebijakan pendanaan untuk mengikuti konferensi ke luar negeri. Dia bertanya karena proposal pendanaan miliknya tidak cepat diproses oleh pihak Unpad, sementara konferensi harus dihadiri beberapa hari lagi.

“Ini harusnya dibicarakan bersama. Betul gak dana yang kita miliki untuk kegiatan mahasiswa prioritasnya untuk lomba ini atau lomba yang lain. Ini harus dibicarakan. Dan yang paling tahu masalah ini adalah kalian semua,” ujar Tri. Tri berasumsi lomba-lomba yang akan diikuti oleh mahasiswa setiap tahunnya sama. Oleh karena itu, BEM dan pihak mahasiswa harusnya membicarakan itu dan merencanakan lomba mana yang akan diikuti dalam jangka satu tahun.

Ketika Tri selesai menjelaskan, tempik sorak dan tepuk tangan kembali terdengar.

Pada suatu kesempatan, giliran Ketua BEM FIB Izmu Tamami Rosa mendapat kesempatan berbicara. Ia langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menyindir rektor karena membuat kebijakan-kebijakan yang “sembrono”.

“Sampai saat ini yang terasa adalah kebijakan-kebijakan rektorat seringkali malah cenderung membawa kesemrawutan,” kata Izmu yang disambut oleh tempik sorak dan tepuk tangan lagi.

Ia lalu lanjut menyatakan pandangannya yang pesimis Unpad bisa menjadi universitas kelas dunia pada 2025.

Merespon pernyataan Izmu itu, ia sekali lagi meminta mahasiswa menyampaikan pendapat atau kritikan lewat tulisan. Ia juga menyarankan kepada mahasiswa untuk mengkritik dengan ikut memberikan langkah-langkah konkret untuk mengatasi apa yang menjadi permasalahan itu.

“Azan ya. Kita akhiri dulu,” ujar Tri ketika mendengar suara azan. “Saya berikan kesempatan lagi nanti, hari Sabtu jam sembilan.”

Ketika Zul meminta Tri Hanggono menjawab satu pertanyaan lagi, Tri Hanggono tidak setuju.

“Sudah azan. Jangan khawatir, kita Sabtu ada waktu lagi,” kata Tri.

Setelah itu, Tri Hanggono menutup acara dan bergegas pergi bersama Reiza. Savero Ghafiruzzambi, Kepala Departemen Kajian Strategis sempat berusaha menghentikan langkah Tri Hanggono dengan memanggilnya lewat pelantang suara. Ia meminta rektor untuk menandatangani nota kesepahaman baru sesuai tujuh sikap Kema Unpad yang sudah disebutkan Novri sebelumnya.

Namun, Tri Hanggono tidak menghiraukan panggilan itu dan terus berjalan keluar Bale Pabukon. Rektor kemudian masuk ke sebuah mobil berwarna hitam dengan dikawal oleh beberapa petugas keamanan.  Beberapa saat kemudian, ia meninggalkan gedung itu dan ratusan mahasiswa di dalamnya.

(Zuhhad A. | Zara Damaris)

Editor: Reza Pahlevi

The following two tabs change content below.