The Not-So Secret Life of a Deadliner

Ilustrasi Deadline Tengah Malam

Tik..Tik..tik..

Bukan, itu bukan suara hujan di atas genting. Namun, suara itu adalah suara dari jam dinding yang menggantung di dinding kamar. Jarum jamnya kini menunjukkan pukul 09.00 di kala gelap telah mengukung kita. Biasanya, orang sini menulisnya pukul 21.00 . Jujur, aku tak begitu peduli dengan apa istilah lain dari pukul 09.00 malam.

Ada yang jauh lebih penting daripada itu, tetapi sekaligus menyeramkan bagi kita untuk menghadapinya. Lebih menyeramkan jika dibandingkan dengan wajah dari boneka chucky yang terlihat layaknya pembunuh ulung. Kalian mungkin sangat kenal dengan hal ini, karena ia begitu dekat dengan kita mahasiswa. Ia adalah musuh terbesar mahasiswa abad ini: Deadline.

Ia, layaknya debt collector galak yang sering kita temui di FTV murahan Indonesia, seringkali mengejar kita hingga rasanya leher ini dicekik olehnya. Padahal, kita hanya menatap laptop atau buku tulis, tetapi ketika mengingat bahwa sebentar lagi ia akan datang dalam bentuk notifikasi google classroom atau tagihan dari sang ketua kelas, rasanya seperti kita telah berlari maraton sepanjang 20 km.

Lelah, letih, lesu, gelisah, kesal, menyesal, tak bilang sayang -oke stop. Intinya, segala perasaan negatif menumpuk menjadi satu. Mengutip kata-kata selebgram saat me­-review makanan, “Rasanya kek mo meninggal.” Dan itulah rasanya ketika kita dikejar oleh deadline.

Masalahnya hal itulah yang tengah terjadi padaku saat ini. Termenung di depan laptop yang layarnya menampilkan warna putih tanpa noda pada bagian kertas di aplikasi word. Kini jam menunjukkan pukul 09.05, artinya 2 jam 54 menit lagi sebelum datangnya deadline yang ditentukan oleh dosen tercinta. Namun, rasa gelisahku semakin meningkat, cemasku tak juga berkurang.

Ingin sekali ku putar waktu menuju 2 hari kebelakang ketika aku malah memilih untuk melihat-lihat video-video kucing lucu dibanding mengerjakan tugas yang menjadi penentu hidup dan matiku di semester ini. Sayangnya, aku bukanlah Dr. Strange yang mempunyai time stone. Jadi, aku hanya bisa memaki diriku di sisa-sisa waktu menuju deadline ini, “Dasar bodoh, harusnya dikerjain dari kemarin!”

 Tik..Tik..Tik..

Jarum jam kini menunjukkan pukul 09.07. 2 menit udah terlewat semenjak aku mengeluh tak jelas dan tak karuan. Halaman putih di aplikasi sejuta umat itu belum juga dipenuhi oleh kata-kata, bahkan nama dan npm saja belum. Aku masih termenung melihatnya, bingung harus menulis apa. Masalah kedua yang kita hadapi saat ini adalah: aku bahkan tak mengerti harus kuapakan tugas ini, begitupun materi yang diberikan oleh dosennya. Semuanya seakan begitu gelap.

Oh ayolah, mana mungkin aku sebodoh itu kan? Tidak mungkin lah. Kalau aku memang sangat bodoh, lalu bagaimana aku bisa masuk ke kampus yang katanya world class campus. Aku mulai meneguhkan niat, “Ayo, lo pasti bisa. Pasti disela-sela otak kecil nan tolol lo itu, ada segelintir kata-kata yang bisa dipilin menjadi esai 1000 kata. Ayok ganbatte.”

Mulailah aku mengetikan nama, npm, lalu kode dari tugas kali ini. Setelahnya, aku mengetik judulnya, yaitu tema dari apa yang akan aku angkat. Tanpa kata-kata cantik yang biasanya orang lain imbuhkan menjadi judul yang menarik. Masa bodoh, yang penting tugasku selesai. Sesuai dengan sebuah pepatah yang suatu hari pernah lewat di timeline twitterku, “Done is better than perfect.” Dengan otakku yang mulai panas karena dipaksa untuk bekerja berkali-kali lipat dari biasanya, aku mulai mengetikan kata-kata yang (mungkin) sesuai dengan tema yang aku angkat.

Satu baris selesai, aku menghela nafas terlebih dahulu. Meminum air putihku, kemudian lanjut mengetik tugas sialan ini. Satu baris selesai, ku ambil mangkuk mie kuah rasa ayam bawang yang sudah mendingin, lalu ku suapkan satu sendok makan mie beserta kuahnya. Sejenak ku senderkan punggungku yang mulai pegal ke sandaran kursi.

Oke, mari kita lanjutkan kembali sesi mengerjakan tugas yang menyiksa ini.

Berbaris-baris kata yang ku tuliskan membuat halaman putih itu kini cukup dipenuhi oleh warna hitam dalam bentuk untaian kata-kata. Setelah ku baca ulang, wow, kata-kata ini sangatlah… basi. Super basi. Lebih basi daripada nasi yang tak sengaja terdiamkan di dalam alat penanak nasi selama satu minggu. Namun, mengingat pepatah sebelumnya, jadi mari kita biarkan saja. Lebih baik selesai dibandingkan sempurna. Pegang kata-kata itu.

Mataku lalu melirik ke jam dinding yang terletak di sebelah kananku. Jam menunjukkan pukul 10.55 malam. Kemudian, ku lirik sudah seberapa banyak kata-kata yang ku ketik. An-astaga… ternyata baru 439 kata yang aku tuliskan. Otakku mulai mendidih kembali. Jam masih berbunyi, dan mie kuahku mulai membengkak. Tuhan, aku janji ini terakhir kalinya mengalami hal seperti ini.

Dengan sisa-sisa tenaga dan kewarasanku malam ini, ku ketikan semua kata yang menurutku berhubungan dengan tema esai ini. Sesekali ku tengok jam dinding sialan itu yang kini suaranya entah mengapa semakin nya- oh crap. Jarum jam kini terletak di angka 11 untuk jam, dan 4 untuk menit. Cepat-cepat otak ini merangkai kalimat yang sekiranya masuk dengan hal-hal yang telah diketik sebelumnya. Masa bodoh enak dibaca atau tidak, sekarang yang penting adalah esai ini selesai.

20 menit kemudian, penghitung kata yang berada di bawah kiri layar menunjukkan angka 1000. 1000, Ya Tuhan akhirnya selesai juga. Namun, perjuangan belum sampai di sini kawan. Karena kini diriku tengah bersusah payah membuka halaman aplikasi hijau berlambang telepon. Padahal, wifiku bukan merk rumah pecinta senja loh. Kok susah seka- nah, akhirnya terbuka juga. Klik grup kelas, klik link pengumpulan tugas, submit new file, uploading, done! Akhirnya *insert crying emoji*. Huft, kini aku bisa menyandarkan punggungku dengan tenang.

Ku makan sisa mie yang sudah mengembang sepenuhnya, teksturnya kini mirip udon (mie khas Jepang). Tak apalah, karena kini perasaan lega sedang mengerubungi dada ini. Mau mienya tidak matang sekalipun, sepertinya aku akan tetap menikmatinya seakan itu mie mahal yang sering dibeli di restoring-restoran ternama. Jam kini berubah menjadi pukul 11.45 malam. Karena sudah selesai, aku tak begitu peduli jam menunjukkan pukul berapa. I’m free as a bird now!

Sampai notif aplikasi hijau itu muncul di notifikasi smartphone lusuhku. Menunjukkan kata-kata paling menyebalkan yang bagiku (dan pasti kawan-kawan juga) saat ini. Ia berbunyi: halo anak-anak, untuk tugas kali ini kita hold dulu ya deadline-nya jadi lusa. Terimakasih. Ingin sekali aku balas dengan mengutip lirik lagu BCL yang nadanya super membingungkan untuk dinyanyikan, “KU INGIN MARAH, MELAMPIASKAN, TAPI KU HANYALAH MAHASISWA DI SINI.”

Namun, tentu saja diri ini yang jelas hanyalah mahasiswa kupu-kupu pengecut dan lemah, dengan ramahnya membalas, “Baik bu, terima kasih” diikuti emoji dua tangan yang saling menepuk layaknya sedang berdoa. Iya, berdoa akan mood-ku yang cukup hancur saat ini. Namun, mengingat pepatah andalan kita, jadi ya yasudahlah. Yang penting selesai dan sudah dikumpulkan. That’s all matter for now. Kini waktunya untuk menutup hari dengan mematikan laptop, mematikan lampu, menarik selimut, kemudian tidur sembari mendengarkan playlist andalan.

Ya, begitulah kira-kira kehidupan dari seorang deadliner. Pejuang garis akhir dari pertempuran melawan tugas, yang anehnya, kita tetap berhasil hingga akhir. Aneh ya?

Penulis: Andien D. R.

Editor : Yaser

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *