Pujian Kamu Bisa Menyakiti Perasaan Seseorang

Siapa yang tidak senang menerima sebuah pujian? Setiap orang memiliki keinginan mendasar untuk disukai dan dilihat secara positif (Baumeister, 1982). 

Di sisi lain, pernahkah kamu tidak senang menerima sebuah pujian bahkan merasa seperti mendapatkan sindiran? Jika iya, hal ini bisa disebut sebagai backhanded compliment atau pujian palsu. 

Menurut Deddy Mulyana, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad), budaya backhanded compliment ini berasal dari dunia barat. Tindakan ini bermakna menghina dengan cara memuji.

Deddy mencontohkan, di Amerika Serikat, ketika seseorang ingin mengatakan suatu hal yang buruk, dia akan menggerakan jari telunjuk dengan jari tengah ditumpangkan di atasnya (seperti menyilang). 

Lalu, tangan ditaruh di belakang badan tanpa diketahui oleh lawan bicara. Saat pembicara memberi sebuah pujian, sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh memuji.

Kamus Merriam–Webster menerangkan bahwa backhanded compliment bermakna memberi sindiran tersirat dalam sebuah pujian. Tanpa disadari, pujian palsu ini bisa saja diungkapkan orang lain kepada kita. Bahkan, bisa saja kita termasuk orang yang memberi sebuah pujian yang tujuan utamanya menghina ini.

Hal ini pernah dialami salah satu Mahasiswa Jurnalistik Unpad tahun 2018, Angga Argun Nugroho. Angga mengatakan bahwa dia pernah menerima backhanded compliment dari rekan kerjanya dalam suatu kepanitiaan.

“Pernah sih, kalimatnya itu, ada lu itu membantu banget, tapi kalau lu gak dateng lebih membantu deh, Ga,” tutur Angga.

Menurutnya, kalimat itu seperti sebuah penghinaan tersirat atas kinerjanya di dalam kepanitiaan itu. Angga mengaku merasa tidak senang saat mendengar kalimat tersebut. 

Dalam beberapa kesempatan, penulis melihat komentar yang bertendensi pujian palsu dalam beberapa video di aplikasi Tiktok. Pertama, sebuah video pasangan pria bersama wanita berbadan gemuk.

Seorang netizen memberi komentar “cari di mana ya cowok yang enggak mandang fisik begini?”. Komentar tersebut mendapat banyak like dari pengguna lain.

Secara garis besar, netizen tersebut memuji laki-laki karena mencintai tapi tanpa melihat fisik saja. Jika dilihat baik-baik, apa yang salah dengan kondisi fisik yang gemuk? Apa seseorang yang gemuk tidak boleh memiliki kekasih? Komentar ini jelas sebuah bentuk pujian palsu!

Video kedua adalah sebuah video dari akun @a.ci.pa. Dia mengunggah sebuah video yang sedang tren saat ini.

Pembuat video akan menampilkan wajah tanpa riasan sedikit pun dan dengan waktu singkat sesuai irama lagu, video akan langsung transisi ke wajah yang sudah menggunakan riasan. Video unggahannya sontak mendapat komentar “aku cantik kok, cuma gak bisa make up aja”.

Komentar itu direspon pembuat video dengan mengunggah sebuah video khusus. Dia mencoba mengajak pengguna lainnya untuk mengurangi komentar seperti ini. 

Menurutnya, komentar tersebut seolah mempersepsikan orang yang membuat konten make up seperti dirinya itu jelek dan hanya cantik karena dibantu riasan wajah saja.

Dia juga memberi gambaran jika pembuat video make up lain mendapat komentar sepertinya. Padahal, mereka sudah berusaha keras merias wajah namun justru dikomentari wajah aslinya jelek dan hanya cantik karena make up saja.

“Kalau memang mau memuji make up-nya bilangnya gini, make up-nya bagus banget. Ya ampun pengen bisa make up-nya, udah cukup sampai situ aja. Cukup puji skill make up-nya aja udah,” ujar Asyifa dalam video tersebut.

Ia menegaskan bahwa dirinya tidak marah. Dia hanya ingin menyadarkan semua pengguna Tik Tok agar lebih bijak dalam berkomentar. Cuplikan suara Asyifa itu telah diteruskan oleh 803 pengguna lainnya yang sependapat dengan pernyataannya.

Sebenarnya, pujian palsu seperti ini adalah fenomena bahasa khusus. Jika digambarkan, pujian palsu ini dikemas sebagai pujian dari segi kalimatnya. Namun, di dalamnya bermakna sebuah penghinaan.

Lantas, apa alasan seseorang tidak memilih penghinaan langsung sebagai ungkapan ekspresinya? Hal ini karena pujian yang diucapkannya secara tidak langsung dapat melayani dua fungsi sosial utama, yaitu menjadi humor dan bertindak sebagai strategi menyelamatkan “muka” dengan cara membungkam makna penghinaannya, jadi tidak terlalu terlihat seperti seorang penghina.

Lalu kenapa pujian palsu ini tetap menjamur? Melansir dari situs web news.harvard.edu, salah satu alasan utamanya karena pembicara yang memberi pujian palsu tidak mendapatkan umpan balik yang seharusnya didapatkan. 

Saat seseorang dihadapkan dengan komentar atau tindakan yang menyinggung, tidak semua orang merespon balik terhadapnya. Hal ini membuat pembicara dengan perasaan palsunya tidak merasa bersalah dengan apa yang dikatakannya.

Mengobrol itu hal yang sulit. Kita perlu menggunakan kognitif kita saat berkomunikasi dalam tempo singkat. Selain itu, kita juga harus memantau ekspresi wajah, tubuh, dan emosi orang lain dan diri kita sendiri. Hal ini menyebabkan kita bisa saja tidak menyadari telah menerima pujian palsu atau menyangkalnya.

Pujian palsu diibaratkan sebuah granat sosial kecil nan licik yang dilemparkan ke dalam percakapan dalam kemasan sanjungan. Tidak seperti pujian sejati, pujian palsu terlihat positif, tetapi mengandung kualifikasi mematikan. Hal tersebut mencemari perasaan baik sang penerima yang ditimbulkan oleh “pujian” tersebut.

Alangkah baiknya kita bisa lebih memperhatikan diksi yang kita ucapkan secara langsung atau saat berkomentar di media sosial supaya kita bisa menjaga perasaan sesama.

Penulis: Meyta Yosta Greacelya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *