Melihat Sifat Alternatif Pers Mahasiswa Bersama Wisnu Prasetya

Fathur Rachman (F) berbincang mengenai peran media alternatif pers mahasiswa di masa sekarang dengan Wisnu Prasetya (W). Wisnu merupakan Dosen FISIPOL di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia juga pernah membuat buku tentang jurnalisme berjudul “Suara Pers Suara Siapa?” dan “Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan”.

F: Bagaimana cerita Anda ketika memutuskan untuk mengkaji lebih dalam perihal pers mahasiswa ini? apakah Anda memiliki historis mengikuti pers mahasiswa? Sampai-sampai dalam tweet Anda pun menyarankan agar mahasiswa baru perlu mengikuti UKM pers mahasiswa.

W: Histori saya mulai mengkaji mengenai pers mahasiswa karena dulu aktif berkegiatan di BPPM Balairung UGM sehingga secara otomatis tertarik dengan hal ini. DI Balairung, saya aktif sekitar 3-4 tahun, tepatnya dari 2007 sampai 2011. Lalu sehabis itu, saya menulis skripsi tentang pers mahasiswa yang kemudian menjadi buku berjudul “Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan”. Selain itu, saya juga sering berinteraksi dengan banyak aktivis pers mahasiswa, tidak hanya dengan yang di internal Balairung namun juga di kampus lain yang membuat saya tertarik akan hal ini.

Nah, dari pengalaman itu kemudian saya menyarankan seperti dalam podcast dan twitter saya agar mahasiswa baru bergabung dengan pers mahasiswa karena saya melihat Pers Mahasiswa sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus yang cukup aktif melatih mahasiswa untuk menulis. Hal ini tentunya dapat menjadi modal berharga untuk perkuliahan. Di sana juga lengkap, tidak hanya menulis namun berjejaring, melatih berpikir kritis, dan juga melatih untuk penelitian. Jadi, kira-kira banyak hal yang didapat dan menurut saya itu ideal bagi para mahasiswa baru.

F: Dilema apa yang ditanggung ketika Anda menjabat di pers mahasiswa? dan bagaimana Anda menghadapinya?

W: Saya kira ini konteksnya dulu ketika saya masih di Balairung. Kalau dilema tentu saya kira problem semua mahasiswa aktif di organisasi itu sama, yaitu menyeimbangkan antara perkuliahan di Kampus dengan aktifitas kita di organisasi. Terutama aktifitas di pers mahasiswa sudah menuntut banyak komitmen waktu, ditambah jika pada mahasiswa baru pasti belum merasakan kerjanya pada awalan, tapi ketika satu atau dua tahun kemudian sudah melakukan liputan yang serius dan panjang baru merasakan menyita waktu bagi mahasiswa.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Kalau saya dulu tentu membuat skala prioritas. Ada satu waktu saya perlu memberikan perhatian penuh pada ruang kuliah, tapi ada satu waktu saya perlu memberikan perhatian dulu pada Balairung. Tapi itu konteksnya sekitar 15 tahun yang lalu, saya gak tahu kondisi mahasiswa yang aktif di pers mahasiswa sekarang. Apakah masalahnya serupa atau tidak? karena mungkin konteksnya sudah berubah.

Misalnya juga dari sistem aspek pendidikannya, kan, saya dulu masih diberi waktu maksimal tujuh tahun untuk lulus. Sedangkan sekarang jika tidak salah hanya lima tahun saja. Jadi itu juga berpengaruh terhadap aktivitas teman pers mahasiswa. Tapi, saya kira dilema itu muncul setiap saat, hanya bagaimana teman-teman anggota persma mencoba mengelola waktu dan juga komitmen.

F: Berita apa yang Anda pernah produksi dan masih ingat ketika masih menjabat di BPPM Balairung? Boleh diceritakan?

W: ketika dulu di Balairung beberapa berita yang saya ingat seperti kasus percaloan di ujian masuk UGM. Kasus itu memang sedang terjadi di banyak kampus waktu itu. Namun, kami juga di UGM ingin melihat bagaimana proses ujian masuk ke kampus. Saat itu, saya dan tim mampu mewawancarai sampai ke calonya. Selain itu, untuk edisi mahasiswa baru misalnya memperkenalkan Jogja dengan cara meliput tempat-tempat wisata dengan perspektif dari mahasiswa.

F: Dapat dibilang situasi negara terhadap pers sudah berbeda. Jika dulu lebih dibungkam sekarang lebih demokratis. Nah, bagaimana tanggapan Anda terhadap sifat alternatif pada pers mahasiswa dalam industri media? Apakah masih dapat dibilang alternatif dengan banyaknya persma yang mengekor pada pemberitaan mainstream?

W: Menurut saya, dari sisi alternatifnya saya tetap beranggapan bahwa pers mahasiswa masih dapat menjadi pers yang alternatif, tapi alternatif yang seperti apa?  Kalau dulu betul seperti yang Anda jelaskan, ketika masa Orde Baru misalnya pers umum dibungkam kemudian pers mahasiswa menampilkan informasi-informasi yang alternatif dalam konteks pemberitaan isu umum atau nasional. Tapi, kalau sekarang alternatifnya tidak bisa diukur seperti itu. Jika pers mahasiswa bersanding dengan pers umum misalkan, tentu akan kalah dari sumber daya, tenaga ,dan skill juga.

Kalau kita melihat jurnalisme di Indonesia sekarang juga mengalami kemunduran secara kualitas. Misalnya, banyaknya berita clickbait dan hanya menyasar sensasi pembaca namun minim etika. Nah, seharusnya dalam konteks itu pers mahasiswa dapat menjadi alternatif, tidak muluk-muluk ingin menulis isu nasional dan seterusnya. Dengan hanya sesederhana seperti memberikan informasi yang mendalam. Lalu, apa yang terjadi pada lingkungan kampus dan kota teman-teman berada. Misalnya, jika di Jatinangor, ya, bisa membahas antara Bandung dan Jatinangor.

Lagi-lagi, persma itu di kampus, ya. Sedangkan kampus itu sumber pengetahuan dan ilmiah yang luar biasa. Jadi, tidak hanya berupa hal yang positif di kampus, tapi hal yang menjadi sisi gelapnya. Misalnya kemarin Majalah Tempo dan The Conversation membuat persoalan plagiarisme di Kampus. Hal itu kan secara isu ranahnya pers mahasiswa karena ia di kampus. Nah, isu semacam itu kalau mau diperpanjang, kan, banyak sekali. Tahun lalu, yang ramai di kampus-kampus kasus kekerasan seksual. Dari hal itu tinggal memetakan, isu apa sih yang harus digeluti, digali lebih jauh, dan perspektifnya ini berbeda dengan media arus utama.

Jadi, tidak melulu secara jurnalistik kualitasnya bagus, tapi setidaknya dapat menawarkan perspektif alternatif. Alhasil, mahasiswa dilatih berpikir kritis dan juga teman-teman dapat memiliki akses kepada banyak peneliti dan dosen-dosen di kampus. Saya kita pun nantinya dapat memiliki track record yang panjang di berbagai isu. Jadi, menarik untuk menerjemahkan alternative yang seperti apa. Namun poin saya tetap, pers mahasiswa akan selalu alternative hanya bagaimana mereka merumuskan apa dan terhadap apa.

F: Menurut Anda, media alternatif dalam lingkup kampus itu seperti apa? Dan jikalau pers mahasiswa bermain di ranah nasional apakah masih disebut media alternatif?

W: kalau menurut saya justru kekuatan pers mahasiswa terletak ketika menampilkan perspektif yang alternatif. Jika bahwa ada pers mahasiswa yang mengekor pers umum, mungkin itu pilihan dari setiap lembaga nya. Namun secara objektif, jika persma fokus dan menghabiskan banyak waktu untuk mengekor ke pers umum itu pelan-pelan akan kehabisan energi sendiri karena tidak memiliki SDM sebanyak pers umum.

Termasuk juga begini, teman-teman di pers mahasiswa paling dua atau tiga tahun dan setelah itu perlu rapat regenerasi. Nah, di pers umum kan tidak seperti itu, namanya wartawan professional mereka bias pendek atau lama jangka kerjanya di sebuah media. Artinya jika bersaing vis a vis begitu pasti kalah. Jadi poin saya boleh saja menulis meliput isu media nasional tapi itu bukan fokus utama. Jika dalam setahun, boleh misalnya satu atau tiga kali fokus ke isu nasional. Namun, selebihnya fokus terhadap lingkup pers mahasiswa sendiri.

Dapat juga melihat kejadian di level kampus atau kota. Hal itu relevan yang bisa dibahas. Jika dibandingkan dengan pers umum dan dipaksa mengikuti isu nasional, saya hamper yakin pasti akan keteteran dan tidak ada tenaga untuk melakukan itu terus-menerus.

F: Melihat political stance yang setiap anggotanya “berbeda”. Menurut Anda, bagaimana cara pers mahasiswa menggarap suatu berita jika dalam internal pun ada perbedaan sudut pandang dan kepentingan? 

W:  Berbeda kepentingan dan sudut pandang saya rasa wajar karena yang masuk ke pers mahasiswa punya latar belakang keilmuan yang berbeda-beda, sedangkan tingkat Universitas dapat lintas jurusan dan fakultas. Lalu, setiap orangnya memiliki latar belakang skill jurnalistik yang berbeda-beda. Misalnya, ada yang sebelumnya sudah memiliki bekal dasar jurnalistik bagi anak Jurnalistik, tapi teman yang lain belum tentu punya bekal. Yang pasti hal itu merupakan tanggung jawab organisasi untuk memberikan bekal terhadap anggotanya yang baru masuk

Menurut saya pun setiap pers mahasiswa memiliki mekanisme rekrutmendan pelatihan yang dilakukan semacamnya. Nah, sebelum anggota terjun meliput pemberitaan, saya kira perlu dibekali hal-hal tersebut. Tentu dari latar belakang keilmuan pasti berbeda, tapi dalam konteks jurnalistik secara metode pasti akan sama. Mulai dari pembuatan outline penulisan, pemberitaan, melakukan wawancara, mencari sumber yang diperlukan, dan memverifikasi. Jangan sampai setiap pers mahasiswa mengandalkan aspek keilmuan tapi secara metode jurnalistik tidak dilakukan, serta juga harus belajar prinsip-prinsip jurnalistik dan sebagainya.

F: Menurut anda, apakah pers mahasiswa yg notabene media alternatif itu memiliki probabilitas untuk diminati oleh khalayak umum?  atau mungkin yang membaca hanya segelintir kelompok saja?

W: Kalau probabilitas diminati sangat besar. Dalam artian, pers mahasiswa sekarang berada dalam era digital, oleh karenanya semua orang dapat membaca dan tidak hanya kalangan kampus saja. seperti sudah ada yang memiliki website atau media sosial. Lalu, informasi tentang kampus pun banyak dicari. Minimal jika dapat informasi untuk mengenalkan kampus itu akan dicari setidaknya oleh para calon mahasiswa. Lalu, teman-teman persma dapat menampilkan informasi alternatif terkait dengan kondisi kampus yang tak muncul di website atau humas resmi kampus.

Misalkan dalam faktanya dua atau tiga tahun kebelakang banyak pemberitaan pada pers mahasiswa dibaca lintas kampus. Jadi, tidak hanya pemberitaan yang digeluti mahasiwa. Namun, lagi-lagi yang difokuskan adalah apakah informasi itu relevan untuk publik luas atau tidak? Jika informasinya tidak relevan, ya, ngapain orang membaca. Tapi jika informasinya relevan dan penting pasti orang akan mencari dan berminat baca karena merupakan isu Bersama.

Kemudian pertanyaannya, apakah setiap pers mahasiswa dapat menjangkau isu yang relevan bagi masyarakat? Lagi-lagi, bukan masalah pemberitaan ini merupakan isu nasional atau tidak. Namun juga dapat meliput isu yang sifatnya lokal tapi relevan untuk banyak orang. Jadi, jika dikaitkan dengan probabilitas, ya, sangatlah besar, namun balik kembali jika pada persnya dapat mengangkat isu yang penting.

F: Aliran jurnalisme apa yang tepat untuk merepresentasikan pers mahasiswa secara umum? dan kenapa memutuskan pilih itu?

W: Sebenarnya masalah aliran atau genre itu jangan terlalu khawatir atau memilih yang mana karena prinsipnya hal tersebut hanya muncul belakangan saja untuk mengkategorikan produk-produk jurnalistik yang misalnya bermasalah atau lainnya. Namun, apapun nama alirannya, prinsip dan metode pemberitaan itu masih sama seperti cover both side atau cover all side. Saya kira juga jika prinsip itu dikerjakan apapun alirannya nggak ada masalah

Penulis: Fathur Rachman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *