Pembelajaran Jarak Jauh dan Kesehatan Mental Mahasiswa Menilik Perspektif Psikolog

ilustrasi: freepik.com

Gantini, S.Psi,CH,CHt,NLP ialah seorang motivator dan psikolog lulusan Universitas Islam Bandung (Unisba). Ia merupakan owner dari Gant Smart Learning Center, lembaga untuk membantu tiap-tiap orang dalam menemukan dan mencapai mimpinya. Adapun Gant Smart Learning Center ini memfasilitasi hal tersebut dengan metode Penggalian Unconcious (Kondisi Alam Bawah Sadar) serta dengan menggali tiga kecerdasan manusia.

Saya mewawancarai beliau untuk menggali mengenai fenomena kesehatan mental mahasiswa di tengah sistem pembelajaran daring. Berikut hasil wawancara yang saya lakukan secara daring.

Menurut Anda apakah pembelajaran daring ini mempengaruhi kesehatan mental mahasiswa? Mengapa bisa demikian?

Tentu saja ini berefek kepada kesehatan mental para mahasiswa. Kesehatan mental seseorang yaitu suatu kondisi kesejahteraan seseorang yang disadari yang didalamnya terdapat kemampuan untuk bekerja sama, mengelola stress, menghasilkan, saling berinteraksi dengan masyarakat, komunitas dan lingkungan. Dari transkrip kesehatan mental saja itu sudah bisa kita analisa, lihat dan observasi bahwa aspek dari kesehatan mental itu adalah adanya proses untuk berinteraksi dengan masyarakat, komunitas dan lingkungan. Itu tidak diperoleh melalui online atau daring.

Bagaimana contoh gejala gangguan mental, terkhusus stress akademik?

Proses ini akan berpengaruh berbeda terhadap masing-masing orang, tergantung bagaimana kekuatan mentalnya itu sendiri. Yang saat ini terjadi keluhan-keluhan dari para mahasiswa yaitu kelelahan, stress, depresi, boring, merasa tugas banyak, dan hanya di rumah saja. Cemas karena materi hanya dibaca melalui online, stress karena tidak banyak ketemu dengan temen-temen dan hanya ketemu dengan orang tua di rumah.. Mungkin saat offline pun banyak tugas, namun tetap bertemu dengan teman, tatap muka dengan dosen, bisa sambil becanda dan ada situasi yang bisa kita lihat. Artinya fun, bahkan tugas itu bisa dikerjakan bersama-sama dengan teman jadi merasa ringan.

Dari survey Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia atau  APPI ada beberapa hal yang didapatkan tentang gangguan yang terjadi. Pertama, seorang yang terganggu kesehatan mentalnya akan berhubungan dengan kesehatan fisik.

Kemudian sulit menyesuaikan diri, bisa secara fisik maupun psikologis. Secara fisiknya seperti orang yang tidak terbiasa dengan gadget, orang yang tidak biasa berdiam dalam waktu yang lama, biasa bergerak dan bertemu banyak orang pada saat melakukan kuliah daring otomatis dia harus menyesuaikan diri tetap duduk manis di depan laptop, fokus terhadap bacaan atau fokus terhadap dosen yang menyampaikan materi. Dan itupun tergantung dengan pola dosennya saat menyampaikan materi apakah menurut mahasiswa itu menyenangkan, fun atau tidak ataukah merasa termotivasi atau terstimulasi secara positif atau tidak.

Kemudian kognitif overload, ialah pikiran yang terus bertubi-tubi dan menimbulkan kondisi mahasiswa itu merasa terlalu terbebani secara pikiran. Dan saat itulah kondisi mahasiswa merasa tidak berdaya.

Dari aspek-aspek tersebut maka muncullah gangguan kesehatan mental yang terjadi pada mahasiswa. Walaupun tergantung ya apakah sebelumnya mahasiswa memiliki kekuatan mental yang hebat atau memang kekuatan mentalnya kurang hebat. Ada tiga hal yang sangat dominan itu adalah masa stress, takut dan yang terakhir adalah cemas.

Apakah ada gangguan kesehatan mental selama PJJ yang disebabkan dari dalam diri kita sendiri?

Kesehatan mental yang terganggu itu biasanya karena kemampuan pengelolaan emosi yang kurang baik. Jadi biasanya tidak hanya dipengaruhi oleh daring ini. Daring ini adalah sebagai penguat. Sebelumnya dia kurang mampu untuk mengelola emosi atau juga ada faktor lain dari sisi keluarga, juga faktor perekonomiannya yang lagi kurang bagus. Sehingga menumpuk antara dia harus beradaptasi dengan proses perubahan kuliahnya, dia juga harus beradaptasi dengan kondisi ekonomi keluarganya seperti masalah harus membeli kuota dan lain sebagainya.

Apakah masalah kesehatan mental bisa memengaruhi etos kerja dan tumbuh kembang seorang anak kedepannya?

Saya coba melansir, ada sebuah penelitian dari seorang psikolog yang juga dosen psikologi Undip yaitu Ibu Anastasia Ediati S.Psi., M.Sc., Ph.D. beliau mencoba menganalisa “Siapakah Aku di Area Covid?” audiensnya ialah para mahasiswa. Dan ternyata dimunculkan ada tiga area atau zona yang dialami atau dilalui oleh mahasiswa ketika mengalami proses belajar secara daring.

Satu, ada zona ketakutan ialah ketika mahasiswa yang biasanya pada saat mau belajar pergi berkuliah belajar kan merasa ada temen menghadapi dosen, masih bisa fun dan becanda dengan temannya. Sebelum kuliah masih bisa bertanya secara langsung ke dosen atau temannya  ketika tidak mengerti. Sementara pada saat proses daring mahasiswa harus menelan sendiri, berpandangan sendiri, berpesepsi sendiri, berpikir sendiri itu yang membuat ketakutan para mahasiswa. Banyak mahasiswa dengan karakteristik yang ekstrovert, biasanya dia lebih seneng banyak orang tidak menyendiri sambil becanda dan lain sebagainya.

Dan saat ini yang paling banyak muncul adalah merasa semuanya beban, dia harus berpikir juga tentang kuota, tentang laptop dan lain sebagainya. Di sini terus semakin membuat mahasiswa ketakutan apakah dia bisa melaluinya dengan enak. Ketakutan itu bisa dia lalui dengan mengelola dirinya serta emosinya. Lambat laun karena orang tua nya men-support, meringankan dan lingkungan mendukung,  dia akan masuk kepada zona belajar.

Di dalam zona belajar mahasiswa akan melakukan proses adaptasi. Dari segi kebiasaan dia mulai menerapkan pikiran bahwa harus diterima saat ini proses belajarnya harus lewat daring. Bisa juga sambil belajar sambil dengerin musik karena itu bisa buat rileks. Nah, ketika proses belajar ini dia lakukan hari demi hari didukung oleh lingkungan dan secara mental dia mampu mengelola emosinya,  dia akan naik ke proses zona tumbuh.

Zona tumbuh ialah ketika para mahasiswa akan semakin kuat mentalnya. Dia akan mulai mencoba memahami orang lain, bahkan dia akan mencoba menguatkan orang lain. Tidak hanya dirinya sendiri yang ia pikirkan, tapi ia akan berusaha untuk memikirkan orang lain. Apakah teman saya paham, mengerti, dan lain lain. Bahkan mungkin kalau saya sarankan pada proses zona tumbuh ini proses belajar mengajar mahasiswa itu berbeda ya, lebih fleksibel.

Dari situ, 3 hal itu sebenarnya diharapkan mahasiswa bisa melewati step by step-nya. Namun bayangkan seandainya seseorang itu kekurangan dalam mengelola emosinya, atau kekurangan support di lingkungannya yang menyebabkan dia malahan stuck berdiam diri di zona ketakutan. Contoh seseorang yang berada di keluarga secara ekonomi pun sedang tertantang, kekurangan secara keuangan. Dia tiap hari harus menyiapkan kuota untuk mengikuti zoom misalkan, dalam waktu yang cukup lama sehingga membutuhkan kuota yang sangat besar. Sementara keluarganya pun kekurangan secara ekonomi, sehingga terjadilah perebutan keuangan.

Kalau dia stuck tidak bisa mengelola emosinya, apalagi kalau keluarga nya tidak bisa betul-betul men-support-nya, akan muncul menjadi situasi cemas. Cemas karna dia tidak tau apakah dia bisa mengelola, apakah bisa seperti orang lain memperoleh hasil yang baik, cemas apakah dia memahami materinya atau tidak. Kalau cemas itu tidak teregulasi dalam waktu yang cepat ini akan muncul menjadi stress.

Lalu, tindakan apa yang perlu dilakukan untuk tetap menjaga dan menstabilkan kesehatan mental kita sebagai mahasiswa?

Tidak menutup kemungkinan ada pembicaraan antara mahasiswa dan dosen misalkan, metode pembelajarannya yang lebih fun dong pak/bu ada game dulu atau apa dulu. Kalau ketemu dengan dosen yang lebih demokratis, seneng dan inovatif malah di zona tumbuh ini akan memuat proses belajar semakin indah.

Kalau saya sih menyarankan tipsnya supaya tetap sehat secara psikologis yaitu satu, tetap saling memberikan dukungan. Walaupun kita tidak langsung ketemu dengan teman-teman atau sahabat-sahabat, kita tetap bisa menggunakan video call. Minimal kita bisa lihat teman kita, masih bisa beradaptasi ini sama-sama saling menguntungkan, saling mendukung di situ insyaAllah akan muncul lah energi positifnya.

Kedua, menyebar energi positif. Caranya dengan kita bilang dan ngajakin yuk semangat yuk, nah itu menyebar energi positif.

Ketiga, saling menguatkan bahwa kita harus terima saat ini situasi covid dan new normal ini. Karena ketika kita menerima maka psikologis kita pun menjadi tetap positif, lebih tenang, lebih rileks, bahkan kita lebih semangat.

Nah keempat, kalau terjadi sesuatu dan itu menekan diri kita artinya itu menimbulkan stres terlalu berat. Kalau merasa susah tidur, makan terganggu, materi pun tidak kita terima tugas pun malas kita kerjakan. Tolong teman-teman jangan berdiam diri datanglah ke ahlinya yang seperti kami, psikolog.  Datanglah konsultasi, diskusi, sharing lah supaya masalahnya cepat terselesaikan. Jadi jangan berdiam diri yang akan menimbulkan kerugian pada masa depan kita.

Yang kelima mengurangi bacaan atau info-info di medsos ataupun berita-berita yang sifatnya negatif. Contoh saja bagi saya info tentang corona itu akan positif kalau kita hanya cukup dengarkan dan tidak terlalu serap dengan ketakutan.

Selanjutnya yakinkan pada diri bahwa ada Allah bersama kita mintalah sama Allah mohon lah sama Allah yakinkan pada diri covid ini akan selesai. Sehingga perkuliahan tetap normal kembali, ketemu di ruangan kuliah, ketemu sama dosen-dosen, ketemu sama teman-teman.

Nah  yang terakhir, mulailah melatih emosi positif diri kita dengan cara mencari hal-hal yang baik dari apa apa yang dihadapi saat ini. Contohnya berpikiran bahwa Allah sedang menguji kita supaya kita menjadi pribadi dengan mental yang luar biasa.

Apakah ada indikator khusus untuk mengetahui bahwa kita membutuhkan tenaga ahli dalam menangani kondisi kesehatan mental kita?

Indikatornya kalau perlu bantuan tenaga ahli atau psikologi adalah apabila seseorang itu sudah dalam kondisi sulit tidur kemudian merasa lelah, tegang di otot, fokus berkurang dan banyaknya keluhan-keluhan. Selain itu  apa yang jadi tugas tidak dijalankan, lebih banyak melamun lebih banyak menghindar dari tugas-tugas, itu sudah  salah satu indikator stress  tingkat berat. Kalau sudah sampai posisi seperti itu, bahkan kalau saya sarankan sebelum posisi seperti itu lebih baik banyak berdiskusi dengan para tenaga ahli.

Menurut anda siapa saja pihak yang memiliki tanggung jawab untuk menghentikan atau mengurangi masalah kesehatan mental ini? Lalu hal apa yang perlu dilakukan oleh mereka?

Yang diharapkan adalah percepatan dukungan lingkungan baik itu orang tua maupun para pendidik yaitu dosen dan civitas akademik dalam upaya supaya mahasiswa ini juga tetap nyaman dalam proses belajar. Tetap, tujuan dari pendidikan yaitu mendapatkan ilmu yang menyerap terhadap pikiran dan karakternya itu sangat diharapkan.

Jika pembelajaran daring ini akan berlanjut pada semester berikutnya, hal apa yang perlu dilakukan sebagai bentuk evaluasi PJJ terhadap kesehatan mental mahasiswa?

Kalau saya dari sisi sebagai tenaga ahli psikologi kembali tips tadi yang perlu dilakukan dan ini harus jadi analisa dari Kementerian Pendidikan membuat suatu sistematika proses belajar yang fun. Karena kalau tidak kita bikin fun, ini bisa saja tidak tercapai apa yang diharapkan.

Kalaupun ini dilalui tips saya atau saran saya semoga mahasiswa berani untuk memberikan masukan kepada para dosen dalam konsep pemberian materinya. Lebih didiskusikan dibicarakan dengan tetap mengikuti silabus  dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Tapi pola penyampaian disepakati antara dosen dan mahasiswa sehingga mahasiswa merasa nyaman, dosen pun tetap kewajiban untuk menyampaikan materinya tercapai.

 

Penulis: Adinda Afifah

Editor: Putri Shaina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *