Stigma Masyarakat Membuat Ibu Rumah Tangga (Dipaksa) Memiliki Mental Sekuat Baja

Ilustrasi: Freepik.com Ilustrasi: freepik.com

Diskrusus tentang peran perempuan dalam rumah tangga seketika jadi perbincangan masyarakat Indonesia November 2019 silam.. Najwa Shihab ialah aktor di balik ramainya masyarakat yang mulai memperbincangkan kembali posisi perempuan dalam ikatan pernikahan. Hal ini bermula ketika Mbak Nana, sapaan akrab Najwa Shihab, merespon dengan kritis sebuah pertanyaan di salah satu acara di televisi.

Singkatnya, pertanyaan itu mengharuskan mbak Nana memilih antara menjadi jurnalis atau ibu rumah tangga. Hal itu direspon dengan keras oleh mbak Nana yang menganggap pertanyaan tersebut menempatkan perempuan pada posisi yang tidak berdaya. Jawaban tersebut merefleksikan sebuah realitas yang jarang disadari masyatakat.

Realitas tersebut ialah ketidakmampuan perempuan dalam menentukan perannya dalam ikatan pernikahan. Secara implisit, pertanyaan tersebut menyatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak lain hanya sebuah instruksi dari sosok suami atau ayah. Padahal, memutuskan menjadi ibu rumah tangga merupakan pilihan personal yang dialami oleh setiap perempuan yang telah menikah. Najwa Shihab secara mengejutkan dapat mengkritik narasi tersebut dan meluruskan miskonsepsi tentang ibu rumah tangga. serupa dengan Najwa Shihab, film asal Korea Selatan juga membawa pesan mendalam mengenai peran ibu rumah tangga.

Film itu berjudul Kim Ji Young: Born 1982. Film adaptasi dari novel kontroversial karya Cho Nam Joo yang mengisahkan perjuangan ibu rumah tangga bernama Kim Ji Young yang mengidap gangguan mental. Film ini membawa wacana tentang dua hal yang masih abu-abu; isu kesehatan mental dan peran ibu rumah tangga. Isu kesehatan mental dan peran ibu rumah tangga tergolong dua topik yang jarang, bahkan dihindari untuk dibicarakan.

Apa yang Salah Dengan Menjadi Ibu Rumah Tangga?

Bicara soal ibu rumah tangga, maka secara tidak langsung juga membicarakan soal stigma masyarakat terhadapnya. Ibu rumah tangga kerap diasosiasikan dengan sosok yang kurang produktif secara ekonomi dan kerja domestik yang relatif ringan. Pemaknaan ibu rumah tangga sendiri menurut Imam Koeswahyono dalam bukuya Hukum Rumah Susun: Suatu Bekal Pengantar Pemahaman memaparkan ibu rumah tangga sebagai kuasa pengabdian di wilayah domestik, yakni rumah. Oleh karena itu, secara psikologis, ibu rumah tangga bertanggung jawab atas kententraman, kedamaian, dan keteraturan penghuninya.

Sementara itu, masyarakat Indonesia memiliki stigma negatif terhadap ibu rumah tangga. pekerjaan ibu rumah tangga dipandang sebagai suatu rutinitas yang mudah untuk dilakukan. Pemahaman ini secara deterministik membuat ibu rumah tangga dipandang lebih rendah ketimbang mereka yang bekerja di ranah publik.

Pemahaman itu pula yang menutup celah ibu rumah tangga memikirkan kesehatan mentalnya. Sebuah beban ganda mau tidak mau ada di pundak seorang ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga harus berkutat dengan rutinitas sehari-hari mengurusi hal-hal domestik sekaligus menghadapi stigma masyarakat.

Kehadiran stigma sendiri menurut Goffman (1963) dalam tulisannya Stigma: Notes on the management of spoiled identity mendatangkan problematika mengingat dapat mendiskreditkan serta menjadikan adanya bias penilaian kepada ibu rumah tangga. Tidak mandiri, pengangguran, dan pasif menjadi narasi yang biasa dilekatkan pada ibu rumah tangga.

Peran ibu rumah tangga yang tersubordinat oleh stigma menguburkan pemahaman terhadap kerja ibu rumah tangga yang berat. Banyak yang belum tahu jika mengurus se-isi rumah hingga merawat anak merupakan aktivitas yang menguras tenaga dan emosi. Seorang ibu rumah tangga juga memiliki kecenderungan mengalami leisure gap atau kesenjangan waktu luang.

Kesenjangan waktu luang kerap terjadi karena dalam mengurus hal-hal domestik, tidak ada waktu kerja yang pasti. Sebuah studi bahkan mengungkap rutinitas ibu rumah tangga setara dengan bekerja 14 jam sehari, tujuh hari seminggu. Pagi hingga malam terus diisi dengan pekerjaan yang bergantian hadir “menemani” ibu rumah tangga.

Masyarakat Indonesia masih cenderung abai terhadap kesehatan mental di kalangan ibu rumah tangga. Padahal, kerja ibu rumah tangga yang dilakukan setiap hari itu sangat dekat dekat beberapa gangguan mental.

Sebuah riset yang diterbitkan oleh American Psychological Association memaparkan bahwa gejala ibu rumah tangga lebih tinggi ketimbang ibu yang bekerja.. Riset yang ditulis dalam jurnal berjudul journal of family psychology itu merupakan hasil observasi peneliti dari University of North Carolina terhadap 1.364 ibu selama 10 tahun. Hasilnya, riset tersebut melihat adanya perbedaan fundamental dalam hal kondisi mental ibu rumah tangga dan ibu yang bekerja. Dalam hal kondisi mental, Ibu rumah tangga punya kecenderungan lebih tinggi mengalami depresi. Riset yang sama juga menyebut adanya perasaan terisolasi, kehilangan tujuan dan identitas, serta kurangnya waktu terhadap diri sendiri menjadi pemicu ibu rumah tangga mengalami depresi.

Riset dari badan kesehatan dunia atau WHO juga menunjukan perempuan memiliki risiko tiga kali lebih besar dalam mengalami depresi. Perempuan di usia reproduktif, yakni 12-51 menjadi kalangan usia yang paling besar risikonya. Studi lain juga memaparkan kecenderungan gangguan kesehatan mental yang sering dialami ibu di negara berkembang, termasuk Indonesia, rata-rata berada di angka 15,6% saat hamil dan 19,8% setelah melahirkan. Kecenderungan depresi bahkan dapat meningkat dalam momentum tertentu, salah satu nya sesaat setelah melahirkan atau baby blues syndrome. Sindrom ini dialami 70%-80% ibu di dunia.

Meski begitu, kesehatan mental ibu rumah tangga masih belum dianggap sebagai hal yang urgen. Di Indonesia, hambatan berupa stigma masyarakat yang telah lama mengakar semakin memperkeruh keadaan.

Kesehatan Mental yang (Terpaksa) Diabaikan

Keluhan psikologis yang dialami ibu rumah tangga selalu dibantah dengan stigma dan stereotip. Seorang ibu yang stress saat mengurus anak misalnya. Alih-alih mendapat pertolongan dalam mengasuh anak, ibu rumah tangga justru akan mendapat penghakiman karena dianggap tidak bersyukur. Tidak heran, ibu rumah tangga di Indonesia seakan tidak diizinkan untuk sekadar berkeluh-kesah tentang beratnya beban kerja. Secara tidak langsung, masyarakat menuntut ibu rumah tangga untuk punya mental baja yang tidak kenal kata lelah.

Beratnya kerja ibu rumah tangga masih harus ditambah dengan stigma masyarakat yang menanggap kerja domestik sebagai hal yang sepele. Penghakiman masyarakat itu muncul seiring adanya prestise semu bekerja di ranah publik lebih baik daripada bekerja di ranah domestik. Hal ini menunjukan ibu rumah tangga masih belum dianggap setara oleh mereka yang bekerja di ranah publik. Penghakiman tersebut ditujukan tanpa tahu atau pernah merasakan beban kerja ibu rumah tangga.

Kesadaran yang rendah terhadap beratnya beban kerja ibu rumah tangga punya implikasi lain. Hal itu membuat adanya keengganan angota keluarga lain, terutama sosok ayah dalam menjamah kerja domestik. Keengganan ini perlu disadari sebagai buah dari kultur patriaki yang juga kuat di Indonesia.

Dilansir dari jurnalperempuan.org, Syalhi Sahude, aktivis kesetaraan gender menjelaskan pembagian peran gender dilekatkan dengan dikotomi publik-domestik, rasional-emosional. Kerja di ruang publik diasosiasikan dengan kerja maskulin serta kerja domestik dilekatkan dengan kerja feminin. Pembagian ini pula yang menjadi hal mendasar mengapa para ayah enggan terlibat dengan kerja domestik, alasannya jelas; seorang ayah sudah bekerja di ranah publik dan rumah merupakan tanggung jawab ibu rumah tangga.

Pemahaman ini yang membuat banyak ibu rumah tangga harus menanggung seluruh beban kerjanya sendirian. Tidak heran, seorang ibu rumah tangga memiliki beban kerja yang menumpuk dan durasi kerja yang panjang. Rutinitas tiada henti tersebut yang semakin mendekatkan ibu rumah tangga pada gangguan kesehatan mental seperti depresi.

Keluarga, khususnya ayah atau suami menjadi sosok paling penting dalam menjauhkan ibu rumah tangga dari jeratan permasalahan kesehatan mental. Hal itu dapat dilakukan dengan tidak tunduk pada stigma masyatakat serta kultur patriaki.

Bentuk dukungan dari ayah juga secara langsung dapat membantu kerja ibu rumah tangga. Tidak perlu melihat gender dalam melakukan kerja domestik seperti mencuci baju atau mengurus anak. Selama mampu, bentuk bantuan langsung seperti itu dapat membuat ibu rumah tangga dapat sedikit “bernapas”.

Sementara itu, status ibu rumah tangga bukan berarti melunturkan status seseorang sebagai “individu”. Layaknya seorang individu yang merdeka, menyalurkan hobi, minat, dan meluangkan waktu untuk diri sendiri tidak kalah penting dengan urusan domestik. Tidak perlu takut ketika menyisihkan waktu untuk diri sendiri, sebab ibu rumah tangga pun berhak untuk merasakan kebahagiaan.

Stigma masyarakat terhadap ibu rumah tangga perlu dirubah. Seorang ibu rumah tangga bukan lah robot yang mampu mengelola beragam pekerjaan tanpa lelah. Ibu rumah tangga tidak ubahnya manusia yang dapat mengalami kelelahan, baik secara fisik mau pun mental.

Kondisi mental ibu rumah tangga jangan lagi dipandang sebelah mata. Jangan sampai ibu rumah tangga harus menanggung beban sendirian. Keluhan apa pun sudah seharusnya dipandang serius oleh keluarga hingga masyarakat. Terbuka akan kondisi mental menjadi kunci utama kebahagiaan seorang ibu rumah tangga. Sosok yang selama ini jarang masyarakat sadari sebagai sosok yang punya pengaruh signifikan dalam setiap keluarga.

Referensi :

Barbara, F. (2011). Journal of Family Psychology. American Psychological Association .
Goffman. (1963). Stigma: Notes on the management of spoiled identity. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Kuswahyono, I. S. (2004). Hukum Rumah Susun: Suatu Bekal Pengantar Pemahaman. Malang: Bayu Media.
Maharrani, A. (2018, 4 28). Beritagar.id. Retrieved from Beritagar.id: https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/ibu-rumah-tangga-bekerja-14-jam-sehari
Pratiwi, M. A. (2017, 7 24). jurnalperempuan.org/warta-feminis. Retrieved from jurnalperempuan.org: https://www.jurnalperempuan.org/warta-feminis/syaldi-sahudekerja-kerja-domestik-adalah-tanggung-jawab-laki-laki-dan-perempuan
World Health Organization. (2012). Prevalence and determinants of common perinatal mental disorders in women in low- and lower-middle-income countries: a systematic review. Bulletin of the World Health Organization, 139-149.

Muhamad Arfan Septiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *