Bertahan Menemani Anak-anak Berenang

Apa yang pertama Anda pikirkan mengenai kolam renang umum? Ramai, orang-orang hilir-mudik dari satu kolam ke kolam lainnya, cipratan air meraungi setiap sudut kolam, begitu pun teriakan anak-anak kecil. Setidaknya begitulah yang banyak orang bayangkan.

 

Dari balik jeruji kaca, terlihat seorang pria paruh baya menyisir dengan seksama dua pasang mata di sebrang kaca. Dengan senyuman, pria tersebut menyodorkan tiket seharga Rp. 15.000. Setelah berbincang-bincang, diketahui pria tersebut bernama Ujang. Pria tersebut berujar, meskipun hanya untuk melihat-lihat, kami tetap harus membeli tiket.

 

Di akhir pekan,biasanya kolam renang tampak ramai. Namun tidak berlaku bagi kolam renang yang satu ini. Kolam Renang BHS, begitulah namanya. Tempatnya, persis berada di belakang apartemen Skyland City. Kolam renang yang terletak di Sukawening, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang tersebut tampak sepi. Hanya terlihat beberapa pengunjung yang masih dapat dihitung dengan jari.

 

Kolam renang yang berdiri tahun 2004 silam, mengalami penurunan jumlah pengunjung yang signifikan. Ujang, pengelola kolam renang menyebutkan, dulu, tempat tersebut dapat mencapai angka 200 pengunjung setiap harinya. Sampai terkadang sebagian pengunjung tidak dapat tempat hanya untuk sekadar duduk.

Namun kini, hanya sekitar 30-40 orang yang menyambangi kolam renang tersebut tiap harinya. Bahkan pernah suatu hari tidak ada pengunjung sama sekali. Ujang berpendapat, penurunan angka tersebut disebabkan banyaknya kolam renang baru di sekitaran Jatinangor-Tanjungsari. Meskipun beberapa kolam renang tersebut letaknya cukup jauh dari pusat Kecamatan Jatinangor.

 

Pengunjung yang jumlahnya tidak banyak, membuat Ujang harus memutar otak. Mau tidak mau, Ujang harus menggunakan uangnya sendiri untuk biaya operasional. Manusia tetaplah manusia. Ujang bukan manusia berhati malaikat. Ia terkadang kesal atas perilaku pengunjung. “Apalagi anak-anak, terkadang pintu kamar mandi malah dijadikan gelayunan, jadinya patah,” tungkasnya sambil menghisap sebatang rokok.

 

Coretan-coretan tak jelas di dinding area kolam pun menjadi bagian yang Ujang sesalkan. Ujang menggerutu, betapa ia harus mengecat ulang dinding tiap ada coretan. Bahkan saat ditelusuri, bukan hanya satu dua coretan terpampang di dinding area kolam dan kamar mandi.

 

Memang, di beberapa sudut kolam, beberapa fasilitas penunjang berada dalam keadaan yang kurang baik, bahkan ada yang telah mati fungsinya. Seperti satu kolam di ujung bagian utara. Kolam yang berada di bawah tulisan BHS tersebut, nampak sudah tidak digunakan sama sekali. Air yang keruh, serta rumput yang tumbuh di beberapa titik kolam menjadi buktinya.

 

Perosotan yang terdapat di kolam tersebut pun kondisinya sangat mengenaskan. Retakan terjadi di bagian atas perosotan. Sementara di bagian aliran hingga ujung perosotan, lumut tumbuh dengan subur.

 

Di sudut lain area kolam, terdapat gundukan kayu berbentuk persegi dengan rangka seperti rak buku. Rak tersebut dicat dengan warna hijau dan biru, ditambah kata berbunyi “Tempat Penitipan Barang. Rp” yang ditulis dengan huruf besar di atasnya. Namun tragis, benda tersebut terabaikan sama sekali.

 

Meskipun dengan kondisi beberapa fasilitas yang kurang memadai, pengunjung tetap menikmati wahana di kolam renang, terutama anak-anak.

 

Wahana ember tumpah menjadi favorit bagi anak-anak. Ember berkarat pertama-tama menampung air. Lalu, ember tersebut merintikkan muatannya kepada apa saja yang ada di bawah.

Sebenarnya, tahun 2018, Ujang berencana menutup kolam renang secara permanen. Kontradiksi antara pemasukan dengan biaya yang harus dikeluarkan-lah yang menjadi sebabnya. Bukan hanya rencana malah, ia pernah benar-benar menutup kolam renang.

Namun berkat tekad dan keyakinannya, ia kembali membuka tempat tersebut. Pasalnya juga, Kolam Renang BHS telah menjalin kerja sama dengan beberapa sekolah di Jatinangor. Bagi Ujang, ketika menjalankan sebuah usaha, ia tidak boleh pantang menyerah. Dalam arus kehidupan pun, jalani saja ke mana arus tersebut menghanyutkanmu.

 

Muhammad Fikri Dzulfikar dan Meuthia Nafasya

Editor: Tamimah Ashilah & Athaya Soraya A.

1 thought on “Bertahan Menemani Anak-anak Berenang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *