Berbincang dengan Dua Kunci Di Balik Rasi Kreasi

Kontestasi Pemilihan Raya (Prama) Unpad 2019 sudah dimulai sejak 10 Oktober lalu. Prama tahun ini diramaikan oleh dua pasangan calon, salah satu calonnya adalah Muldan Halim Pratama (FH 2016) dan Aditya Supena Putra (FEB 2016). Keduanya merupakan calon nomor urut dua, yang selama kampanye menggunakan tagar Rasi Kreasi.

Siang itu, lepas solat Jumat (15/11) kami menemui mereka, atau yang lebih dikenal sebagai Muldan-Cupen, di gazebo salah satu sudut Fakultas Hukum. Perbincangan tersebut kami mulai dengan pertanyaan mengapa keduanya bisa saling memilih untuk berpartner dalam kontestasi ini.

Ternyata, Muldan dan Cupen mulai bekerjasama ketika dipertemukan di suatu forum oleh ketua-ketua BEM fakultas yang mendukung mereka. Muldan mengatakan bahwa ada hal dalam diri Cupen yang tidak Muldan temukan di dirinya. Ia menyebut dirinya agak serius dan formal, sedangkan Cupen agak tengil dan skuy.

“Jadi untuk membagi sektor-sektor di BEM akhirnya dapet juga, misalnya saya lebih ke pengabdian dan pergerakan orangnya, Cupen lebih masuknya ke pelayanan, advokasi, sama program-program yang asik-asikan. Di sana merasa bahwa Cupen melengkapi apa yang Muldan gak punya, dibandingkan orang-orang yang saat itu ditawarkan,” ujar Muldan.

Berbeda dengan Muldan, Cupen ketika ditanya mengapa memilih Muldan, jawabannya sangat singkat. Dirinya hanya mengungkapkannya dengan dua kata, “Intuisi, sih.”

Kemudian Cupen melanjutkan, ia dan Muldan memiliki kesamaan visi tentang potensi Kema Unpad yang belum termaksimalkan. Dia yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua BEM FEB 2019 juga merasa perjuangannya di FEB belum cukup. Maka, diambillah langkah ke jenjang yang lebih lebar.

“Memperluas kebermanfaatan. Ibaratkan setahun kemarin itu mengkritisi kakak sendiri, Imam Syahid. Makanya sekarang gak mau cuma mengkritisi doang, tetapi juga membuat perubahan konkritnya,” ujar Cupen.

Muldan menambahkan, ada perspektif yang lengkap ketika ia yang sebelumnya bergiat di BEM Kema bertemu dengan Cupen yang bergiat di BEM FEB. Ada jembatan antara ide dan realita. Pasalnya, menurut Muldan, ide dari fakultas yang disampaikan ke BEM Kema kadang tidak bisa dilaksanakan karena tidak realistis.

Hal yang paling penting, yang menjadi latar belakang atau jawaban mengapa keduanya memilih maju bersama dalam Prama tahun ini adalah adanya satu keresahan bersama. Selain itu juga adanya keinginan yang sama, salah satunya adalah menyajikan politik 3S, santun, santun, skuy dan asik.

 

Menghadapi Apatisme Kema Unpad

Politik 3S bukan satu-satunya hal yang menjadi concern mereka berdua. Muldan menjelaskan mereka juga concern terhadap politik yang baik, kultur yang baik, yang menarik, yang sopan, yang beradab, dan berakhlak. Dengan harapan, concern ini dapat meningkatkan partisipasi Kema Unpad yang katanya secara jumlah kecil dan Kema Unpad yang apatis.

Namun, untuk menjalankan concern tersebut, Muldan tidak memungkiri adanya kekhawatiran dalam dirinya. “Yang jadi kekhawatiran adalah saling adu politik latar belakang. Keresahan itu yang utama. Bagi kami menang itu nomor sekian, keresahan utama adalah kondisi Kema Unpad yang apatis, kita garap dengan menebarkan politik 3S ini.”

Kami pun memikirkan satu pertanyaan setelah Muldan menyampaikan kekhawatirannya, yaitu terkait hal apa yang sebetulnya mereka lihat sebagai tantangan. Cupen menyebut tantangannya adalah menciptakan iklim yang nyaman. Sedangkan Muldan menyebut kultur atau rasa bangga setiap fakultas yang belum melebur di bawah payung Unpad. Sikap apatis mahasiswa, yang dapat dilihat dari minimnya partisipasi Prama dari tahun ke tahun, juga menjadi tantangan.

Untuk yang terakhir, atau soal apatisme mahasiswa ini. Muldan-Cupen menjembataninya dengan membuat grup line untuk mempertemukan mereka dengan kema. Ini, bagi mereka, adalah langkah membangun partisipasi yang berkualitas.

Perbincangan dibawah pohon yang ditemani hembusan angina tersebut kami lanjutkan. Kali ini pertanyaannya seputar lanjut berbicara soal tentang sejalan-tidaknya mereka dengan rektor baru, Muldan menyebut secara general mereka sejalan. Terlebih BEM memang ada di bawah rektorat. Namun, kebijakan rektor tetap harus dikawal dan diawasi. Proses pengawalan ini akan mereka lakukan dengan melakukan tiga kali pertemuan formal. Di awal, tengah, dan akhir tahun.

Dari perbincangan ini, kami pun penasaran, siapa tokoh yang dijadikan panutan oleh keduanya. Cupen menyebut nama Gamal Albinsaid, penggagas Klinik Asuransi Sampah. Baginya, anak muda harus seperti Gamal Albinsaid yang berani berubah, keluar dari zona zaman, dalam artian harus bisa memanfaatkan setiap kondisi. Sedangkan Muldan menyebut nama B.J. Habibie yang ia anggap menyeimbangkan iman, takwa, dan iptek.

“Di GBHK ada tuh poin religius. Ada poin Kema Unpad yang religius. Itu yang ingin kita kembangkan. Teman-teman nanti akan kita fasilitasi. Yang kristen kita fasilitasi rapat-rapat di hari minggu ada dispensasi supaya bisa ke gereja dulu. Ada iklim relijius yang coba ingin kami bawakan ke dalam internal BEM Kema Unpad. Tapi, di dalam profesionalitas itu akan coba digarap juga, kita ada vaiue namanya well organised. Jadi, akan coba membuat renstra-renstra dan sebagainya,” tutur Muldan.

Muldan, calon Ketua BEM Kema Unpad nomor urut 2. Foto: Erlangga

Bicara Soal TPB dan PSDKU

Salah satu program akademik yang kami rasa perlu ditanggapi adalah TPB dan OKK. Bicara soal program TPB dan OKK yang sudah berjalan beberapa tahun, Muldan-Cupen merasa kedua program belum memenuhi tujuannya.

“Ketidakjelasannya masih kita dengar. Tugasnya kalau secara konsepsi bagus, TPB atau OKK, ya, yang kemudian tugasnya membuat proposal PKM? Jadi mahasiswa baru itu dipantik berpartisipasi membuat PKM. Tapi lagi-lagi penilaiannya bagaimana sampai hari ini pun gak ada, apakah hanya menjadi tumpukan dokumen sampai saat ini, apakah ditindaklanjuti? Dan kita masih mendengar banyak dari teman-teman mahasiswa baru yang bilang kalau saya gak pernah datang tetapi dapet A. Misalkan yang lain sering datang tapi dapatnya B, C, bahkan D. Apalagi sekarang TPB dan OKK bobotnya per mata kuliah gak 1 SKS lagi kan ya? Kan, merugikan ya karena gak ada kejelasan ini. Jadi kalau ditanya apakah hari ini sudah bagus? Belum. Masih banyak hal yang harus dievaluasi,” papar Muldan.

Pembicaraan yang sudah memasuki ranah akademik ini pun akhirnya sampai ke PSDKU Pangandaran dan Garut. Saat PSDKU menjadi topic pembahsan, ada kritik yang disampaikan Muldan terkait hal ini, terutama sistem blocking akademik. Sistem ini membuat pembelajaran yang seharusnya berjalan lima hari, misalnya, dipadatkan menjadi sehari atau beberapa hari saja.

“Bagaimana dosennya aja. Itu yang kerasa sama teman-teman di Pangandaran dan di Garut. Bahkan bukan hanya lima hari. Untuk pelajaran yang seharusnya kita dapatkan dalam jangka waktu tiga minggu, di sana jadi satu minggu. Jadi, mereka gak dapat akademik yang kemudian sepadan, apalagi dengan UKT maksimal. Kalau UKT maksimal, tapi kalau bisa dibilang sarana dan prasarana kelas dua, kelas tiga, apalagi kuliah untuk belajar, nah itu gak dapat. Untuk sistem akademik apalagi dalam konteks itu, masih sangat jauh. Sangat tidak ideal,” terang Muldan.

TTerkait masalah yang ada di Pangandaran, khususnya keberadaan sarana prasarana, Muldan mengatakan dirinya ingin mempertemukan Unpad dengan Pemkab khususnya terkait dengan penyediaan sarana dan prasarana jalan.

Cupen, calon Wakil Ketua BEM Kema Unpad nomor urut 2. Foto: Erlangga

Memaksimalkan Potensi Pacar Unpad

Salah satu misi yang dibawa dan digadang-gadang menjadi program unggulan dari paslon nomor dua ini adalah advokasi. Misi ini akan dilakukan oleh Muldan-Cupen dengan memaksimalkan potensi Padjadjaran Care (Pacar) Unpad. Cupen mengatakan, dalam hal ini keduanya akan tetap memanfaatkan teknologi seperti yang udah dilakukan Padjadjaran Care saat ini, tapi hal tersebut akan ditambah dengan pemaksimalan fungsi pelayanan di dalamnya.

“Kami menyadari bahwa lembaga kemahasiswaan gak bisa menyerap segala kebutuhan. Tapi, jangan sampai terdengar ini hanya keluhan elitis aja nih yang didengar. Karena itu kami mengedepankan dari yang bersifat besar seperti sarana, prasarana, dan keuangan, lalu ke yang menyangkut kehidupan sehari-hari seperti beasiswa. Oleh karena itu yang sifatnya kebutuhan sehari-hari kami mengedepankan namanya Kamu Nyaman. Kami ingin memberikan kemudahan. Ibaratnya kalau ada pelayanan makanan delivery ngapain kita harus ke tempat jualnya langsung,” jelas Cupen.

Bicara soal program unggulan terkait advokasi ini, Muldan mengatakan bahwa ini masih dalam ranah konsep. Adapun nantinya akan berubah menjadi program kerja. Di mana perumusan dan pelaksanaannya melibatkan kepala departemen. Saat itulah akan diadakan diskusi, apakah masih akan mengedepankan Pacar Unpad atau tidak.

“Yang betul-betul bisa kita tawarkan adalah kita akan bertemu sebanyak tiga kali dalam setahun. Bukan hanya eksekutif, namun juga BPM baik universitas dan fakultas. Seharusnya kan aspirasi itu dihimpun sama legislatif, karena eksekutif kan hanya eksekutor. Sejauh ini karena pertemuannya hanya satu kali dan hanya tuker plakat doang jadinya gak kekontrol dan follow up. Jadi kadang pengertian soal aspirasi antara BEM Univ, BPM Univ, BEM Fakultas, sama BPM Fakultas itu beda. Gak ada concern yang kemudian diambil. Pertemuan tiga kali itu diharapkan agar elemen itu bisa bersinergi sesuai apa yang diurgensikan,” tambah Muldan.

Muldan pun lanjut bercerita tentang keinginannya meningkatkan apa yang belum maksimal di kepengurusan sebelumnya. Misalnya, inventaris milik Biro Hubungan Eksternal BEM Kema yang belum menyebar. “Kami juga inginnya secara fokus sesuai dengan kebutuhan, gak mau mempertemukan dengan yang gak butuh. Kami nanti himpun butuhnya dihubungkan ke mana sesuai dengan urgensinya,” Muldan menambahkan.

Ada satu program unggulan dari paslon nomor dua ini yang ingin kam tanyakan, yaitu Acceleration yang fokus dalam pengembangan potensi Kema Unpad. Baik Muldan atau Cupen, keduanya akan fokus terhadap tiga bidang yaitu akademis, kewirausahaan, dan kepemimpinan. Tiga prioritas ini dipilih dengan harapan ketika mahasiswa sudah bisa memimpin dirinya sediri, maka nanti bisa memimpin orang lain.

“Kita ingin melayani untuk memaksimalkan potensi, seperti pendanaan untuk lomba. Untuk pebimbingan, kita adakan mentoring per bidang masing-masing PKM. Begitu pun dengan inkubator bisnis kita berikan mentoring per bidang seperti makanan, konveksi, dan lain-lain. Kita menyadari bahwa mereka memiliki potensinya masing-masing juga memiliki fokusnya maisng-masing, gak bisa disamain. Untuk kepemimpinan sendiri kita fokus ke 21st century leadership. Itu membuat lulusan Unpad yang berdayaguna dan sesuai zaman. Kita simpan inputnya, tujuannya sampai ke dunia kerja,” ujar Cupen.

Muldan menyebut BEM Arkananta di bawah kepemimpinan Novri Firmansyah punya cara untuk setidaknya mewadahi dan mengapresiasi potensi mahasiwa. Cara yang ia maksud adalah 23:59, postingan media sosial yang menampilkan komunitas-komunitas yang belum begitu dikenal di Unpad. Setelah Kabinet Arkananta lengser, upaya serupa tidak Muldan temukan di kepengurusan Satyagraha dan Mahakarya.

“Secara konkrit, kami mungkin masuk lewat sana. Kalau melayani kami coba mungkin satu-satu, contohnya kemarin ke Bidik Misi kami mendengar tapi gak bisa semuanya kita iyakan. Tapi, kita akan bantu usaha ayo. Satu yang bisa kita janjikan adalah pemberian apresiasi semacam itu. Untuk prasarana dan sarana kita akan coba untuk menyambungkan satu fakultas dengan fakultas lainnya seupaya kemudian minat dan bakat gak dibatasi itu,” ujar Muldan.

Berdasarkan berbagai penjabaran terkait programnya, Muldan menjelaskan, bahwa itulah alasan kenapa kami membawa narasi Rasi Kreasi. Karena setiap fakultas dinilainya memiliki potensi dan kreasinya masing-masing. Potensi dan kreasi tersebut jangan sampai terhalang, tetapi justru bisa saling berhubungan, makanya menjadi Rasi Kreasi.

Ia yakin setiap kabinet BEM Kema punya cara masing-maisng dalam menyajikan pelayanan dan merangkul semua potensi. Ia mengaku banyak hal pula yang ia ambil dari kepengurusan tiga kabinet sebelumnya.

“Muldan dan Cupen gak mau membawa ini entitas BEM Kema Unpad, tapi juga transfer knowledge yang kemarin bagus apa saja kita bawa dan kembangkan yang jelek disisihkan,” ujarnya.

Bicara mahasiswa, maka kita akan mudah juga membicarakan pergerakan, untuk itu kami pun menanyakannya kepada paslon nomor dua ini. Mereka pun menjawabnya dengan program Gen-Think yang fokus di pergerakan. Muldan, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM Kema Unpad 2019, sempat menyinggung soal keterlibatan Unpad di aksi Reformasi Dikorupsi 24 September lalu.

“Dalam pertama kalinya setelah beberapa tahun datang dengan masssa yang banyak, alhamdulillahnya simpatisnya dateng. Tapi ke sana dengan pemahaman apa? Paham gak dengan isunya? Beberapa kali konsolidasi sepi. Pas aksi ratusan orang. Dan ternyata gak semua orang ngerti,” kata Muldan, “Setelah kita gobrol sama Ketua BEM Unpad 2000 dan 2005, itu pada hakikatnya pergerakan di Padjadjaran punya ciri khas, gak urakan kaya sekarang. Sementara pemahaman kenapa itu aksi itu kurang. Yaitu ciri khasnya pergerakannya santun, gak merusak,” ucap Muldan

Ia menambahkan bahwa saat ini dirinya melihat isu yang diangkat dalam aksi masih elitis dan politis, yang dianggapnya tidak diketahui banyak oleh masyarakat akar rumput. MelaluiGen Think ini, keduanya akan mencoba mengolah isu-isu yang langsung dirasakan masyarakat. Sebut saja BPJS, sembako, dan lainnya. Isu-tersebut pun akan dibangun dengan simpati, disajikan dengan literasi, diskusi, dan dibawa dengan aksi kreatif.

Muldan dan Cupen pun menawarkan beberapa program unggulan jika nanti terpilih. Tak hanya program unggulan untuk Kema Unpad, ada pula program unggulan yang melibatkan masyarakat Jatinangor. Seperti pengadaan ruang pelayanan kepada masyarakat terutama dalam isu sosial dan lingkungan, serta adanya ruang untuk menjalin relasi dengan stakeholder terkait seperti LSM, birokrat, perusahaan, atau tokoh strategis lainnya.

“Kalau yang paling menghubungkan sih Can Share, ya. Kita juga akan melanjutkan soal yang telah dikerjakan oleh BEM Kema Unpad tahun ini oleh Departemen Admas yaitu soal sampah di Jatinangor. Soal reaktivasi jalur kereta api juga kita angkat sebagai isu core di 2020. Kemudian juga akan membuat seperti Kolaborasi Budaya, kita akan coba gaet masyarakat untuk terlibat, karena yang ingin kita bawakan adalah sebenarnya kultural atau ke-Sundaan. Bukan menegasikan kultur yang lain, tapi kemudian kultur Sima Sunda atau taring kesundaannya ada lagi,” ujar Muldan.

Ia juga mengatakan Can Share bukan hanya bicara soal Jatinangor, tapi mencakup Jawa Barat (untuk mendukung visi Unpad Nyaah ka Jabar) dan Indonesia. Kemudian calon ketua BEM nomor urut dua itu juga mengatakan, bahwa fokus mereka dalam program ini adalah kebermanfaatan.

Bicara kebermanfaatan pun berlanjut pada pembicaraan soal desa binaan. Ia mengatakan bahwa teman-teman di Pangandaran dan Garut belum memiliki arah binaan yang jelas. Untuk itu, keduanya ingin membawa rapat sosial lingkungan (sosling) ke Pangandaran, supaya ada perspektif baru bagi teman-teman disana. Namun, keduanya mengatakan bahwa belum pernah ada mapping yang dilakukan oleh paslon nomor dua ini di sana, itu akan dilakukan saat sudah terpilih nanti.

Pembicaraan terkait desa binaan ini pun bersambung pada desa binaan dengan jangka waktu lima tahun yang dicanangkan oleh Imam, Muldan mengaku tidak mengetahui kabar apa pun. Namun, ia memiliki semangat melanjutkan.

“Yang dicanangkan sama Imam kan lima tahun, itu kita bicara soal renstra (rencana strategis) lagi. Hanya soal waktunya, momentumnya, kurang pas kalau membicarakan renstra tapi gak satu momentum sama renstra rektor. Nah, kalau satu renstra sama rektor kan bisa diselaraskan. Semangatnya akan kita tangkap sebagai semangat berkelanjutkan. Nanti kita akan update karena belum update lagi, untuk plan ke depannya nanti kita kabari,” pungkas Muldan.

Erlangga Pratama, Novita Caesaria, Ananda Putri

Editor: Tamimah Ashilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *