Sengkarut Pilrek Unpad Sudah Berakhir?

“Akhirnya… Unpad punya rektor!” tulis akun anak.unpad melalui platform Instagram.

Rasa syukur yang disampaikan akun media sosial yang rutin membagikan informasi seputar perkuliahan mahasiswa Unpad itu rasanya turut dirasakan seluruh civitas akademika Unpad. Setelah melewati penantian panjang mendamba sosok pemimpin, pada  Senin, 7 Oktober 2019, Majelis Wali Amanat (MWA) melantik Rina Indiastuti sebagai rektor Universitas Padjadjaran periode 2019-2024. Meski sempat ramai terdengar proses voting yang menghiasi Pemilihan Rektor (Pilrek) Unpad, ternyata pada akhirnya Rina terpilih melalui proses aklamasi. 

Masih segar betul di ingatan kita sengkarut Pilrek yang seolah tak berpenghujung. Lebih dari satu tahun lalu, tepatnya pada 17 September 2018, MWA menetapkan 3 calon rektor, yakni Aldrin Herwany (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Atip Latipulhayat (Fakultas Hukum), dan Obsatar Sinaga (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). 

Serangkaian permasalahan administrasi, hingga hingar bingar isu suap mewarnai Pilrek saat itu. Atas pertimbangan transparansi, pada 13 April lalu, MWA mengumumkan Pilrek Unpad akan diulang. Beberapa agenda lain yang diumumkan pada rapat tersebut ialah pemberhentian sementara Obsatar Sinaga sebagai PNS, pencoretan Obsatar sebagai calon rektor Unpad, dan penunjukan Pelaksana Tugas Rektor Unpad.

Berhentinya Pilrek Unpad yang pertama tak lantas menghentikan lahirnya permasalahan. Salah satu mantan calon rektor, Atip Latipulhayat, sempat menggugat MWA Unpad dan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) ke Pengadilan Negeri Bandung. Gugatan itu diajukan pada 9 Mei 2019 atas dasar tidak adanya kepastian hukum statusnya sebagai calon rektor Unpad.  Atas berbagai pertimbangan, gugatan tersebut ditolak.

Selain ke PN Bandung, Atip juga melayangkan gugatan melalui Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait surat pembatalan status calon rektor yang dikeluarkan MWA Unpad. Hingga berita ini ditulis, gugatan Atip di PTUN masih dalam proses. 

Hal itu disampaikan anggota MWA sekaligus Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KEMA Unpad Imam Syahid kepada dJatinangor Senin (7/10). Ujarnya, “Status gugatan masih cukup lama karena proses pengadilan di PTUN tidak hanya memakan satu atau dua hari, tapi bisa berbulan-bulan.”

Pilrek Dilanjutkan, Demi Kebaikan Bersama

Satu hal yang ganjil terjadi adalah tetap dilaksanakannya Pilrek Unpad meski masih ada gugatan Atip yang berjalan. Padahal, pemilihan rektor seharusnya tak dapat dilanjutkan bila masih ada status gugatan yang belum selesai. Imam menilai hal tersebut terjadi lantaran pertimbangan MWA yang menilai gugatan akan berjalan cukup alot dan lama, sementara ada pertimbangan mengenai jabatan Plt. rektor Unpad saat itu. Menurut Imam, Pilrek tetap dilaksanakan demi kebaikan bersama terpilihnya rektor.

“Ada kebaikan yang harus dikorbankan dan diunggulkan. Gugatan ini kita coba untuk intervensi. Kita juga tetap mengupayakan komunikasi yang baik kepada Prof. Atip. Tinggal nantinya ke depan akan ada komunikasi komunitas yang cukup baik. Semoga mendapatkan hasil yang baik juga,” tukasnya.

Saya pikir juga Prof. Atip dan MWA juga menginginkan kebaikan bersama untuk Unpad. Tinggal cari titik temunya antara dua kepentingan dan dua kebutuhan,” imbuh Imam.

Imam Syahid memaparkan masalah dari Pilrek pertama yang turut mempengaruhi jalannya Pilrek kedua, yaitu misadministrasi dan miskonstitut dalam bentuk tahapan yang terlewat untuk MWA lakukan.

“Masalah-masalah itu pun membuat publik merasa tidak puas. Misalnya, tidak ada peratutan yang secara khusus (mengatur) keterlibatan senat dalam proses pemilihan rektor. Namun, masyarakat Unpad merasa harus ada keterlibatan senat dalam prosesnya. Akhirnya, perubahan di Pilrek kedua ini adalah kami melibatkan senat akademik dalam menyeleksi 9 calon rektor menjadi 6 calon rektor,” terangnya.

Sebagai bentuk perubahan lain, panitia penyelenggara menyelenggarakan sistem voting dalam Pilrek kedua. Sistem voting yang dilaksanakan secara online membuat dosen, mahasiswa, dan karyawan Unpad bisa memilih secara langsung calon rektor yang didukungnya. Hasil voting itu dikatakan akan mengerucutkan 9 calon rektor menjadi 6. 

Namun, tak seperti proses voting yang kita bayangkan, nyatanya voting dalam Pilrek kedua tidak mengubah keputusan apapun. Imam menjelaskan, “Sebenarnya proses voting tidak merubah apapun. Proses voting itu impiannya menyeleksi dari banyak menjadi 9 bakal calon rektor. Namun kemudian tidak berhasil, karena yang diterima dari awal, sudah 9 calon rektor. Jadi voting yang dilakukan tidak merubah apapun.”

Tapi, Imam menyatakan adanya kemungkinan MWA menjadikan hasil voting sebagai bahan pertimbangan. Ujarnya, “Mungkin ada persentase dalam pertimbangannya, contoh misal untuk menentukan rektor terbaik kita lihat juga hasil dari voting mahasiswa seperti apa. Minimal ini menjadi salah satu evidence yang digunakan sebagai dasar argumentasinya ke depan. Kalau untuk persentase pertimbangan hasil voting mahasiswa kemarin, saya agak lupa pastinya, seingat saya ada di kisaran 15 sampai 20 persen.”

Imam menilai Pilrek kedua belum mendapati masalah yang berarti. Namun, ia menekankan pentingnya mahasiswa mengawal kerja rektor terpilih, di antaranya ialah menagih janji-janjinya. 

Rina Indiastuti mungkin bukan nama yang asing di telinga civitas akademika Unpad. Pasalnya, guru besar dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini merupakan Pelaksana Tugas (PLT) Rektor Unpad yang dilantik Menristekdikti Mohamad Nasir pada 15 April 2019. Putasan ini diberikan berdasarkan Surat Keputusan Menristekdikti Nomor T/21/M/KP.03.00/2019. Sebelumnya, Rina juga sempat menjabat Sesditjen Belmawa sejak 2017, menjadi Wakil Rektor II Unpad selama 2 periode, hingga mengikuti penyaringan kandidat rektor Unpad pertama.

Rina akhirnya terpilih menjadi rektor Unpad secara aklamasi. Hal itu diumumkan Ketua MWA Rudiantara. 

“Aklamasi 100 persen, bahkan tidak dilakukan perhitungan suara,” tukas Rudiantara dalam jumpa pers yang digelar di ruang Executive Lounge Unpad, Minggu (6/10) sore seperti dilansir dari unpad.ac.id.

Civitas academika Unpad boleh berbahagia atas terpilihnya Rina Indiastuti sebagai rektor setelah melewatkan penantian yang panjang. Hal yang seharusnya harus dilakukan adalah mengawal kepemimpinan baru dan berperan aktif membuat Unpad jaya kembali. Permasalahan yang belum tuntas sehendaknya diselesaikan dengan cara yang adil, baik secara administrasi maupun konstitusional. Kepentingan sebuah universitas adalah kemajuan pengetahuan, bukan semata kepentingan golongan yang hanya menguntungkan segelintir orang untuk sesaat, tapi akan menjadi bom waktu di masa depan.

 

Selma Kirana H. dan Timothy Putra

Editor: Tamimah Ashilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *