The Cornetto Trilogy, Bukan Sekadar Es Krim

Ilustrasi: amazon.com

Duo aktor komedi legendaris Inggris, Simon Pegg dan Nick Frost, akan kembali meramaikan dunia hiburan melalui serial televisi Truth Seekers. Dilansir dari Variety.com, serial televisi yang rencananya akan tayang di Amazon’s Prime tersebut bergenre komedi-horor. Produksinya akan dimulai pada September 2019 dan tersedia untuk tayang di pertengahan 2020 dengan panjang delapan episode.

Frost akan memerankan seorang pemburu hantu bernama Gus yang berusaha untuk mengungkap tempat-tempat angker di Inggris. Gereja berhantu, bunker bawah tanah, hingga rumah sakit menjadi tempat ia mencari sosok supernatural menggunakan alat pendeteksi hantu buatannya. Sementara itu, Pegg akan memerankan Dave yang sosok dan karakternya belum dijelaskan sebagai apa.

Melihat Simon Pegg dan Nick Frost berakting bersama, memanggil ingatan kita soal The Cornetto Trilogy (dikenal juga dengan The Three Flavours Cornetto Trilogy atau The Blood and Ice Cream Trilogy). Trilogi ini terdiri dari tiga film yaitu Shaun of the Dead (2004), Hot Fuzz (2007), dan The World’s End (2013).

Kesuksesan film yang tiga-tiganya disutradarai oleh Edgar Wright ini tidak main-main. Dilansir Box Office Mojo, ketiga film tersebut memakan dana sebesar $38 juta dan berhasil meraup untung sebesar $156 juta dari seluruh dunia.

Penamaan trilogi ini memang diambil dari nama es krim buatan Walls. Awalnya, Ed ( diperankan oleh Frost) dalam Shaun of the Dead selalu mengonsumsi es krim Cornetto untuk mengobati mabuknya. Usut punya usut, adegan ini terinspirasi dari kebiasaan Frost di kehidupan nyata untuk menyembuhkan mabuk pasca berpesta semalaman. Wujud dan merk Cornetto pun secara gamblang diperlihatkan dalam film. Tidak disangka, saat pesta perayaan berakhirnya film, mereka menerima banyak es krim dari produsen Cornetto sebagai bentuk terima kasih.

Setelah itu, Wright mulai berusaha untuk menyisipkan merk atau wujud es krim Cornetto di kedua film selanjutnya. Wujud es krim atau merk Cornetto sendiri disesuaikan dengan karakteristik setiap film. Pada Shaun of the Dead yang bercerita tentang sergapan zombie, es krim Cornetto rasa stroberi merepresentasikan darah. Pada Hot Fuzz yang menceritakan dua polisi dalam pusaran kasus besar, es krim warna biru menunjukkan warna kepolisian. Sedangkan pada The World’s Endfilm penutup trilogi yang bergenre sains-fiksi, es krim Cornetto ditunjukkan sekali melalui adegan kemasannya yang tertiup angin. Warna hijau yang dominan pada kemasan itu merepresentasikan sains fiksi sebagai genre film. Tapi, akhirnya es krim gratis yang diharapkan seperti di pesta perayaan Shaun of the Dead tidak pernah muncul lagi.

Kesamaan dari ketiga film ini, selain hadirnya dua bintang utama dan munculya merk es krim Cornetto, adalah tema persahabatan yang ditunjukkan. Pegg dan Frost selalu diperlihatkan sebagai dua orang sahabat yang berjuang bersama hingga akhir. Mulai dari bersama mempertahankan teman-temannya yang lain dari serangan zombie, perlawanan masyarakat kota, hingga invasi alien.

Pegg dan Frost pertama kali dipasangkan pada sitkom televisi Inggris, Spaced di tahun 90-an. Selain dikenal dengan perannya di The Cornetto Trilogy, mereka juga bermain di film Paul (2011) yang menceritakan sepasang penggemar buku komik asal Inggris yang berpergian ke Amerika Serikat dan bertemu alien dari Area 51. Film terakhir yang mereka mainkan bersama adalah film aksi-komedi berjudul Slaughterhouse Rulez (2018).

Baca juga: Bersama The Salesman, Mencari Empati

(Erlangga Pratama & Tamimah Ashilah)

Editor: Ananda Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *