Menyikapi Diagnosis Diri Sendiri Terhadap Gangguan Mental

Ilustrasi konsultasi medis oleh Rawpixel.com

Ilustrasi konsultasi medis oleh Pexels.com

“Gejala gangguan kesehatan jiwa tidak mudah dilihat, semudah kita melihat penyakit flu. Kesehatan jiwa memiliki sekumpulan gejala yang hanya bisa diidentifikasi dan didiagnosis oleh mereka yang ahli dan memiliki kemampuan akan hal itu.”

Kurang lebih begitulah potongan kalimat yang dilansir laman situs White Swan Foundation, sebuah organisasi yang fokus dalam isu kesehatan mental di India. Self diagnosing mental illness atau deteksi diri terhadap kesehatan mental menjadi salah satu topik yang dibahasnya. Self diagnose baik bagi kesehatan mental maupun kesehatan fisik, umumnya dilakukan berdasarkan pengalaman atau informasi dari media digital seperti media sosial ataupun berbagai sumber yang tersedia dari mesin pencari seperti Google.

Kesehatan mental merupakan kondisi ketika batin berada dalam kondisi yang tenteram dan tenang, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan baik. Sedangkan gangguan kesehatan mental, merupakan kondisi ketika adanya ketidaktenangan, yang menyebabkan gangguan terhadap kehidupan sehari-hari. Bentuknya beragam, dilansir dari laman Alodokter.com, setidaknya ada tiga kategori besar gangguan kesehatan mental, yaitu stres, gangguan kecemasan, dan depresi.

Sementara itu, World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. Kesehatan sendiri diartikan sebagai kondisi sesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap serta bukan sekadar tidak adanya penyakit atau kelemahan. Tercatat juga, sejumlah 450 juta orang menderita gangguan mental dan perilaku di seluruh dunia. Berdasarkan data yang dimiliki WHO Asia Pasifik, jumlah kasus gangguan depresi di Indonesia terdapat 9.162.886 kasus atau 3,7% populasi.

Dalam kasus kesehatan fisik, terkhusus kasus kesehatan mental, diagnosis diri sendiri sangat tidak disarankan, hal tersebut dapat kembali pada keterangan kutipan pembuka diatas. Dilansir dari laman White Swan Foundation, diagnosis diri dapat menimbulkan dua kemungkinan, yaitu sikap meremehkan terhadap gejala gangguan kesehatan mental ataupun justru sikap berlebihan.

Pakar kesehatan mental Srini Pillay M.D. dilansir dari Psychology Today juga mengungkapkan bahwa ketika seseorang melakukan self diagnose, perkiraan yang muncul bukanlah datang dari hasil diagnosis yang terukur secara akademis. Sebagai contoh, kebanyakan orang yang sering mengalami perubahan suasana hati atau mood swings sering berpikir bahwa ia mengalami penyakit mental yang berat atau gangguan bipolar. Padahal, mood swings bisa menandakan banyak skenario klinis seperti gangguan kepribadian ambang atau depresi berat. Berbeda jenis gangguan mental tentunya memerlukan tindakan yang berbeda juga.

Dijelaskan, hal yang paling berbahaya dari self diagnose dalam menentukan kondisi kesehatan mental adalah kemungkinan melewatkan perawatan yang seharusnya dibutuhkan melalui langkah medis. Dengan perawatan yang tidak tepat akibat lebih dini menebak melalui self diagnose, beberapa gangguan seperti timbulnya tumor otak, perubahan kepribadian psikis, dan bahkan depresi bisa terjadi. Oleh karenanya, peran psikolog dan atau psikiater sangat penting selain untuk mendeteksi jenis gangguan, juga untuk memberikan perawatan yang tepat untuk gangguan tersebut.

Menurut artikel yang dirilis White Swan Foundation, pencarian informasi untuk mengetahui gejala gangguan kesehatan mental bukanlah sesuatu yang salah. Melalui laman pencarian, berbagai gejala bisa diketahui lebih dulu. Namun demikian, hal tersebut tetap harus diikuti dengan verifikasi atau konsultasi kepada pihak yang lebih mumpuni, seperti psikiater atau dokter kejiwaan dan psikolog.

Psikiater dan Direktur Mood Disorders Program di Universitas Thomas Jefferson dilansir dari Psychology Today berujar, internet hanyalah alat untuk mengedukasi tanda-tanda awal gangguan mental. Ia juga menambahkan, tidak ada informasi di internet yang benar-benar terpercaya ketika membicarakan tentang pemeriksaan gangguan mental. Baginya, setiap orang membutuhkan perawatan yang terkadang berbeda-beda meskipun gangguannya sama. Ia juga menyebutkan bahwa self diagnose bisa menyebabkan stres dan pengobatan mandiri yang tidak tepat.

Hampir semua pengetahuan tersedia di internet, bahkan seringkali juga masyarakat mengandalkannya sebagai sarana utama mendapatkan informasi. Berdasarkan data yang dirilis di laman Kementrian Komunikasi dan Informasi pada 2017 pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 112 juta dan lebih tinggi dari Jepang. Melalui jumlah tersebut, Indonesia menduduki posisi keenam dengan penduduk pengakses internet terbesar di dunia.

Interaksi internet yang tinggi juga ada dalam hal pencarian informasi terkait penyakit atau gejala penyakit, bahkan tidak sedikit yang mendiagnosis dirinya atas penyakit tertentu, termasuk terkait kesehatan mental berdasarkan hasil informasi di internet. Internet merupakan sarana yang mudah bagi masyarakat untuk melakukan self diagnose terhadap tanda-tanda gangguan mental.

Kesehatan Mental di Indonesia
Berbicara self diagnosing mental illness, maka kita juga akan berbicara soal kasus mental illness atau kesehatan mental. Mengapa patut dibicarakan? Karena menurut laman Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, kasus permasalahan kesehatan mental merupakan salah satu masalah yang signifikan. Hal tersebut merujuk pada data yang dirilis oleh WHO pada tahun 2016.

WHO menyebutkan, ada 35 juta orang terkena bipolar, 21 juta pada kasus skizofrenia, dan 47 juta terkena dimensia. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Pada tahun 2013, data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) menunjukkan pravelensi gangguan mental untuk usia diatas 15 tahun mencapai 14 juta orang atau sekitar 6% dari jumlah populasi Indonesia. Data tersebut diambil berdasarkan gejala yang dialami para penderita, seperti gejala-gejala emosional, depresi dan kecemasan.

Ketua Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), dr. Eka Viora, SpKJ mengatakan, gangguan jiwa sangat beragam jenisnya, mulai dari yang ringan hingga yang akut. Informasi yang akurat dari pihak keluarga dan orang terdekat akan sangat membantu para tenaga kesehatan jiwa untuk mendiagnosa dan memberikan layanan pengobatan untuk penderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Kenapa konsultasi kepada para ahli tetap dibutuhkan meskipun kita bisa menduga berbagai tandanya dari internet? Hal tersebut terjadi karena masalah dan hal yang berkaitan dengan kesehatan mental cukup rumit. Banyak faktor yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi, termasuk pada keshatan fisik. Misalnya, saat terjadi depresi atau insomnia, mungkin hal tersebut bukan sekedar berpengaruh pada pada pola tidur atau karena gangguan tidur, banyak faktor yang mungkin terpengaruh dan berpengaruh. Seperti yang diucapkan Srini Pillay M.D., self diagnose sebaiknya dilakukan sebagai obrolan dengan psikiater atau psikolog yang menentukan jenis perawatan yang dibutuhkan.

 

Tamimah Ashilah dan Erlangga Pratama

Editor: Tamimah Ashilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *